Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2014

Akibat Lagu-Lagu Sendu

Saya mohon maaf, kalau orientasi burung hantu kali ini mulai menjurus ke hal-hal tak penting macam curahan kehidupan yang melulu sedih. Ya tapi, memang begitulah yang namanya hidup. Saya ingat perkataan seseorang yang akhir-akhir ini sedang dekat, bahwa kesedihan itu kadang adalah pelengkap kebahagiaan. Kita tidak akan pernah bersyukur atas bahagia kalau kita tidak sedih. Kira-kira begitu.
Akhir-akhir ini, saya yang biasanya memutar lagu sendu dan melempar ekspresi biasa saja, jadi berbeda. Belakangan, kondisi hidup sedang tidak jelas. Bukan hanya karena masalah pekerjaan, tapi karena banyak hal yang tidak bisa dengan mudah diputuskan. Ibarat pergi ke toko dan bingung mau memilih apa, saking banyaknya benda yang baik dan juga yang terburuk. Ujung-ujungnya, main ke toko hanya sekedar melihat-lihat, seperti hidup yang kadang lewat dan sekedar melihat-lihat, padahal kita sangat ingin membelinya tapi tak bisa.
Mohon maaf pula, kalau akhir-akhir ini kadang saya tidak jelas. Emosi naik tur…

Petrichor, Cokelat Hangat, dan Pengampunan Dosa

"The shimmering heat. The bold, hot sun. Best dawn endlessly. The rains will come, wash down and done. I sit and then I dream of the way we used to be." -- Gold on the Leaves, Luluc
---
Langit akhirnya menghujani jalanan Surabaya yang sejak dua minggu belakangan ini gersang dan kering. Jalanan macet ketika jam huru-hara. Sebelum dan sepulang bekerja. Apalagi, bulan puasa yang makin mendekati puncaknya membuat orang-orang naik pitam di jalan raya. Ingin segera pulang, ingin segera berbuka, atau malah ingin berbelanja. Selama dua minggu ini, saya mengamati kehidupan Surabaya yang mulai menjelma ibukota. Saya ada di tengah-tengah lautan manusia, di jalanan, menuju tempat singgah sementara.
Kabar demi kabar datang dari teman-teman seperjuangan saya di Jakarta. Rupanya, ada yang memanas di sana. Saya dan satu orang teman saya di sini pun tak bisa tenang. Pikiran jadi bercabang, berada di antara keinginan membereskan project dan menyatukan kembali pecahan vas yang resmi hancur. Belum…

Menanti Riuhnya Gegap Gempita Menjadi Tangis Balada

Sampai saat tulisan ini disusun, saya masih bertanya-tanya, hal apa yang bisa membuat duaribuempatbelas tidak menjadi tahun yang begini-begitu saja dengan gegap gempita pemilihan presiden yang membutakan mata teman-teman baik saya. Saya melihat mereka begitu akrab kala dulu, tapi tiba-tiba berubah menjadi dua orang yang sama sekali berbeda, "when it comes to their side". Saya jadi ingin tertawa, dan menangis seketika. Sepertinya, teman-teman baik saya yang saling hina secara tiba-tiba itu, kurang piknik.
Ada banyak hal yang perlu diperjuangkan di negeri kita yang hijau subur ini. Ada banyak hal perlu dipupuk untuk jadi pelecut semangat, di kondisi negeri yang "hidup segan mati tak mau" ini. Sepertinya, saya perlu membuka mata saya sendiri, agar saya tetap waras ketika orang lain mulai gila. Saya ingin jadi orang yang tetap bebas, tanpa harus memilih sisi mana yang akan saya tekuni. Saya paham, karena tidak dari kedua sisi itu yang bisa memberi saya benefit apapun.…

Sembunyi di Tepi Jendela Lantai Dua

Lelaki itu datang lagi. Ia datang menawarkan beribu cinta kasih dan tabungan masa depan yang menjanjikan. Sebuah rumah di pinggiran kota yang katanya masih subsidi tapi mahal minta ampun, mobil-mobil terbaru, dan kebun belakang rumah dengan pagar-pagar batu yang tinggi.
"Rumah kayak gini, tahun-tahun besok pasti jadi mahal banget. Makanya, aku beli sekarang, buat nanti kita tinggal bersama, kalau udah menikah," gumam lelaki itu padaku.
Aku terhenyak. Cinta macam apa lagi yang ia tawarkan? Kepedulian apa lagi yang ia tawarkan pada perempuan kepala batu sepertiku? Aku sungguh tidak mengerti. Kemarin-kemarin, aku melempar gelas anggur di restoran mahal yang ia reservasi untuk makan malam kami. Anggur berwarna merah pekat itu terburai di lantai. Sisa-sisa kepingan kaca gelasnya memantulkan bayanganku, yang berdiri mematung. Gelisah pada entah apa. Aku meninggalkan lelaki itu di tengah keremangan malam dan gumam penyanyi jazz di tepi panggung restoran. Lelaki itu pasti kebingung…

Mixtape: Angin Juli

Beberapa hari lalu, saya sakit. Senin dan Selasa, saya memutuskan untuk bermalas-malasan di rumah saya yang sudah lama ditinggalkan. Rumah tempat saya besar dan berproses. Mungkin, beberapa bulan terakhir ini saya rajin pulang ke rumah, hanya untuk menengok keluarga dan pergi bersama teman-teman yang mungkin hanya ditemui beberapa bulan sekali. Dan karena pertemuan-pertemuan dengan teman yang jarang itu, saya kadang menemui mereka di dunia maya.

Bertegur sapa hingga pagi, membicarakan hal-hal yang kata orang mungkin tak penting, tapi bagi saya itu adalah warna lain menjelang pagi.

Dan hasilnya, saya sakit. Tidak parah, tapi cukup untuk membuat saya sendu selama beberapa hari. Puncaknya, awal Juli kemarin itu. Saya izin pada pimpinan kantor, dan memutuskan untuk beristirahat di rumah. Cuaca Cipageran kala saya sakit rupanya sedang bersahabat. Awan berarak, semarak. Angin kemarau menghembus ke jendela ruangan kontemplasi saya dan gemerisik pepohonan kering mengindahkan semuanya.

Di ten…

Review Album Baru OK|Karaoke - Sinusoid (2014)

Setelah lama tidak mengulas karya-karya musisi lokal, saya akhirnya mencoba untuk mengulasnya lagi. Dan kali ini, saya memutuskan untuk memindahkan ulasan yang ada di sanake sini saja. Karena di blog yang lama itu dulunya kan memang campur-campur, banyak mengulas buku dan musik lokal, tapi akhirnya nyerempet juga ke blog travel, yang isinya membahas tentang jalan-jalan tak sengaja dan penemuan-penemuan saya terhadap beberapa lokasi indah dan sepi, cocok untuk berkontemplasi. Hahaha.
Blog lama yang akhirnya malah jadi blog travel writing itu, sudah lama dibiarkan menjadi blog yang cukup tendensius. Penuh paksaan dan passion terhadap perjalanan. Jadi, tempat bagi ulasan-ulasan buku dan musik lokal, sudah dilempar jauh ke dasar laut. Makanya, di blog "burung hutan" ini saya mengangkat ulasan-ulasan di dasar laut untuk kembali ke permukaan.
Oke, mungkin segitu aja kali ya basa-basinya.
Nah, posting pertama di bulan Juli, sekaligus kembalinya ulasan-ulasan di si owly ini, saya ma…

Sajak Untuk Perempuan Yang Menunggu Kucing Bulan

Teruntuk Moira...
Moira, belum genap duapuluhempat jam aku sampai di ibukota yang panas, ganas, dan penuh debu pekat Tapi, aku lagi kembali teringat pada senyummu saat temu di sebuah senja
Aku yang tak sadar, atau memang dungu sebab kita sudah sejak dulu beradu pandang sejak kau masih kanak, dan kita bermain di padang yang tiap sore dipenuhi anak-anak desa kau dan aku
Moira, aku tahu ini hari aku tak akan bisa tenang kalau tak melihat senyummu yang menyipit bagai bulan sabit di penghujung bulan Juni, kala cuaca menegang
Senja yang sendu waktu itu kau duduk sendiri di tepi kursi Aku menanyaimu yang termenung sendiri Kau jawab, "Aku sedang tunggu kucing bulanku."
Kucing bulan itu, apakah mungkin menjadi aku, Moira? Ataukah pada malam-malam yang tentu,  kucing itu benar-benar tiba dan mengeong di kakimu yang hangat oleh beludru biru sebelum kau menyongsongnya, dan kau peluk pulang?
Bisakah Moira? Kita temu lagi? Di beranda itu lagi, sambil menunggui kau bicara tentang hal-hal y…

Pada Malam Dimana Bulan Setengah Terjaga

Ada yang menggantung bulatan putih itu di langit, seperti spekulasi tentang bumi yang ditaruh di pundak Atlas, atau dibawa berjalan oleh kura-kura raksasa.

Itu adalah hal-hal yang diamini sampai akhirnya kura-kura itu terlelap, dan orang-orang mengenal apa yang disebut dengan rotasi. Semua spekulasi itu hilang, dan pelan-pelan, orang melupakan bentuk-bentuk fisis dari tiap benda-benda langit yang selalu dipertanyakan eksistensinya. Pelan-pelan, orang tidak memperhatikan benda-benda langit yang sebenarnya telah menemani mereka sepanjang hidup. Menjaga keseimbangan tempat mereka berpijak pada tanah, tanpa harus keluar dari rotasi poros yang kencangnya minta ampun.

Bulan putih di langit, tak punya mata dan tak punya hidup. Tetapi ia berjalan mantap. Dengan rotasi dan putarannya sendiri pada poros yang ada. Ia menemani setiap malam dengan pantulan cahaya dari matahari, yang jauhnya berjuta-juta kilometer. Meski ia tak punya hidup, tapi sesungguhnya ia memberi orang lain kehidupan.

Kehidu…