Menanti Riuhnya Gegap Gempita Menjadi Tangis Balada

Sampai saat tulisan ini disusun, saya masih bertanya-tanya, hal apa yang bisa membuat duaribuempatbelas tidak menjadi tahun yang begini-begitu saja dengan gegap gempita pemilihan presiden yang membutakan mata teman-teman baik saya. Saya melihat mereka begitu akrab kala dulu, tapi tiba-tiba berubah menjadi dua orang yang sama sekali berbeda, "when it comes to their side". Saya jadi ingin tertawa, dan menangis seketika. Sepertinya, teman-teman baik saya yang saling hina secara tiba-tiba itu, kurang piknik.

Ada banyak hal yang perlu diperjuangkan di negeri kita yang hijau subur ini. Ada banyak hal perlu dipupuk untuk jadi pelecut semangat, di kondisi negeri yang "hidup segan mati tak mau" ini. Sepertinya, saya perlu membuka mata saya sendiri, agar saya tetap waras ketika orang lain mulai gila. Saya ingin jadi orang yang tetap bebas, tanpa harus memilih sisi mana yang akan saya tekuni. Saya paham, karena tidak dari kedua sisi itu yang bisa memberi saya benefit apapun. Dengan atau tanpa dua sisi itu--baik si satu dan dua jari--dunia akan tetap membosankan. Regulasi-regulasi pemerintahan terkait sumber daya alam, akan tetap dijalankan. Indonesia masa depan, akan tetap jadi tambang produksi. Dikeruk habis-habisan. Dinodai. Rakyatnya dibumihanguskan.

Jadi, pentingkah bagi saya untuk memilih sisi mana yang lebih baik atau lebih pantas, padahal tidak satupun dari kedua sisi itu yang sepertinya maju tanpa kepentingan di baliknya? Masih pantaskah teman-teman saya mengata-ngatai saya agar tidak golput, padahal tak satupun dari mereka yang mengerti akan ajakan mereka?

Orang boleh punya pilihan, orang boleh memilih untuk melakukan apa yang dia inginkan bagi hidupnya sendiri. Orang boleh berdemokrasi untuk dirinya sendiri, tanpa harus memilih masa depan yang belum tentu sesuai dengan visi-misi atas nama demokrasi.

Saya tidak paham, mengapa mereka begitu gencar mempercayai visi-misi atas nama demokrasi, pro rakyat, kebangkitan negeri, padahal mereka bicara itu sambil minum bir atau minum kopi mahal di beranda franchise kopi kapitalis?

Saya ingin tertawa. Kalau boleh, sambil menghina-hina wajah teman-teman saya. Ups, maaf. Ini bulan puasa tapi saya terbawa emosi.

Dengan atau tanpa pilihan, saya akan tetap memperjuangkan apa yang saya yakini. Dengan atau tanpa pilihan, saya akan mencoba melihat hal-hal yang sudah lahir sejak kedua jari-jari calon pemimpin negeri ini belum membentuk angka, belum membentuk slogan dan jargon kemenangan.

Kalau teman saya bilang, "Indonesia memang sedang tidak memilih. Ada hal penting lain di pelosok bumi tani, yang perlu diperhatikan. Kita sedang melawan korporasi yang membawa nama pembangunan usang. Pembangunan tua, dengan bentuk baru dan diusung secara ramah meski tetap menuai darah."

Masih banyak hal yang harus diperjuangkan. Bukan hanya dukungan menggebu-gebu bagi para calon pemimpin. Masih banyak hal yang harus dilihat secara nyata. Rupanya, masih banyak yang tersakiti di pelosok-pelosok negeri, yang tidak sempat terkatakan karena tertutupi berita-berita saling menjatuhkan, di televisi, koran, dan radio.

Tiba-tiba saja saya ingin menutup semua.

Saya ingin berkata-kata selagi bisa.

Saya ingin bilang bahwa...

Indonesia sedang menangis. Tangis para petani-petani, masyarakat penghuni tanah leluhur, dan para pekerja-pekerja ladang yang kelak tanahnya akan diduduki tank baja, dibumihanguskan bom atom, dan diduduki beton-beton penghasil asap.

Coba dengarkan, teman-teman. Tangis mereka bukan tangis kemarin sore. Bukan tangis isu menjelang pemilihan pemimpin. Tangis mereka adalah amarah, yang tentu berbeda dengan hasrat menggebu kalian dalam membela jagoan masing-masing.

Mereka, tak menjagokan siapa-siapa. Mereka, hanya sedang berjuang untuk kebebasan mereka sendiri. Mereka, justru sedang melawan negara dan korporasi raksasa yang kelak akan menduduki tanah mereka. Mereka bukan siapa-siapa, dan tidak akan memilih siapa-siapa.

Cipinang, 07 Juli 2014
.:log 10.31 PM
di tengah intermezzo mengetik naskah dystopia


Comments

  1. Ah. ini khas Ayu sekali. Ayu kapan ke Jakarta lagi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. halooo bang... aku di Jakarta selalu nii. :))

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)