Skip to main content

Kubah, Gagasan Besar Rekonsiliasi Pasca 1965

Ahmad Tohari
Baru-baru ini, saya menyelesaikan sebuah buku yang entah kenapa bisa menarik hati saya waktu itu. Buku ini adalah hadiah, bersama dengan satu buku lain yang mengangkat tentang feodalisme Jawa. Ketika itu, saya bingung memilih buku, sehingga orang yang bersama saya menawarkan saya untuk membeli keduanya. Ini sudah jelas traktiran, traktiran buku. Hehehe.

Buku hadiah yang pertama saya buka adalah buku Kubah karya Ahmad Tohari. Buku yang sempat mendapatkan penghargaan di tahun 1981 ini rupanya telah dicetak ulang oleh Gramedia. Dan saya membaca buku ini di cetakan baru. Saya rasa tidak banyak perubahan, selain tata bahasa yang disusun mengikuti zaman.

Kisah yang dihadirkan dalam Kubah bukan kisah baru yang berbeda. Ahmad Tohari menggambarkan kisah seorang kader komunis dengan mengambil beberapa kejadian sosial yang ada di desa-desa tak tersentuh. Seperti Ronggeng Dukuh Paruk yang mengambil kisah seorang Ronggeng, Kubah pun mengambil latar di sebuah desa dengan kondisi sosial dan agama yang harmonis namun kadang penuh kepalsuan. Seorang Karman, lelaki yang dibesarkan dalam kondisi sosial ekonomi yang kurang, nyatanya harus bergelut dalam kehidupan, antara dendam dan pilihan. 

Kisah dalam buku dibuka dengan perjalanan Karman menuju Pegaten, pulang dari pengasingan di Pulau Buru. Satu per satu bingkai hidup mulai tertata dengan sendirinya, Pegaten sudah banyak berubah. Namun, keraguan Karman untuk kembali ke kampung halaman yang membesarkannya itu tidak berubah sama sekali.

Dari situ, bab berikutnya mundur ke masa awal di mana Karman masih kecil. Hidup Karman tanpa ayah dan harus menjalani segalanya dengan sulit. Sampai Karman dewasa, Karman malah menjadi salah satu pemuda yang dilirik oleh partai komunis saat itu. Karman menjadi calon komunis, kader komunis. Semua pemahaman Karman akan strata sosial makin menjadi ketika Haji Bakir menolak Karman jadi menantu. Ini menambah dendam Karman dan dari bab ke bab, kita bisa membaca bagaimana proses Karman menjadi seorang komunis.

Kubah dan Kopi Kecil :D
Menuju akhir kisah, alur kembali maju. Setelah berjalan pada masa lalu dan penangkapan Karman untuk diasingkan ke pulau Buru, kisah kembali pada awal ketika Karman sedang melangkah keluar dari dinding beton di pengasingan. Karman kembali ke kampung halaman dan keluarga sudah menyambut. Akan diadakan syukuran kecil-kecilan, di mana Karman harus menempuh realita bawah istri Karman sudah dipinang lagi oleh lelaki lain. Karman sedih, meski tak seharusnya. Dan kisah pun berakhir dengan martabat Karman yang sudah kembali. Orang Pegaten mendapatkan Karman kembali, komunis tak ada lagi.

Kira-kira, buku ini cocok bagi mereka yang mau melihat seluk beluk sisa-sisa komunis. Bagaimana mereka orang komunis yang terasing, harus mengembalikan martabat mereka. Komunis-komunis itu pada awalnya pernah memiliki keyakinan yang satu terhadap Tuhan, sebelum akhirnya menjadi kader partai dan disusupi pemahaman yang menjauhkan dirinya dari rahmat. Dan buku ini cocok untuk mengembalikan pemahaman bahwa tak selamanya komunis itu buruk, demikian pula sebaliknya. Tak selamanya tuan tanah itu selalu jahat, karena ada pertimbangan-pertimbangan yang mengharuskan mereka melakukan hal itu, setidaknya itulah yang tertanam dalam buku ini. Masalah bagaimana kondisi tuan tanah di luar sana, itu urusan yang berbeda. [Ayu]

Judul: Kubah
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1980 (cetak ulang 2005)
ISBN: 9789796051762
Halaman: 189
Harga: Rp 38.000 
Rating: 4/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/2851991-kubah

Comments

  1. Nanti saya sampaikan ulasan ini ke Pak Tohari Mbak? Kebetulan saya satu kantor sama beliau. Tentu saja saya karyawannya hehe...salam kenal dulu nih sesama pecinta buku.

    ReplyDelete
  2. @Ibrahim SukmanWaaaaah. :D Saya jadi malu. Rasanya ulasan ini belum pantas, karena saya tidak membahas jauh, lagipula takut spoiler. Hehehehe. Salam kenal Mas. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…