Cerpen: Hari Ini Tak Ada Dosa

Semua kita butuh jeda. Kita bukan kuda. Kita bukan kerbau yang tahan dibebat tali kekang. Dan dengan jeda, akan berkurang satu dosa. Jeda untuk meraba keping-keping dosa yang kadang tak terasa.
Semua perlu jeda, agar tak menabrak penyangga. Agar selalu mendapat sangga. Agar berkurang satu dosa dalam setiap renungan per kata. Jeda, seperti koma yang menghentikan untaian kata agar tak terasa hambar didengar dan dilihat mata. Aku rasa, semua butuh jeda, termasuk kita.

Aku berpikir, kita terlalu lama berkubang dalam dosa. Semu dalam cinta. Aku pikir, jiwa ini sudah tak lagi mampu menahan rindu yang menyeruak mesra dan menjelma untaian kata menggoda. Tak sedikit dosa yang kita punya, yang kita bentuk dari tiap rindu tercipta. Ini yang perlu dijeda dan ditahan sampai beberapa masa. Ketika waktu yang tepat tiba, maka jeda itu akan terlepas dan berubah menjadi cinta dan kita yang nyata. Selama ini, rindu yang mencekik leher dan juga hatiku hanyalah sebentuk perasaan maya. Tak bisa utuh aku memilikinya, hanya bisa ku sentuh dalam bayangan maya. Untuk itu, rindu dan dosa perlu dijeda. Apakah kita harus mencipta jeda?

Aku rasa, tak ada yang perlu ditanya atau bertanya. Semua ini jelas menggerogoti jiwa. Pelan-pelan tanpa bisa tahan kuasa. Rindu begitu kuat membebat, sampai hati merasa tersekat. Aku tak ingin disiksa rindu, aku tak ingin disiksa dosa. Hari ini tak ada dosa, dan hari ini kita memulai jeda.

/* stock lama, ceritanya pindahan blog
/* sapu-sapu

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)