August 2012

Tuesday, August 14, 2012

Perempuan-Perempuan Setelah Ibuku



Perempuan-Perempuan Setelah Ibuku

Ibuku yang kuat
yang gemar bercerita tentang Srikandi
perempuan yang juga kuat
jagoan panahan

Setelah ia tak ada
berterbanganlah tunastunas setelahnya
Setelah Ibuku tak ada
bermunculanlah ibuibu lainnya yang tak jauh beda

Dan dalam kurun waktu kematian ibuku yang pasca
perempuan-perempuan setelah ibuku
menjelma Hermes, Zara, Gucci, Sophie dan sepatu-sepatu hak tinggi
Perempuan setelah ia yang menangis
menjelma kartu kredit berpuluh jenis
dengan hias mulut ular yang manis

Perempuan-perempuan lainnya
merupa busana jingga di perempatan kota
mencari sebulir nasi pada remeh-temeh sampah kota
menyapunya, meski diupahi tak seberapa

Perempuan yang lebih kasihan lagi
mengiba di sepertiga malam yang kudus
mencari sempat pada lelaki-lelaki rakus
menjual hasrat yang tak pernah terbendung mulus
perempuan yang menjual diri tuk nasi bungkus
demi anak-anak yang kurus

Perempuan kini sudah tak lagi seperti ibuku
Semua serba susah, serba lemah dan terluka merah
Perempuan kini sudah tak lagi perempuan
Sudah tak lagi menggantung harapan
Pada lelaki-lelaki masa depan
Perempuan kini sudah terlalu banyak memakan
lukaluka yang biru lebam dan dibiarkan

Menganga... Lukanya kelewat menganga...
Perempuan, mati pelan-pelan...

Ayu Welirang
Jakarta, 14 Agustus 2012

(repost) Saya dan Kegilaan Mbah Arswendo Atmowiloto



Saya dan Kegilaan Mbah Arswendo Atmowiloto


Oleh: Ayu Welirang


Arswendo Atmowiloto
Saya agak kesal dan bebal setiap membuka situs yang berisi pencerahan diri atas karya-karya terbaik di bumi ini. Situs itu bertajukAnggur Torelli dan seakan memabukkan, saya pun memaksa diri untuk mengisahkan pencerahan yang saya dapat atas sebuah buku. Para penulis di sana boleh berbangga hati dan bersukacita karena karya John Steinbeck, saya pun akan mematahkan humor Steinbeck itu dengan humor lokal, Arswendo Atmowiloto.

Ada yang mau mengusir saya dari situs ini? Silakan. Saya tak gentar. Saya pun seratus persen yakin, kendati salah seorang dari pencetus Anggur Torelli membaca salah satu karya Arswendo, serta-merta humor satirnya akan menyusup pula. Seperti halnya mereka yang telah membuat saya iri setengah mati karena tak satu pun karya John Steinbeck yang saya miliki. Suatu saat nanti, saya pasti akan mendapatkan Dataran Tortilla, entah bagaimana caranya. Mungkin dengan memfoto kopi juga? Tak apalah disebut menurunkan harga diri, daripada merogoh kantong celana terlalu dalam di akhir bulan yang serba paceklik ini. Hehe.

***

Saya tidak akan membahas Steinbeck, tentu saja. Biarkan mereka dengan kesenangan masing-masing dan saya pun akan menebarkan kesenangan saya terhadap buku. Saya mulai mengumpulkan buku yang bermacam jenisnya sejak lulus SMP. Kala itu, saya membutuhkan banyak referensi agar saya bisa diterima dengan baik di salah satu STM ternama di Bandung. Saya berusaha keras menelan semua isi materi dalam buku-buku termasuk kisah fiksi yang bermuatan sains. Saya sampai menghabiskan tiga buku Supernova karya Dewi Lestari selama dua hari berturut-turut. Tak mandi, bahkan keluar kamar dengan semrawut. Dan hasilnya, saya bisa masuk sekolah itu, meski tak ada satu pun muatan sains dalam soal-soalnya. Hanya semacam psikotes dan saya tak merasa rugi karena kurangnya jam tidur yang disebabkan oleh buku-buku itu.

Selama bersekolah di STM empat tahun itu, semakin luas dunia yang saya lihat. Semakin banyak pula buku yang saya lahap. Mendekati ujian nasional, saya malah semakin giat mengkoleksi buku fiksi dan literatur. Di masa-masa itulah saya mulai bercengkrama dengan seorang Arswendo dan kegilaannya menulis humor-humor satir.

Seperti yang dikatakan Arswendo, kegilaan menulis pun pelan-pelan merasuki saya. Beberapa cerita pendek dan esai opini yang saya tuliskan, sempat dimuat oleh harianPikiran Rakyat. Tak berlangsung lama memang, karena beberapa bulan setelahnya, saya bertolak ke Jakarta untuk memenuhi panggilan magang dengan kontrak enam bulan. Saya tak merasa sedih, karena saya pasti akan kembali lagi ke kota Bandung tercinta. Tapi, nyatanya saya mendapat kontrak kerja yang lebih, sehingga harus menetap kembali selama satu tahun di Jakarta.

Saya mulai tak karuan. Koleksi buku yang hampir memenuhi kamar berukuran tiga kali lima meter itu mendadak tak ada. Di kamar kos saya yang lebih luas dari itu, malah sepi. Lengang dan terkesan agak mencekam karena kekosongannya. Saya mulai gila lagi dan mulai mencari toko-toko buku di dekat kos agar bisa mengisi kekosongan kamar. Mulailah saya mengisi kamar dengan buku-buku Arswendo yang saya dapatkan dalam bentuk cetak ulang dengan harga yang tak bisa dimungkiri, sangatlah tinggi. Tak lupa saya membawa serta buku-buku di Bandung ketika mudik dan penuhlah sudah kamar kos saya. Saya pun bertambah senang karena kerap kali mengunjungi toko buku bekas bernama “Guru Bangsa” yang namanya sekilas mengingatkan kita akan sosok Gus Dur. Toko buku ini berada tepat di belakang halte busway Pondok Pinang dan dengan cepat menjadi tempat saya nongkrong sambil berkontemplasi sepulang kerja.

Karena Mbah Arswendo, saya tak hanya membaca tetapi menulis juga. Berkali-kali mendapat cerca dari penulis berbakat di situs hijau kemudian dot com, saya tak jera. Saya menulis lagi sampai mendapatkan sisi yang paling tepat dari tulisan saya, entah sajaknya, entah esai, maupun cerita pendek yang saya buat. Dan kira-kira beginilah hasilnya, seperti tulisan ini. Tak melulu narasi dan lebih kepada deskripsi. Saya masih tak puas, dan saya terus mengeksplorasi.

Banyak teman saya yang mengatakan bahwa saya ini gila. Gila membaca, gila menulis, bahkan kadang kala bisa lupa perut sendiri ketika sedang membaca. Kalau mereka mendengar suara perut saya di tengah-tengah kuliah ekstensi hari Sabtu, pasti mereka akan merebut buku yang saya baca dan menarik saya segera, ke kantin. Mereka sembunyikan buku saya dari pandangan dan menjauhkan segala buku yang ada. Bahkan, selebaran pemilihan ketua FORKOM yang baru pun mereka hilangkan dari pandangan. Pasalnya, saya ini kelewat senang membaca. Apa saja bisa saya baca, termasuk tulisan di depan mobil truk maupun angkutan kota.

Novel 3 Cinta 1 Pria
Kali lain, teman saya mengatakan kalau saya ini sudah benar-benar di ambang kegilaan menulis. Dan kala itu, saya hanya mengutip kata-kata Arswendo dari buku 3 Cinta 1 Pria yang fenomenal, “Banyak yang bilang saya ini gila. Gila menulis. Ini mendekati benar, karena kalau tak menulis saya pastilah gila. Dan karena saya gila, maka saya menulis.” Teman saya hanya melongo dan segera beranjak dari kursinya dan memutuskan untuk tidak mengobrol dulu beberapa hari berikutnya dengan saya yang skeptis karena buku ini.

Membaca karya-karya Arswendo saya jadi mengerti akan hakikat sebuah kesederhanaan. Dengan tangkas dan cermat, Arswendo bisa begitu mudahnya bercerita tentang pohon talok dan ikan-ikan lele di empang. Berangkat dari kesederhanaan dan berakhir dengan kesan. Kisah-kisahnya memang sebagian besar berbau roman, roman sederhana untuk keluarga. Seperti kisah sinetron Keluarga Cemarayang sangat mengena bagi saya maupun beberapa anggota keluarga saya. Hampir setiap hari, kami menonton itu dan tak henti-hentinya bersyukur atas harta yang paling berharga, keluarga.

Roman juga tak melulu polemik cinta antar sepasang kekasih. Dari sinilah saya memaknai roman secara berbeda. Kisah sekecil apapun, seperti kecintaan pada pohon talok maupun ikan lele di empang, bisa jadi sebuah roman. Saya hanya bisa berkata, “Gila! Arswendo Atmowiloto sangatlah gila!” Mana mungkin ada orang waras yang masih bisa berpikiran segila ini dan menulis kisah cinta dari balik jeruji besi sebagai tahanan orde baru? Hanya sedikit orang yang bisa, di antaranya Pramoedya dan Arswendo.

Saya jadi semakin yakin kalau saya pun sudah mendekati gila. Dan yang menyelamatkan saya dari gila ini adalah pembenaran dari seorang Pramoedya, “Orang boleh pintar setinggi langit. Tapi, jika ia tidak menulis, maka ia akan dilupakan oleh sejarah dan oleh waktu.”

Saya rasa, saya akhirkan dulu kisah tentang kegilaan ini karena akan sangat mungkin sekali jika kisah ini jadi melebar kemana-mana. Saya mengagumi karya Arswendo tapi saya pun tak menolak jika ada salah satu dari kalian yang masih mau meminjamkan saya Steinbeck. Jadi bagaimana? Adakah yang mau meminjamkan saya buku John Steinbeck?

NB: Steinbeck-nya udah punyaaa kok. :D

Friday, August 10, 2012

Psikoanalisis Pada Musisi Legendaris


Psikoanalisis Pada Musisi Legendaris

Kita mengetahui begitu banyak musisi legendaris yang hebat. Mereka semua melegenda karena kepiawaiannya bermusik, mencipta nada, dan mencipta lirik. Semua hal tersebut nyatanya bukan hanya lahir dari bakat semata, melainkan ada suatu keterikatan emosional dalam masing-masing musisi. Entah keterikatan dengan kehidupan, atau dengan manusia lainnya. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan musisi tersebut bisa mencipta, meski kadang kita melihat bahwa dalam penampilan mereka yang sempurna, tersimpan beberapa kejanggalan dalam citra.
Sebut saja Kurt Cobain, frontman dari Nirvana yang bisa kita saksikan performanya. Sedemikian vandalnya, sedemikian depresinya. Seperti hendak marah, entah pada siapa. Jika kita membaca kisahnya dalam buku biografi yang berjudul “Heavier Than Heaven”, kita akan dipaksa masuk pada kehidupan Kurt Cobain yang penuh dendam terhadap segala, terhadap semesta. Ini bukanlah bakat, karena ini adalah dasar jiwa yang mengakar sejak Kurt Cobain masih belia.
Sebagai salah satu musisi legendaris, tak disangka-sangka kalau Kurt menderita ADHD. Ini kondisi psikis yang menyerangnya sejak kecil. Sejak itulah dia jadi apatis, menolak segala, demi mendapatkan satu perhatian sebagai pencegah terbesar attention defisit pada dirinya. Beranjak remaja, ketika hidup mulai menunjukkan andil dalam perubahannya, Kurt menjadi salah seorang musisi yang menderita bipolar disorder. Suatu kondisi dimana seseorang memiliki kepribadian ganda, yang membuatnya terseret semakin dalam dan membentuk suatu pribadi untuk lebih agnostik terhadap sesuatu dan lebih memilih dunia sendiri yang indah. Memang, hal ini menjadi wajar jika melihat kondisi dimana skena grunge sedang meletup di Seattle. Kondisi sosial-psikososial yang mempengaruhi perkembangan psikis musisi legendaris itu tidak terkecuali, menyentuh Kurt Cobain juga. Prosesi vandalisme yang kerap kali terjadi di setiap konser Nirvana, adalah implikasi dari kondisi psikis. Adalah salah, jika para pengikut grunge di kemudian hari, menyebut vandalisme ini sebagai gaya hidup, sebagai tren, sebagai norma utama ketika bergiat dalam skena grunge.
Di samping kondisi psikisnya, beberapa lirik dan musik Nirvana memang patut disebut juara. Sulit menyandingkan nyanyian, dengan petikan gitar yang kunci dan ketukannya kadang tidak sesuai garis nada. Ini bukan perkara mudah, karena beberapa orang yang mencoba lagu-lagu Nirvana, tak jarang harus ekstra keras dalam mengulang dan memutar lagunya agar mendapatkan komposisi yang nyaris sama. Ini paradoks memang, tapi inilah realitanya.
Sebenarnya tak hanya Kurt. Ada beberapa musisi yang sekiranya memiliki kondisi serupa. Sebutlah Thom Yorke, Matt Bellamy, Craig Nicholls, dan musisi lain yang legendaris, memiliki kondisi psikis yang nyaris sama. Kurangnya perhatian, dunia sendiri, paranoia yang berlebihan terhadap hidup, dan beberapa kondisi psikis lainnya terkait dengan psikososial. Ini tak hanya berlaku pada musisi grunge yang memang berada pada masa dimana kondisi sosial dan politik di Amerika sedang panas-panasnya. Kehidupan pada medio 90-an yang kurang begitu bersahabat bagi para masyarakatnya. Ini tak hanya berlaku bagi skena grunge saja ternyata. Di beberapa bagian negara dengan musisi brilian yang juga menghasilkan musik yang brilian, selalu ada latar belakang di balik musik-musik yang mereka bentuk. Kondisi psikis memang kondisi dimana otak akan menjadi sangat-sangat alpha, dan para pencipta (tidak hanya dalam konteks musik), dapat mencipta sebuah karya yang akhirnya akan melegenda.
Jangan ditanya, apakah menurutmu, pelukis absurd yang karyanya dijual bermilyar-milyar mata uang itu tidak memiliki tekanan psikis? Apakah musisi-musisi tidak mengalami depresi? Berapa banyak musisi mati dan hilang dalam siklus 27-clubs yang terkenal? Apakah gangguan psikis menjadi satu-satunya problema hidup yang mesti disingkirkan?
Mestinya tak ada yang perlu dipertanyakan, karena semuanya itu memang kodrati. Sebagai manusia, normal sekalipun, pasti pernah mengalami suatu gejolak psikis. Pada saat gejolak itu naik, karya-karya baru akan lahir. Hidup yang monoton dan memaksa manusia untuk berpikiran seperti robot tanpa perlawanan itu justru tak dapat menopang aktivitas kreatif dari hipokampus atau otak manusia. Manusia perlu gejolak psikis, seperti halnya para musisi yang kadang tak bisa memilih jalan pulang. Ke mana ia harus melaju.
Ada peningkatan, tentu saja ada penurunan. Fase hidup yang bisa terlewati itulah yang nantinya akan benar-benar mematikan pemikiran seorang pemikir dan pencipta. Seperti para musisi yang sudah tak lagi memiliki obsesi dari gangguan psikisnya. Para musisi yang dikatakan sudah terlanjur sehat, ternyata tak lagi memiliki fantasi. Beberapa bahkan sudah tak lagi mencipta karya yang selegendaris dulu. Ada pula yang tetap bertahan pada jalurnya, dengan mengikuti gangguannya, tetapi semakin terpuruk dan akhirnya terbawa arus utama yang kekinian dalam permusikan. Didominasi pasar yang kadang tak melihat indah dan otentiknya sebuah karya. Gangguan psikis kadang diperlukan juga, karena dengan itulah manusia baru bisa menentang. Gangguan psikis kadang memang sangat membantu hal-hal paling mendasar dalam hidup manusia, karena dengan itulah manusia kadang tak perlu mempertanyakan hidup.
Seperti opini blak-blakan dengan melihat beberapa kemungkinan yang tersebar di buku-buku dan pembahasan serupa, yang dibuat ketika hipokampus sedang tak terlalu sadar. Menikmati gangguan-gangguan untuk mencapai aktualisasi diri.

Jakarta, 10 Agustus 2012 

Thursday, August 9, 2012

O, Hidup! O, Puan Pemurung!


O, Hidup! O, Puan Pemurung!

Hidup...

Si puan menghitung cangkang
yang retak dan terasing
Di tepian pantai, pada batu karang
makin malam ia makin pening

Si puan menghitung cangkang
sarisari kehidupan mulai dilego
Makin hari makin kerontang
tak ada lagi cukup telo dan sego

Hidup bagi puan
bukan sekedar duduk termenung
dengan tikar yang dialaskan
untuk sekedar menjadi murung

Si puan cuma punya cangkang
yang dikeruk dari bibir karang
Tak ada hidup yang tak redup
Puan tahu dan tak merasa cukup

Lego, lego lagi hidup,
Puan tak pernah rasarasa cukup

Jakarta, 27 Juli 2012

Sunday, August 5, 2012

Dalam Hidup, Ada Alasan-Alasan Yang Tak Perlu Diungkapkan


Dalam Hidup, Ada Alasan-Alasan Yang Tak Perlu Diungkapkan


Semua adalah filsuf

Cukup muak aku membayangkan
pertanyaan yang cukup absurd
dan memohon untuk tak disingkirkan

Dalam hidup, cukup biasa aku menerima
banyaknya kontemplasi yang menghuni jiwa
Dan jika filsuf adalah para manusia yang mempertanyakan tiada,
akankah mereka yang bertanya dan cari sendiri jawabnya?

Cukup muak aku
menerima bahwa manusia perlu berfilosofi
Mencari alasan, mencari pembenaran
akan hal-hal yang rasanya sudah 'kan pasti

Tapi inilah hidup
yang kian hari kian dipertanyakan
Yang kian meredup
meninggalkan bekas tanpa pertanyaan

Meski dalam hidup,
filsuf pun kadang tak perlu memaksakan alasan
atas semua lontaran pertanyaan

Dalam hidup,
tak semua hal perlu alasan
Ada saja yang tak minta dihadiahi jawaban...

Cukup hidup, cukup...

Ayu Welirang
Jakarta, 05 Agustus 2012
:dalam hidup yang kian redup

Friday, August 3, 2012

Pada Suatu Senja Di Nol Kilometer


Pada Suatu Senja Di Nol Kilometer

Kakiku berpijak pada pasir putih
di bentangan pantai sepi penghuni
Masih kusimpan ranselku di sisi kiri
menemani sepiku di senja hari

Pada satu masa, aku masih menunggu
bayangan yang menghantui setiap pagi
dan dini hari yang tak berbatas waktu
menyelimuti aku dari riak mimpi-mimpi

Aku dan bayangan itu berbicara
tentang petualangan dan perjalanan yang entah kapan
Kami saling bergenggaman, bermain riak ombak
di tepi pantai nol kilometer Kalimantan

Bicara tentang Orang Utan dan biawak kecil
sembari terbangkan pikiran menuju puncak impian
Tanganmu dan aku masih bergenggaman,
meski mulai merenggang, tetap masih saling mengharapkan

Bayangan itu dan aku mulai bersisian
mengikuti gelombang senja yang tenggelam di depan
Terbang bersama buih-buih ombak di ujung cakrawala
Memaksa aku menangis tanpa suara

Di bibir senja, nol kilometer
kudapati diriku tetap sendiri
membayangkan hal-hal tak pasti
yang terus menggamit lenganku melebur bersama pantai mimpi...

Bayangan itu, akankah datang kembali?

Ayu Welirang
Jakarta, 3 Agustus 2012