Skip to main content

Langitmu Bukan Pembenaran

Mari sini, sayangku…
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku…
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa…
(Soe Hok Gie, 11 November 1969)

Kau perlu tahu, aku menulis ini di sela-sela hari yang begitu menyenangkan. Aku menuliskan ini di tengah suasana hidupku yang akhir-akhir ini kubiarkan mengalir dengan santai. Aku tak peduli lima menit lagi akan bagaimana, atau lima menit lagi makan atau tidak, atau malah lima menit lagi masih hidup atau tidak. Aku menuliskan pesan-pesanku untukmu, yang tentu tak akan bisa kusampaikan tersebab dirimu sudah bersama dengan seseorang yang mungkin ingin kau jaga dengan baik.

Kemarin, kawanmu bertanya padaku, sesungguhnya bagaimana separuh kehidupan yang pernah aku bagi untukmu, apakah ia masih nyata dan mengada? Kawanmu berkata bahwa kau seringkali membicarakan aku ketika malam tiba, atau ketika kesepian melanda. Karena kamu berpikir bahwa kawanmu itu benar-benar dapat kau andalkan untuk urusan percintaan yang tak pernah ada ujung pangkalnya, maka kau pun bercerita.

Begitu juga dengan perempuanmu, seseorang yang hadir ketika aku bahkan sudah jauh melangkah di depanmu, tak lagi menoleh ke belakang, menoleh padamu. Perempuan yang setiap malam menemani hari-harimu. Di hari kedatanganmu ke kota di ujung timur pulau Jawa, kau tak datang. Kawanmu marah-marah dan ia pun bercerita tentangmu. Perempuanmu yang menyusulmu dari pulau seberang pun sempat berkata dengan kesedihan yang kulihat sekelebat, ia berkata bahwa ia akan sedikit marah jika kau yang memintanya datang dan kau malah tak datang menghampirinya. Pengorbanan menuju cinta memang sangatlah menyakitkan.

Aku maklum. Diriku sudah pernah menghadapimu dua tahun lebih. Dua tahun yang cukup melelahkan. Dua tahun tarik ulur hidup dan perasaan. Dua tahun di mana aku mungkin menyakitimu dengan bertubi-tubi dan kau menyakitiku tanpa kau tahu. Dua tahun lalu di mana semuanya kita sudahi, tak berlanjut lagi. Setahun kehilanganmu dan setahun berdiri dengan sebelah perasaan yang sudah mulai membaik. Bersih dari borok dan masa lalu. Aku yang sekarang ini, bukan jelmaan dari akibat yang kau timbulkan, jadi kau tak perlu mengkhawatirkan aku.

Dan sekarang, mengapa kau muncul? Apakah benar-benar untuk sebuah maaf yang sudah lama kuberikan tapi kau tak pernah tahu? Apakah benar-benar kau kembali untuk ketakutanmu akan diriku yang kesepian? Sepi itu niscaya, maka kau tak perlu repot untuk mengingatkanku agar mencari teman. Kau tahu? Kau memang Virgo yang sebenar-benarnya. Virgo awal yang lahir di saat rasi bintang itu muncul pada malam pertamanya. Virgo yang senang memahat kenangan dan tak bisa membuangnya walau telah lama ia kubur sambil sesekali ia gali. Kau Virgo yang selalu menghilang dan seperti tak menginginkan ada orang yang mempedulikanmu. Padahal, aku sungguh peduli padamu, tanpa pamrih. Sejak dulu, aku selalu memikirkanmu, namun rasanya semua itu telah binasa seiring waktu. Aku Libra yang bangga akan diriku yang mudah menata apapun secara cepat. "A sign recovery come to to the broken ones." Aku mudah menyembuhkan diriku. Mungkin, hanya Libra yang mampu melakukan self healing. Aku siluman. Aku mudah melupa. Aku tak pernah mengembalikan ingatan menyakitkan, meski sesekali kubuka dan kutengok ala kadarnya. Aku tak pernah menyirami kenangan, karena aku tak ingin hidupku tumbuh seperti bunga yang layu jika tak kusiram. Aku ingin jadi kaktus. Hidup dengan duri, pilih-pilih teman.

Jika kau anggap aku kini menjadi sangat aeng, sangat sombong atau bahkan aneh, kau tak perlu khawatir. Semua ini bukan akibat dari apa-apa yang pernah kau lakukan padaku, termasuk menyakiti perasaanku. Semua ini bukanlah hasil dari yang kau perbuat. Semua jalan hidup yang kupilih adalah salah satu caraku untuk menghidupi hidupku yang dari dulu memang sudah baik-baik saja. Maka, aku berpikir, untuk apa aku menyakiti diriku sendiri dan menyiksa diriku dengan kenangan tentangmu. Jadi, aku mohon maaf jika beberapa waktu lalu, aku bicara seperti diriku yang tak mengenalmu. Atau, mungkin kau tersinggung dengan sikapku yang keras seperti batu. Maaf juga jika aku terlihat seperti orang yang tinggi hati, karena sesungguhnya memang beginilah aku.

Aku tak pernah menyalahkan kau, dan apa-apa yang terjadi pada kita. Aku hanya ingin kau berhenti memupuk kenangan. Aku hanya ingin kau menjadi Virgo yang tidak melakukan pembenaran atas ke-Virgo-anmu. Hidup ini dijalani, bukan diteliti seperti engkau mencari setitik kuman dalam makanan. Hidup ini bukanlah apa-apa yang ada dalam zodiakmu, melainkan apa yang kau usahakan berubah. Karena itulah, aku bangga menjadi diriku. Aku tak melakukan pembenaran atas zodiakku yang mungkin berseberangan dengan dirimu. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku kini baik-baik saja. Mereka bilang, Libra itu melodramatik. Namun, aku berusaha untuk tak menjadi seperti itu. Semoga kau paham, mengapa pada akhirnya aku menjadi manusia yang keras kepala dan skeptis terhadap sebuah hubungan yang mengandung status.

Jadi, kupikir, sudahilah kenanganmu. Jalanilah hidupmu yang baru. Di depan sana, masih banyak hal yang perlu kau pikirkan daripada sekedar mengasihani aku. Aku tak pernah mengasihani diriku sendiri seperti orang terbuang, lalu mengapa kau harus repot-repot memikirkan aku?

Matraman, 20 September 2014

Comments

  1. Kutipan paling atas bagus banget hehehe...

    Dah lama gak posting manjat gunung yu??

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih soalnya belum manjat lagi. hehe.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…