Pada Malam Dimana Bulan Setengah Terjaga

Ada yang menggantung bulatan putih itu di langit, seperti spekulasi tentang bumi yang ditaruh di pundak Atlas, atau dibawa berjalan oleh kura-kura raksasa.

Itu adalah hal-hal yang diamini sampai akhirnya kura-kura itu terlelap, dan orang-orang mengenal apa yang disebut dengan rotasi. Semua spekulasi itu hilang, dan pelan-pelan, orang melupakan bentuk-bentuk fisis dari tiap benda-benda langit yang selalu dipertanyakan eksistensinya. Pelan-pelan, orang tidak memperhatikan benda-benda langit yang sebenarnya telah menemani mereka sepanjang hidup. Menjaga keseimbangan tempat mereka berpijak pada tanah, tanpa harus keluar dari rotasi poros yang kencangnya minta ampun.

Bulan putih di langit, tak punya mata dan tak punya hidup. Tetapi ia berjalan mantap. Dengan rotasi dan putarannya sendiri pada poros yang ada. Ia menemani setiap malam dengan pantulan cahaya dari matahari, yang jauhnya berjuta-juta kilometer. Meski ia tak punya hidup, tapi sesungguhnya ia memberi orang lain kehidupan.

Kehidupan bagi nelayan yang butuh pasang. Atau,
bagi para kekasih yang gemar duduk di tepian taman pada suatu malam.

Mereka yang membayangkan, apa bulan menghangatkan seperti matahari yang menghabiskan separuh hari?

Di tiap malam-malam manusia, bulatan pucat itu sebenarnya selalu ada. Sama saja seperti matahari yang berkuasa mengambil separuh hari, di tengah hiruk-pikuk kehidupan manusia. Tanpa memaksa, matahari selalu ditemani.

Tapi bulatan pucat itu?

Ia selalu sendiri. Manusia lelap.
Bulatan pucat yang kesepian, kala ia menjaga manusia yang lelap di tengah dunianya.
Bulan ingin melanglang, tanpa berputar-putar di sana, tapi ia tak tega.

Jika ia tega, mungkin manusia tak lagi dapat lelap.
Mungkin hancur sekali. Hiruk-pikuk manusia akan ada setiap hari dan setiap malam, kala bulan hilang dan melanglang lari dari poros.

Seperti yang aku percayai ketika Hartdegen melaju ke tahun 2037, di mana manusia tak lagi dapat lelap, karena bulan yang kesepian, ingin menemani bumi dari dekat.

Dekat sekali, hingga manusia berlarian.

Ketakutan...

Cipageran, 1 Juli 2014
log 22.11

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)