Skip to main content

Kontemplasi Dini Hari: Ke(tidak)bahagiaan?

Minggu malam, ke Gramedia. Alih-alih mencari kebahagiaan dalam seteguk cappucino dingin sembari membaca buku yang baru saja saya beli di Gramedia Mall Ambassador, malah tak jadi. Saya ingin berada di keramaian meski sendirian. Ingin melihat-lihat manusia yang masih menggadaikan waktu tidur demi mencari setitik kebahagiaan di tengah pusat keramaian kota, sebuah Mall raksasa. Tapi, kedai kopi tutup dan tumben sekali, lokasi mall sudah sepi. Padahal, jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Ke mana manusia-manusia penggadai itu? Apakah sudah jenuh terhadap waktu?

Ah, dini hari ini hanya bisa berpikir tak terbatas. Semua bayangan dan pikiran, berlalu sekelebatan. Mereka bergantian, dan memenuhi kepala. Selain berpikir, saya pun sedang mencoba untuk membaca. Buku yang barusan saya beli, rupanya masih ada sangkut-pautnya dengan satu kata bernama 'kebahagiaan'. Baru membaca beberapa halaman depan saja sudah membuat saya tertawa geli. Tertawa pada hidup, tertawa pada sepi.

Kurang lebih, buku ini bercerita tentang sebuah perjalanan. Perjalanan yang tak bertumpu pada tujuan atau destinasi, melainkan pada bagaimana seseorang memaknai perjalanan sebagai proses untuk melihat hal-hal baru. Dalam rangka mencari tempat-tempat yang membahagiakan, rupanya seorang Eric Weiner pun menemukan hal-hal tak bahagia yang tetap bisa berdampingan dilewati pada penghuni tempat-tempat tersebut. 

Memang, saya mungkin sedang berada dalam tahap itu, "mencari kebahagiaan". Alih-alih untuk menjadi bahagia, saya malah lebih sering menemukan ketidakbahagiaan. Jadi, kesimpulannya, apakah batas antara kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu begitu tak kentara? Yah, saya jadi salah menafsir. Mungkin kebahagiaan itu memang didapat dengan cara-cara yang tidak biasa, atau bahkan tersembunyi di balik ketidakbahagiaan itu. Seperti ketika saya menumpang mandi di salah satu rumah warga di dataran Dieng, saya menemukan kebahagiaan di antara tungku dengan bara menyala, dan teh yang diseduh oleh seorang ibu tua.

"Monggo Mbak," jelas Ibu itu sembari tersenyum. Rumah sederhana yang beratap kayu, nyaris rubuh, masih tetap menyimpan keramah-tamahan sang Ibu tua. Saya menumpang mandi di kamar mandinya, satu-satunya ruangan yang berkeramik. Sambil menunggu giliran, Ibu itu menyodorkan saya opak. 

"Wah enak Bu!" 

Ibu itu hanya tersenyum dan menyodorkannya lagi. Di depan saya, seorang lelaki yang umurnya mungkin lebih tua dari saya, menunggui tungku. Sang Ibu rupanya sedang memasak. Saya tak enak duduk di atas, makanya saya pindah ke bawah. Pintu kamar mandi terbuka, dan giliran saya untuk membersihkan badan.

Rasanya, saya sudah lupa bagaimana caranya berinteraksi dengan penduduk sekitar di tempat tujuan saya. Saya hampir lupa, bahwa tujuan saya berjalan bukanlah semata-mata karena tempat, melainkan untuk melihat dan membaur dalam sebuah interaksi. Tapi, rasanya hal itu memang sudah lama tak saya temui dalam diri saya sendiri, hanya karena saya sibuk mencari apa artinya kebahagiaan dengan sebuah perjalanan yang nyaris tak pernah berhenti.

Yah, mungkin saya harus menumbuhkan sedikit kepekaan terhadap sesuatu yang bernama 'bahagia'. Karena, sampai saat ini saya belum tahu apakah esensi perjalanan saya. Apakah saya berjalan untuk bahagia, atau mencari kebahagiaan tersirat yang harus ditumbuhkan tanpa semata-mata melihat tujuan dan destinasi? Entahlah... Pikiran saya buntu, saya masih harus mencari tahu.


Jakarta, 09 September 2013

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…