Malam Tuan

Malam tuan, secangkir kopi telah tersaji di meja. Kopi masih wangi, Tuan. Uap-uapnya masih berhembus, mengikuti kemana arah angin membawa rindu. Aku masih terduduk lesu, di beranda dan menunggu kopiku disesap sekejap. Kemana engkau tuan? Tidakkah kau ingat kita berjanji untuk minum kopi bersama sambil menghamba senja?

Dua hari ini, perutku hanya isi kopi. Aku masih duduk di beranda. Kopiku telah tandas, cintaku kandas. Wajah Tuan yang bermata teduh, tak kulihat datang menghambur pada hatiku yang rapuh. Kubiarkan asam dan getir kopi ini memenuhi rongga lambung hingga rongga rasa yang kian terlupa. Aku sudah lelah, dirimu alpa.

Malam tuan, secangkir kopi terhidang kembali. Di beranda ini, wajahku kian lusuh. Sedikit kretek kubiarkan menemani, menggantikan posisi bayanganmu yang kian lari. Tak apa, lebih baik aku berkawan sepi bersama kopi. Tak apa Tuan, kau boleh pergi, kejarlah apa yang kau kehendaki.

Malam tuan, nyaris aku mati. Perutku sudah kembung begini. Dimana kau Tuan? Lupakah kau jalan pulang? Ah, aku nyaris kehabisan kopi. Sisa senja habis di beranda, demi menanti dia yang tak kunjung tiba. Ya sudahlah Tuan, kopiku telah habis, mimpiku telah terkikis. Pergi sajalah Tuan, lebih baik aku berkawan sepi, mencandu kopi, melankoli.

Jakarta, 31 Januari 2013
bersama kopi yang melankoli... 

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)