Skip to main content

Seruak: Novel Psychothriller Garapan Mojang Bandung

Bandung memang memiliki daya tarik luar biasa. Selain pemusik-pemusik jenius, Bandung melahirkan juga entertain muda dengan bakat yang sedemikian rupa. Bandung juga yang melahirkan penulis-penulis berbakat, yang bisa apa saja. (kalo sulap? bisa nggak) Hehehe. Nah, berikut ini adalah salah satu novel garapan Mojang Bandung, yang akan saya ulas. Mohon maaf sebelumnya, ulasan ini saya copy-paste dari posting Kaskus dan Goodreads saya. Soalnya, saya kadung malas untuk menulis yang lain. Lagipula, toh isinya pasti akan sama saja. Masa iya saya berubah pikiran? (kecuali kalau saya memang agak terganggu). *lalu ketawa sendiri*

***



Judul: Seruak
Penulis: Vinca Callista
Penerbit: Grasindo
Genre: thriller-suspense
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 440 halaman
ISBN: 978 602 251 428 2
Harga: Rp 65.000,-
Rating: 4/5

Well, akhirnya saya menyelesaikan novel setebal 440 halaman ini dalam jangka waktu satu minggu. Ini bisa dibilang waktu tercepat, dibandingkan dengan Amba yang saya baca dua minggu lebih dan Cantik Itu Luka, yang bahkan sampai sekarang belum sempat saya selesaikan. Lagipula, Seruak ini dipastikan bisa selesai lebih cepat jika saya tidak terlalu mengantuk pada bab awal buku, yang begitu banyak cerita berliku dan narasi njelimet. Saya agak tidak begitu suka pada novel yang terlalu banyak narasi, apalagi menggurui. Tapi, keseluruhan novel ini berhasil membuat saya berdecak gembira, dan berteriak, AWESOME! Nah, kalau se-awesome ini, pasti kalian bertanya-tanya kan, mengapa saya hanya memberi novel ini empat bintang saja?

Mari kita mulai dari sini...


Novel ini bercerita tentang kegiatan KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), yang dilakukan oleh sepuluh orang mahasiswa dari Universitas Palagan. Mereka kedapatan giliran untuk memberikan kontribusi pada sebuah desa yang jauuuuh sekali dari Bandung, bernama Desa Angsawengi dengan tiga dusun yang ada di dalamnya. Desa ini bisa dibilang tidak cukup populer, apalagi di kalangan mahasiswa. Maka, informasi yang ada tentang desa ini, sangatlah minim. Hal inilah yang membuat Faye--salah satu mahasiswa di dalam kelompok--banyak mempertanyakan tentang desa yang makin lama makin aneh ini.

Percayakan kalian pada teori the butterfly effect? Dewi Lestari alias Dee, sering mengulasnya di beberapa bukunya. Ia berpendapat bahwa, "Kepak sayap kupu-kupu pun kemungkinan akan menyebabkan badai di belahan bumi yang lain." Dan hal inilah yang berulang kali ingin ditunjukkan Vinca Callista dalam novel ini. Setiap manusia melakukan kegiatan alam sadar mereka dengan teratur. Meski begitu, alam bawah sadar mereka pun dapat mengontrol diri manusia, menjadi manusia lain yang membentuk pribadi baru. Hal ini juga dikarenakan, setiap manusia menjadi diri mereka sekarang karena pengaruh masa lalu. Ada orang yang jadi pembunuh dan psikopat, karena masa lalu mereka yang menyebabkan hal itu. Ada pula orang yang menjadi pendiam, karena rasa trauma masa lalu. Dan hal inilah yang benar-benar ditunjukkan oleh penulis, dari bab ke bab. Semua mahasiswa yang berada di dalam kelompok KKNM ini, rupanya saling terkait. Ada Mada, Arbil, Nina, Jiana, Faye, Chamae, India, Yanto, Fabyan dan Lula. Bukan kebetulan, kalau mereka ditempatkan dalam satu kelompok yang sama. Rupanya, ada satu hal yang membuat keterikatan mereka menjadi baik, atau menjadi buruk. Masing-masing orang memiliki masa lalu, dan masa lalu itu terkait dengan masa lalu orang lainnya, sehingga membentuk pribadi mereka saat ini. 

Uniknya, mengapa novel ini disebut psychothriller? Dari awal cerita, saya tidak menangkap perilaku menyimpang dari orang-orang di dalam cerita. Namun, menuju ke bagian tengah novel, saya mulai menemukan penyimpangan dari masing-masing tokoh. Selain masa lalu yang terkait, rupanya masing-masing tokoh memiliki perilaku menyimpang mereka masing-masing. Perilaku inilah yang merenggut psikis mereka dan membentuk diri mereka seperti sekarang. Dan saya beberapa kali berdecak kagum, ketika mendapati kebetulan yang bukan benar-benar kebetulan. Saya sampai berpikir, sepertinya Vinca telah membuat peta khusus mengenai tokoh-tokoh jelmaannya. Dan Vinca sukses membuat sepuluh orang ini saling terkait seperti film Identity. Pernah nonton kan? Bedanya, film Identity ini semua tokohnya adalah satu tokoh yang memiliki kepribadian ganda. Sedangkan, di dalam novel ini, hanya satu orang yang mengidap MPD alias multiple personality disorder. Saya tidak akan kasih tahu siapa yang mengidap MPD, karena nanti jadi spoiler. Haha. :p

Dan dari semua bab yang terkait, saya harus menjura pada Vinca, karena berhasil membuat saya betah duduk di sofa empuk sambil makan cemilan yang membuat saya gemuk, dan membuka lembar demi lembar novel ini tanpa lelah (kecuali kalau saya lapar, ngantuk, dan dipanggil bos, karena saya baca juga di kantor). Vinca juga sukses menjejali kepala saya dengan berbagai istilah psikologi yang menurut saya tidak rugi kalau ditelan bulat-bulat. Di samping mengalihkan tokoh fiksi buatannya untuk kita cintai, kita juga bisa mendapatkan pelajaran mengenai istilah psikologi. Beberapa istilah yang dikemukakan Sigmund Freud sebagai Bapak Psikologi pun berhasil saya cerna.

Lantas, apa yang membuat empat bintang bertengger di novel ini, Ayu?

Empat bintang saya berikan bukan karena kesalahan Vinca. Sebab, tidak ada yang salah darinya. Yang salah mungkin hanya kejelian editor yang kurang mantap, karena dia membiarkan novel ini terombang-ambing di antara dua bahasa. Ketika sampai pada beberapa narasi, saya mendapati kata-kata tak baku bersarang pada kata-kata yang justru baku sekali, banget malah. Seolah-olah, kata-kata tak baku ini tertangkap oleh prajurit kata baku, dan tak membiarkannya keluar. Mungkin, ini hanya luputnya editor saja, karena mungkin ia terlalu terpana menyaksikan berbagai kebetulan yang bukan kebetulan, di dalam novel Vinca. Mengapa kebetulan ini bukan kebetulan? Karena, kalau kalian membacanya pun, kalian akan menganggap kebetulan, padahal sebetulnya bukan. Novel ini sudah terkonsep, begitu pun dengan tokohnya yang sudah terpetakan dengan baik. Maka, saya tidak bisa berteriak, "Wah, ternyata si ini tuh dulunya itunya si anu yah? Oh gitu yah! Kebetulan banget!" Ini bukan kebetulan, dan ini terkonsep. Seperti Desa Angsawengi yang terkonsep.

Lalu, apalagi Yu, yang mengecoh dirimu?

Kalian mau tahu? Sungguh??? 

Ada hal yang benar-benar mengecoh saya, sampai saya berkata, "Sialan! Gue ditipu!" Hal ini adalah teknis penulisan sudut pandang. Sudut pandang ini adalah sudut pandang pertama, namun di lain pihak, si 'saya' dalam novel ini, menceritakan tokoh-tokoh seperti ia bisa melihat segalanya dan menjelma jadi sudut pandang orang ketiga. Sialan! Saya benar-benar tertipu. Saya luput dari seorang tokoh dalam novel yang mengidap MPD. Dia bisa saja bercerita dengan 'dia', dan 'saya'. Maka, sekali lagi, saya tidak akan menceritakan siapakah 'dia' yang 'saya' itu. :)))) *ketawa setan*

Dan satu hal yang membuat saya pusing, ada beberapa narasi yang mengantar cerita lewat bundaran HI. Seperti supir busway yang masuk bundaran HI lalu berputar-putar mempermainkan penumpang dengan sengaja, seperti seorang psikopat. Narasi ini semacam itulah! Pemikiran psikopat yang njelimet mencoba memasuki alam bawah sadar saya, sehingga saya cepat mengantuk ketika membaca narasi tersebut. Dan oke, saya harus minta maaf pada Vinca, karena saya melewatkan banyak sekali narasi untuk sampai pada bagian yang benar-benar ingin saya baca.

Dan kalau dibilang thriller, adegan bunuh-bunuhan masih kurang mantap di sini. Tidak seperti thriller lainnya yang cukup mempertontonkan disturbing content, saya rasa Vinca masih harus masuk jadi psikopat yang sebenar-benarnya. Hehe.

Oh ya, ada satu hal lagi yang membuat saya geram. Sedikit ilmu holistik yang dikeluarkan pada bagian akhir buku, mengenai unsur bumi yang menyebabkan bumi jadi seimbang, yaitu unsur api, tanah, air, dan udara (kayak avatar). Unsur ini hanya disinggung sekali saja. Saya pikir, unsur ini juga akan mengambil porsi besar dalam novel. Ternyata, unsur-unsur holistik itu hanya numpang lewat saja sambil dadah-dadah. Sayang sekali, padahal kalau unsur itu dieksplorasi lebih jauh sejak awal novel, akan jadi lebih menarik hasilnya. Dan twist Jiana Aryon yang tiba-tiba jadi villain dalam cerita--ups spoiler--rasanya kok aneh ya? Ini semacam ujug-ujug yang disengaja, begitu? 

Dan terlalu banyaknya tokoh, dengan deskripsi macam-macam, misalnya, si anu itu begini, si ono itu begitu, dan lain sebagainya, membuat saya tidak mudah mengingat tokoh apa saja yang bicara, kecuali tokoh 'saya' yang sudah pasti saya ketahui. Jadi, saya kadang tidak peduli kalau tokoh lainnya bicara, karena saya hanya mengingat beberapa tokoh saja. (coba tebak, siapa si 'saya'). :P

Akhir kata, saya cuma bisa bilang, kalau saya senang membaca ini seharian, karena kavernya manis dan isinya pun manis meski mencekam! Ingatlah, bahwa masa lalu akan membentuk pribadi anda sekarang! Haha. *ketawa setan lagi*

P.S. Untuk penerbit dan mas layout, tolong lain kali hurufnya diperbesar. Jangan merasa bakalan hambur kertas dan jangan pelit kertas, karena novel ini layak untuk dikoleksi! Tapi, pembaca kan tidak semuanya senang baca novel berhuruf kecil-kecil! Maka, kalau tidak ingin dihantui pembaca, buatlah novel ini lebih nyaman dibaca, salah satunya dengan menambah point huruf agar tidak kecil-kecil. Hahahaha. *lalu pembaca pun jadi psikopat*

Untuk pembaca lainnya, selamat membaca! Selamat tertawa gila! \m/

[ayu]

Comments

  1. Saya lagi baca nih novel. Cukup melelahkan dan kadang membosankan..
    Banyak kalimat yang panjang-panjang, bikin ngos-ngosan..

    Tapi saya bertekad menyelesaikannya, berharap ada ending yang menarik dan menegangkan..

    ReplyDelete
  2. Buat Mbak Ayu Welirang.... Saya udah baca Seruak, dan saya sangat setuju atas pendapat Mbak Ayu kalo TULISANNYA KEKECILAAAANNNN. Tapi kalo diperbesar tulisannya, bisa jadi orang-orang malah malas beli, karena KETEBALAAAAANNNNN. Jadi serba salah

    Dan Untunglah saya uda baca Seruak ini hingga selesai sebelum baca tulisan menarik dari Mbak Ayu. Karena Mbak Ayu men-spoiler beberapa hal-hal penting, seperti MPD dan Peran Jiana Aryon. Tapi kedua hal itu masi dapat ditoleransi untuk dispoilerkan, karena kedua hal itu baru terungkap dibagian menjelang akhir, dan saya yakin kebanyakan orang yang membaca tulisan Mbak Ayu sebelum membaca Seruak, sudah terlanjur tersedot cerita untuk mencari benang merah antara spoiler yang telah mereka baca dengan keanehan-keanehan desa Angsawengi.

    Saya suka sekali dengan Seruak ini. Saya sangat setuju dengan nilai 4/5 dari Mbak Ayu, tapi bukan karena kesalahan Editor, namun lebih kearah Ending yang cenderung biasa. Jadi ndak membuat pembaca termenung setelah buku yang dibacanya habis. Terkesan "escalated very quickly" gitu menurut saya :D

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. clue: tokohnya mengidap bipolar disorder gitu.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…