Manuskrip Kesunyian

Jamie Baldridge pics from google


Pena baru, terbeli sejak ia
berulangtahun yang ke duapuluhdua
Di tangannya tergenggam
Sekaleng kecil tinta yang belum ingin padam

Apakah tiap langkah dijadikan alkisah?
Mengalir melalui jemari yang luka, merah
Kadang dibanjiri darah
Apa pena itu saja diisi tinta warna lelah?

Pena menolak terisi hitam
Sebab di jemarinya menari-nari warna yang
menyala pekat bagai laut kelam
Menyala riang bagai sajak-sajak dalam lalu lalang
kendaraan di tepi ibukota yang tak pernah lengang

Lewat mata dan buih-buih asap menjelang pagi
Ia menuliskan kisah-kisah yang
terhidang di atas manuskrip sunyi
atau berlarian di atas nampan kenang

Semuanya buyar, buih luber, berceceran
berlari dengan darah yang makin deras
mengalir dari jemari dan segara pikiran
Atau dari ujung kelopak mata yang telah panas
dan bersiap mendidih, menguapkan semua kisah yang lekas
memohon pamitan

Kisah pun bercerita di dalam naskah-naskah
kesendirian yang niscaya
Atau malam yang terus berdoa tengadah
memohon kembali kasih, kembali kisah pada yang tiada

Yang tiada...
Hanya sunyi
yang niscaya.

Karawang-Resinda, 06 Oktober 2014

***

P.s.  sajak random yang dituliskan melalui aplikasi blogaway di kotak 7inchi yang baru saja didownload karena coba-coba

P.s.s diunggah melalui provider seluler yang "hidup segan, mati tak mau" di kota orang

P.s.s.s ditemani nyanyian chris martin yang sendu dan dingin, falsetto hidup dalam "For You"

P.s.s.s.s dan di tengah usaha untuk menahan layang rindu pada seseorang di ujung timur jawa. Sekian. Selamat malam.

You Might Also Like

0 comments