Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2013

Kubah, Gagasan Besar Rekonsiliasi Pasca 1965

Baru-baru ini, saya menyelesaikan sebuah buku yang entah kenapa bisa menarik hati saya waktu itu. Buku ini adalah hadiah, bersama dengan satu buku lain yang mengangkat tentang feodalisme Jawa. Ketika itu, saya bingung memilih buku, sehingga orang yang bersama saya menawarkan saya untuk membeli keduanya. Ini sudah jelas traktiran, traktiran buku. Hehehe.
Buku hadiah yang pertama saya buka adalah buku Kubah karya Ahmad Tohari. Buku yang sempat mendapatkan penghargaan di tahun 1981 ini rupanya telah dicetak ulang oleh Gramedia. Dan saya membaca buku ini di cetakan baru. Saya rasa tidak banyak perubahan, selain tata bahasa yang disusun mengikuti zaman.
Kisah yang dihadirkan dalam Kubah bukan kisah baru yang berbeda. Ahmad Tohari menggambarkan kisah seorang kader komunis dengan mengambil beberapa kejadian sosial yang ada di desa-desa tak tersentuh. Seperti Ronggeng Dukuh Paruk yang mengambil kisah seorang Ronggeng, Kubah pun mengambil latar di sebuah desa dengan kondisi sosial dan agama y…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Kemamang: Antara Sci-Fi dan Mitos Daerah

Akhirnya, setelah perjuangan berat untuk menyelesaikan buku yang tidak begitu tebal, kemarin malam saya berhasil menyelesaikan buku berjudul Kemamang, karya Koen Setyawan. Entah kenapa, fase membaca buku ini terlampau lama. Saya kira bisa selesai dalam sehari, tapi ternyata saya merasa cepat bosan dengan buku ini. Padahal, pembahasan buku ini hampir sama seperti Partikel-nya Dewi Lestari yang lebih tebal dan bisa saya selesaikan hanya dalam empatbelas jam saja. Buku yang memuat tentang UFO dan evolusi makhluk prehistorik yang berkembang secara tidak terkontrol sebagai hewan riset, malah membuat saya bosan. Di mana letak kesalahannya?
Buku ini saya dapatkan di basement Blok M Square, di mana kita bisa mendapat buku-buku murah dengan beragam jenis. Hehehehe. Sama halnya seperti Kwitang atau Senen, di Blok M kita bisa mendapatkan buku apa saja. Ketika sedang mengantar teman membeli kamus, tiba-tiba saja saya melihat buku ini di antara tumpukan buku lain. Tanpa pikir panjang, saya membel…