Langit Indonesia Masih Tetap Ramah

Rasanya sudah lama tidak naik gunung. Mulai naik lagi dan setelah turun, kaki rasanya kebas, mati rasa. Pulang dari Prau, saya bahkan tak bisa menekuk lutut. Harus selalu lurus. Tapi, memang harganya bersusah-susah itu pasti ada, seperti keindahan yang tak terungkap kata. Cahaya dan langit yang membias merah muda, romantis membayangkannya. Itulah alasannya kenapa saya lebih suka berada di ketinggian daripada di lokasi nol meter DPL. Saya suka pantai memang, tapi tak bisa mengalahkan rasa suka saya terhadap gunung-gunung yang masih bisa dieksplorasi di Indonesia. Untuk itu, saya akan terus berjalan. Tidak untuk mengeksploitasi mereka, hanya untuk bergumam bahwa, "Tuhan sungguh baik. Tuhan sungguh tak pernah lupa untuk menyisakan sedikit rasa surga di dunia." Apakah surga seperti pemandangan semesta yang saya lihat tempo hari? Ah, berandai-andai hanya membuat saya terus tersenyum saja. Langit Indonesia masih ramah dan romantis seperti biasanya. Kalau saya tidak mendapatkannya di Jakarta, mungkin bukan Indonesia yang salah, tapi lebih kepada Jakarta yang tak mencerminkan identitas Indonesia. Ya maklum, bangsa kita yang besar ini sedang dilanda krisis identitas. Well, ini sedikit pecahan memori di Gunung Prau kemarin, beberapa hasil foto yang sempat saya rekam di mata dan di kamera. Selamat menikmati!

"...If once we had decided to forget, then we alone can decide to remember. We all started the same journey. This had been an illusion of a journey, for it didn't have a start and didn't have an end." (*)



Once, in a dream... I saw you, telling me that you've traveled in the dark just to find that little spot, how you settled for a light in the vastness of the night. And I saw some tears were coming from your eyes. As you said you'd found your paradise and I began to ask you, "Why you have to cry?"


Saya mengakui, saya kadang pongah dengan alam. Menganggap bahwa gunung kecil kadang tak sepadan dengan pemandangan yang disuguhkan. Tapi, setelah mencapai lokasi Gunung Prau, saya jadi yakin bahwa apapun ekspektasi yang saya lempar terhadap sesuatu, bisa salah juga. Gunung ini ibarat miniatur Semeru, dengan bukit-bukit berundak, savana yang luas, dan ada juga tanjakan savana yang merupa tanjakan cinta. Yah, saya betah di sini, meski saya akui, panas begitu menyengat dan ketika malam, angin dingin menusuk. Inilah gunung yang menyuguhkan keindahan perbukitan di sekitarnya, berada di gugusan Dieng Plateau.


Garis cakrawala, batas antara ada dan tiada. Batas antara pagi, siang, malam. Batas di mana ilham merasuk, membelenggu ego jadi rasa syukur. Batas yang masih bisa membias jingga, yang tak akan kau dapatkan ketika berada di kota penuh polusi...



a few morning dew
Wangi petrichor sisa hujan, bertemu tanah dan menyisakan rintikannya di badan tenda yang menghangatkan saya dari angin juga cuaca malam. Terbangun dengan rasa syukur berkat gugusan gunung di depan mata. Dan dari sana saya hanya bisa berucap, "Fabi'ayyi 'ala irobbikumaa tukadzibaan? Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"

"Have We not made the earth a resting place? And the mountains as stakes?"
(An-Naba: 6-7)

going home...
Lihat? Bagaimana langit Wonosobo membias sempurna. Merah muda yang tumbuh karena matahari menghias siluet pepohonan yang seadanya di Gunung Prau. Sebab lokasi Gunung Prau yang dominan dengan savana luas, pepohonan yang ada jadi lebih cantik dilihat. Kala malam, bulan yang menerangi savana membuat pepohonan rimbun itu jadi bersahabat. Tak ada rasa takut, tak ada gentar. Saya patut berterima kasih, pada mereka yang masih setia mendaki gunung tanpa mengeksploitasi, karena dengan begitulah gunung-gunung ini masih tetap bisa ditafakuri. Coba, bayangkan saja bagaimana kalau Prau diambil kekayaannya, diubah menjadi sebongkah gugusan beton tanpa nyawa? Coba, bagaimanaaa? Yah... Berada di Prau membuat saya lupa sejenak terhadap kepenatan Jakarta. Semoga sampai nanti, kondisinya tetap begitu ya. Sampai jumpa lagi Prau!

(*) Dewi Lestari's song, Back to Heaven's Light

Comments

  1. selalu menarik tulisannya juga foto2nya.. kapan2 mgkn bisa mendaki bersama hehee

    ReplyDelete
  2. Suka banget foto2 nya, bikin penasaran naik gunung. Tapiiiiii ngebayangin gempor nya dulu jadi selalu mundur dengan gunung igik igik iik

    ReplyDelete
  3. Uda lama gak naik gunung mbak. Dulu juga saya penyuka gunung, bukan pantai. Tapi, mungkin Sang Pemilik Semesta lebih ingin menunjukkan kuasaNya lewat mata saya di ketinggian 0 mdpl... Titip salam, untuk bintang, dingin, malam, peluh, juga petrichor, yang tak pernah lupa menyapa disetiap pagi, diketinggian sekian puluh-ratus kaki, ya mbak :)

    ReplyDelete
  4. @cumilebay.com jangan takut mencoba Baaaang. Heheheee. Dijamin ketagihan deh kalo dah cobain.

    ReplyDelete
  5. @armae Salaaaam juga yaaa Armaeee, sama ikan-ikan atau penyu-penyu yang dilepaskan dari bibir laut. :D

    ReplyDelete
  6. Indah sekali foto-fotonya, iya mbak naik gunung cape banget tapi kalau sudah liat sunrise nya, wuiiiih plong rasa capenya.

    ReplyDelete
  7. Lalu kapan kita mendaki jongjon lagi?

    ReplyDelete
  8. Ini gunung deket dengan kampung saya, nggak sampe sejam. Tapi malah belum pernah menjejak disana :((

    ReplyDelete
  9. @ranselhitam ayooo mbak... aku juga pengen ke sana lagi... selalu kangen sama Wonosobo. :D

    ReplyDelete
  10. sy jg menyukai gunung, rsanya damai banget melihat gunung, hutan, awan, sungai,,,,
    fotonya bagus2 mbak...
    salam kenal :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)