You Give Me Something

Cerita bermula ketika aku baru saja pulang dari siaran di radio tempatku bekerja sekarang dan menemukan sesuatu yang mungkin bisa disebut sebagai perubahan. Waktu itu, aku harus mengisi siaran di radio cabang yang berada di daerah Bodmin, Inggris, dan pada jam ini, aku seharusnya memang naik subway saja untuk kembali ke Newquay, beristirahat di apartemen kecil milikku. Yah, meskipun harus berputar agar sampai ke stasiun terakhir, tapi kupikir naik subway akan lebih aman daripada aku harus naik Double Decker yang seringkali ditumpangi oleh para pemuda yang tidak memiliki kesadaran.

“You wanna stay with me in the morning, you only hold me when I sleep….” sayup-sayup kudengar suara dari ujung tangga pintu keluar stasiun Newquay Rail Station. Aku pikir mungkin yang menyanyi itu hanya pengamen yang sering aku temui seperti biasanya. Aku pun melangkah dengan gontai di tangga stasiun karena kelewat lelah bekerja. Ya, entahlah. Aku memang hobi menyusahkan diri sendiri.

Sampai di ujung tangga, Cliff Road sudah terlihat dan aku merasa kalau langkahku terhalang kerumunan orang. Hei! Kenapa semua orang begitu banyak? Apa yang mereka lihat? Apa yang mereka tonton di pinggir trotoar yang basah terhujani seperti ini?


Aku pun memberanikan diri untuk bertanya pada seorang Bapak tua yang menghentakkan kakinya dan tongkat berjalannya, “Maaf Sir, sedang ada apa ya?”

Bapak tua itu menoleh dan mendekatkan kacamatanya padaku, sambil berkata, “Ha?”

Sepertinya aku salah telah bertanya padanya, karena kulihat Bapak itu menggunakan alat bantu dengar. Sekali lagi aku bertanya, “Sedang ada acara apa?”

“Ooohh, hmm, just listen….” kata Bapak tua itu sambil menunjuk ke arah—lelaki gondrong—maksudku seorang penyanyi jalanan yang berdiri di bawah lampu trotoar Cliff Road.

What a jazzy voice and he is so hand—,” batinku ketika mendengarnya menyanyikan lagu—entah lagu siapa. Gitar akustik yang sekilas tampak seperti model Gibson hollow body itu terlihat cocok dimainkan oleh lelaki yang, ehm, tampan—maksudku maskulin.

Ah, aku ini kenapa!

Dan aku sangat merinding saat dia menyanyikan bagian yang kupikir adalah refrain.

You give me something and make me scare allright. This could be nothing but I’m willing to give it a try. Please give me….” teriak lelaki itu saat memasuki bagian akhir lagu yang kudengar memang naik satu oktaf. Ah lelaki ini. Apa benar lelaki seperti ini adalah seorang penyanyi jalanan? Dan aku tak sadar, sama sekali tak sadar ketika lelaki itu memperhatikan aku yang masih berdiri mematung di trotoar Cliff Road, terkesima dengan dia yang ternyata sudah menyelesaikan lagunya.

What are you looking at?” tanya lelaki itu padaku.

Aku terkesiap dan dengan bodohnya hanya berkata, “Apa? Ha?”

Dia tersenyum kecil sambil membereskan gitarnya dan memasukannya ke dalam hard case. Lalu dia mendekati aku dan menyodorkan tangannya, “James. James Catchpole.”

Aku masih setengah tidak sadarkan diri karena terlalu terkesima dengan dia—maksudku lagunya—dan aku pun meraih telapak tangannya sambil memperkenalkan diri, “Alexa Woodford.”

“Alexa Woodford? Maksudmu, kau Alex si penyiar itu? Yang ada di Irish Corner Bristol Radio?!” tanya lelaki itu setengah terkejut.

“Yeah. Itu aku,” kataku sambil mengumpulkan seluruh nyawaku yang tersedot ke dalam jazzy voice miliknya itu.

Lelaki itu—yang ternyata bernama James Catchpole—menyalami aku sambil terus berkata bahwa dia adalah penggemar berat suaraku dan semua hal tentangku yang bisa dia cerna kala aku sedang siaran. Dan seketika saja, kami akrab! Mungkin, karena sama-sama berasal dari Rugby, desa kecil di Warwickshire yang dulu sempat jatuh miskin sampai anak-anak di sana sakit. Dan karena hal itulah aku juga lelaki ini hijrah ke kota lain untuk mencari peruntungan. Ternyata, aku bertemu dengan orang yang satu kampung halaman denganku, dan orang itu adalah seorang penyanyi jalanan.

“Jadi, pekerjaanmu sehari-hari hanya mengamen seperti ini, James?” tanyaku padanya sambil menikmati cheeseburger yang tadi kubeli di sekitar The Crescent.

“Yah, kadang aku jadi penulis lagu. Kau tahu? Lagu-lagu yang kubawakan untuk mengamen, semua lagu-laguku, Alex,” katanya sambil menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

It sounds good! Kenapa kau tidak membuat demo saja dan menyebarkan lewat radio?” tanyaku padanya dan membuat dia berhenti melangkah barang sejenak.

“Alex… Idemu brilian sekali! Aku tidak pernah terpikir untuk melakukan hal itu!” teriaknya padaku dan menarik tanganku untuk berlari-lari kecil. Dia terlihat bahagia, seperti menang lotre. Aku tak menyangka ekspresinya seperti ini. Apa memang, kota kecil seperti Newquay membuat semua orang jadi naif ya?

Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam ketika aku sampai di Mount Wise. Sebenarnya, lewat Berry Road, aku bisa lebih cepat sampai. Tapi, tadi James mengajakku melihat tempat dia bersama anak-anak terlantar bernyanyi bersama. Sebuah gereja tua yang sudah tidak berpenghuni, dia jadikan aula untuk menyanyi dan latihan paduan suara. Sungguh, baru kali ini aku menemukan hal itu di Newquay. Pinggiran Inggris Raya setahuku tidak pernah bergumam saat Natal, apalagi Newquay. Semua orang lebih memilih ke kota, mungkin Bristol, Watergate Bay, atau Newport. Bahkan, mereka kadang berlalu dari sini menuju London. Newquay sepi kala Natal dan ternyata, orang yang tidak ingin kesepian saat Natal, berkumpul di sini. Itu yang dikatakan James.

“Jadi, kita berpisah di sini ya, Alex? Aku harus kembali mengurus anak-anak terlantar itu,” katanya padaku sambil melambai dan membiarkan aku masuk ke apartemen yang lebih pantas kusebut boarding house di Mount Wise. Aku hanya tersenyum dan tanganku kumasukkan ke saku jaketku, karena cuaca memang sedang tidak bersahabat. Aku melihat punggung James yang berlalu dengan gitar yang dia jinjing dalam hard case. Ini pertemuan singkat dan aku tahu, mungkin nanti kami bertemu lagi.

***

Siang yang mendung di Newquay dan aku sengaja berjalan-jalan ke pesisir Newquay, tepatnya menyusuri Headland Road untuk sekedar mencari angin segar atau mungkin berkunjung ke gereja tempat anak-anak jalanan Newquay berkumpul. Ketika sampai di sana, aku tidak mendapati James. Anak-anak bilang, dia tidak pergi mengamen di NRS atau di pinggiran Cliff Road. Sejak pagi, James sudah pergi, entah kemana. Kata salah satu anak, dia ke Wellington, untuk mencoba merekam demo lagu, lewat uang yang dia kumpulkan dari hasil mengamen.

Aku tidak lantas berpikiran untuk menyusulnya ke Wellington. Aku memutuskan untuk duduk-duduk di pinggiran The Crescent, memberi makan burung-burung laut yang kelaparan dan melamun—sedikit. Sekitar pukul lima sore, aku kembali ke apartemenku dengan kondisi yang agak sedikit kecewa karena tidak bertemu James dan ketika melewati The Griffin Bar, aku melihat James di bawah lampu temaram di seberang bar itu.

“James, kau kenapa?” tanyaku padanya yang terlihat lesu, bersandar pada lampu jalan yang sendu sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Hei, Alex. Tak apa, aku hanya….” kata-katanya tercekat di ujung kerongkongan.

“Kenapa?” tanyaku makin penasaran.

James semakin menunduk dan mulai berkata, “Aku hanya kecewa karena demo ini tidak begitu bagus, menurut mereka.”

“Memangnya kau kirimkan lagumu ke mana? Siapa yang bilang lagumu tidak bagus?” tanyaku lagi.

“Treviglas Community,” katanya datar.

Aku hanya tercekat dan mengingat komunitas musik jazz, blues, soul, dan funk—pokoknya semua genre—yang terkenal se-Inggris Raya. Ya, aku bisa maklum. Komunitas itu dominan oleh orang-orang berpengaruh yang memiliki uang berlimpah. Hampir semuanya berasal dari keluarga kaya. Wajar kalau James tidak bisa memasukkan demonya ke sana. Tapi, apakah sejahat itu mereka? Lagu James kan tidak terlalu buruk.

Aku duduk di samping James dan mulai menghiburnya, “Sudahlah. Lagumu bagus dan orang-orang di Cliff Road pasti senang mendengarnya. Mana demonya?”

Dia menoleh ke arahku sambil melempar rokoknya ke jalanan dan berkata, “Demonya mau kau apakan, Alex?”

“Irish Corner kan selalu butuh lagu-lagu baru untuk disajikan. Kau lupa ya kalau aku penyiar?” kataku sambil tersenyum dan masih menengadahkan tanganku padanya.

Dia tersenyum dan memberikan sebuah compact disc demonya. Kami pun berlalu dari The Griffin dan segera berjalan menuju rumah masing-masing.

***

You already waited up for hours. Just to spend a little time alone with me. And I can say I've never bought you flowers. I can't work out what they mean. I never thought that I'd love someone. That was someone else's dream….” sayup-sayup lagu yang kuputar dari sebuah disc yang James berikan.

“Ya pendengar Irish Corner sekalian, lagu yang baru saja anda dengar adalah lagu seorang penyanyi jalanan yang berpotensi sebagai penyanyi jazz Inggris. Bisakah? Ya, kita tunggu lagu lainnya!” kataku sambil menutup acara siaran hari itu.

Aku pun keluar dari ruang siaran dan James tersenyum lebar. Kami pun pulang bersama dan saat sampai di Newquay, penyanyi jalanan di Cliffroad sudah mulai berubah. Kira-kira, sampai hari ini, aku sudah mengenal James selama sebulan kurang.

Pada suatu malam, kami duduk-duduk di sebuah bangku yang sengaja diletakkan di depan The Beach Nightclub. Dan saat itu, aku merasa bahwa James sudah mulai berubah, entahlah.

“Sepertinya aku akan pindah ke Derby, Alex,” kata James padaku saat itu.

“Derbyshire maksudmu? Kenapa jauh sekali?” tanyaku sambil menghentikan kegiatan meminum soda yang sejak setengah jam lalu aku lakukan.

“Ya, aku mencoba peruntungan di sana. Mungkin, dengan menjadi penyanyi di cafĂ©, demoku bisa tersebar lebih luas,” katanya menjelaskan, dan aku, yang sekarang sudah menjadi sahabat terbaiknya, tidak rela dia pergi.

“Kalau kau memang mau pergi, silakan. Tapi, jangan pernah lupa dengan orang lain yang pernah membantumu ketika kau terkenal nanti,” kataku sambil berlalu dari tempat itu dan berjalan gontai menuju apartemenku.

***

Sudah tidak ada kabar lagi tentang James. Kira-kira dua bulan lebih aku tidak berbicara lagi dengannya. Ya memang. Pertemuan singkat akan menjadi perpisahan yang singkat juga. Aku masih mengudara di Bristol Radio dan pulang saat lewat petang ke Newquay, mampir ke gereja anak jalanan dan begitulah kegiatanku setiap hari. Sampai ketika aku diminta untuk menghadiri talk show seputar pergerakan independen di Inggris, aku mendengar kabar yang entah menggembirakan atau menyedihkan buatku. Aku diminta pergi ke Derby bersama beberapa teman dari Bristol Radio dan menjadi narasumber di sebuah Irish Bar bernama “Ryan’s”. Kalau aku tidak salah, tempat itulah bar di mana James bekerja sebagai penyanyi.

Setelah selesai menjadi narasumber aku mendatangi meja reservasi dan bertanya, “Permisi. Apa kau kenal James?”

“James? Ah ya, James Catchpole maksud Nona?” tanya lelaki yang ada di meja reservasi itu.

“Iya betul. Kau kenal?” tanyaku penasaran, berharap menemukan James di bar elegan itu.

“Aku kenal Nona. Tapi, James sudah tidak bekerja di sini lagi. Terakhir kali dia bermain di sini saat dia bertemu seorang produser musik bernama Kev Andrews. Tuan Kev melihat potensinya untuk menjadi solois jazz dan benar saja, Keesokan harinya, dia sudah tanda tangan kontrak,” kata lelaki resepsionis itu menjelaskan.

Aku hanya bisa tertegun dan entah harus berbicara apa. Entah harus senang atau sedih. James tidak mengabari aku dan adik-adiknya di panti sosial tentang demonya yang akan dirilis oleh produser ternama seperti Kev Andrews. Aku bahkan tidak pernah bisa memanggil orang itu untuk wawancara di Bristol dan sekarang, orang itu mengajak James ke dapur rekaman? Roda memang bisa berputar ke segala arah, tidak terduga.

***

Dan seperti itulah cerita tentang pertemuanku dengan idolaku sekarang. Ya memang. Sejak bertemu di trotoar Cliff Road, aku sudah kagum dengan suaranya yang begitu jazzy, mengingat aku memang bekerja di dunia permusikan. Aku kini berada di sebuah bangku di pinggiran pantai Newquay, menikmati hari terakhirku di Newquay sebelum akhirnya aku bertolak ke kampung halaman, Warwickshire.

Aku duduk di pinggiran pantai yang paling romantis di Newquay. Reklame besar dengan tinggi sekitar limabelas meter, ada di sebelah kiri dari tempatku duduk. Foto James ada di sana. Sangat besar dengan gitar akustik hollow body kesayangannya. Dia bernama James Morrison sekarang. Nama tengah yang sengaja dia gunakan untuk nama diri saat dia tenar. James Morrison Catchpole, memang nama aslinya. Dan entahlah, atas dasar apa dia hanya menggunakan Morrison, tanpa Catchpole.

Reklame itu bergambar dirinya dengan seorang penyanyi latin terkenal, Nelly Furtado. Ini adalah akhir tahun 2006 dan James akan merilis single duet berjudul “Broken Strings” yang akan dinyanyikan bersama dengan Nelly Furtado. Ah James, lupakah kau pada sahabatmu ini?

Seseorang baru saja melemparkan sebungkus cheeseburger kesukaanku saat aku hendak melamun lebih jauh. Aku masih heran, siapa yang dengan isengnya melempar makanan kesukaanku ini.

“Hei, sudah lama ya?” kata seseorang dari arah reklame besar itu, dan bayangannya perlahan berjalan mendekat ke arahku.

“James?!” pekikku. Aku tercekat dan sekaligus tidak percaya. Orang setenar dia sekarang, masih mau mengunjungi daerah sekecil Newquay. Memang, Newquay sekarang sudah tidak sesepi dulu. Sejak orang-orang tahu, bahwa seorang James Morrison—solois jazz yang sudah meraih banyak penghargaan untuk single-single yang bermelodi indah—itu ternyata berasal dari sebuah kota tertinggal Newquay, pembangunan di sini jadi semakin pesat. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan saja, di dekat The Crescent, sudah ada golf park. Dan bukan hanya ini alasan aku ingin pulang ke Rugby, Warwickshire. Aku ingin pulang karena rindu orang tuaku dan kampung halaman. Aku pun sedang ambil cuti siaran selama sebulan.

“Apa kabarmu, Alex? Aku sudah seminggu tidak mendengar kau siaran,” katanya padaku.

“Aku cuti selama sebulan dan aku akan pulang kampung, James,” kataku sedikit terkekeh.

“Pulang ke Warwickshire maksudmu? Hmm, mungkin setelah promo dan tour single Broken Strings selesai, aku juga akan pulang,” katanya padaku sambil menerawang ke arah reklame besar itu dan mulai duduk.

“Haha. Itu lama sekali. Mungkin, aku sudah kembali ke Bristol saat kau ada di Rugby, James,” kataku sambil tertawa melihat dirinya yang sudah cukup berubah.

James hanya menatap pantai dengan nanar dan dia mulai menghisap rokoknya. Rokok yang sama, tidak pernah berubah sejak dulu.

“Banyak yang berubah di sini, Alex.”

“Begitu juga dirimu. Tapi, rokokmu tidak berubah kan?” kataku menyindir.

“Kau pun tidak berubah. Masih menyenangkan seperti dulu,” katanya padaku sambil terus menerawang ke arah pantai.

Aku dan James akhirnya dihadapkan pada satu kebisuan. Kebisuan yang tidak pernah kami harapkan selama kami menjadi sahabat. Aku tahu, dia hanya fans lamaku sebagai penyiar dan sekarang, malah aku yang mengidolakannya sebagai penyanyi. Hidup memang roda dan akan selalu begitu.


Newquay, December 2006

*cerita ini hanya fiktif belaka dari seorang yang mengidolakan James Morrison

Cerita ini pernah dimuat di situs kemudian.com saya pada tanggal 6 Desember 2011, dengan pseudoname jayhawkerz. Untuk membaca versi kemudian.com, silakan kunjungi tautan berikut.

Comments

  1. Perputaran roda hidup yang terlampau cepat, hanya dipisahkan oleh sepenggal kisah. Nyatanya dibagian awal dan akhir kisah ini, segalanya telah berputar seratus delapan puluh derajat. Namun, tetap saja akan ada sesuatu yang menjadi porosnya, kan? ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali kak. Tetap ada poros di atas semua itu. :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung