Posts

Showing posts from August, 2012

Perempuan-Perempuan Setelah Ibuku

Perempuan-Perempuan Setelah Ibuku

Ibuku yang kuat
yang gemar bercerita tentang Srikandi
perempuan yang juga kuat
jagoan panahan

Setelah ia tak ada
berterbanganlah tunastunas setelahnya
Setelah Ibuku tak ada
bermunculanlah ibuibu lainnya yang tak jauh beda

Dan dalam kurun waktu kematian ibuku yang pasca
perempuan-perempuan setelah ibuku
menjelma Hermes, Zara, Gucci, Sophie dan sepatu-sepatu hak tinggi
Perempuan setelah ia yang menangis
menjelma kartu kredit berpuluh jenis
dengan hias mulut ular yang manis

Perempuan-perempuan lainnya
merupa busana jingga di perempatan kota
mencari sebulir nasi pada remeh-temeh sampah kota
menyapunya, meski diupahi tak seberapa

Perempuan yang lebih kasihan lagi
mengiba di sepertiga malam yang kudus
mencari sempat pada lelaki-lelaki rakus
menjual hasrat yang tak pernah terbendung mulus
perempuan yang menjual diri tuk nasi bungkus
demi anak-anak yang kurus

Perempuan kini sudah tak lagi seperti ibuku
Semua serba susah, serba lemah dan terluka merah
Perempuan kini sudah tak lagi perem…

(repost) Saya dan Kegilaan Mbah Arswendo Atmowiloto

Image
Saya dan Kegilaan Mbah Arswendo Atmowiloto
Oleh: Ayu Welirang

Saya agak kesal dan bebal setiap membuka situs yang berisi pencerahan diri atas karya-karya terbaik di bumi ini. Situs itu bertajukAnggur Torelli dan seakan memabukkan, saya pun memaksa diri untuk mengisahkan pencerahan yang saya dapat atas sebuah buku. Para penulis di sana boleh berbangga hati dan bersukacita karena karya John Steinbeck, saya pun akan mematahkan humor Steinbeck itu dengan humor lokal, Arswendo Atmowiloto.
Ada yang mau mengusir saya dari situs ini? Silakan. Saya tak gentar. Saya pun seratus persen yakin, kendati salah seorang dari pencetus Anggur Torelli membaca salah satu karya Arswendo, serta-merta humor satirnya akan menyusup pula. Seperti halnya mereka yang telah membuat saya iri setengah mati karena tak satu pun karya John Steinbeck yang saya miliki. Suatu saat nanti, saya pasti akan mendapatkan Dataran Tortilla, entah bagaimana caranya. Mungkin dengan memfoto kopi juga? Tak apalah disebut menurunkan harg…

Psikoanalisis Pada Musisi Legendaris

Psikoanalisis Pada Musisi Legendaris
Kita mengetahui begitu banyak musisi legendaris yang hebat. Mereka semua melegenda karena kepiawaiannya bermusik, mencipta nada, dan mencipta lirik. Semua hal tersebut nyatanya bukan hanya lahir dari bakat semata, melainkan ada suatu keterikatan emosional dalam masing-masing musisi. Entah keterikatan dengan kehidupan, atau dengan manusia lainnya. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan musisi tersebut bisa mencipta, meski kadang kita melihat bahwa dalam penampilan mereka yang sempurna, tersimpan beberapa kejanggalan dalam citra. Sebut saja Kurt Cobain, frontman dari Nirvana yang bisa kita saksikan performanya. Sedemikian vandalnya, sedemikian depresinya. Seperti hendak marah, entah pada siapa. Jika kita membaca kisahnya dalam buku biografi yang berjudul “Heavier Than Heaven”, kita akan dipaksa masuk pada kehidupan Kurt Cobain yang penuh dendam terhadap segala, terhadap semesta. Ini bukanlah bakat, karena ini adalah dasar jiwa yang mengakar sejak Kurt …

O, Hidup! O, Puan Pemurung!

O, Hidup! O, Puan Pemurung!

Hidup...

Si puan menghitung cangkang
yang retak dan terasing
Di tepian pantai, pada batu karang
makin malam ia makin pening

Si puan menghitung cangkang
sarisari kehidupan mulai dilego
Makin hari makin kerontang
tak ada lagi cukup telo dan sego

Hidup bagi puan
bukan sekedar duduk termenung
dengan tikar yang dialaskan
untuk sekedar menjadi murung

Si puan cuma punya cangkang
yang dikeruk dari bibir karang
Tak ada hidup yang tak redup
Puan tahu dan tak merasa cukup

Lego, lego lagi hidup,
Puan tak pernah rasarasa cukup

Jakarta, 27 Juli 2012

Dalam Hidup, Ada Alasan-Alasan Yang Tak Perlu Diungkapkan

Dalam Hidup, Ada Alasan-Alasan Yang Tak Perlu Diungkapkan


Semua adalah filsuf

Cukup muak aku membayangkan
pertanyaan yang cukup absurd
dan memohon untuk tak disingkirkan

Dalam hidup, cukup biasa aku menerima
banyaknya kontemplasi yang menghuni jiwa
Dan jika filsuf adalah para manusia yang mempertanyakan tiada,
akankah mereka yang bertanya dan cari sendiri jawabnya?

Cukup muak aku
menerima bahwa manusia perlu berfilosofi
Mencari alasan, mencari pembenaran
akan hal-hal yang rasanya sudah 'kan pasti

Tapi inilah hidup
yang kian hari kian dipertanyakan
Yang kian meredup
meninggalkan bekas tanpa pertanyaan

Meski dalam hidup,
filsuf pun kadang tak perlu memaksakan alasan
atas semua lontaran pertanyaan

Dalam hidup,
tak semua hal perlu alasan
Ada saja yang tak minta dihadiahi jawaban...

Cukup hidup, cukup...

Ayu Welirang
Jakarta, 05 Agustus 2012
:dalam hidup yang kian redup

Pada Suatu Senja Di Nol Kilometer

Pada Suatu Senja Di Nol Kilometer

Kakiku berpijak pada pasir putih
di bentangan pantai sepi penghuni
Masih kusimpan ranselku di sisi kiri
menemani sepiku di senja hari

Pada satu masa, aku masih menunggu
bayangan yang menghantui setiap pagi
dan dini hari yang tak berbatas waktu
menyelimuti aku dari riak mimpi-mimpi

Aku dan bayangan itu berbicara
tentang petualangan dan perjalanan yang entah kapan
Kami saling bergenggaman, bermain riak ombak
di tepi pantai nol kilometer Kalimantan

Bicara tentang Orang Utan dan biawak kecil
sembari terbangkan pikiran menuju puncak impian
Tanganmu dan aku masih bergenggaman,
meski mulai merenggang, tetap masih saling mengharapkan

Bayangan itu dan aku mulai bersisian
mengikuti gelombang senja yang tenggelam di depan
Terbang bersama buih-buih ombak di ujung cakrawala
Memaksa aku menangis tanpa suara

Di bibir senja, nol kilometer
kudapati diriku tetap sendiri
membayangkan hal-hal tak pasti
yang terus menggamit lenganku melebur bersama pantai mimpi...

Bayangan itu, akankah datang kem…