Jangan Datang Malam Ini

Aku tak pernah jatuh cinta dan aku tak pernah bisa mengerti tentang cinta. Yang aku tahu, cinta itu selalu menyesatkan. Tak ada manusia yang benar-benar mencinta dan dicinta. Semua hal berbau cinta, hanyalah fana. Bukan karena aku penganut aliran Tong Sam Chong, biksu yang mencari kitab suci ke barat dan mengatakan kalau cinta itu fana. Bukan karena dia aku begini. Aku hanya tidak ingin jatuh cinta, karena aku pernah merasakan pahitnya sebuah kata ‘cinta’. 

Bagiku, jatuh cinta itu hanya menghancurkan hidup… Dan aku, Tiko, lelaki tak bermasa depan dengan usia dua puluh tujuh tahun, mengembara mencari arti cinta yang sesungguhnya dan patut disebut cinta, di sudut Jakarta yang menyuguhkan berbagai kisah dramatisasi cinta…

***

“Ko, malem minggu ada acara nggak?” tanya seorang teman padaku, ketika aku baru saja memasukkan gitarku dan berniat untuk istirahat sejenak dari pekerjaanku sebagai pengamen. Ya, aku mengamen dan apakah itu dosa? Tidak juga kan? Jadi, aku mohon, jangan protes dulu.

“Nggak ada. Emang kenapa?” Aku balik bertanya, sekedar basa-basi.

“Ke Kotu yuk! Ada bar, baru buka. Si Liam mau traktir minum katanya,” kata temanku.

Aku beranjak pergi dan menjawab sekenanya, “Oke. Minuman mahal ya! Aku nggak biasa minum oplosan. Haha!”

Aku pun pergi dan mengembara lagi. Mencari tempat istirahat yang tepat untukku merenung dan menghisap rokok. Dan aku pun sampai di sebuah lapangan luas yang basah karena terhujani. Mungkin hujan semalam. Aku duduk di pinggiran lapangan, mulai menyulut rokok dan saat itu, seorang wanita melintas di depanku, menuju sebuah warung yang tak jauh dari tempatku duduk.

Ah, tubuhku berdesir. Dan aku tak tahu apa maksudnya semua ini. Wanita itu menoleh dan tersenyum. Semakin membuat aku kikuk. Ada badai kupu-kupu di perutku. Apakah ini jatuh cinta? Kurasa bukan. Mungkin aku hanya sedang kelaparan kala itu. Wanita itu beranjak pergi setelah membeli yang diinginkan.

Satu pelajaran yang aku dapat dari perenunganku hari ini. Wanita itu sederhana. Tanpa berdandan dan merayu. Hanya tersenyum dan bisa membuatku jatuh cinta. Cinta datang dari kesederhanaan dan aku mulai membuka hati akan cinta.

***

Malam Minggu kali ini, aku menyanggupi ajakan teman-temanku untuk minum bersama di bar daerah Kota Tua. Bar murah. Minuman murah. Dan mabuk secara murahan. Perempuan murahan, yang bisa aku habiskan dalam semalam. Kebetulan, sejak bertemu wanita sederhana, di lapangan itu, tubuhku berdesir terus. Nafsu pun memburu dan di saat seperti ini, aku tak tahu harus menyalurkan pada siapa. Pacar, tak ada. Istri? Tentu saja aku belum berminat. Dan itu berarti, pelacurlah satu-satunya pilihanku. Malam itu, semua temanku mabuk dan bergulung dalam dada perempuan mereka masing-masing. Aku minum di meja paling ujung. Beberapa botol minuman murahan yang membuat beberapa temanku muntah, tersaji di depanku. Aku mabuk, sendirian. Sampai seorang wanita tuna susila di bar itu, menghampiriku.

“Mabuk kok sendirian?” tanya wanita itu padaku.

Aku tidak menggubrisnya dan dia mulai duduk di pangkuanku sambil menciumi telingaku. Oh beginikah cara seorang wanita tuna susila untuk merayu? Kadang, aku kasihan. Tapi mau bagaimana lagi. Mungkin hanya itulah pekerjaan mereka.

“Aku nggak punya duit buat bayar kamu,” kataku padanya.

Dia lalu menunjuk ke arah Liam—teman pentraktir—yang sedang bergumul dengan wanitanya di seberang mejaku.

“Maksudnya?” tanyaku pada wanita yang mulai berhenti menciumiku.

“Dia yang bayar,” jawabnya.

Aku lalu menarik wanita di depanku untuk keluar dari bar dan kami pun berjalan menyusuri Kota Tua.

Dia menggamit lenganku dan bertanya, “Kamu nggak suka bercinta ya? Temen kamu udah bayar aku lho?”

“Lagi nggak pengen gitu-gituan. Pengen ngobrol aja, tanya-tanya soal perempuan,” kataku sambil melepas jaket dan memasangkan pada tubuh wanita itu.

Saat itulah, baru aku sadari. Wanita itu… Wanita itu adalah wanita sederhana yang aku inginkan dan aku lihat di lapangan perenungan. Ah. Kenapa? Kenapa begitu kompleks hidupku? Aku lebih baik melihat dia sebagai wanita sederhanaku, bukan sebagai wanita tuna susila. Dan kenapa aku dipertemukan lagi dengannya? Apakah ini kebetulan atau memang takdir?

“Hei, mau tanya apa?” katanya padaku sambil tersenyum.

Aku mengajaknya duduk dan berkata, “Stop kerja kayak gitu. Kamu bisa cari suami yang baik dan kaya. Kamu bisa hidup layak. Kamu….” Kata-kataku tercekat.

“Ya?”

“Kamu kan cantik. Kamu tidak pantas menjajakan tubuhmu,” kataku lagi.

Dia diam. Aku lebih diam, tenggelam. 

Dia pun beranjak pergi dan aku tak bisa menahan dirinya yang menjauh. Aku hanya bisa berdiri, dan berteriak, “Kalau ada lelaki yang mau melamar kamu. Apa kamu mau berhenti kerja kayak gini?”
Dia berhenti melangkah dan berbalik, lalu berkata, “Aku nggak tahu. Aku butuh uang sekarang, untuk ibu dan adikku. Kalau aku berhenti sekarang, mereka nggak makan!”

Dia lalu pergi, meninggalkan aku yang termenung di tengah lautan manusia di Kota Tua.

***

Keesokan harinya, aku buka buku tabunganku. Aku rapikan kamarku dan segera kutelpon Liam.

“Kenapa bro Tiko? Gimana kemaren? Servis cewek-cewek di bar itu mantep kan?” tanyanya padaku.

“Mantep bro. Makanya, tolong telpon bar itu, kirim cewek yang sama kayak kemaren ke kost ya!” kataku pada Liam.

“Haha! Ketagihan dia! Oke gampang bro. Pake duit gue aja ya! Kebetulan gue masih mau hura-hura duit gue sendiri.”

Setelah mengiyakan, segera kututup telepon dan menunggu wanitaku. Dia harus berhenti menjadi pelacur.

Sekitar jam duabelas siang, suhu di kontrakanku yang sedang panas-panasnya, mulai membuat aku kesal. Aku nyaris kehilangan kesabaranku kalau saja pintu kontrakanku tidak diketuk, olehnya.

“Masuk!” kataku dari dalam.

Wanita pujaanku, datang dengan pakaian yang sopan. Dengan lihai, dia langsung mengunci pintu kontrakanku dan memelukku dari belakang. Dia memelukku erat, dan mulai melepaskan kancing bajuku. Oh, Tuhan! Apakah memang begini adanya, seorang pelacur?! Blak-blakan dan tak berbasa-basi.

Aku berbalik dan kudapati dirinya yang kaget. Dia mundur ke pintu kontrakan.

“Kamu lagi! Sebenarnya apa maumu!” desaknya.

“Aku mau kamu berhenti kerja dari bar itu!” teriakku sambil mendekatkan wajahku padanya.

“Aku nggak bisa!” teriaknya sambil berusaha membuka pintu dan keluar.

Aku menahan pintu dan mulai berkata lirih, “Please, kamu nggak usah dateng ke sana malam ini. Di sini aja. Kamu harusnya tau, aku ini cinta kamu.”

Dia terdiam dan mulai terduduk lesu di lantai. Menangis.

“Aku harus kasih makan keluarga. Aku nggak bisa lihat adik-adikku menangis kelaparan,” katanya lirih, tersamar isak tangis.

Please… Kamu bisa hidup sama aku sekarang. Aku kan kerja,” kataku.

“Kamu cuma pengamen,” sahutnya.

“Setidaknya, pekerjaanku lebih halal dan hasilnya juga lumayan.”

Dia menangis tersedu-sedu. Aku paling tak tahan melihat wanita menangis, sehingga aku berkata, “Jadilah wanitaku.”

Kupeluk erat dirinya dan perlahan, kucium keningnya. Kulumat bibirnya dan kudekap dirinya lebih erat. Dia tak menolak dan balas memelukku erat. Aku bercinta dengannya. Dan kali ini, aku jatuh cinta juga. 

Pupan Raya, 04 Februari 2012

---

cerpen interpretasi ini dibuat sembari mendengarkan lagu:
Padi - Jangan Datang Malam Ini


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung