Langitmu Bukan Pembenaran

Saturday, September 20, 2014

Langitmu Bukan Pembenaran


Mari sini, sayangku…
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku…
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa…
(Soe Hok Gie, 11 November 1969)

Kau perlu tahu, aku menulis ini di sela-sela hari yang begitu menyenangkan. Aku menuliskan ini di tengah suasana hidupku yang akhir-akhir ini kubiarkan mengalir dengan santai. Aku tak peduli lima menit lagi akan bagaimana, atau lima menit lagi makan atau tidak, atau malah lima menit lagi masih hidup atau tidak. Aku menuliskan pesan-pesanku untukmu, yang tentu tak akan bisa kusampaikan tersebab dirimu sudah bersama dengan seseorang yang mungkin ingin kau jaga dengan baik.

Kemarin, kawanmu bertanya padaku, sesungguhnya bagaimana separuh kehidupan yang pernah aku bagi untukmu, apakah ia masih nyata dan mengada? Kawanmu berkata bahwa kau seringkali membicarakan aku ketika malam tiba, atau ketika kesepian melanda. Karena kamu berpikir bahwa kawanmu itu benar-benar dapat kau andalkan untuk urusan percintaan yang tak pernah ada ujung pangkalnya, maka kau pun bercerita.

Begitu juga dengan perempuanmu, seseorang yang hadir ketika aku bahkan sudah jauh melangkah di depanmu, tak lagi menoleh ke belakang, menoleh padamu. Perempuan yang setiap malam menemani hari-harimu. Di hari kedatanganmu ke kota di ujung timur pulau Jawa, kau tak datang. Kawanmu marah-marah dan ia pun bercerita tentangmu. Perempuanmu yang menyusulmu dari pulau seberang pun sempat berkata dengan kesedihan yang kulihat sekelebat, ia berkata bahwa ia akan sedikit marah jika kau yang memintanya datang dan kau malah tak datang menghampirinya. Pengorbanan menuju cinta memang sangatlah menyakitkan.

Aku maklum. Diriku sudah pernah menghadapimu dua tahun lebih. Dua tahun yang cukup melelahkan. Dua tahun tarik ulur hidup dan perasaan. Dua tahun di mana aku mungkin menyakitimu dengan bertubi-tubi dan kau menyakitiku tanpa kau tahu. Dua tahun lalu di mana semuanya kita sudahi, tak berlanjut lagi. Setahun kehilanganmu dan setahun berdiri dengan sebelah perasaan yang sudah mulai membaik. Bersih dari borok dan masa lalu. Aku yang sekarang ini, bukan jelmaan dari akibat yang kau timbulkan, jadi kau tak perlu mengkhawatirkan aku.

Dan sekarang, mengapa kau muncul? Apakah benar-benar untuk sebuah maaf yang sudah lama kuberikan tapi kau tak pernah tahu? Apakah benar-benar kau kembali untuk ketakutanmu akan diriku yang kesepian? Sepi itu niscaya, maka kau tak perlu repot untuk mengingatkanku agar mencari teman. Kau tahu? Kau memang Virgo yang sebenar-benarnya. Virgo awal yang lahir di saat rasi bintang itu muncul pada malam pertamanya. Virgo yang senang memahat kenangan dan tak bisa membuangnya walau telah lama ia kubur sambil sesekali ia gali. Kau Virgo yang selalu menghilang dan seperti tak menginginkan ada orang yang mempedulikanmu. Padahal, aku sungguh peduli padamu, tanpa pamrih. Sejak dulu, aku selalu memikirkanmu, namun rasanya semua itu telah binasa seiring waktu. Aku Libra yang bangga akan diriku yang mudah menata apapun secara cepat. "A sign recovery come to to the broken ones." Aku mudah menyembuhkan diriku. Mungkin, hanya Libra yang mampu melakukan self healing. Aku siluman. Aku mudah melupa. Aku tak pernah mengembalikan ingatan menyakitkan, meski sesekali kubuka dan kutengok ala kadarnya. Aku tak pernah menyirami kenangan, karena aku tak ingin hidupku tumbuh seperti bunga yang layu jika tak kusiram. Aku ingin jadi kaktus. Hidup dengan duri, pilih-pilih teman.

Jika kau anggap aku kini menjadi sangat aeng, sangat sombong atau bahkan aneh, kau tak perlu khawatir. Semua ini bukan akibat dari apa-apa yang pernah kau lakukan padaku, termasuk menyakiti perasaanku. Semua ini bukanlah hasil dari yang kau perbuat. Semua jalan hidup yang kupilih adalah salah satu caraku untuk menghidupi hidupku yang dari dulu memang sudah baik-baik saja. Maka, aku berpikir, untuk apa aku menyakiti diriku sendiri dan menyiksa diriku dengan kenangan tentangmu. Jadi, aku mohon maaf jika beberapa waktu lalu, aku bicara seperti diriku yang tak mengenalmu. Atau, mungkin kau tersinggung dengan sikapku yang keras seperti batu. Maaf juga jika aku terlihat seperti orang yang tinggi hati, karena sesungguhnya memang beginilah aku.

Aku tak pernah menyalahkan kau, dan apa-apa yang terjadi pada kita. Aku hanya ingin kau berhenti memupuk kenangan. Aku hanya ingin kau menjadi Virgo yang tidak melakukan pembenaran atas ke-Virgo-anmu. Hidup ini dijalani, bukan diteliti seperti engkau mencari setitik kuman dalam makanan. Hidup ini bukanlah apa-apa yang ada dalam zodiakmu, melainkan apa yang kau usahakan berubah. Karena itulah, aku bangga menjadi diriku. Aku tak melakukan pembenaran atas zodiakku yang mungkin berseberangan dengan dirimu. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku kini baik-baik saja. Mereka bilang, Libra itu melodramatik. Namun, aku berusaha untuk tak menjadi seperti itu. Semoga kau paham, mengapa pada akhirnya aku menjadi manusia yang keras kepala dan skeptis terhadap sebuah hubungan yang mengandung status.

Jadi, kupikir, sudahilah kenanganmu. Jalanilah hidupmu yang baru. Di depan sana, masih banyak hal yang perlu kau pikirkan daripada sekedar mengasihani aku. Aku tak pernah mengasihani diriku sendiri seperti orang terbuang, lalu mengapa kau harus repot-repot memikirkan aku?

Matraman, 20 September 2014

2 comments :

  1. Kutipan paling atas bagus banget hehehe...

    Dah lama gak posting manjat gunung yu??

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih soalnya belum manjat lagi. hehe.

      Delete