Berselingkuh Di Malam Minggu

Sabtu lalu, tanggal 26 Oktober 2013, saya mencari hal yang berbeda untuk dihabiskan di malam Minggu. Bukan sekedar tidur pulas sampai Minggu siang, bukan nongkrong di kantor untuk menumpang internetan, atau mencuci dan menyeterika pakaian. Malam Minggu lalu, saya mencoba cari kegiatan baru, menonton teater.

Teater yang ini berbeda, sebab tidak seperti teater atau pementasan drama yang terakhir kali saya tonton di UIN Syarif Hidayatullah beberapa bulan lalu. Teater yang ini lebih serius, tentunya dengan tema yang serius pula. Maka, di malam Minggu ini, saya berselingkuh dengan teater sastra Universitas Indonesia. Saya berselingkuh dengannya dari malam Minggu saya yang biasanya saya habiskan untuk di depan komputer, mengulik kode atau deploy program di Linux. Saya berselingkuh dari mereka, hanya untuk melepas penat setelah seminggu bekerja, dengan menonton teater bertajuk "Multi-monolog Selingkuh" dari balkon Graha Bhakti Budaya, kursi nomor tiga.


Teater ini memperlihatkan tentang kehidupan urban. Tentang kehidupan perempuan Jakarta yang menikah dengan seorang lelaki, musisi yang sadomasokis. Kehidupan pernikahan mereka yang menyenangkan, penuh fantasi liar, lama-lama tergilas waktu dan pada titik itulah, sang perempuan yang bernama Ida, berselingkuh dengan pengusaha kaya, keturunan Batak yang menolak paribannya.

Parkiran Padat di GBB, Taman Ismail Marzuki

Namun, jangan salah sangka. Rupanya, kisah ini bukanlah drama percintaan yang romantis-manis. Kisah ini adalah kisah yang penuh dengan kelindan kehidupan dari berbagai sisi, dari berbagai sudut pandang. Dan uniknya, tokoh-tokoh yang berjumlah tujuh orang ini tidak saling berdialog, melainkan monolog. Mereka berbicara sendiri, dan potongan-potongan pembicaraan mereka akan dipertemukan hanya oleh alur cerita. Ide ini dikembangkan oleh sang sutradara, I. Yudhi Soenarto untuk menggambarkan betapa monolog telah menjadi camilan sehari-hari oleh masyarakat. Kelihatannya, kita memang berdialog. Padahal, dialog hanyalah pemanis kehidupan. Seperti basa-basi di pagi hari. Kenyataannya, manusia hanyalah bermonolog, karena dialog-dialog mereka seperti dialog pada cermin, yang tak mendapat pengertian atau balasan dari bayangan pada cermin.
curi-curi jepret para tokoh... :D

Tokoh-tokoh dalam kisah ini semakin menemui kebimbangan, ketika harus memilih cinta ataukah bias 'cinta buatan' yang terjadi dalam institusi pernikahan, di mana istri sudah sepatutnya diam dan menjadi seseorang yang submissive, atau penurut, sehingga dapat direpresi tubuhnya oleh suami. Istri bungkam, dan menerima apa saja yang dilakukan suami terhadapnya, meski diperlakukan menjadi mesin biologis, terlebih lagi oleh suami yang sadomasokis. Perempuan  yang terkungkung, berada dalam budaya masyarakat yang mengedepankan, 'kebahagiaan pasca pernikahan', membuat tokoh utama tetap berada pada jalurnya sebagai istri ideal, berusaha setia. Namun, perlahan cinta ia dan suami dikalahkan oleh waktu. Dan ketika mencari apa sebenarnya definisi cinta yang hilang dalam sebuah institusi bernama 'pernikahan', tokoh utama perempuan memilih berselingkuh. Ya, selingkuh yang indah mungkin, karena hanya di sisi si selingkuhan lah ia merasa nyaman. Tak ada kontak fisik, hanya ada tawa berderai dari lelucon si selingkuhan. Sungguh klise bukan? Tapi itulah adanya. Pencarian cinta yang hilang itu nyaris bermuara. Tapi, sutradara berkata lain. Sutradara selalu membuat chaos, apapun yang ia inginkan. Jika harus terjadi, maka terjadilah. Sutradara sedang beralih menjadi tuhan.

Pada akhirnya, kebimbangan menghilang. Semua tokoh menemui jalannya masing-masing. Mematikan nurani, saling membunuh demi menemukan arti terbaik atas cinta yang hilang kesakralan. Apa itu cinta? Bagaimana mewujudkan cinta yang menyenangkan kedua pihak? Apakah seksualitas itu cinta? Apa seks itu hanya konsumsi pernikahan, ataukah cinta?

Pada akhirnya, penonton dipaksa mengerti, bagaimana selingkuh bisa menjadi begitu kompleks. Bukan hanya sekedar berkata cinta, namun multi-monolog selingkuh ini menghadirkan selingkuh dari berbagai sudut pandang, di mana sutradara menghadirkan para tokoh-tokoh sampingan. Bukan cameo, namun tak utama, karena mereka hanya bertugas untuk memberi komentar dalam monolog mereka. Hukum. Media. Konspirasi Astral. Hak Asasi. Feminisme. Industri. Aturan. Dan pada akhirnya tak ada satupun yang bisa didefinisikan sebagai... CINTA.

Jakarta, 28 Oktober 2013

You Might Also Like

2 comments

  1. Menyenangkan sekali menghabiskan malam minggunya mbak :)
    Pengen juga, nonton teater, nonton orchestra, nonton stand up comedy nya Pandji,.. Tunggu saya di ibukota :D

    ReplyDelete
  2. @armae kalo ke ibukota, kabarin saya yaaah... nanti saya ajak pelesir kuburan Belanda. Heeeee... :D

    ReplyDelete