Skip to main content

Kemamang: Antara Sci-Fi dan Mitos Daerah

Cover Kemamang
Akhirnya, setelah perjuangan berat untuk menyelesaikan buku yang tidak begitu tebal, kemarin malam saya berhasil menyelesaikan buku berjudul Kemamang, karya Koen Setyawan. Entah kenapa, fase membaca buku ini terlampau lama. Saya kira bisa selesai dalam sehari, tapi ternyata saya merasa cepat bosan dengan buku ini. Padahal, pembahasan buku ini hampir sama seperti Partikel-nya Dewi Lestari yang lebih tebal dan bisa saya selesaikan hanya dalam empatbelas jam saja. Buku yang memuat tentang UFO dan evolusi makhluk prehistorik yang berkembang secara tidak terkontrol sebagai hewan riset, malah membuat saya bosan. Di mana letak kesalahannya?

Buku ini saya dapatkan di basement Blok M Square, di mana kita bisa mendapat buku-buku murah dengan beragam jenis. Hehehehe. Sama halnya seperti Kwitang atau Senen, di Blok M kita bisa mendapatkan buku apa saja. Ketika sedang mengantar teman membeli kamus, tiba-tiba saja saya melihat buku ini di antara tumpukan buku lain. Tanpa pikir panjang, saya membelinya dan berniat membacanya setelah menyelesaikan Partikel.

Selesai membaca Partikel, saya segera membukanya. Namun, entah kenapa saya merasa kehilangan semangat ketika membaca kisah bagian tengah. Bagian awal masih bisa ditolerir. Saya menyukai kegiatan ekspedisi hutan dan dengan sukses bagian awalnya membawa saya ke bagian berikutnya. 

Mulai di tengah cerita, agaknya kisah pencarian Harimau Jawa yang dilakukan oleh dua orang mahasiswa, malah lari kemana-mana. Sebenarnya, kisah utama memang tentang UFO. Tapi, sebaiknya cerita tengan Harimau Jawa, tidak perlu diekspos begitu jauh, karena nantinya malah akan kehilangan jejak kalau tiba-tiba dua mahasiswa itu malah mengungkap misteri UFO dan melupakan pencarian Harimau Jawa.

Koen Setyawan dengan background buku pertamanya:
Giganto: Primata Raksasa di Jantung Borneo
Konflik dimulai dari tengah, ketika dua orang mahasiswa itu melihat cahaya di sekitar Danau Bakalan, lereng Gunung Lawu. Mereka melihat cahaya dan merasa kehilangan waktu. Keesokan harinya, mereka mendapati diri mereka tertidur di rumah singgah yang disediakan oleh Kades. Mereka pun merasa aneh dan memutuskan untuk kembali ke danau itu. Ketika kembali, mereka mendapati hal lain. Warga desa sedang gencar-gencarnya ronda karena banyak hewan ternak dan anak-anak kecil yang hilang. Maka, dua mahasiswa yang bernama Hari dan Panji ini, ikut warga mencari anak-anak.

Tak lama, mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh. Hari meyakini bahwa Kemamang cahaya itu adalah UFO yang hendak melindungi mereka dari bahaya sebenarnya. Belakangan, diketahui Hari dari Kemamang UFO itu, bahwa Danau Bakalan telah menjadi habitat hewan prehistorik yang sedang dikembangkan oleh para UFO dan terjadi mutasi yang tidak terhenti.

Singkat cerita, para hewan itu mulai berevolusi menjadi makhluk yang lebih besar dengan kepintaran luar biasa. Para "Kemamang" atau UFO, melakukan berbagai cara untuk menghalaunya. Hari dan Panji berada dalam suasana genting, antara menyelamatkan nyawa sendiri atau nyawa seisi desa. Dan ketika banyak korban yang sudah bergelimpangan, akhir cerita buku ini sangat tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Ending buku ini seperti menukik tajam. Tidak ada anti-klimaks dari konflik dan tiba-tiba saja, dengan tidak bisa diprediksi, si hewan mutasi yang buas itu tiba-tiba saja mati kaku di depan Hari, Panji, Pak Kades, Mijan, dan gadis kecil yang sempat diculik. Selesai membacanya, saya masih berpikir. Kok bisa? Kok gini? Kok gitu? Kok dan kok lainnya. Ya begitulah, akhir dari buku ini yang membuat saya masih bingung sampai sekarang. Hahahaha. Memang, dijelaskan oleh si UFO kalau hewan itu menghancurkan dirinya sendiri.

"Agupta chezeni menghancurkan dirinya sendiri."

Dan setelah itu, desa kembali aman tentram damai. Setelah sekian lama dibalut kengerian, kenapa bisa secara tiba-tiba jadi tenang. Sungguh tidak masuk akal sih. Tapi, secara keseluruhan, buku ini sudah secara berani mengungkap tentang fenonema "benda langit" yang tidak teridentifikasi sampai sekarang. Yaaaa, cukup menghibur lah buat saya. Bagi yang penasaran, sila beli bukunya di toko buku terdekat anda! Selamat membaca dan berekspektasi seperti saya! :D [Ayu]

Judul: Kemamang
Penulis: Koen Setyawan
Penerbit: Goodfaith
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 9786029600001
Halaman: 317 
Harga: Rp 35.000-an (lupa harga aslinya, karena saya beli di bazaar murah :D) 
Rating: 3/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/7405775-kemamang

Comments

  1. kayaknya gak perlu beli saya yuk, baca resensinya ayu aja dah tau isinya hahaha

    ReplyDelete
  2. Jangan-jangan resensinya malah lebih seru daripada bukunya, hihihi..

    ReplyDelete
  3. wah nemu juga ya di daerah blok m

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…