Skip to main content

Semalen dan Masa Kecil

Pulang ke kampung halaman memang selalu berhasil menerbangkan memori yang nyaris hilang. Melewati jalan raya, pematang sawah, atau bahkan toko mainan favorit kala kita kecil adalah salah satu hal yang paling membuat saya melamun di dalam mobil. Seperti tradisi mudik tahun ini, yang saya lewati dengan mobil keluarga, melewati Bandung di lingkung gunung, transit di Tegal sebelum akhirnya sampai di Semalen dan rumah masa kecil.

Semalen sekarang sudah berbeda. Jalanan batu kali yang besar-besar kini sudah berganti jadi jalan aspal dan tak lagi bersahabat seperti dulu. Anak-anak kecil yang berangkat sekolah dengan berjalan kaki sudah dipastikan akan jarang ditemui. Sebab, sekarang jalanan di depan rumah kecil saya sudah berubah menjadi jalur alternatif ke arah Purworejo dan Yogyakarta. Yah, apa mau dikata. Makin mengglobal, kebutuhan manusia akan alat transportasi pun makin tak karuan. Mobil dan motor bisa ditemukan di mana saja. Seolah-olah, saat ini sangat mudah memiliki motor. Tanpa memikirkan akan jadi apa bumi yang terpolusi, manusia tetap menumpuk kendaraan penghasil polusi. Dan tahun ini, lebaran ini, kendaraan berpolusi itu berpindah dari kota besar ke daerah kecil tempat saya besar.

Lalu lalang mobil di depan jalan rumah nenek seperti tak mengindahkan nafas hidup damai para penghuni desa. Saya duduk di beranda rumah Bude, mencoba tak menggubris kendaraan-kendaraan itu. Duduk sambil melihat sepupu saya yang masih kecil bermain petasan. Cahaya berpendar ke langit Semalen, dan masa kecil saya pun kembali berputar dalam ingatan.

Esok harinya, saya berniat menyusuri sebagian masa kecil saya yang banyak dihabiskan di kebun belakang rumah nenek. Memanjat pohon kopi, mencari salak yang ditanam sendiri, atau menunggui durian jatuh dari pohon sambil bermain kartu remi. Ya seperti itulah masa kecil saya di Semalen, sebuah desa harmonis di bagian utara Magelang. Dan di usia saya yang sudah kepala dua, saya ingin kembali merasakan udara segar yang pernah saya rasakan pada masa kecil. Maka, sore-sore setelah mencuci pakaian selama mudik, saya bergegas untuk menyusuri kebun.

Banyak yang berubah, terutama sawah yang luas di belakang rumah. Sawah itu kini perlahan tergantikan beton-beton, mengubah bentuknya jadi terasering perumahan, bukan lagi sawah. Kebun kopi yang ada di sebelan wetan, kini sudah berkurang  dan tak terurus. Saya bisa pastikan, kini pepohonan itu dihuni oleh berjenis-jenis serangga dan ular. Daun jatuh yang rimbun sangat cocok jadi tempat persembunyian ular kebun. Yah, saya mengurungkan niat untuk memanjat pohon dan meneruskan perjalanan menyusuri kebun bambu sebelum sampai di kebun pohon jarak dan sawah yang tinggal sisa.

"Nanti, sawahnya ini bakal jadi perumahan lagi Mbak Ayu," gumam sepupu saya. Saya pun terduduk di antara pohon yang masih anak-anak, yang ketika dewasa nanti, kayunya akan sangat mahal sekali harganya. Melihat sekeliling yang sejuk, sepertinya pada tahun-tahun yang akan datang, tak akan lagi bisa didapatkan. Sedih juga. Ternyata para kapitalis pemakan nuansa hijau mulai bergerak ke pinggiran kota, menuju desa dan mengambil apa yang mungkin diambil. Sedih memang, tapi itu mungkin sudah jadi hukum alam. Dan yang bisa saya lakukan hanya menikmati apa yang masih tersisa dari kampung halaman.

"Mbak ayo cari ikan kecil!" Nafis, sepupu saya yang masih SD lalu berlari melewati kebun jagung, mencari-cari ikan kecil di dekat kebun jagung. Sawah yang sepertinya baru ditanami itu masih berair. Banyak ikan-ikan kecil di sana. Saya tertawa.

Sudah berkeliling, duduk di tepi sawah sambil mengamati perumahan yang akan dibangun secara utuh sampai beberapa tahun ke depan. Sementara itu, Nafis menuju pohon jagung dan mengambil beberapa jagung tua. Kapan lagi bisa memakan hasil bumi sendiri tanpa membeli? Ya saya rasa, di kota tak mungkin mendapatkan hal seperti itu, sebab tak ada lagi yang bisa ditanami di kota. Betapa masa kecil saya di Semalen penuh keceriaan, tak seperti masa tua yang dihabiskan pada lautan robot pekerja di belantara beton.

Empat buah jagung sudah dibawa pulang dan hari pun menjelang malam. Kelak, memori masa kecil saya mungkin akan benar-benar hilang, seperti hilangnya sawah-sawah masa kecil saya. Semua akan terhapus seperti terhapusnya lahan hijau di belakang rumah nenek saya dan berganti sawah-sawah beton dengan pagar tinggi yang dingin dan angkuh. Kalau bisa saya meminta... Kota... Tolong jangan datang ke desa, cukuplah kalian hancurkan kota, tak perlu mengambil seluruh desa masa kecil saya. Kalau bisa...

Ya, ini saatnya pulang, kembali ke rumah lempung nenek, menikmati daging bebek yang disembelih sendiri, menikmati jagung bakar yang dipetik sendiri, menikmati sayuran segar dari kebun sendiri dan menikmati sisa liburan pada rumah masa kecil yang entah akan jadi apa di masa depan nanti.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…