Seseorang Memilih Untuk Membunuh Serangga

Seseorang sedang menerima telepon dari yang terkasih di ujung sana, ketika titik hitam kecil melintas di hadapannya. Titik hitam itu bertengger di kepalanya dan memilinkan jaring tipisnya berputar-putar di tepi dahi seseorang itu.

Detik berikutnya, ia meninggikan suaranya, berteriak kesal. Rasa rindu rupanya telah terburai dari sisi-sisi beta menuju nalar. Hal yang lucu dan bertolakbelakang jika terkait. Semenit kemudian, kekesalan pun mereda. Seseorang itu tertawa kembali. Hari ini hari ulang tahunnya dan kekasih yang pura-pura lupa lantas membuat marah adalah kejutan yang paling klise namun mendulang bahagia. Seseorang itu pun lanjut bercerita.

Sepuluh menit kemudian, ia yang sedang tertawa, melirik ke arah dahi, dimana titik hitam kecil sedang meluncur menuruni dahi menuju matanya. Masih tak ia hiraukan juga titik kecil bersahabat itu. Ia masih sabar, sebab di ujung sana, ada yang dirindukannya masih setia mengajak bicara.

Duapuluh menit kemudian, titik hitam kecil menuruni wajahnya, memilin benang tipis dan bertengger di dagu. Samar-samar suara halilintar, menggelegar. Suhu ruangan naik tiba-tiba. Bunyi tokek mengganggu pendengaran. Semua menguap.

Dan duapuluh menit lewat lima detik kemudian, seseorang itu menampar wajahnya sendiri.

Plak!

"Mampus kau. Ah, anjing! Sinyal bangsat sialan!"

Seseorang itu memaki entah. Titik hitam jadi anjing hitam, terkambing hitamkan. Serangga yang memilin wajahnya, mati syahid. Menutup hidup bahkan saat memilin benang kehidupan. Sinyal teleponlah perkaranya.



Karawang-Resinda, 08 Oktober 2014

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)