June 2012

Tuesday, June 26, 2012

Saya dan Pak Tua di Belantara Amazonia


Akhir-akhir ini saya banyak membaca dan menulis. Hanya satu hal yang saya jarang lakukan, menulis ulasan buku. Berhubung hari ini Selasa, jadi apa salahnya kalau saya sempatkan diri untuk menulis ulasan buku lagi. Dan kali ini, sebuah buku keren nan mini berhasil menolong saya dari kesepian yang menyakitkan.

Luis Sepulveda - Jurnalis Bengal Yang
Senang Bertualang
Buku ini saya temukan di tumpukan sastra, berada jauh di antara buku-buku lain yang menarik minat pembaca dewasa ini. Buku dengan sampul menarik bergambar macan tutul ini menyentuh insting membaca saya. Melihat namanya, ternyata penulis luar. Luis Sepulveda. Pantas saja, sinopsisnya tidak familiar kalau disandingkan dengan buku-buku Indonesia.

Buku ini berkisah tentang kehidupan seorang kakek yang menyepi, menyendiri, dan pada awalnya sempat terasing karena istrinya yang tak kunjung hamil dan menjadi buah bibir di seantero desa. Kakek yang bernama Antonio Jose Bolivar ini pun mengasingkan diri ke belantara El Dorado dan terus menyeruak masuk ke daerah pemukim bibit pohon di El Idilio, belantara hutan Amazon. 

Istri Sang Kakek yang malang, tak bisa bertahan. Dirinya terpaksa menahan siksa dari penyakit malaria yang menjangkiti para pemukim. Badai yang kerap kali melanda pesisir sungai Amazon itu dapat dengan mudahnya memporak-porandakan rumah si Kakek di tepi sungai. Akhirnya, sang istri pun meninggal dunia terjangkit wabah malaria mematikan. Sang Kakek yang harus menahan sisa-sisa hidupnya di pesisir belantara Amazon itu, pada akhirnya sempat sekarat pula, tak sadarkan diri. Dia tertolong dan inilah awal kisahnya dalam buku.

Pada saat-saat kritis, si Kakek bertemu suku Indian asli di pedalaman Amazon. Shuar, nama suku itu. Dengan berpakaian seadanya, tak menutup seluruh tubuh, suku tersebut mengajarkan Pak Tua--begitulah sebutan si Kakek--berbagai cara bertahan hidup di alam. Mulai dari membangun pondok yang kuat, makan segala sumber makanan di alam, dan cara bertahan hidup dari serangan hewan-hewan maupun serangga liar di hutan. Dan dalam waktu tak begitu lama, Pak Tua sudah bisa bertahan hidup di hutan. Semua itu hampir saja pupus, kalau saja Pak Tua benar-benar mati karena digigit ular berbisa. Selama berhari-hari, peramu dari suku Shuar mengobati dan menjaga Pak Tua sampai keadaannya benar-benar pulih dari bisa ular. Dan setelah pulih, menurut orang-orang Shuar, Pak Tua mewarisi keahlian ular yang menggigitnya, termasuk kekebalannya terhadap bisa ular.

Cover Buku Pak Tua
Semua itu akan berjalan normal kalau saja orang-orang haus harta yang datang dari kota, memaksa suku asli hijrah ke bagian timur hutan Amazon, semakin merangsek masuk hutan. Di sinilah Pak Tua bimbang, antara tetap duduk di pondok atau ikut semua. Di kala getir, Pak Tua ikut ribut melawan kulit putih yang membunuh saudara Shuar-nya, Nushino. Sayangnya, Pak Tua membunuh kulit putih dengan selongsong api, bukan panah beracun ala Shuar. Dan suku Shuar menangis, mengusir Pak Tua agar pergi jauh saja.

Pak Tua terombang-ambing di pondok. Sampai para pemukim dan penambang emas hadir lagi di pesisir El Idilio. Pak Tua kenal dengan seorang dokter gigi yang memberinya buku-buku cerita tentang cinta. Pak Tua yang lupa bahwa dirinya bisa membaca, mulai perlahan menajamkan ingatan untuk bisa membaca kembali, pelan-pelan. Hampir setiap hari, Pak Tua menunggu si dokter gigi membawa buku-buku terbaru.

Semua ketenangan ini terusik akan hadirnya kabar mengenai kematian-kematian. Semuanya mati dicakar dan dicabik-cabik oleh entah apa. Entah apa tersebut disinyalir adalah seekor macan kumbang betina yang marah karena anak-anaknya dibunuh oleh pendatang. Di sinilah Pak Tua dibutuhkan. Walikota merencanakan sebuah ekspedisi perburuan yang melibatkan Pak Tua, dan pada saatnya tiba, Pak Tua malah tak tega membunuh si macan kumbang. Ada kesenduan yang teramat sangat, dalam diri macan kumbang tersebut. Pak Tua bisa maklum karena macan kumbang itu tak lebih dari kucing besar yang nelangsa hatinya. Anaknya terbunuh, jadi wajar saja kalau macan kumbang itu memburu semua pemburu.

Pak Tua pun pada akhirnya harus membunuh macan kumbang, karena jiwanya terancam. Bagaimanakah keheningan pada pondok Pak Tua akan kembali? Silakan baca sendiri bukunya. Hehe. [Ayu]

Judul: Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta
Judul Asli: Un viejo que leía novelas de amor
Penulis: Luis Sepulveda
Alih Bahasa: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 9789799998040
Halaman: 116 hlm
Harga: Rp 35.000-
Rating: 5/5
Gambar: random google

Tuesday, June 5, 2012

Virus-Virus Paisano


Akhir-akhir ini, kecepatan membaca saya agak-agak di luar batas normal. Buku pertama bisa saya habiskan dalam tiga hari meski bermuatan filsafat dan sejarah yang luar biasa banyaknya. Dan  buku kedua baru habis setengah dalam satu hari dari total empatratus lebih halaman. Saya agak aneh juga, karena biasanya membaca roman kelas teri saja saya tidak bisa selesai barang satu hari. Mungkin ini semua tergantung minat baca, ya? Saya lebih berminat baca buku bermuatan filsafat ketimbang buku roman masa kini kelas teri. Menurut saya, novel inspiratif berunsur filsafat maupun sejarah lebih menarik. Ah, entahlah. Ini hanya soal selera saja, tak perlu dipersoalkan.

Beberapa hari terakhir ini saya sedang merasa sangat malas untuk bekerja. Mungkin karena baru sembuh dari sakit, saya menyempatkan diri untuk tak masuk kerja beberapa hari dan memenuhi nutrisi buku saya. Sehabis gajian, antara niat tak niat, saya menuju TM Bookstore - Poinsquare. Toko buku ini besar dan penuh sekali buku-buku yang sangat keren dan juga berbobot. Sayang, karena minat baca penduduk Jakarta Selatan perbatasan Tangerang Selatan ini mungkin masih di bawah minat belanja pakaian model terbaru, jadilah toko buku ini sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat mengunjungi dan kalau saya tidak salah, dari dulu orangnya bisa ditebak. Si ini dan si itu lagi. Saya tak apa sih, tak juga mempersoalkan hal begini, karena bagi saya, atmosfir baca yang tenang lebih mengasyikkan lagi buat saya. Dan saya pun berkeliling. Di sinilah petualangan dari perubahan genre buku saya dimulai.

Saya sedang mencari-cari karya Arswendo dan Seno Gumira ketika menemukan "Of Mice and Men" karya John Steinbeck di bagian buku-buku sastra. Sungguh kaget dan tidak menduga-duga. Awalnya saya tak berminat membeli buku apapun. Hanya sekedar menumpang baca dan duduk-duduk santai saja sejenak. Nyatanya, saya melihat buku itu dan segera saja otak saya berputar. Motorik saya meminta saya untuk berjalan ke bagian pelayanan dan menanyakan sebuah buku dengan pengarang yang sama. Buku "itu" lainnya. Buku yang berminggu-minggu menghantui saya karena virus-virus paisano sial! Virus-virus sialan dari sebuah blog tentang karya yang mewarnai hidup manusia, bernama Anggur Torelli. Mereka--si virus itu--adalah abang-abang yang namanya diawali dengan huruf "A" besar. Ahmad Makki, Abdullah Alawi, dan Alhafiz Kurniawan. Sungguh sial virus-virus itu!

John Steinbeck -- Bengal, keluar dari jurusan Biologi, Stanford University
dan menjadi penulis saja. Mendapatkan penghargaan Pulitzer dan Noble,
untuk buku-bukunya yang sudah beberapa itu.

Dengan perasaan campur aduk saya mengetik judulnya. Sudah benar dan saya klik tombol "search". Beberapa saat kemudian, muncul hasilnya. Buku "itu" tersisa tiga. Saya langsung memberangus petugas bagian pelayanan itu untuk mengantar saya menuju tempat buku. Setelah ketemu, si petugas malah berkomentar, "Oh buku ini. Kemarin-kemarin ada juga yang beli buku kayak gini Mbak. Temennya ya?"

Saya hanya tersenyum dan berkata, "Oh gitu ya." 

Dalam hati saya berpikir, "Sial dangkalan! Sepertinya bukan hanya saya yang diiming-imingi buku Steinbeck  oleh virus paisano itu!"

Tanpa berkomentar apapun, saya mengambil buku itu dan secara tidak terduga pula, saya menemukan buku lain yang sama kerennya. Saya mendapati buku karya Misbach Yusa Biran di situ. Aha! Sepertinya saya sedang mujur. Buku "itu" dan buku Misbach, sama-sama sisa tiga. Dengan semangat empatlima dan membuang jauh-jauh keinginan numpang baca, saya segera menuju kasir.

Ada getar yang terasa di dada ketika membawa plastik putih berisikan kedua buku itu. Di reklame, saya langsung membuka buku dan menciumi kertasnya. Hmmm, bukan kertas buku yang biasanya saya suka, tapi tak apa. Ini adalah ritual saya ketika memiliki buku baru. Saya akan menyampulnya, membawanya tidur, dan membawanya sarapan pagi. Aneh? Memang. Tak perlu dipersoalkan. :)

Cover Cetakan Baru - 2009
Singkat cerita, ada yang memukul saya telak ketika membaca bab per bab buku itu. Buku dengan judul Dataran Tortilla itu sukses menggambarkan kehidupan yang jauh dari ketamakan dan jejak-jejak kapitalisme. Hidup di pinggiran kota kecil yang hampir terlupa, membuat semua orang tak perlu mengejar apapun selain bahagia. Seperti Danny dan enam kawannya yang secara tak sengaja ikut menumpang di rumah warisan pemberian kakek Danny. Para paisano itu hidup bahagia meski tak beralas tidur, tak bisa makan setiap hari, dan harus melulu ngutang kalau menginginkan anggur dari kedai Torrelli sewaktu-waktu. Sungguh, mereka hidup bahagia meski sederhana. 

Ada-ada saja yang dilakukan sahabat-sahabat Danny. Semuanya demi kelangsungan hidup mereka dan juga Danny, si bekas tentara yang derajatnya naik karena mendapat warisan rumah. Dan teman-teman Danny merasa bahwa Danny adalah malaikat penolong, di saat itu, di saat mereka kesulitan hidup. Banyak hal-hal yang membuat mereka sadar akan kondisi sosial sekitar, karena saat itu, posisi mereka di Tortilla adalah sebagai orang yang naik derajat karena 'rumah' warisan. Semakin hari, kegiatan bantu-membantu dan bahu-membahu untuk orang-orang kesusahan mereka lakukan dengan ikhlas. Meski pada dasarnya, mereka adalah mantan bandit-bandit culas dan licik, entah kenapa mereka jadi berbaik hati seperti itu selama beberapa waktu di Tortilla. Mereka menolong sebuah keluarga yang krisis kacang polong, mereka membantu si Bajak Laut agar tak hidup di kandang ayam, dan mereka menolong orang-orang lain. Kelak, kisah mereka akan diingat bak kisah Robin Hood si pencuri. 

Saya tak bisa berkata banyak, bahkan tak bisa lagi berpikir. Bagaimana saya harus mengutarakan buku yang sebegitu bagusnya hanya dalam satu artikel saja? Ada baiknya, kalian semua membaca sendiri buku Steinbeck yang satu ini. Buku yang penuh kisah roman klasik, unsur filsafat hidup, inspiratif dan sekaligus mengocok tawa kita dalam satu waktu. Saya tak pernah menemukan buku sebagus ini, yang membuat saya menerawangi pikiran saya sendiri dalam beberapa hari. Saya kadang berpikir, "Sudahkah saya berbuat baik seperti Danny, yang hanya seorang paisano tak punya apapun? Saya punya rumah lebih baik dan nasib lebih mujur, tapi apakah saya bisa berderma bagai Danny? Saya malu."

Saya sungguh malu ketika Danny mulai kembali merajai hidup saya. Saya semakin yakin, bahwa kebaikan seseorang tak melulu bisa diukur dari pakaian rapi, harta yang banyak, dan status sosial lebih tingga. Para bandit-bandit Latin seperti Danny dan kawan-kawan mungkin tak rapi, tak punya harta, dan tak berstatus sosial lebih tinggi dari kita, tapi mereka lebih ikhlas membantu sesama tanpa pamrih. Memang, mereka licik. Tapi itu hanya sebatas pertahanan hidup. Saya sangat setuju. Jangan pernah menilai buku, dari sampulnya. 

Akhir cerita, Danny harus mati. Dengan orang-orang yang mengingatnya sebagai tentara baik hati dan dermawan. Dengan catatan, bahwa sobat karibnya sangat malu karena tak bisa hadir di pekuburannya, hanya karena pakaian lusuh. Betapa pada kematian pun, status sosial masih harus diperbincangkan. Sahabat karib Danny hanya bisa menangis dalam hati, mengintip dari semak-semak pekuburan ketika Danny di kebumikan. Dan akhir cerita, mereka membiarkan rumah sebagai lambang persahabatan itu hilang, termakan api. Mereka pun berpisah semua, berjalan masing-masing tanpa tujuan yang sama. 

Saya kira, buku ini akan lebih keren dan dramatis lagi jika dijadikan sebuah film. Begitulah komentar saya mengenai buku keren ini. Ini baru buku pertama, dan untuk buku kedua, akan saya bahas nanti-nanti saja. [Ayu]

Judul: Dataran Tortilla (judul asli Tortilla Flat cetakan pertama 1935)
Penulis: John Steinbeck (diterjemahkan oleh Djokolelono, mula-mula tahun 1977)
Penerbit: Pustaka Jaya
ISBN: 9789794193525
Halaman: 265 hlm
Harga: Rp 48.500,-
Rating: 5/5
Gambar: random google

Friday, June 1, 2012

Abstraksi Imaji


Beli di sini: Nulisbuku

[judul] Abstraksi Imaji
[penerbit] Nulisbuku
[jenis] Kumpulan Puisi
[terbit] Juni 2012
[tebal] 100 halaman

"Akhirnya saya baca juga! Liar! Ugal-ugalan! Tapi ini jadi "Rasa Original" Ayu sebagai penulis bebas. Berbuah manis. Untuk beberapa orang, mungkin ini serupa racun yang buat kepala pusing. Tapi, buat saya pribadi, awesome! Tak Ada Ide, Lepas Rasa, Detik Selalu ke Kanan, Nadir Takdir, Aku dan Lainnya, Merindu Kopi, Semesta Moksa, Apa!, dan Setia, ini sajak favorit saya yang membuat saya ingin membacanya berulang-ulang. Hebat! Mereka benar-benar favorit saya! Kenapa saya sebut mereka? Karena buat saya, sajak atau puisi itu bernyawa, hidup." -- Ridho, Gitaris Band Suicide

Abstraksi Imaji adalah kumpulan karya puisi yang disebut "parapuisi" dan berupa coretan kenang seorang pengembara frasa. Berbagai spekulasi dan bendahara kata dalam pikiran seakan menyeruak begitu saja seperti sebuah pembebasan dan keliaran. Kata demi kata yang disusun pun kadang mengalami keambiguan maksud. Inilah yang memang ingin digambarkan dalam "parapuisi" ini. Sebuah pembebasan dari pemikiran terkekang, tertumpah liar dalam samudera kata. Selamat menikmati abstraknya pikiran seorang pengembara frasa! Dan bebaskan pikiran masing-masing... Laiknya seorang pengembara gelora kata...