Review Rectoverso: "How This Sentimental Fool Can Be?"

gambar dari sini

Malam Senin, 19 Februari, sebelum berangkat keesokan harinya menuju Bandung, saya menyempatkan diri untuk melihat ekranisasi dari kumpulan cerpen Dewi Lestari yang dijadikan film omnibus. Mengambil lima kisah dalam buku "Rectoverso", saya pun antusias sekali. Terlepas dari masalah bagaimana ekspektasi seseorang akan tercipta, saya tetap melancarkan aksi untuk menonton. Hehehe. Sekali-sekali ke bioskop, boleh lah.

gambar dari sini
Lima cerpen yang terpilih adalah Malaikat Juga Tahu, Hanya Isyarat, Firasat, Cicak di Dinding, dan Curhat Buat Sahabat. Kelimanya memang cocok untuk membangun perasaan sensitif, apalagi premiere Rectoverso yang disuguhkan pada saat hari kasih sayang. Sepertinya, akan banyak yang menangis atau bertanya-tanya tentang cinta yang tak sewajarnya. Cinta yang tak bisa memiliki, meski dia telah utuh.

Awal kisah menggambarkan Lukman Sardi yang berperan sebagai Abang dalam bingkai "Malaikat Juga Tahu". Abang adalah seorang yang menderita keterbelakangan mental. Permainan drama Lukman Sardi memang tak pernah meragukan. Lukman Sardi sukses membentuk imaji seorang penderita autisme dan ini jadi nilai lebih dari film omnibus Rectoverso. Saya jadi sentimentil, dan sudah begitu, pastilah susah hati ini untuk menerima kenyataan dari film, bahwa Abang tak mungkin bersama Leia.

"Namun kasih ini, silakan kau adu. Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya..."

Dari kisah Abang, beralih ke kisah Senja. Senja adalah perempuan sederhana yang memiliki firasat akan suatu kejadian buruk. Untuk menghalau segala perasaan itu, Senja rajin menghadiri pertemuan klub bernama sama, "Firasat". Di sini, Senja menemukan seseorang yang tak bisa ia kirimi firasatnya. Seseorang yang entah mengapa, sangat ia takuti tak akan kembali lagi. Dan menyimak keseluruhan bagian Firasat ini, rupanya saya salah mengira. Ending bagian ini sangat tak disangka-sangka. Cliff-hanger saya menyebutnya. Rupanya bukan Panca yang pergi, melainkan badan Senja sendiri.

"...Aku teringat detik-detik yang kugenggam. Hangat senyumnya, napasnya, tubuhnya, dan hujan ini mengguyur semua hangat itu, menghanyutkannya bersama air sungai, bermuara entah ke mana. Hujan mendobrak paksa genggamanku dan merampas milikku yang paling berharga. Hujan bahkan membasuh air mata yang belum ada. Membuatku seolah-olah menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku hanya ingin ia pulang. Cepat pulang. Jangan pergi lagi."

Beralih ke kisah seorang pelukis muda bernama Taja yang bertemu perempuan malam di sebuah klub malam. Mereka terlibat cinta kilat, cinta sederhana. Meski begitu, Taja seolah tak bisa melupakan perempuan itu. Perempuan yang hadir hanya dalam sekejap mata, perempuan pengagum tato cicak yang bisa membuat Taja mengerti, "Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu. Atau hewan kecil yang luput dari pandanganmu." Lantas, ketika perempuan itu pergi dan bertemu kembali di kemudian hari, perempuan itu membawa realita yang tak mampu diterima Taja. Taja hanya bisa sendiri. Dia hadiahkan ornamen cicak yang menyala di kamar si perempuan, ketika perempuan itu hendak melepas cintanya dengan sahabat Taja sendiri. Saya sungguh menyesali kisah ini. Sedih sendiri. Seperti itukah benda mati yang memenangkan tempat di sisimu?

"Dan ku menyadari tanganku takkan mampu meraihmu. Walau cinta katanya takkan lelah memberi. Ku lepas engkau ombak hatiku. Bercumbu abadi menyegarkanku..."

Curhat Buat Sahabat mengisi bingkai berikutnya. Diawali dengan curahan hati seorang wanita bernama Amanda pada sahabatnya bernama Reggie. Diawali dengan putusnya si wanita dengan kekasih, yang membuat dia menyadari bahwa hanya Reggie yang mau menawarinya air putih. Ya, segelas air putih... :')

"...Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam." 

And the last part... Bagian terakhir adalah bagian paling favorit, dalam buku. Dan dalam film, ternyata lebih sederhana. Kisahnya dibuat menjadi lebih sederhana. Dengan lampu-lampu kafe yang remang, membuat mata cokelat itu tampak gamang. Ah, saya sentimentil kali ini. Seorang perempuan bernama Al, merupa pada saya. Al yang hanya mampu mengagumi lelaki itu sebatas punggungnya saja. Al yang hanya mampu menebak-nebak warna matanya, yang rupanya cokelat muda. Al yang... ah... sudahlah. Saya sentimentil pada bagian ini.

"... Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan." 

Mungkin, kalian berminat menonton? Tentu saja pasti berminat. Film ini cocok untuk kalian yang mau mengerti, bahwa cinta tak melulu harus memiliki. Yaaaa begitulah cinta. Pernak-perniknya melenakan kita...


Produser:
Marcella Zalianty
Eko Kristianto

Pemain:

Lukman Sardi, Prisia Nasution, Sophia Latjuba, Tio Pakusadewo, Yama Carlos
Acha Septriasa, Indra Birowo, Marcell Domits, Fauzi Baadilla, Asmirandah
Dwi Sasono, Amanda Soekasah, Hamish Daud, Rangga Djoned
Prianggadi Adiyatama, Dewi Irawan, Tetty Liz Indriati, Widyawati

Studio:
Keana Production & Communication


Durasi:

110 menit

Comments

  1. "... Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan." Huft banget.

    ReplyDelete
  2. Hiks.. ceritanya sedih T_T
    hihihihii ... #3 kali

    ReplyDelete
  3. selalu review yang manis dari seorang Ayu, tentang buku, film, dll... #salut :)

    ReplyDelete
  4. Adikku juga udah nonton, tapi dia paling suka yang Reggie. Walaupun dia tetap dengan kalimat saktinya itu, "Tapi akting Acha aneh," hihihi..
    Aku blom nonton sih, tapi kalo udah, kayaknya aku juga bakal suka Hanya Isyarat ;)

    ReplyDelete
  5. @Stupid monkeynonton sanaaa om manki... pasti nangis beneran deh. :p

    ReplyDelete
  6. @DellaYang paling sederhana cuma Hanya Isyarat soalnya maaaa. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)