Skip to main content

Jika Masih Ada Kedai Yang Buka...

"Menantang rasi bintang,
membalik garis tangan,
menarikan cerita,
menuliskan lagi puisi 
yang mulai kehilangan rimanya." -- FSTVLST

Waktu itu aku tidak paham, apa yang aku lakukan di tengah malam buta yang merosot menuju pagi. Sendirian di tepi sebuah kedai kopi yang jam dua pagi nanti akan menutup diri.

Aku duduk di ujung kedai, tepat di sebelah jendela yang mempertontonkan jalanan sendu, dengan lampu sorot yang berkedip-kedip, berada di antara hidup dan tidak. Aku menunggu lampu itu mati sekalian, karena mataku sakit melihatnya. Dari arah jalan raya, aku terus memperhatikan lalu lalang kendaraan yang tak satupun dari kendaraan itu terselip seseorang yang ingin kutemui.

"Sudah hampir pagi. Kemana dia?" gerutuku, gelisah karena aku ingin pulang tapi tak bisa melupakan janji.

Kalau ada yang bilang, di saat-saat seperti ini perempuan butuh siapa saja untuk jadi teman bicara, itu sangat benar. Bahkan, orang yang sama sekali asing. Di tengah penantian membosankan sebagai makhluk pembosan, tapi dikhianati waktu, perempuan seperti aku rasanya butuh juga teman bicara. Siapa saja. Alien mana saja kalau bisa.

Dan benar saja. Ada seorang lelaki di sudut yang berlawanan denganku, sedang membaca 100 Tahun Kesunyian dari salah satu penulis yang gemar bicara cinta dan kematian, si bapak realisme magis yang agung, Sang Marquez. Aku menatapi buku itu cukup lama, dan sepertinya lelaki itu mengetahui bahwa aku tertarik dengan buku yang sedang ia bulak-balik lembarannya.

Tiba-tiba saja, dalam jeda waktu yang tak sampai sepersekian menit, ia menghampiri mejaku.

"Sendiri?" tanyanya.

Aku mengangguk dan mengutip salah satu judul lagu Tame Impala, sambil tertawa getir karena penantian membosankan. "Haha. Solitude is bliss," kelakarku pada diri sendiri.

Lelaki itu duduk dan menaruh bukunya di atas meja. Setelah itu, ia segera mengeluarkan kotak rokok berstiker quotes kematian di atasnya. Kriket untuk menyalakan rokoknya pun ia tempelkan stiker yang sama. Sesungguhnya aku bertanya-tanya, mengapa lelaki ini begitu mencintai hal-hal seputar mati? Aku jadi sedikit ngeri, bercampur kagum. Apa mungkin aku sedang melihat seorang Reaper di depanku? Dengan matanya yang berkantung, dan rambut panjang ikalnya yang digelung itu?

"Mengapa memilih sendiri?" tanya lelaki itu lagi.

Sungguh. Aku pun tak tahu harus menjawab apa. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata, apalagi menyangkut kesendirian. Jika dibilang pilihan pun, ini bukanlah pilihan yang sesungguhnya benar-benar baik. Mana mungkin ada manusia di dunia yang ingin sendiri? Apalagi perempuan. Jika saja aku bisa memilih untuk bersama manusia yang kuinginkan, tentulah aku tak akan termenung di sini dan berbicara dengan lelaki itu. Malah, kalau ada alien mana pun yang ingin menemani aku mengobrol, itu mungkin lebih baik daripada tenggelam di sudut ruangan, memperhatikan orang-orang yang bercengkrama dengan sesamanya. Aku terlihat paling alien di sini, sendiri, duduk sambil menatap orang dengan waspada.

Lelaki itu lalu melambai di depan mataku. Ia seperti tak menemukan aku di sorot mataku. "Hei kamu melamun?" gumamnya. Aku terduduk tegak. Kaget. Aku lalu membetulkan kacamataku sebentar, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan lelaki itu.

"Kupikir, sendiri itu niscaya. Aku memang selalu iri pada orang yang berdua. Lebih iri lagi pada orang yang mendua, karena kurasa, aku telah bersetia pada orang yang salah. Mereka bisa berdua, bahkan mendua. Sedangkan perempuan, ia diciptakan untuk bersetia sampai mampus," jelasku kala itu.

Lelaki rambut gelung itu mengangguk dan bergumam pelan, "Jadi kau telah berdua rupanya."

Aku mengernyit. Isi kepala lelaki ini sungguh lucu sekali. Aku jadi penasaran. Dia menangkap gelagatku yang aneh dengan pernyataannya barusan. Maka, lelaki itu menambahkan, "Berdua seperti itu apakah senang?"

"Biasa saja," gumamku mantap. Aku selalu bersetia pada orang yang salah. Dari mulai orang yang begitu baik sampai orang yang begitu brengsek. Para lelaki itu sungguh sering membuat aku kalap menelan emosi. Padahal, aku tak pernah berniat untuk marah-marah setiap hari. Aku ingin tenang, tapi rasanya sulit sekali. Aku selalu menyalahkan diriku atas sikap kasihan yang bisa membuat orang lain merasa bahwa aku telah memberi harapan. Padahal, bias antara mengasihani dan mencintai itu, sangat tipis jaraknya.

Dan lelaki itu melanjutkan petuahnya di malam yang sebentar lagi beranjak menuju hari lain.

"Baguslah kalau biasa saja, sebab aku ingat perkataan seorang penulis tua yang berkata bahwa kesenangan adalah tanda bahwa kematian mulai meraba jiwa manusia. Dan seperti yang kau katakan, bahwa sendiri itu niscaya."

Aku mengangguk. Dalam hati aku bergumam, "Aku tahu kata-kata itu. Itu kan Pramoedya Ananta Toer. Sungguh, lelaki yang aneh. Pembaca hidup."

Aku melirik lelaki itu, dari balik kacamataku yang kian malam kian buram. Maklum, aku belum sempat mengganti kacamataku menjadi yang baru, karena terlanjur betah. Ya, seperti kebetahanku pada perasaan yang diberikan untuk orang brengsek, dan baru kusadari malam ini kalau ia semakin menjadi si brengsek yang ulung.

Lelaki itu bukan seperti manusia. Mungkin alien? Atau... Mungkin ia benar-benar malaikat pengantar kematian? Entahlah. Dari postur wajahnya sudah aneh sekali. Dia seperti wajah muda Sang Buddha. Sedikit bercampur Eddie Vedder dengan rambut ikalnya yang tergelung. Matanya berkantung, hitam di lingkar bawahnya. Ketika ia berpindah dari mejanya tadi, ia berdiri dan badannya kurus tinggi. Parka cokelat muda ia kenakan. Celana pipa lurus terlihat pas menemani tungkai kakinya yang kurus itu.

Apa aku sudah gila? Sepertinya tidak juga. Sebab, aku waras sekali. Mataku sehat sekali jika menangkap hal ganjil yang minor. Eh, tapi aku jadi bertanya-tanya, apakah keganjilan ini hanya aku yang tahu? Kalau begitu, aku benar-benar tak waras di mata orang. Ah persetan. Yang jelas, ada yang mengobati kebosananku menunggu di kedai bangsat ini. Lama-lama aku jadi tidak suka minum kopi di sini lagi, sebab ada kenangan yang tertinggal di setiap kopi dan suasana.

Dia pun memecah keheningan di antara kami lagi. Dia berkata, "Kau tahu? Seseorang bisa datang lagi setelah mati, dan seseorang bisa tahu waktu kematiannya. Semuanya ditandai dengan medium ingatan dalam 40 hari yang mulai diwarnai hampa. Kesendirian misalnya. Dan sebenarnya kesenangan atau merindui seseorang itu hal yang lebih hampa lagi."

"Kamu penganut Buddha?" tanyaku kemudian. Tak sopan sekali aku! Ah sial, salah bicara.

Namun, lelaki itu menggeleng. "Bukan. Saya hidup di fiksi. Agama saya imajiner. Tapi, saya baik-baik saja tanpa itu semua."

Ah gila. Orang ini mungkin mabuk. "Kamu mabuk kopi? Atau bir? Atau sebelumnya kamu menelan dextro 40 butir? Atau... Kamu sedang kerasukan Bapa Agung Marquez?"

Lelaki itu tertawa menyeringai. Matanya menyipit kala tertawa. Sialan. Aku jadi gila sendiri melihat lelaki itu. Gambaran manusia surgawi yang benar-benar tak pernah aku lihat. Penuh sesak dalam pikiranku, apa-apa yang aku coba tebak dari lelaki itu. Sambil ikut menyeringai, aku memperhatikan lelaki yang hendak bicara lagi.

"Tidak juga. Saya hanya ingin bercerita tentang sebuah kesenangan dan kesepian. Saya pikir, kau tak perlu merasa sepi, sebab banyak hal yang bisa kau munculkan dari dalam pikiranmu sendiri. Namun, jika kau tak bisa memunculkannya, saya lah orang yang akan datang menemani kau dan orang-orang lain yang terlalu senang atau terlalu sepi," jelas lelaki itu panjang lebar sembari sesekali mengepulkan asap rokok dari kotak "kematian" yang ia miliki.

Lelaki itu lalu membuka beberapa halaman 100 Tahun Kesunyian dan bercerita.

"Aku merupakan gambaran suatu dunia yang ideal; bahwa aku bukan hanya terdiri dari apa yang kuingin, apa yang kupikir -- aku juga adalah apa yang tidak aku cintai; apa yang TIDAK aku inginkan untuk menjelma," gumam lelaki itu sembari terus mengepulkan asap rokoknya. Aku memperhatikan dengan seksama. Lumayan. Cukup untuk membunuh waktu.

Lelaki itu terus bercerita. Sesekali aku melihat jam tanganku. Pintu kedai terbuka, menyuarakan gemerincing yang jelas terdengar. Dari sana, aku melihat dua muda-mudi tertawa bahagia. Aku tersenyum saja. Dalam benakku, aku pernah begitu juga, dahulu. Sampai aku lelah sendiri dan tinggal sunyi yang menemani aku.

Lelaki itu menghalau lamunanku. Ia tak membiarkan pikiranku diisi hal-hal magis yang membuat aku melankolis. Ia lalu berkata, "Sudah, jangan lihat orang lain. Minum saja kopi lagi. Membunuh waktu memang selalu membuat kita membandingkan hidup kita dengan orang yang lain. Ya paling parahnya, pikiranmu kosong saja."

Benar juga. Biasanya, pikiranku kosong saja. Lantas aku menampari pikiranku sendiri. Sekarang, buat apa aku menunggu orang yang tak akan pernah datang tepat waktu, atau mungkin malah tak pernah datang? Buat apa aku duduk di kedai ini sampai pagi? Lebih baik, aku pulang saja ke kostku yang nyaman dan tentram. Berbaring di kasur empuk bersama kucing kesayanganku, dan dikelilingi buku-buku kesukaanku. Itu terdengar lebih menyenangkan sepertinya. Ah, betul. Lebih baik aku pulang.

"Iya ya? Buat apa lihat orang lain. Ah, sudah jam satu pagi. Sebaiknya aku pulang saja. Persetan dengan si pendua. Biar saja dia datang kemari dan menemukan aku tak ada. Dia boleh jalan-jalan dengan perempuan lain, aku akan ikhlas. Haha," tawaku pun pecah. Aku membereskan barang-barangku, merapatkan sweater abu-abu bergambar abstrak yang kubeli di Pasar Senen. Lalu, setelah aku siap, aku pun berpamitan pada lelaki itu.

"Aku naik motor, jadi kamu tidak usah khawatir. Jadi, kapan kita berbincang-bincang lagi soal kematian sambil minum kopi?" tanyaku pada lelaki itu, to the point tanpa tedeng aling-aling.

"Segera. Jika saya sudah membereskan urusan saya di sini, kita pasti ngopi lagi," jelasnya. Misterius.

"Kalau begitu, hubungi aku lewat nomorku saja." Aku lalu menuliskan nomor teleponku di atas kertas bill kedai. Dan aku berikan pada lelaki itu.

"Kabari ya!" jelasku sambil lalu. Aku keluar kedai, mulai memakai helm dan menyalakan motor. Lelaki itu melambai padaku dari dalam kedai sambil tersenyum senang.

Segera aku larikan sepeda motorku ke arah kost dengan dendang riang. Pikiranku terbuka lebar. Selama ini aku bersetia pada orang yang salah. Lalu, mengapa aku masih berusaha untuk bertahan? Padahal, jalan dunia terbuka lebar. Kesenangan menyiksa diri sepertinya adalah nilai kesunyian. Maka, aku putuskan untuk jalan bersisian, menjadi sendiri yang niscaya. Jika mencintainya adalah jalan satu arah, kuputuskan untuk berjalan sendiri saja. Silakan cari arah lain. Haha!

Sepeda motorku kularikan pelan. Dari arah kanan, sepeda motor menyalipku kencang. Ah itu muda-mudi kasmaran yang tadi kutemui di kedai. Senang sekali anak muda sekarang pulang larut malam. Dan sepersekian detik kemudian, hal yang tidak terduga menghampiri.

Menuju kostku, palang kereta tertutup. Dan di depan mata, muda-mudi itu menerobos dengan gila. Kereta telah dekat. Mereka tertabrak, terseret berkilo-kilometer. Beberapa orang yang sedang mengantri palang kereta terbuka, bergumam ramai. Aku sendiri menganga tak percaya. Di seberang palang keretaku, aku seperti melihat lelaki bergelung yang kutemui di kedai tadi. Ia mengepulkan asap rokoknya, menatapku sambil tersenyum. Ia membuyarkan lamunanku. Di telingaku, aku mendengar ajakan minum kopi.

"Sampai ketemu lagi... Mari ngopi lagi... Jika masih ada kedai yang buka, dan orang-orang yang senang atau sunyi, aku ada di sana..."

Kesenangan adalah tanda bahwa kematian mulai meraba jiwa...

Kesenangan adalah tanda bahwa kematian...

Kesenangan adalah tanda...

Kesenangan adalah...

Kesenangan adalah kesunyian......

Yang niscaya.

Dan dalam tempo waktu yang tak tertangkap mataku. Lelaki itu hilang.

Aku merogoh saku jaketku. Ada bill punyaku di sana, dengan nomor telepon genggam yang aku tulis sendiri dan sebuah pesan...

"Saya, aku, kami turun ke bumi, menengok apa-apa yang belum tergenapi. Waktumu belum tiba... Sudahilah apa yang belum sudah. Syukurilah semua yang pasti indah. Hidup itu sekali dan mati itu pasti. Bisa jadi nanti, atau setelah ini. Jangan tenggelam dalam sunyi, sebab sunyi telah niscaya. Shalom."

Aku menoleh kesana-kemari. Jalanan berubah sunyi. Palang kereta belumlah tertutup.

***

Karawang, 06 Oktober 2014
cerita pendek yang sunyi
"karena hidup cuma mampir berfestival." 
:)

Comments

  1. Kedai kopinya di daerah mana, Yu? Pengen deh mampir kesana juga. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…