Kontemplasi Dini Hari: Ke(tidak)bahagiaan?

Monday, September 9, 2013

Kontemplasi Dini Hari: Ke(tidak)bahagiaan?


Minggu malam, ke Gramedia. Alih-alih mencari kebahagiaan dalam seteguk cappucino dingin sembari membaca buku yang baru saja saya beli di Gramedia Mall Ambassador, malah tak jadi. Saya ingin berada di keramaian meski sendirian. Ingin melihat-lihat manusia yang masih menggadaikan waktu tidur demi mencari setitik kebahagiaan di tengah pusat keramaian kota, sebuah Mall raksasa. Tapi, kedai kopi tutup dan tumben sekali, lokasi mall sudah sepi. Padahal, jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Ke mana manusia-manusia penggadai itu? Apakah sudah jenuh terhadap waktu?

Ah, dini hari ini hanya bisa berpikir tak terbatas. Semua bayangan dan pikiran, berlalu sekelebatan. Mereka bergantian, dan memenuhi kepala. Selain berpikir, saya pun sedang mencoba untuk membaca. Buku yang barusan saya beli, rupanya masih ada sangkut-pautnya dengan satu kata bernama 'kebahagiaan'. Baru membaca beberapa halaman depan saja sudah membuat saya tertawa geli. Tertawa pada hidup, tertawa pada sepi.

Kurang lebih, buku ini bercerita tentang sebuah perjalanan. Perjalanan yang tak bertumpu pada tujuan atau destinasi, melainkan pada bagaimana seseorang memaknai perjalanan sebagai proses untuk melihat hal-hal baru. Dalam rangka mencari tempat-tempat yang membahagiakan, rupanya seorang Eric Weiner pun menemukan hal-hal tak bahagia yang tetap bisa berdampingan dilewati pada penghuni tempat-tempat tersebut. 

Memang, saya mungkin sedang berada dalam tahap itu, "mencari kebahagiaan". Alih-alih untuk menjadi bahagia, saya malah lebih sering menemukan ketidakbahagiaan. Jadi, kesimpulannya, apakah batas antara kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu begitu tak kentara? Yah, saya jadi salah menafsir. Mungkin kebahagiaan itu memang didapat dengan cara-cara yang tidak biasa, atau bahkan tersembunyi di balik ketidakbahagiaan itu. Seperti ketika saya menumpang mandi di salah satu rumah warga di dataran Dieng, saya menemukan kebahagiaan di antara tungku dengan bara menyala, dan teh yang diseduh oleh seorang ibu tua.

"Monggo Mbak," jelas Ibu itu sembari tersenyum. Rumah sederhana yang beratap kayu, nyaris rubuh, masih tetap menyimpan keramah-tamahan sang Ibu tua. Saya menumpang mandi di kamar mandinya, satu-satunya ruangan yang berkeramik. Sambil menunggu giliran, Ibu itu menyodorkan saya opak. 

"Wah enak Bu!" 

Ibu itu hanya tersenyum dan menyodorkannya lagi. Di depan saya, seorang lelaki yang umurnya mungkin lebih tua dari saya, menunggui tungku. Sang Ibu rupanya sedang memasak. Saya tak enak duduk di atas, makanya saya pindah ke bawah. Pintu kamar mandi terbuka, dan giliran saya untuk membersihkan badan.

Rasanya, saya sudah lupa bagaimana caranya berinteraksi dengan penduduk sekitar di tempat tujuan saya. Saya hampir lupa, bahwa tujuan saya berjalan bukanlah semata-mata karena tempat, melainkan untuk melihat dan membaur dalam sebuah interaksi. Tapi, rasanya hal itu memang sudah lama tak saya temui dalam diri saya sendiri, hanya karena saya sibuk mencari apa artinya kebahagiaan dengan sebuah perjalanan yang nyaris tak pernah berhenti.

Yah, mungkin saya harus menumbuhkan sedikit kepekaan terhadap sesuatu yang bernama 'bahagia'. Karena, sampai saat ini saya belum tahu apakah esensi perjalanan saya. Apakah saya berjalan untuk bahagia, atau mencari kebahagiaan tersirat yang harus ditumbuhkan tanpa semata-mata melihat tujuan dan destinasi? Entahlah... Pikiran saya buntu, saya masih harus mencari tahu.


Jakarta, 09 September 2013

0 comments :

Post a Comment