Posts

Showing posts from November, 2013

#5BukuDalamHidupku: Bolehkah Saya Jadi Bojonya Brojo?

Image
Kalau ada yang bisa membuat saya punya suami dua, mungkin Arswendo-lah biang keroknya! Pasalnya, saya terdoktrin, bukan didoktrin. Hahaha!
Buku ini mungkin sebagai sebuah media bagi Arswendo untuk menyalurkan hobinya ketika di penjara. Banyak penulis yang bisa dengan santai menikmati situasi di dalam penjara, berikut preman-preman dan kroco-kroconya yang kadang mencuri makan siangmu, lalu menghajarmu hingga babak belur padahal bukan kau yang salah. Kira-kira, hal seperti inilah yang coba ditepis oleh Arswendo Atmowiloto ketika novel ini lahir.
Projo dan Brojo menceritakan dua orang yang bertukar posisi, di mana Projo adalah terduga koruptor yang sedang berusaha membersihkan nama, sedangkan Brojo adalah seorang tambal ban yang berusaha menghidupi istrinya di desa.
Sungguh lucu! Ketika Arswendo membawa saya pada kehidupan politik nan puitik, penuh intrik. Saya awalnya tak tahu, bagaimana sebenarnya rupa para penjahat kerah putih itu, dan bagaimana kehidupan kekeluargaan mereka. Ternyat…

#5BukuDalamHidupku: Lebih Baik Mabuk Dengan Para Paisano

Image
Masih tentang kaum papa yang hidup setelah zaman perang, di mana mereka biasa menempati rumah-rumah kerabatnya yang mati dan hidup dengan cara apa saja. Yang jelas, kaum papa itu harus hidup. Dalam hidupnya yang sulit, mereka masih bisa tertawa. Mereka masih bisa mencuri-curi minum anggur di hari-hari yang biasa seperti kaum-kaum papa lainnya.
Inilah awal mula perkenalan saya dengan Danny dan teman-teman, para kaum papa yang hidup di sebuah rumah peninggalan keluarga Danny. Mereka, kaum papa itu, hidup bahagia meski tak makan. "Tak makan biarlah, yang penting anggur selalu menyegarkan haus kita!" Kira-kira, begitulah kata-kata yang terus terngiang ketika saya membaca kisah Danny dan kawan-kawan dalam buku "Dataran Tortilla", sebuah buku hasil karya penulis yang memenangkan nobel dan diterjemahkan oleh Djokolelono.
Sayangnya, mungkin buku ini tidak sepopuler buku-buku mbah Ernie (Ernest Hemingway) di Indonesia. Pun demikian, hal itu tidak menutup keinginan saya unt…

#5BukuDalamHidupku: Kontemplasi Dua Kartini Masa Kini

Image
Saya tak pernah bertemu buku yang isinya santai, tapi pembahasan yang ia munculkan begitu penuh. Mungkin, penulisnya menerapkan ilmu padi, bahwa semakin berisi ia, maka akan semakin merunduk. Bahasa yang disuguhkan Sammaria, dalam bukunya yang tak begitu terdengar di telinga para pembaca, sesungguhnya telah membuat saya mengamini, kalau pembahasan serius bisa juga hadir dari humor-humor kecil dan pembahasan sederhana.
Buku ini berjudul "Kartini Nggak Sampai Eropa". Saya pernah menuliskan ulasannya di situs Jakartabeat.Net, dengan judul yang sama. Saya merasa, buku ini seperti representasi Kartini, ketika berkirim surat dengan kawannya di Eropa sana. Bedanya, dua tokoh sentral dalam buku ini berkirim surat melalui surel atau surat elektronik yang lebih kita kenal dengan sebutan email. Dan dua tokoh ini sempat menjejakkan kaki di Eropa, yang mana tidak dilakukan Kartini karena budaya keluarga ningratnya. Maka dari itu, saya mengambil kesimpulan bahwa buku ini hendak mengupas …

Notes, Teman Terbaik Dalam Genggaman

Image
Saya ingat ketika SD, saya tak begitu populer. Bergaya tomboy dengan mulut yang selalu menggonggong. Terlebih lagi, tulisan saya tak indah seperti tulisan perempuan lain di kelas. Meski begitu, Ibu Guru sering berkata, kalau saya kelak akan lebih menonjol dari yang lain. Lebih cerdas. Dan saya terus mengamini itu dalam hati, meskipun tak banyak anak seusia itu yang mengerti apa artinya 'amin' dan apa artinya berdoa.
Yang saya mengerti, berdoa dan mengamini selalu saya tuliskan dalam buku kecil, pemberian Ibu sewaktu saya memenangkan lomba calistung dan IPS tingkat SD. Saya senang bukan main, sebab bukunya tak begitu banyak ornamen. Buku kecil saya tak seperti buku-buku anak perempuan lain, yang kertasnya warna-warni dan sayang sekali jika dicoreti dengan tulisan tangan saya yang berantakan. Tapi, dari sana saya belajar bersyukur, berdoa, dan mengamini. Sebab, di setiap tulisan jelek saya, ada teman yang menemani. Entah spirit apa yang bertengger di kedua bahu saya, sehingga ke…

Fantasmagoria dari Naga yang Berbicara

Image
Saya menulis ini di media blackberry. Gila bukan? Atau biasa saja? Ya, saya tidak menuliskan ini di komputer, laptop, dan semacamnya karena sampai saya mengirim ini ke khalayak maya, saya tidak sedang berada di depan komputer kesayangan saya. Hasrat untuk bercerita tentang buku yang mengubah hidup sangatlah kuat, sehingga saya harus segera menuliskannya sebelum hal itu menghilang dari benak. Setidaknya, esok pagi saya masih bisa membereskan tulisan yang berantakan di kantor.
Buku pertama yang jadi segalanya adalah salah satu buku yang ditemukan secara tak sengaja di kedai kopi yang merangkap rumah buku mini. Buku ini mungkin sudah terabaikan begitu lama. Tak tersentuh. Niat saya waktu itu memang mencari buku Ayu Utami, namun saya seperti terhipnotis ketika membaca sisi buku yang berjudul "Cala Ibi". Buku yang sampulnya abstrak dan tidak jelas bergambar apa, seperti memanggil saya dan meminta pertolongan. Dia memanggil, dan saya mengambil.
Buku ini semacam perjalanan. Saya b…