Skip to main content

Akibat Lagu-Lagu Sendu

Saya mohon maaf, kalau orientasi burung hantu kali ini mulai menjurus ke hal-hal tak penting macam curahan kehidupan yang melulu sedih. Ya tapi, memang begitulah yang namanya hidup. Saya ingat perkataan seseorang yang akhir-akhir ini sedang dekat, bahwa kesedihan itu kadang adalah pelengkap kebahagiaan. Kita tidak akan pernah bersyukur atas bahagia kalau kita tidak sedih. Kira-kira begitu.

Akhir-akhir ini, saya yang biasanya memutar lagu sendu dan melempar ekspresi biasa saja, jadi berbeda. Belakangan, kondisi hidup sedang tidak jelas. Bukan hanya karena masalah pekerjaan, tapi karena banyak hal yang tidak bisa dengan mudah diputuskan. Ibarat pergi ke toko dan bingung mau memilih apa, saking banyaknya benda yang baik dan juga yang terburuk. Ujung-ujungnya, main ke toko hanya sekedar melihat-lihat, seperti hidup yang kadang lewat dan sekedar melihat-lihat, padahal kita sangat ingin membelinya tapi tak bisa.

Mohon maaf pula, kalau akhir-akhir ini kadang saya tidak jelas. Emosi naik turun. Tertawa lima menit, marah-marah lima jam. Lalu, misuh-misuh di sosial media sampai ada yang berkirim jaring pribadi ke telepon genggam, atau malah langsung menelepon dan bertanya, "Kamu lagi kenapa?" Maaf saja, saya sedang ada di titik equilibrium paling tinggi dan akan meluncur. Semacam culture shock kalau ada di mata kuliah Komunikasi Antar Budaya. Ha. Ha.

Biarpun begitu, saya masih ingin memaksa diri agar bisa terus tertawa. Sebab, saya percaya hidup ya pasti begini, bukan begitu-begitu saja. Selalu ada titik menukik tajam, agar kita semata-mata ingat bahwa hidup diraih dari titik terendah, menuju tinggi, dan pasti menurun lagi. Hal itu semata-mata supaya kita tidak sombong dan angkuh terhadap hidup yang bukan kita sendiri yang usaha, tapi juga pemberian Dzat Maha Kuasa.

Ya begitu. Semacam self-note, agar saya tak lupa, bahwa hidup pasti baik-baik saja biarpun masalah-masalah besar mendera. Yang perlu saya lakukan mungkin bukan melihat sepatu, tapi lebih baik melihat langit. Saya harus bangkit. Pasti bisa.

Ah sial. Ini semua pasti akibat lagu-lagu sendu. :)

Tapi biar. Biar rasa, biar tahu kalau hidup ya begitu. :)

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…