#5BukuDalamHidupku: Kontemplasi Dua Kartini Masa Kini

Saya tak pernah bertemu buku yang isinya santai, tapi pembahasan yang ia munculkan begitu penuh. Mungkin, penulisnya menerapkan ilmu padi, bahwa semakin berisi ia, maka akan semakin merunduk. Bahasa yang disuguhkan Sammaria, dalam bukunya yang tak begitu terdengar di telinga para pembaca, sesungguhnya telah membuat saya mengamini, kalau pembahasan serius bisa juga hadir dari humor-humor kecil dan pembahasan sederhana.

pic from JBC
Buku ini berjudul "Kartini Nggak Sampai Eropa". Saya pernah menuliskan ulasannya di situs Jakartabeat.Net, dengan judul yang sama. Saya merasa, buku ini seperti representasi Kartini, ketika berkirim surat dengan kawannya di Eropa sana. Bedanya, dua tokoh sentral dalam buku ini berkirim surat melalui surel atau surat elektronik yang lebih kita kenal dengan sebutan email. Dan dua tokoh ini sempat menjejakkan kaki di Eropa, yang mana tidak dilakukan Kartini karena budaya keluarga ningratnya. Maka dari itu, saya mengambil kesimpulan bahwa buku ini hendak mengupas sisi pemikir Kartini lewat tokoh Anti dan Tesa, dua tokoh anti-tesis yang sangat cocok untuk disandingkan sebagai sahabat.

Ibarat Anti dan Tesa, saya juga banyak mempertanyakan apa saja. Baik masalah moral--moral mana yang dipertanyakan? Baik masalah agama, sosial, pemerintahan busuk, dan lain sebagainya. Lewat buku ini, saya seperti berdialog dengan kedua tokoh itu. Saya mencoba untuk berdiskusi dengan mereka berdua, lewat media ini. Ya, mungkin ini adalah buku lainnya yang membuat saya berpikir, "Apakah tokoh dalam buku itu sebenarnya hidup juga di dunianya?"

Ingat kan? Bagaimana Sophie dalam Dunia Sophie mencoba berpikir dan terus mempertanyakan eksistensinya? Bedanya, saya mempertanyakan eksistensi dua tokoh ini, di dalam buku. Dan saya akan sangat berbahagia jika keduanya bisa hidup dalam dunia nyata.

Betapa tidak, di usia yang begitu muda, mereka berdua berusaha memberikan kontribusi pada negara mereka pasca kepulangan mereka dari Eropa. Tesa mencoba untuk berkontribusi di bidang arsitektur, membuat arsitektur yang ramah pada manusia kota, baik yang berada di kelas bawah sampai kelas atas. Dan Anti, saat ini sedang berusaha menyelesaikan studinya di Perancis.

Keduanya banyak bertanya dan keduanya memperkaya pengetahuan saya tentang apa saja. Di balik pertanyaan mereka yang mungkin tak akan pernah terjawab, mereka sebenarnya ingin memberitahu apa yang mereka ketahui, pada para pembaca termasuk saya. Saya pun ikut dalam penjelajahan mereka di Eropa, sambil mempertanyakan apa saja yang ingin dipertanyakan. Dan dari sana, saya maklum, saya mengerti alasan Sammaria memberi judul novel ini dengan embel-embel Kartini. Sesungguhnya, isi buku ini memang gambaran Kartini abad 21 yang gemar bertanya.

Sayang sekali, penjelajahan saya harus terhenti tatkala penulis bertindak sebagai Tuhan. Ia mematikan tokoh Tesa dalam bom Bali 2008, sehingga hanya menyisakan tangis Anti yang tetap berada di Eropa. Berkirim surat sendiri, tak ada teman. Andai saya bisa berada di dalamnya, mungkin akan saya lanjutkan balasan surat yang tersisa.

[Ayu]

You Might Also Like

0 comments