Skip to main content

3 Books in 2 Days! - Sebuah Review

Jadi, ceritanya saya ada hutang review buku-buku yang saya baca dalam tempo dua hari lalu. Buku-buku ini sebagai kudapan pembuka, sebelum saya mengarungi Gelombang yang 17 Oktober lalu baru dirilis sama Mamak Suri Dee. Hahahaha. Nah, maksudnya review ini saya gabungkan, ya karena saya malas buat tiga postingan, jadi lebih baik sekalian aja gitu. :P

Buku-buku yang saya baca kemarin ini agak sedikit berbeda dari biasanya. Diprakarsai kegalauan yang sedang melanda dan juga proyek novel romance-thriller yang lagi saya garap sama dua orang kakak saya di Grasindo juga, saya berniat untuk mencoba genre lain dalam tulisan. Udah bukan thriller-suspense ala-ala National Treasure atau Ekspedisi Madewa lagi, tapi saya mau coba menggarap romansa, percintaan yang nggak jelas gitu. Hahaha. Karena kalau melihat pasar, orang galau semakin banyak, kali aja jadi laku. #eh

Kembali ke topik posting kali ini, beberapa buku yang kemarin saya baca dengan sangat lahap ada tiga, yaitu Elipsis karya Devania Annesya (POP KPG, 2014), Satin Merah karya Rie Yanti dan Bram (Gagasmedia, 2010), juga Melodi karya Dedek Fidelis (Mokabuku, 2014). Untuk penjelasannya, monggo diteruskan baca posting ini. Belum bosan kan? Maaf bertele-tele ya, memang sengaja. :P

Dari ketiga buku yang saya baca, secara garis besar kisah ketiganya sama-sama berakhir dengan kematian. Kematian-kematian tokoh utama yang pastinya bagi beberapa pembaca tidak begitu menyenangkan. Seperti mendapati seorang pahlawan dalam film, mati terkena bom atau mati merelakan dirinya dimakan predator, atau mati karena tidak bisa bertahan di tempat alien karena perbedaan ekosistem. *ngomong apa sih Yu!*

Intinya, mendapati tokoh utama yang diakhiri hidupnya oleh penulis bukanlah perkara menyenangkan. Yah tapi, namanya juga novel, apapun probabilitas dapat dibuat. Bahkan jenis-jenis sakit dan cara-cara mati seperti apa itu sudah banyak ragamnya. Yang memang perlu digarisbawahi adalah, bagaimana membuat kematian tokoh utama dengan dramatis, sehingga pembaca akan dibuat bersedih pada akhir novel. Benar-benar sedih.

Saya mengalaminya. Apalagi jika kondisi psikis sedang naik turun seperti jet coaster, maka emosi pun labil dibuatnya. Haha! Membaca novel romance memang paling pas dibaca pada saat-saat seperti ini.

Buku yang pertama saya akhiri adalah Elipsis karya Devania Annesya. Pada Goodreads, saya bubuhkan empat dari lima bintang, karena penokohan yang kuat dan lain daripada biasanya. Tokoh lelaki dibuat tak seperti remaja kebanyakan. Remaja mana yang senang bicara dengan awan hitam, langit mendung, pohon beringin seram, dan batu nisan? Sejauh ini, saya rasa belum ada. Atau, kalau memang ada, ya mungkin saya belum pernah membaca literatur dengan tokoh seperti itu di Indonesia. Hehehe. Mungkin ada sih, tapi kalau golongannya young adult yang sedikit paranormal-romance, kayaknya sih belum pernah lihat. Dan yang memprovokasi dari novel ini, memang sinopsis di sampul belakang. Sungguh, itulah hal yang akan dibaca oleh para calon pembaca pertama kalinya. Juga sampul novel keseluruhan yang dibuat bernuansa "gelap" oleh penerbit POP, KPG membuat novel ini bercitarasa gelap juga. Jadi, pasti menarik perhatian. Kurang lebihnya, silakan baca sendiri novelnya, karena saya akan beralih pada novel kedua.

Novel yang kedua, adalah novel thriller-suspense garapan duo Gagasmedia, Rie Yanti dan Brahmanto Anindito. Novel ini super keren! Bercerita tentang seorang siswa SMA yang begitu brilliant namun masih ingin menjadi seseorang yang signifikan. Saya tahu rasanya, karena semasa SMA dahulu, saya juga pernah mengalami masa seperti itu. Masa di mana saya menuntut aktualisasi diri. Saya menjadi seorang anak SMA yang ambisius, tak pantang kalah. Dan duo penulis ini menjalin kisah Nadya, seorang anak SMA yang ingin signifikan menjadi begitu brutal. Nadya yang manis pada masa kecil, menjadi seorang Nadya yang mendamba energi putih. Energi putih didapat dari pembunuhan-pembunuhan tak terencana yang ia lakukan. Alih-alih membungkam (pada saat menolong seorang mentor), malah menyebabkan ia jadi kecanduan membunuh! Pembunuhan yang rapi. Saya sendiri tidak habis pikir mengapa seorang anak SMA bisa begitu rapi melakukan serial killing. Hahaha. Eh, kan jadi spoiler. Yah, coba dibaca sendiri saja ya! Dijamin, kalian kesal sekaligus sedih. Sebenarnya, bukan salah Nadya. Mungkin hanya society yang salah. Seperti kata Eddie Vedder, "Society, you're crazy breed. I hope you're not lonely, without me."

Novel terakhir yang saya baca adalah romansa yang cukup menarik idenya. Ide tentang cinta yang melintasi waktu. Namun, eksekusi ide tersebut kurang oke. Ada beberapa miss di sana-sini. Lompatan kisah per bab juga rasanya kurang pas aja gitu. Apa mungkin karena Dedek Fidelis lebih terarah dalam membuat sajak? Atau kisah roman yang klasik? Kalau saya tidak salah ingat, dahulu saya mengetahui Dedek Fidelis dari sebuah forum kepenulisan dengan beberapa karya puisinya. Ketika membuat sebuah kisah romansa dengan ide cerita yang belum pernah diangkat oleh penulis manapun (kalau tidak salah), saya sudah menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap Melodi. Namun, yah ekspektasi saya termentahkan begitu saja. Tapi, tak apalah. Saya pun menulis masih salah di sana-sini, dengan banyak membaca dan berlatih, pastilah lama-kelamaan akan membaik. Sebab, pengalaman memang menjadi guru yang terbaik. Hehehe.

Nah, mungkin sekian saja ulasan singkat saya ini. Untuk melihat ulasan per novel, silakan kunjungi goodreads saya saja. Hehe. Oh ya, berikut ini juga keterangan tambahan untuk novel-novel di atas. :)

Salam!


Judul: Elipsis
Penulis: Devania Annesya
Penerbit: Penerbit POP, KPG
Halaman: 227 halaman
Terbitan: September 2014




Satin Merah by Brahmanto Anindito dan Rie Yanti

Judul: Satin Merah
Penulis: Brahmanto Anindito dan Rie Yanti
Penerbit: Gagasmedia
Halaman: 314 halaman
Terbitan: 2010





Melodi by Dedek Fidelis

Judul: Melodi: Cinta yang Melintasi Waktu
Penulis: Dedek Fidelis
Penerbit: Mokabuku
Halaman: 224 halaman
Terbitan: Oktober 2014

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…