Skip to main content

Menginterpretasikan Lagu Melalui Bundel Cerita

Jenuh melanda. Pekerjaan yang kadang dikerjakan setengah-setengah membuat saya bingung harus mengisi kekosongan pada jeda pekerjaan itu dengan apa. Terlintaslah kegiatan yang sebenarnya tidak jauh-jauh dari dunia tulis-menulis. Ya. Sebuah kegiatan yang kadang mustahil untuk dilakukan secara konsisten, sebab ide kadang tak muncul sama sekali di hari-hari tertentu, seperti malam Minggu misalnya. Malam yang secara harfiah diartikan sebagai transisi Sabtu ke Minggu, dan dilewati oleh pasangan muda-mudi kasmaran untuk bertebaran di tengah kota. Sedangkan para jomblo? Ya sudah, hal apa yang paling membahagiakan para jomblo selain tertidur di kasur empuknya. Atau mencuci baju sehingga Minggu pagi bisa bersantai, bangun siang. Atau mungkin, menyeterika sambil memutar lagu Konservatif - The Adams, alih-alih membayangkan sedang diapeli oleh kekasih era 70-an. Duduk di dipan, sambil curi-curi pandang pada si gadis karena ayah si gadis pura-pura membaca koran Pikiran Rakyat, padahal sedang menjaga anak gadisnya dari tangan jahil kekasih. Ya Tuhan, kok menyedihkan sekali para jomblo? Hahaha. Membayangkan hal seperti itu sampai betisnya tersundut setrika yang sudah menyala merah.

Ya ampun. Tolong skip dahulu, sebab saya kali ini tak akan bercerita tentang jomblo. Saya hanya ingin menyampaikan sebuah pengumuman, bahwa setelah postingan ini dibuat, maka saya akan "memaksa" diri untuk mengisi halaman blog yang sudah usang ini dengan postingan tak penting, utamanya cerita pendek yang saya buat untuk mengasah kemampuan berimajinasi. Sebab, "sebuah cerita adalah bentuk skizofrenia yang paling dapat dipercaya." 

Begitu saja sudah. Setidaknya, ada sedikit kegiatan di kala jeda dari pekerjaan yang mungkin akan tetap membuat saya berpikir dan tidak diam di tempat. Setidaknya, ada sarana latihan dari kegiatan aneh bin lucu ini. Syaratnya hanya satu, dengarkan lagu. Dari lagu yang didengarkan, diharapkan akan hadir bayi-bayi cerpen baru. Entahlah. Mau cerpen model apa, yang penting cerpen!

Jadi, para jomblowan dan jomblowati yang budiman, yang mungkin mampir ke sini hanya karena ingin mengumpat, tolong doakan saya! Doakan saya dapat mengisi #30harimenuliscerpeninterpretasi!

Maafkan saya, kalau kurang kerjaan. Yah daripada blognya tidak terpakai atau tidak ada yang menghuni, lebih baik diisi sampah-sampah orang kurang kerjaan. Betul tidak? Setuju tidak?

Matraman, 07 September 2014

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…