Skip to main content

Transisi

Ini waktu yang kutunggu. Tak sekalipun inginku, melewati hidup dengan sia-sia dan tanpa makna. Ini waktu yang dinanti, karena aku hanya berteman sepi.

Setiap detik, kunikmati waktu mencari sesosok semu. Dalam sebuah peralihan, dalam transisi. Kubiarkan aku melarung dalam ketidakpastian. Satu-satunya teman hanya sepi dan masa transisi berhias kuning kelabu, mungkin sedikit jingga. Pada sore, pada sepertiga hari menuju bias petang dalam kurun waktu sekali sehari.

“Bagaimana bahagiamu, kemarin?” tanyamu pada suatu hari, memecah sepi yang telah kurasa pasti.

Aku tak menjawab, hanya tersenyum getir. Sisa-sisa hidup yang tercerabut mulai membias, larung lagi dan kandas lagi dalam satu inci hari, yang tak mau sia-sia terlewati.

Tiba-tiba, aku merasa perlu bicara, tentang bahagia, tentang semu yang kurasa ada.

“Bahagiaku tak ada bedanya. Hanya seperti sekarang, seperti saat ini. Kita duduk berdua dengan segelas kopi dinikmati bersama. Kau diam dan jangan banyak bicara. Tak henti memandang lepas kepada gulungan ombak yang berurai semburat jingga,” kataku sembari menunjuk ke arah lepas pantai yang tak pernah kutemui sisi satunya itu. Hanya ada kosong, hanya ada sepi.

Satu inci saja, satu detik saja, jangan ganggu hariku yang akan bahagia. Menyaksikan opera matahari yang ditelan sunyi. Mengubah jingga menjadi kelabu, berhias tirai bintang. Tak cukupkah kau untuk diam sejenak? Diam sajalah barang limabelas atau duapuluh menit. Temani aku di sisi kiri, dan aku di sisi kanan dengan bayangan. Aku perlu waktu, perlu hati untuk memahami bagaimana masa transisi. Sore bagiku, sebuah peralihan. Transisi hari yang hanya dapat dinikmati satu kali.

“Kau kan bisa melihat matahari terbit. Transisi itu sama saja,” katamu lagi.

Aku ingin memarahimu yang terus memaksaku menerima persepsimu tentang transisi, tentang sore, tentang semburat jingga yang tak bisa didapatkan dua kali dalam satu hari. Apakah kau tak tahu bedanya malam dengan pagi? Apakah kau tak tahu bedanya matahari pada pagi elegi atau senja hari?

“Kurasa kau lebih baik diam. Ini waktu yang sakral. Tak ada lagi yang begini di esok hari, mungkin saja. Jika jingga itu bisa kukerat, mungkin akan kulakukan dan kusimpan dalam kotak kaca yang rapat. Tapi, nyatanya aku tak bisa dan aku hanya ingin menikmatinya dengan istimewa,” kataku menjelaskan dengan sedikit emosi. Sudah cukuplah penjelasanku mengenai semunya hari. Semu hari ini hanya terbayar dengan bahagianya transisi matahari dalam satu hari.

Kau pun membisu, masih bertanya-tanya tentang aku yang begitu mengagumi masa transisi. Seakan-akan aku pasti mati esok pagi, aku tak akan melewatkan setiap detik menuju sore dan senja hari yang penuh teka-teki. Aku sendiri bahkan tak pernah tahu, kemana matahari tertelan bumi. Meski ilmu pasti dapat menggiringku pada jawaban yang paling hakiki, aku sendiri tak pernah ingin mengetahui.

Yang aku inginkan hanya satu, dapat menikmati transisi bahagia yang cuma satu kali sehari. Itu saja…



Pupan, 07 Juli 2012
11:44 PM, pada dialog dini hari

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…