Skip to main content

Notes, Teman Terbaik Dalam Genggaman

Saya ingat ketika SD, saya tak begitu populer. Bergaya tomboy dengan mulut yang selalu menggonggong. Terlebih lagi, tulisan saya tak indah seperti tulisan perempuan lain di kelas. Meski begitu, Ibu Guru sering berkata, kalau saya kelak akan lebih menonjol dari yang lain. Lebih cerdas. Dan saya terus mengamini itu dalam hati, meskipun tak banyak anak seusia itu yang mengerti apa artinya 'amin' dan apa artinya berdoa.

Yang saya mengerti, berdoa dan mengamini selalu saya tuliskan dalam buku kecil, pemberian Ibu sewaktu saya memenangkan lomba calistung dan IPS tingkat SD. Saya senang bukan main, sebab bukunya tak begitu banyak ornamen. Buku kecil saya tak seperti buku-buku anak perempuan lain, yang kertasnya warna-warni dan sayang sekali jika dicoreti dengan tulisan tangan saya yang berantakan. Tapi, dari sana saya belajar bersyukur, berdoa, dan mengamini. Sebab, di setiap tulisan jelek saya, ada teman yang menemani. Entah spirit apa yang bertengger di kedua bahu saya, sehingga ketika saya menulis sesuatu, tulisan itu seperti hidup. Mungkin ini fantasi, mungkin ini tipuan alam bawah sadar. Tapi, siapa yang peduli? Toh, saya hanya anak kecil yang senang menulis. Tak tahu apakah tulisan itu bisa menjelma jadi sesosok gajah, ketika saya menulis gajah. Dan mungkin menjadi harimau yang kelak memakan teman-teman saya, ketika saya menulis deskripsi, "Harimau itu kelak marah dan memakan teman-teman yang mengucilkan si gadis rambut jagung di pojok kelas." 

Begitulah saya bermain dengan sisi paling maya dalam hidup saya. Memulainya sejak SD, menulis apa saja dari buku kecil pemberian Ibu. Buku kecil inilah yang kelak sampai saat ini menjadi teman terbaik yang bisa selalu saya genggam. Ketika di suatu tempat, ketika berpergian, bahkan ketika saya sedang tak melakukan apa-apa. Buku kecil ini selalu setia. Saya menamainya notes saja. Ya, si notes, seperti yang penulis-penulis sukses biasa lakukan. Seperti Jack Kerouac yang menuliskan catatan perjalanannya ketika musik Jazz berkembang di kalangan kulit hitam, yang membantunya melahirkan 'On the Road'. Juga seperti Soe Hok Gie, yang kelak menjadikan 'Catatan Harian Demonstran' sebagai buku yang inspiratif, padahal ia menulisnya secara reguler, di dalam sebuah buku catatan tua yang lusuh.

Saya ingin begitu. Saya mudah lupa dan reaktif. Seperti tak ada teman bicara kalau sendiri. Maka, saya berbicara pada buku kecil itu. Sudah berlembar-lembar. Sudah lusuh dan perlu teman baru. Maka, sampai saat ini, saya malah mengkoleksi macam-macam notes mini. Berbagai ukuran, berbagai ketebalan dan multifungsi. Saya tak melulu mengisinya. Kadang, saya hanya mencorat-coret badan notes saya. Kadang, saya membuat gambar dan kadang hanya menulis abjad. Dalam notes ini pulalah lahir kerangka-kerangka ketika saya sedang berkontemplasi, karena kadang, ide-ide tak mau mengerti apa yang namanya teknologi. Maka, sejenak saya tinggalkan blackberry dan notes yang ada pada Shakira saya, lalu beralih pada notes yang sebenarnya. Notes dengan wajah biasa saja, namun dapat menampung seluruh keluh kesah saya tanpa mengeluh. Ya, tanpa keluh, tanpa peluh.

Saya senang, notes pun tersenyum. Ia merasa penuh. Saya yakin kalau ia makhluk yang hidup, ia akan merasa penuh. Seluruh...

Di dalam notes saya, selalu tertulis pesan yang digenggam juga oleh orang lainnya yang gemar menulis dan membaca. Pesan seorang Pramoedya. Beliau berkata, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Dari sana saya selalu berusaha untuk menuliskan sekecil apapun kejadian ke dalam notes. Biasanya, saya hanya membawa satu notes utama yang berfungsi untuk penulisan kejadian-kejadian kecil. Rasanya masih tak familiar kalau harus menulis detail seperti itu di sebuah smartphone yang nyatanya tidak pintar-pintar amat. Alasan hang atau alasan 'kehilangan momen' adalah resiko yang bisa saya dapatkan jika saya melupakan si notes dan kawan-kawannya. Penulisan konvensional, bagi saya masih menjadi barang yang paling favorit. Jadi, saya selalu membawa teman saya di genggaman.

Dan dari sanalah saya belajar membaca. Saya tak hanya menulis, tapi juga membaca. Membaca kisah masa lalu yang bahkan saya sendiri sering melupakannya. Namun, notes telah menjadi teman yang mengingatkan saya, bahwa saya pernah mengalami kondisi tertentu.

Maka, memang benar adanya kalau saya bekerja untuk keabadian. Keabadian memori yang saya tulis sendiri, yang mungkin kelak akan terpatri pula di benak tiap-tiap orang. Kita tak pernah tahu bukan, kapan kita menjadi seseorang yang berpengaruh seperti para penulis-penulis itu? Dan kita tak pernah tahu juga, bisa saja notes sederhana kita lah yang jadi penentu sebuah sejarah. Sebab di sana, tulisan kita selalu jujur, tak mengada-ada.

[Ayu]


Comments

  1. Nggak suka nulis di buku diary ya Yu?

    ReplyDelete
  2. Yeiy samaan, saya juga sampe sekarang masih lebih mantap membawa "the real note book" kemana-mana, lebih terasa emosinya saat membaca ulang tiap goresan. Dan notes saya sudah bertumpuk, kadang lucu & takjub juga saat baca catatan-catatan & mimpi-mimpi jaman dulu yang akhirnya kewujud :)

    ReplyDelete
  3. @Sash iya... kalau digital kan masih ada kemungkinan hilang yaaa. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…