Belajar Memahami Batas - Sebuah Ulasan Film

Dalam kejenuhan yang luar biasa, saya iseng mencari film yang sekiranya bisa saya unduh. Hehehe. Maklum lah, mengaku pecinta film, tapi nggak mau sisakan cost lebih untuk beli DVD original. Mental saya agak-agak mental gratisan.

Keisengan saya membuahkan hasil. Sebuah film tahun 2011 besutan Rudi Soedjarwo menarik hati saya. Sejak dulu, saya memang suka sekali dengan film-film yang dibuat oleh Rudi Soedjarwo, di samping saya menyukai film-film Riri Riza. Ya, tak pikir panjang, saya mengunduhnya. Beruntung, data film tersebut belum dihapus oleh pihak penyedia jasa unduh tersebab hak cipta selalu menyebabkan data-data film itu dihapus. Hehehe. Unduh deeeeeeh. :D

Film Rudi Soedjarwo kali ini berlatar di Borneo, alias Kalimantan, tepatnya agak ke sananya Pontianak gitu kalau tidak salah. Film ini mengisahkan tentang seorang perempuan yang ditugaskan untuk melihat apa yang terjadi pada program CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahannya. Tiap kali perusahaannya mengirim relawan untuk mengajar, selalu pulang dalam jangka waktu yang bisa dibilang tak lama. Maka, atas perintah bosnya (Amoroso Katamsi), perempuan yang bernama Jaleswari (Marcella Zalianty) berangkat menuju Kalimantan.

Film ini tidak bertele-tele, sebab di awal film dimulai, sudah disuguhkan dengan bentangan alam Kalimantan. Awal kisahnya, menggambarkan perempuan lain--yang belakangan diketahui bernama Ubuh--berlari kencang dikejar dua orang pria. Ubuh (Ardina Rasti), berlari dan terjatuh. Namun, ia jatuh di lokasi yang tepat, di titik perbatasan antara Kalimantan dan Malaysia, sehingga ia segera ditolong oleh aparat yang menjaga perbatasan tersebut, salah satunya adalah Arip (Arifin Putra).

Kembali ke Jaleswari. Sesampainya di Kalimantan, Jales bertemu Arif, ketika mobil yang akan membawanya ke pangkalan kelotok (perahu yang biasa dipakai untuk lintas daerah), mogok karena ban mobilnya bocor. Arif datang dengan teman-temannya dari perbatasan. Setelah ban mobil diperbaiki, Jales pun melanjutkan perjalanan. Setelah menaiki perahu beberapa jam, Jales sampai di desa yang dituju. Desa yang asri, dengan budaya Dayak yang masih kental. Sesampainya di sana, Jales disambut oleh salah satu murid Adeus. Jales langsung diantar untuk menghadap kepala suku, atau orang yang dituakan secara adat. Kepala suku Panglima Adayak (Piet Pagau), menyambut Jales dengan sukacita. Penyambutan dengan meminum alkohol khas Kalimantan dan daging rusa pun tak luput dari hari pertama Jales berada di sana. Seorang anak bernama Borneo pun menyambut Jales dengan mengambil telepon selulernya dan mencoba berbicara dari sana. Padahal, telepon itu tak bisa digunakan karena tanah tersebut kesulitan sinyal. Tapi, Jales tidak marah, malah tertawa dan mencoba memahami Borneo (Alifyandra).

Dan hari-hari pun dijalani Jales dengan penuh kebingungan. Anak-anak tak suka belajar, seolah ada sesuatu atau seseorang yang menyuruh mereka untuk tak sekolah. Namun, Panglima kemudian memberitahu Jales, bahwa untuk bisa menyatu dengan anak-anak itu, maka Jales harus berbicara dengan bahasa mereka, bahasa Borneo, bahasa alam. Dan Jales pun berpikir keras. Ketika ia menemukan solusi dan meminta bantuan Adeus (Marcell Domits), Jales malah tidak mendapat dukungan karena Adeus diancam oleh seseorang yang membangun desa itu dengan bantuan luar. Orang itu adalah seorang pemilik toko kelontong bernama Otig, perantau negeri seberang yang tinggal di desa beradat Dayak itu.

salah satu adegan dalam film "Batas"
Makin hari, Jales makin tertarik dengan Kalimantan. Jales yang berhasil memahami bahasa alam, bahasa hutan, akhirnya bisa kembali mengajar anak-anak. Namun, keberadaan Jales yang mengancam suatu pihak membuatnya terus diteror. Di tengah kalutnya Jales dan keinginannya untuk pulang, keramahan hati masyarakat desa juga Panglima Adayak dan Bunda Nawara (Jajang C. Noer). Meski teror terus berniat menghancurkan mereka, tapi Jales dan yang lainnya tak gentar. Jales terus mencoba menguak rahasia yang ada di balik kegilaan Ubuh dan dipulangkannya guru-guru dari program CSR.

Film ini memang tak hanya menyajikan bentangan alam. Film ini menyajikan pula kearifan Kalimantan. Ada beberapa yang menarik dalam film ini, seperti kata-kata Jales yang mengutuk para konglomerat kota, yang menguras terus kekayaan alam Kalimantan. Film ini juga menyajikan satu hal yang paling penting, yaitu bagaimana seorang pendatang seperti Jales bisa berakulturasi dengan budaya sekitar, dan bagaimana para penghuni desa itu bisa bertahan dalam lingkungan mereka yang jauh dari globalisasi. Rupanya, orang-orang desa harus bertahan dari batas-batas. Mereka harus bertahan hidup di antara keinginan dan kenyataan. Keinginan bahwa mereka harus menyekolahkan anak-anak sampai sarjana, tapi terhempas kenyataan bahwa mereka berada di daerah terpencil yang tak tersentuh dunia. Dan dengan kehidupan seperti ini, Jales mencoba bertahan.

Seperti film-film Rudi Soedjarwo lainnya yang juga sukses besar, saya menganggap bahwa film ini jadi salah satu masterpiece Rudi Soedjarwo meski ada celah di beberapa titik, seperti yang dijelaskan di sini. Ya meskipun banyak juga karya lainnya yang lebih hebat, namun saya paling suka yang ini. Hehehe. Meski tak begitu booming, saya yakin kalau film ini diputar di luar, pasti sangatlah laku. Sayang memang, animo masyarakat Indonesia akan film berkualitas masih jauh di bawah rata-rata. Ya, jadinya saya bercerita di sini pun, mungkin tak banyak yang peduli atau ingin menonton.

Kira-kira begitulah sedikit ulasan saya tentang film ini. Maaf tak saya ceritakan detil, takutnya spoiler, nanti teman-teman jadi nggak mau nonton deh. :D


You Might Also Like

10 comments

  1. betul sekali, membaur dengan masyarakat itu bukan hal yang mudah, jangankan dengan masyarakat baru...
    dengan tetangga sekitar kita saja banyak yang masih kesulitan hehe
    apalagi dengan jaman internet kaya gini, banyak yg gaulnya keren di dunia maya, jadi jarang ketemu dengan orang orang di sekitar

    ReplyDelete
  2. yang jadi pertanyaan, kenapa film dari luar malah disukai oelh para penonton indonesia, dan kenapa film lokal tidak begitu menarik untuk dinonton...bagi saya, dari segi cerita film indonesia suadah bagus...namun dari segi hiburan sama sekali tidak ada, film2nya rudy soejarwo selalu hadir dengan berbagai macam genre..yang fenomenal adalah film Ada Apa Dengan Cinta, setelah itu tak ada lagi karyanya yang femomenal....padahal berbagai genre film telah dicoba, mulai dari drama, action hingga film berjenis pocong.... salam :-)

    ReplyDelete
  3. Filmnya sepertinya keren.. mau cari aahh.. thank you for sharing

    ReplyDelete
  4. masih suasana lebaran khan,
    jadi nggak apa2 kan kalo aku mohon dimaaafkan lahir batin kalau aku ada salah dan khilaf selama ini,
    back to zero again...sambil lirik kiri kanan nyari ketupat....salam :-)

    ReplyDelete
  5. @BlogS Of Hariyanto sebab film lokal masih kurang cara jualnya... hahaha... koar-koarnya ke orang luar masih kurang, trus malah ngikutin pasaran film2 aneh yg marak di Indonesia... film horor porno, romantis gak jelas, dan semacam itu... harusnya mereka yg bikin film bisa lebih membaca situasi :D

    ReplyDelete