Pernikahan dan Hal-Hal Yang Tak Pernah Selesai

"Mbak, ada undangan nikahan nih, dari temen Mbak kayaknya. Mamah taruh di meja buku."

Pesan singkat Ibunda memasuki telepon seluler saya, di antara ribuan sinyal provider kartu yang berseliweran di atap gedung Hartono Elektronika. Surabaya agak panas menyengat beberapa hari ini dan pembawa sinyal agak tak berirama. Tapi, mengapa pesan Ibunda masuk seketika?

Pesan itu, seperti pesan yang sudah-sudah. Pesan dari Ibu itu, semacam pengulangan pada kejadian yang sebelumnya pernah ada. Intinya, saya diminta pulang. Untuk apa? Sudah barang tentu, selain untuk bertukar kabar dengan keluarga di rumah, saya harus pulang untuk menghadiri undangan-undangan yang terbengkalai itu. Meski terlambat mengucap, tak apa lah. Setidaknya, saya setor wajah pada teman-teman yang kiranya sedang berbahagia agar tak dicap sebagai "wanita gila kerja", "kawan pencari sesuap berlian", "kawan yang lupa", atau lebih parah lagi jadi kawan yang dicap dengan kata-kata, "sok sibuk lo Yu!"

Sebelum pulang, saya menghitung helaan nafas yang keluar dari diri sendiri, sebagai refleksi langkah-langkah kehidupan. Ah, bukankah saya belum begitu tua? Umur dua puluh dua saja belum tergenapi sempurna. Usia produktif untuk berkeluarga rasanya masih agak lama (karena mungkin memang standar saya saja yang kelewat berbeda dengan perempuan kebanyakan), jadinya saya anteng-anteng saja bekerja tak kenal depresi, padahal titik didih otak sudah mencapai batasnya dan siap luber ke permukaan meja. Kata beberapa kawan saya yang sudah menikah, di saat-saat seperti ini saya memang butuh pendamping. Kata mereka, "Lo butuh temen cerita Yu, kalo pas lo kerja lagi depresi berat, ada yang nemenin ada yang dicurhatin."

Oh begitukah? Rasanya, sejauh saya hidup, saya tak pernah meminta pada siapapun. Saya tak pernah menaruh tangan saya di bawah tangan yang lainnya, semacam meminta belas kasihan atau paksaan pengertian pada pekerjaan saya yang kadang menyebalkan. Ya, menjadi seorang developer di tengah rimba industri multinasional dan segala politiknya. Saya bukan apa-apa, tapi agar menjadi apa-apa, saya harus bertahan di sana.

Depresi berat itu, kemarin menuju titik puncaknya. Teman-teman satu project saya, seperti itu pula. Dan ketika bercerita pada seorang kawan perempuan, dia berkata, "Lo mungkin harus bikin hidup lo stabil. Dengan cara, lo cari pendamping."

Apa memang harus seperti itu? Rasanya, memiliki pendamping di saat semangat sedang menggebu-gebu begitu, agak sulit juga. Saya harus bisa membagi waktu, membagi pekerjaan saya yang gila-gilaan dengan kehidupan nyata. Realita. Saya belum tentu bisa kembali bekerja seperti sedia kala. Karena saya perempuan dan saya hidup dalam tatanan patriarkis yang mau dirontokkan itu sudah pasti tak akan bisa mudah, saya pasti harus menurut pada satu rule utama dalam pernikahan bahwa, "Istri adalah pendamping suami dan pemenuh kebutuhan suami. Pendengar setia. Pecinta. Penolong saat sedih. Apalah."

Ya ya ya ya. Saya tahu semuanya akan lari ke sana. Jadi, apa benar saya butuh pendamping seumur hidup untuk membenahi emosi saya yang naik turun atau depresi-depresi kecil akibat pekerjaan yang menumpuk tapi melecut semangat berproses saya? Entahlah. Saya tidak berani berpikir jauh, sebab esok hari saja belum terlihat muaranya. Jadi, saya hanya menghidupi hari yang sedang berlangsung dengan sebaik mungkin, agar besok menjadi lebih baik, atau setidaknya stabil. Tapi, ya siapa yang tahu kalau ternyata esok hari lebih buruk. Maka, saya tak pernah melego hidup pada satu putaran dadu yang bernama "kehidupan rumah tangga."

Ah maaf, ralat. Bukan tak mau, tapi belum mau.

Kalau teman-teman mengatakan saya ini gila kerja, silakan lah. Itu hal yang wajar. Perempuan seperti saya ini apalah jenisnya. Di usia yang sama, banyak teman-teman perempuan yang kelihatannya berbahagia dengan keluarga kecil mereka, dengan anak-anak mereka. Sedangkan saya, saya ingat satu teman lama berceloteh, "Cuma kamu Yu, satu-satunya anak TKJ cewek yang masih bertahan di Jakarta."

Ya, teman-teman saya tumbang satu per satu dari ibukota yang keras ini. Yang segalanya serba dituntut untuk berburu. Berburu busway paling pagi agar tak kena quota masuk busway. Berburu taksi paling pagi agar tak kena macet menuju bandar udara. Berburu nasi uduk di depan kost agar tak kelaparan dalam perjalanan menuju ke kantor yang dihiasi macet. Ya itu, Jakarta yang tiba-tiba menjadi hutan belantara, tak terprediksi pula isinya. Teman-teman yang berbahagia itu, seperti sedikit mencibir, "Ngapain kamu kerja. Kamu nikah aja. Punya suami, enak. Nggak usah kerja, cuma ngurus anak, beres-beres rumah. Udah. Mau belanja, kan suami yang kasih."

Aduh. Apa saya bisa begitu? Sedangkan, selama ini saya membereskan apa-apa sendiri. Membetulkan langit-langit kost, menempelkan poster di kost, mengangkut lemari, dan segalanya bersama teman perempuan satu kost. Pindahan kost, saya cari motor sana-sini dan pindahkan sendiri barang-barang, diangkut ke motor, bolak-balik saja. Karena serba sok mandiri itu, saya terlecut dan membentuk mindset, "Saya bisa sendiri. Apa-apa sendiri sudah biasa. Lalu, bukankah jadi berbeda kalau saya memutuskan menikah segera?"

Sebab menikah bukanlah hal main-main seperti main lotere. Kalau menang dapat uang, kalah ya hilang uang. Mungkin mudah hilang uang, tapi apa mudah jika komitmen dipermainkan karena keputusan buru-buru yang tidak dipikirkan rasional dan matang?

Kata orang, menikah tak butuh biaya blablabla. Menikah tinggal menikah saja. Bukan itu sebenarnya yang saya garisbawahi. Bukan biaya, sama sekali bukan. Komitmen keterikatan itulah yang membuat saya harus berpikir matang-matang untuk memilih antara "menikah", "menikah nanti juga bisa", atau "tidak menikah deh". Ya begitulah. Banyak pertimbangan yang berkelebatan dalam pikiran jika membicarakan hal-hal sensitif semacam pernikahan ini. Saya juga jadi takut sendiri, setelah tadi sore berbicara delapan mata dengan kawan project kantor dan pimpinan saya langsung. Hal yang langsung menohok saya:

"Kalian laki-laki mah nanti kan enak kalo udah umur sekian tinggal lari project sana-sini, nggak harus coding lagi. Nah, Ayu juga. Sepuluh tahun lagi kan enak Yu, tinggal jagain project nggak usah turun coding. Eh, itu juga kalau masih sama kita. Nggak tahu juga kan nanti suaminya bolehin kerja kayak gini lagi atau nggak."

Hal itu yang saya takutkan. Hidup saya selama ini berproses terus menerus. Banyak hal baru dan yang saya tak tahu, hadir pada saya melalui pekerjaan saya yang menyenangkan, meski membuat saya depresi setengah mampus. Sebenarnya, depresi kan hanya hal temu solusi atau tidak. Kalau ketemu, ya lewatlah depresinya. Kalau belum ketemu, ya selamat berkutat dulu sampai pagi. Seperti itu. Tapi, apa nanti masih bisa seperti ini jika saya sudah menikah?

Ah entahlah. Bicara visi misi untuk satu orang saja belum khatam benar, apalagi bicara visi misi untuk dua orang? Tiga orang (kalau anaknya satu)? Empat orang (kalau anaknya dua atau anak kembar)? Dan jumlah yang terus meningkat itu kala kita berkeluarga. Sebab, katanya berkeluarga itu bukan hanya menyatukan dua orang saja, tapi seluruh keluarganya juga.

Ah saya belum siap. Entahlah. Mungkin ego masa muda yang masih lekat menempel dalam diri, untuk sebuah pengakuan atau sebuah transmisi manfaat bagi orang sekitar, yang mungkin saja ketika sudah menikah nanti, tidak bisa sepenuh hari ini.

Saya tak lagi ingin bicara visi dan misi 'kita', 'saya dan kamu'. Mungkin saya akan menemui hari di mana saya benar-benar harus ditemani sepanjang usia, punya anak-anak lucu yang meramaikan beranda rumah, punya tempat di mana saya akan selalu kembali berpijak. Mungkin saya akan memilikinya, suatu saat nanti. Saat-saat yang pasti tak akan bisa diputuskan dalam waktu dekat ini.

Mungkin ketika lelah nanti, atau ketika saya sudah tak lagi sanggup melakukan apa-apa sendiri sebab beban hidup semakin tinggi. Tapi, apakah ada 'nanti'? Apakah ada yang akan menanti? Sungguh jadi perdebatan yang serba salah, tentunya perdebatan dalam diri saya sendiri. Jika nanti tak pernah ada, berarti saya akan menyesal. Tapi, jika tak perlu ada nanti dan saya lakukan sekarang, apa nanti itu tetap menyesal?

Entahlah. Bicara pernikahan dan keluarga cemara seperti Abah dan Emak memang tak akan pernah selesai. Saya tak pernah tahu, kapan milestone hidup tercapai. Kapan batu pijakan menuju fase-fase hidup selanjutnya akan saya lewati, saya tak pernah tahu.

Yang saya tahu, saya sedang hidup untuk menuju entah apa. Saya sedang menghidupi hari ini. Itu saja cukup, tak ada embel-embel lain.


Surabaya, 28 Agustus 2014
log 01:33 AM

sambil setel Nirvana - Sappy

/// And if you save yourself / You will make him happy / He'll keep you in a jar / And you'll think you're happy
He'll give you breathing holes / And you'll think you're happy / He'll cover you with grass / And you'll think you're happy now ///

Comments

  1. pertanyaan kapan menikah adalah pertanyaan paling menyeramkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak juga ... yg menyeramkan itu adalah, "udah berapa anaknya?"
      bhahaha, wong nikah aja belom! XD

      Delete
    2. wahahahaha...

      intinya pertanyaan2 seputar kehidupan mah ga akan beres. jomblo, ditanya kapan nikah. udah nikah, ditanya kapan punya anak. udah punya anak, ditanya kapan punya anak lagi (adiknya anak pertama). dan seterusnya, dan sebagainya.

      ditahan2 aja supaya nggak muak. wakakak. :)))

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung