Akibat Lagu-Lagu Sendu

Wednesday, July 23, 2014

Akibat Lagu-Lagu Sendu


Saya mohon maaf, kalau orientasi burung hantu kali ini mulai menjurus ke hal-hal tak penting macam curahan kehidupan yang melulu sedih. Ya tapi, memang begitulah yang namanya hidup. Saya ingat perkataan seseorang yang akhir-akhir ini sedang dekat, bahwa kesedihan itu kadang adalah pelengkap kebahagiaan. Kita tidak akan pernah bersyukur atas bahagia kalau kita tidak sedih. Kira-kira begitu.

Akhir-akhir ini, saya yang biasanya memutar lagu sendu dan melempar ekspresi biasa saja, jadi berbeda. Belakangan, kondisi hidup sedang tidak jelas. Bukan hanya karena masalah pekerjaan, tapi karena banyak hal yang tidak bisa dengan mudah diputuskan. Ibarat pergi ke toko dan bingung mau memilih apa, saking banyaknya benda yang baik dan juga yang terburuk. Ujung-ujungnya, main ke toko hanya sekedar melihat-lihat, seperti hidup yang kadang lewat dan sekedar melihat-lihat, padahal kita sangat ingin membelinya tapi tak bisa.

Mohon maaf pula, kalau akhir-akhir ini kadang saya tidak jelas. Emosi naik turun. Tertawa lima menit, marah-marah lima jam. Lalu, misuh-misuh di sosial media sampai ada yang berkirim jaring pribadi ke telepon genggam, atau malah langsung menelepon dan bertanya, "Kamu lagi kenapa?" Maaf saja, saya sedang ada di titik equilibrium paling tinggi dan akan meluncur. Semacam culture shock kalau ada di mata kuliah Komunikasi Antar Budaya. Ha. Ha.

Biarpun begitu, saya masih ingin memaksa diri agar bisa terus tertawa. Sebab, saya percaya hidup ya pasti begini, bukan begitu-begitu saja. Selalu ada titik menukik tajam, agar kita semata-mata ingat bahwa hidup diraih dari titik terendah, menuju tinggi, dan pasti menurun lagi. Hal itu semata-mata supaya kita tidak sombong dan angkuh terhadap hidup yang bukan kita sendiri yang usaha, tapi juga pemberian Dzat Maha Kuasa.

Ya begitu. Semacam self-note, agar saya tak lupa, bahwa hidup pasti baik-baik saja biarpun masalah-masalah besar mendera. Yang perlu saya lakukan mungkin bukan melihat sepatu, tapi lebih baik melihat langit. Saya harus bangkit. Pasti bisa.

Ah sial. Ini semua pasti akibat lagu-lagu sendu. :)

Tapi biar. Biar rasa, biar tahu kalau hidup ya begitu. :)

0 comments :

Post a Comment