Petrichor, Cokelat Hangat, dan Pengampunan Dosa

"The shimmering heat. The bold, hot sun. Best dawn endlessly.
The rains will come, wash down and done.
I sit and then I dream of the way we used to be." -- Gold on the Leaves, Luluc

---

Langit akhirnya menghujani jalanan Surabaya yang sejak dua minggu belakangan ini gersang dan kering. Jalanan macet ketika jam huru-hara. Sebelum dan sepulang bekerja. Apalagi, bulan puasa yang makin mendekati puncaknya membuat orang-orang naik pitam di jalan raya. Ingin segera pulang, ingin segera berbuka, atau malah ingin berbelanja. Selama dua minggu ini, saya mengamati kehidupan Surabaya yang mulai menjelma ibukota. Saya ada di tengah-tengah lautan manusia, di jalanan, menuju tempat singgah sementara.

Kabar demi kabar datang dari teman-teman seperjuangan saya di Jakarta. Rupanya, ada yang memanas di sana. Saya dan satu orang teman saya di sini pun tak bisa tenang. Pikiran jadi bercabang, berada di antara keinginan membereskan project dan menyatukan kembali pecahan vas yang resmi hancur. Belum lagi kabar kepindahan yang tiba-tiba, membuat beberapa barang terbengkalai. Rasanya, jika saya dapat memiliki pintu ke mana saja, yang saya tuju hanyalah tempat singgah saya di sana. Masih singgah sementara.

Tiba-tiba saja, saya jadi ingin mengasihani diri sendiri. Sejak kapan saya punya rumah? Dari dulu, bukannya memang hanya tempat sementara untuk singgah?

Kadang, apa yang diinginkan dan diharapkan selalu menemukan muara pada apa yang tak berkesudahan. Perang dan kebencian misalnya. Atau, boikot kehidupan dan tarik ulur yang semena-mena. Kadang, kenyataan membuat kita bertanya-tanya tentang rencana-rencana masa lalu yang hingga saat ini, bahkan belum terpenuhi. Apalagi, rencana itu adalah rencana kolektif. Kemarahan yang sulit terungkapkan pun menjelma sedih panjang, bagai tanah Surabaya yang belakangan gersang.

Namun, sore ini hujan. Aroma petrichor merebak ke indera penciuman saya yang sudah tak lagi mencium aroma kesenangan. Hujan sore ini, dibarengi dengan pesan kawan seperjuangan di Jakarta, bahwa barang-barang kami yang ikut Bapak Satu, sudah dipak sebagian. Sedangkan, Bapak Dua tidak mau ambil pusing dan berencana untuk merumahkan karyawan yang ada.

Termasuk saya dan kawan saya yang saat ini sedang di Surabaya. 
Termasuk OB yang anaknya sakit-sakitan.
Termasuk si A, si B, dan si C yang anaknya sedang di rumah sakit.

Tapi Bapak Dua, tak ambil pusing. Beliau beralasan, bahwa tempat kami bekerja ini akan disewakan pada yang lain.

Tega benar.

Jadi, selama ini, kerja keras kami dianggap apa? 

Akhirnya, kami yang ikut Bapak Satu, memutuskan pindah tiba-tiba. Kebingungan melanda, sebab saya belum punya rumah.

Seperti tadi saya katakan, sejak kapan saya punya tempat singgah permanen? 

Tapi Tuhan tetap mengerti, bahwa kalut hati ini bisa sembuh karena kehadiran orang-orang yang saya anggap penting dan memang mengobati sedih.

Di tengah hujan, wangi petrichor yang membuat saya optimis bahwa hidup selalu bisa diselamatkan meskipun ada di ujung jurang sekalipun, di aroma pengampunan dosa dari secangkir cokelat hangat, dan pesan-pesan darinya yang terus bergulir, saya masih percaya bahwa saya dan teman-teman akan selamat.

Maka, saya memutuskan tak ambil pusing juga dengan hari esok, meski sebelumnya saya sudah bersedih-sedih sepanjang siang. Saya memutuskan untuk memasang lagi headset, memutar Luluc dan Sayde Price dari laptop saya, sembari melihat pesan-pesan client yang mungkin akan menyelamatkan hidup semua kawan seperjuangan di Jakarta.

Di meja, cokelat panas masih menguarkan kepulan uap yang menenangkan.
Dan di meja, telepon genggam masa kini masih menebarkan getar dari pesan-pesannya yang selalu menyelamatkan.

Terima Kasih, A.

Terima kasih pula, pada hidup yang menjelma roda.

Menjura saya, selalu.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)