Skip to main content

#5BukuDalamHidupku: Lebih Baik Mabuk Dengan Para Paisano

Masih tentang kaum papa yang hidup setelah zaman perang, di mana mereka biasa menempati rumah-rumah kerabatnya yang mati dan hidup dengan cara apa saja. Yang jelas, kaum papa itu harus hidup. Dalam hidupnya yang sulit, mereka masih bisa tertawa. Mereka masih bisa mencuri-curi minum anggur di hari-hari yang biasa seperti kaum-kaum papa lainnya.

Tortilla Flat - Cetakan 2009
Inilah awal mula perkenalan saya dengan Danny dan teman-teman, para kaum papa yang hidup di sebuah rumah peninggalan keluarga Danny. Mereka, kaum papa itu, hidup bahagia meski tak makan. "Tak makan biarlah, yang penting anggur selalu menyegarkan haus kita!" Kira-kira, begitulah kata-kata yang terus terngiang ketika saya membaca kisah Danny dan kawan-kawan dalam buku "Dataran Tortilla", sebuah buku hasil karya penulis yang memenangkan nobel dan diterjemahkan oleh Djokolelono.

Sayangnya, mungkin buku ini tidak sepopuler buku-buku mbah Ernie (Ernest Hemingway) di Indonesia. Pun demikian, hal itu tidak menutup keinginan saya untuk memiliki buku ini, yang kemudian saya temukan di sebuah toko buku besar namun tak terkenal, di sudut Jakarta Selatan. Setelah membawa pulang tiga buku mister John, saya pun pulang dengan riang dan mulai mabuk seperti Danny dan kawan-kawan.

Dari Danny, saya memaknai bahwa hidup pastilah sulit. Tapi, bagaimana cara manusia menghadapi kesulitan itu dengan cara yang berbeda, sebelum akhirnya hidup sulit itu benar-benar menemui buntu dan entah sedih atau senang, pada akhirnya kita meninggalkan kehidupan itu. Seperti saya, yang menangis kala mengetahui bahwa Danny, si pria tua yang humoris itu kehilangan nilai-nilai yang ia percayai tentang hidup sampai akhirnya John Steinbeck harus menjatuhkan ia ke dalam jurang. Saya pun kehilangan nilai-nilai yang saya percayai ketika Danny mati.

Saya tahu, Danny mungkin menyesal mati di usia tua, tapi setidaknya ia meninggalkan hidup yang ia ketahui akan lebih sulit ketika ia tua, seperti Gie pernah berkata, "Kesialan adalah berumur tua dan keberuntungan itu adalah mati di usia muda." Mungkin, Danny menyesal berumur tua, tapi setidaknya, ia meninggalkan dunia sebelum dunia benar-benar menyulitkannya.

Pada akhir-akhir kematian, saya ikut merasakan bagaimana Danny menghadapi hari-hari jadi demikian berbeda. Tidak seperti hari-hari biasanya di mana ia bisa menghabiskan bergelas-gelas anggur di kedai Torelli sambil tertawa-tawa, membicarakan perempuan mana yang bisa ia tiduri. Saya ikut simpati, karena sampai akhir hidup, Danny seperti telah dihantui oleh kematian. Tak saya dapati humor-humor satir di akhir perjalanan Danny. Dan dari sana, saya memaknai satu hal, "Lebih baik tak menyadari apa yang terjadi dalam hidup, daripada memikirkannya sampai frustasi."

Mungkin begitulah kondisi saya saat membaca buku ini. Lebih baik menghadapi kebobrokan dunia dengan tawa lepas, dengan minum anggur, dengan mabuk setiap hari. Karena, mungkin hanya itulah yang bisa saya percayai. Mungkin, hanya anggur yang jujur. Hanya ia teman yang berbaur. Sebab hidup tak lagi sama ketika kita tak mabuk. Sebab......

"Benar-benar menyedihkan untuk mendapatkan bahwa bagian tersembunyi pada tubuh malaikat suci sebetulnya busuk dimakan kusta..." (hal. 80)

[ayu]

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…