May 2012

Tuesday, May 22, 2012

Rikkat dan Rezim Sekuler Ataturk


Ini sudah Selasa dan mari kita membahas buku apa yang saya baca selama satu minggu ini. Buku ini adalah buku ke-20 dari total 60 buku yang saya jadikan reading challenge di Goodreads. Sebagai sarana untuk lebih memperketat jadwal baca yang kurang akhir-akhir ini, saya membuat tantangan itu. Entah bisa atau tidak, setidaknya saya bisa memulai konsistensi lagi untuk membaca buku, atau koran, atau mungkin selebaran di pinggir jalan. 

Sebenarnya, buku ke-19 tidak saya bahas di blog ini. Mengapa? Karena buku itu termasuk jenis esai dan saya kira tidak akan begitu bisa dicerna jika saya tuliskan ulang ulasannya. Saya paling tidak bisa merangkum buku pengayaan atau kumpulan esai panjang. Saya takut pesan dari buku itu tidak tersampaikan. Sedikit bocoran saja, sebelum buku ini saya melahap habis buku kumpulan esai karya Goenawan Mohamad yang berjudul "Eksotopi". Isinya bercerita tentang sejarah dan bagaimana sejarah itu tetap merah dan melekat dalam ranah pikiran manusia.

Kali ini, buku yang akan diulas tidak jauh-jauh dari novel. Novel roman yang agak sedikit berbau sastra-kontemporer. Entah darimana saya mendapatkan istilah ini, yang jelas, jenis roman seperti ini memang jenis-jenis roman yang sudah jarang kita temui di masa sekarang. Karena jenisnya seperti masa beberapa tahun lalu, mungkin saya bisa menyebut ini kontemporer. Unsur sastranya kental dan unsur kultural juga kondisi sosial di dalam latar cerita juga benar-benar unik.


Buku ini bercerita tentang sebuah kultur  yang mesti dihapuskan dari sebuah negara karena sekuleritas pemimpinnya. Masa itu, Ataturk yang dijuluki serigala hitam sedang memimpin Turki dan segala hal yang berbau sejarah, pun agama, mesti dihapuskan. Ataturk yang diktator sekaligus sangat sekuler juga netral terhadap agama, mencoba menghapuskan kultural yang sudah berabad-abad lamanya bernaung di Turki. Sebuah kultur seniman yang melulu ingat Tuhan. Sebuah kumpulan seniman yang mengabdikan seluruh hidup hanya untuk menghamba pada Tuhan. Seniman yang mempopulerkan huruf Arab dan menggambarkannya dengan indah, sebagai hiasan mesjid, hiasan kitab suci Al-Qur'an, hiasan pintu-pintu gerbang kerajaan, dan lain sebagainya.


Yasmine Ghata
Sejak Ataturk memimpin, mulanya seniman-seniman itu hanya dipindahkan ke sebuah akademi dan diberikan tempat tinggal. Tapi, lambat laun, pekerjaan bagi mereka semakin berkurang. Mereka yang notabene tak bisa hidup tanpa berdzikir lewat pena dan ibadah lewat kata, menjadi semakin mati. Mereka, seniman kaligrafi. Dan kisah ini dituturkan oleh penulis berkebangsaan Perancis-Turki, Yasmine Ghata, dengan sangat indah. Buku dengan judul asli "The Calligrapher's Night (versi Bahasa Inggris)" dan "La Nuit des Calligraphes (versi Bahasa Perancis)" ini diterjemahkan dan dicetak ulang dengan judul "Seniman Kaligrafi Terakhir". 

Para seniman tak bisa tinggal diam. Ada yang dengan beraninya masih menghembuskan dzikir di setiap tarikan garis dalam kaligrafinya, ada pula yang hanya bisa iba melihat kalamnya kaku, tintanya beku. Salah satu seniman yang paling cinta Tuhan, bernama Selim, ditemukan meninggal bunuh diri dengan sorban hijau melilit lehernya. Sejak saat itu, suasana pengungsian seniman kaligrafi menjadi makin tak kondusif. Dengan segenap keberanian, Rikkat, salah seorang pengurus para seniman tua, pergi dengan membawa warisan Selim. Sebuah kotak berisikan peralatan kaligrafi. Ini jelas membuat Rikkat menjadi lebih kuat lagi untuk menjadi seniman kaligrafi yang kala itu tak lazim bagi perempuan jika bekerja seperti ini.

Penampakan Buku
Rikkat harus rela untuk meninggalkan keluarga dan juga kehidupannya sebagai Ibu, hanya untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai seniman, seniman kaligrafi. Rikkat pun menceritakan kisahnya di dalam buku ini dengan sisi pengarang sebagai sudut pandang orang pertama. Kisah pun dimulai dengan cerita ketika Rikkat sedang akan memulai pengajaran sebagai guru kaligrafi dan beralur mundur setelahnya. 

Ada beberapa hal yang menarik dalam buku ini. Istilah-istilah kaligrafi dan sufistik yang tak kita ketahui pada awalnya, dijelaskan secara terperinci dalam buku ini. Terlebih lagi, ada beberapa istilah yang memuat footnote atau catatan kaki untuk penjelasan lebih lanjutnya. Kisah sejarah Turki sejak kaligrafi dan aksara Arab masih mendominasi, sampai ketika masuknya abjad latin diceritakan pula dalam chapter yang berbeda. Membaca ini membuat saya menyelami kultur Turki yang sekuler sekaligus teratur.

Turki sempat menjadi pusat dimana aksara latin mulai ekspansi secara besar-besaran dan semua negara-negara Timur Tengah, hampir berkiblat pada Turki untuk program penumpasan buta aksara latin. Aksara Arab yang merupakan satu-satunya abjad komunikasi kepada Tuhan, perlahan-lahan dihapuskan. Dan ini membuktikan bahwa sejarah akan hilang pula bersama apa-apa yang tak memaksa untuk mempertahankannya. Untungnya, sebelum mati, Selim sempat mewariskan hartanya yang paling berharga, sebuah kotak berisi peralatan kaligrafi. Karena inilah, Rikkat menjadi satu-satunya seniman terakhir yang hidup sejak awal memimpinnya Ataturk sampai pada hari kematiannya. [Ayu]

Judul: Seniman Kaligrafi Terakhir
Penulis: Yasmine Ghata
Penerbit: Serambi
Genre: Roman, Sejarah, Sastra
ISBN: 978 - 979 - 024 - 005 - 6
Halaman: 206
Harga: Rp 31.000,-
Rating: 5/5
Gambar: random google

Friday, May 18, 2012

Weekly Song - Sesuatu Yang Tertunda


Beberapa minggu terakhir, telinga saya kedapatan sedang pas sekali dengan lagu sebuah band Indonesia yang akhir-akhir ini jarang sekali terdengar pasca sang drummer tertangkap polisi karena kasus narkoba. Kasus yang sepele sebenarnya. Padahal, begitu banyak cukong-cukong besar di balik kasus seperti itu. Tapi, ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur dan pihak berwenang telah memutuskan perkara yang tidak bisa tidak selesai.

Pernahkan kalian mendengar lagu-lagu dari Padi? Band yang digawangi oleh empat orang berbakat dalam musik dan lirik ini telah sukses mengambil hati saya pada salah satu lagu. Saya mengerti, kenapa mereka benar-benar memiliki musikalitas sebagus itu. Pasalnya, sang gitaris, Piyu, memang lahir dari pemahaman yang keren terhadap musik-musik dari Sonic Youth, band noise-experimental asal Seattle. Dan Fadly, menang dalam bagian lirik. Entah karena memang puitis atau karena menggemari Pearl Jam, saya pun tak tahu pasti.

Lagu yang bergelayut ini kurang lebih bercerita tentang sebuah pengakuan. Pengakuan seorang kriminal mungkin? Atau pengakuan seorang yang memiliki masa lalu suram namun bertekad untuk berubah dan sudah tak ada lagi kesempatan selain cinta. Kurang lebih begitu, kalau menangkap dari liriknya. Judulnya sendiri sudah membuat saya merenung, Sesuatu Yang Tertunda.


Tak hanya lirik yang melulu saya nilai. Saya begitu mencintai musiknya, karena musik dan lirik adalah satu kesatuan utuh. Kecuali jika kalian memang senang mendengar musik instrumental tanpa lirik. Kecuali yang kedua, jika kalian senang menjadi ngantuk karena musik instrumental, mungkin lakukan saja. Yang jelas, saya tak bisa mengerti mengapa sebuah musik dibuat, jika hadir tanpa lirik.

Lagu ini diawali dengan suara lirih Fadly Padi yang bercerita tentang keindahan yang tak kunjung hadir pada sisi kelam hidup. Dengan lirihnya, Fadly sukses membuat saya merenung. Merenungi diri saya yang kurang lebih hadir sebagai si tokoh yang bernyanyi pada lagu.
"Disini aku sendiri, menatap relung-relung hidup. Aku merasa hidupku, tak seperti yang kuinginkan. Terhampar begitu banyak warna kelam sisi diriku. Seperti yang mereka tahu, seperti yang mereka tahu." -- Fadly Padi
Bagian kedua setelah refrain dihadirkan oleh suara berat Iwan Fals, yang tetap gagah meski sudah bernyanyi setua ini. Di bagian kedua lagu, om Iwan Fals hadir dengan lirik bertema sama, seolah menyambung perkataan  Fadly pada bagian sebelumnya. Hal ini menjadi indah, karena kita seperti membaca sebuah dialog dalam buku yang hadir dalam musik. Dan ini membuat saya bangkit dari renungan. Iwan Fals hebat, bisa mengubah tingkah laku pendengar, emosi naik-turun.
"Disini aku sendiri masih seperti dulu yang takut. Aku merasa hidupku pun surut tuk tumpukan harap. Tergambar begitu rupa, samar seperti yang kurasakan... Kenyataan itu pahit, kenyataan itu sangatlah pahit." -- Iwan Fals
Yang lebih hebat lagi, ada bagian dimana setiap pengisi lagu saling bersahutan. Saya menyebut ini sebagai kanon. Sebuah kanon musik hati, dimana Fadly, Iwan Fals, dan Kikan Namara bersahutan. Yang satu dengan lirih, yang satu berteriak lantang dan yang satu mencipta harmoni. Ah, dan hari libur ini hanya saya habiskan untuk bernyanyi. Pengulangan nyanyian.

Begitulah musik bagi saya.
Satu lagi hadir, sebagai kanon musik hati.

Ciputat, 18 Mei 2012

Monday, May 14, 2012

Militansi Kaum Tertindas


Oleh Ayu Welirang

Menari pada selongsong api,
menggeliat di atas aspal perut bumi
teriak kemarahan
atas sebuah pembodohan

Bergumulan rapal
pada mula hari
Eratkan kepal
hunus sabda tikus negeri!

Yang bebal,
enggan jumpai marah
Yang ideal,
berjuang sampai tetirah merah…

dimuat di harian tongkrongan on-line Angkringanwarta pada 01 April 2012


Tuesday, May 8, 2012

Narkoba dan Sosialita


Hari ini Selasa dan sejak pertama blog ini ganti orientasi menjadi blog segala macam review, saya bertekad untuk konsisten mengisi blog dengan entry ulasan buku setiap hari Selasa. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini saya agak mengalami penurunan minat baca. Reading challenge di Goodreads saya pun agak terabaikan. Saya memang masih sempat membaca, namun bacaan yang saya habiskan adalah bacaan yang belum selesai di akhir minggu bulan April lalu. 

Alberthiene Endah
Jadi, kali ini saya akan membahas tentang buku yang sudah lama saya baca. Bukunya pun buku lama. Kertasnya sudah menguning. Sampulnya sudah sobek disana-sini. Tapi, ada satu kesenangan ketika membacanya. Sang penulis masih ada dalam sisi 'idealis' setelah akhirnya banting setir menjadi penulis genre metropop dan semacamnya.

Kali ini, saya akan membahas sebuah buku dari Alberthiene Endah. Buku ini menjadi salah satu buku di reading challenge Goodreads saya tahun lalu. Buku ini saya temukan di antara tumpukan buku-buku mengenai pengantar Ilmu Komunikasi, Filsafat Ilmu, dan buku-buku yang saya cari untuk keperluan kuliah. Saya mendapatkannya di toko buku langka dan second, dekat kontrakan saya di bilangan Pondok Pinang. Nama toko buku itu Guru Bangsa. Rumah buku--lebih tepatnya saya sebut gudang buku--ini berada tepat di belakang halte busway Transjakarta di Pondok Pinang. Bagi yang ingin mencari referensi untuk mata kuliah atau buku-buku langka yang jarang ditemukan di toko buku berkelas dan terkenal, silakan mampir saja ke sini. Dijamin, para penyuka buku pasti akan betah berlama-lama di sini. Terlebih lagi si pemiliknya yang ramah dan kadang memberi bonus buku secara cuma-cuma sebagai kenang-kenangan. Saya pun kerap kali mendapatkan buku secara cuma-cuma di sini. Hehe.


Judul buku ini mungkin kurang familiar, Jangan Beri Aku Narkoba. Judul yang simple dan isinya pun serupa laporan jurnalistik seorang wartawan. Lagipula, tokoh yang bercerita dalam buku ini memang wartawan. Wartawan dalam buku ini berkisah hanya pada bagian pengantar. Selebihnya, sudut pandang orang pertama diserahkan pada si tokoh yang benar-benar menjadi inti cerita. Arimbi, seorang perempuan yang lahir dari keluarga kaya tapi broken home, dan terjebak dunia narkoba sampai harus menjadi lesbian. Arimbi adalah korban dari keluarga rusak. Keluarga kaya yang rusak sehingga membuat Arimbi harus melarikan diri dan beralih pada narkoba. Orientasi seksualnya yang tak beres karena tak pernah mendapat perhatian orang tua juga mulai menjadi-jadi. Arimbi menjadi lesbi.

Kita akan dibuat berlari, berlomba-lomba untuk sembunyi. Sembunyi dari perasaan sedih dan takut atau malah jijik, saat membaca buku ini. Bagi mereka yang mengutuk pengguna narkoba hanya dari satu sisi, sangat disarankan untuk membaca buku ini. Buku yang bagi sebagian orang mungkin tidak begitu familiar, ternyata isinya sangat sarat akan pesan moral dan sosial.

Cover Buku
Kita tidak bisa begitu saja menghindari pengguna narkoba. Justru, orang seperti itu harus dibantu, bukannya dijauhi atau dijebloskan ke dalam panti rehabilitasi. Beberapa cerita dalam buku ini sangat bertolak belakang dengan kondisi realita yang ada. Banyak orang mengutuk pengguna narkoba. Banyak orang bilang bahwa pengguna narkoba tidak pantas hidup, mereka pantas dimasukkan ke penjara atau panti rehabilitasi. Padahal, secara psikis, mereka semakin terkikis. Tak jarang pengguna narkoba yang sengaja mengakhiri hidup dengan cara melebihkan dosis obat-obatan mereka sehingga kita mengenalnya dengan sebutan over dosis. Dan jika kita menelaah hati mereka, ada faktor utama yang menyebabkan mereka lari dari kenyataan dan beralih pada narkoba. Mereka bilang, "Ini adalah kebahagiaan meski sesaat, meski nantinya kita mati. Kami bahagia meski dalam hati kami selalu menangis dan menyesali takdir. Memiliki orang tua seperti mereka atau lingkungan yang tak kondusif bagi kami."

Buku ini benar-benar mengaduk klimaks pembaca. Perasaan pembaca dibuat naik dan turun. Pembaca dipaksa mengerti akan alasan pengguna narkoba. Pembaca dibuat peduli akan derita dan dilema yang mereka harus rasakan. Dan pembaca pada akhirnya akan mengerti, narkoba hanyalah sebuah pelarian. Masalah yang sebenarnya bukan narkoba, melainkan kondisi utama di baliknya. Betapa narkoba banyak melanda kaum sosialita atas. Mereka yang kaya harta, tapi miskin kasih sayang keluarga.

Buku ini pun sempat diangkat ke layar lebar dengan judul Detik Terakhir. Dengan pengubahan nama dan alur kisah, film tersebut sempat menuai kritik pedas karena sarat unsur pornografi. Padahal, setelah saya menonton sendiri, nyatanya biasa saja. Malah, saya dibuat mengerti dan lebih peduli dengan sosial mereka. Dan saya janji untuk membuat ulasan mengenai film tersebut nanti.

Bagian terakhir buku ditutup dengan hal yang tidak diduga-duga. Dan saya tidak akan jelaskan di sini, supaya kalian penasaran. Silakan cari bukunya di toko-toko buku langka di sekitar kalian. Hehe. [Ayu]

Judul: Jangan Beri Aku Narkoba
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: Gramedia
Genre: Metropop, Criminal, Adult-content
ISBN: 9792207007
Halaman: 243
Harga: Rp 33.000,-
Rating: 5/5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/3056223-jangan-beri-aku-narkoba