April 2012

Thursday, April 26, 2012

Weekly Song - Green Eyes


Saya termasuk orang yang idealis terhadap pilihan warna. Kalau saya bilang saya suka biru, ya sudah. Orang lain yang mencoba melakukan intervensi terhadap saya perihal warna kesukaan, akan saya tolak mentah-mentah. Saya suka hijau, dulu sekali. Hijau bagi saya menjadi suatu ketenangan tersendiri. Sampai akhirnya, hijau jugalah yang membuat saya benci. Entah benci darimana, intinya saya jadi tidak suka.

Sama seperti warna, musik pun begitu. Saya termasuk orang yang susah diubah pendiriannya, perihal kesukaan lagu. Kalau saya bilang lagu itu enak, meski orang lain tak bilang begitu, saya tidak bisa dibantah. 

Antara musik dan warna, saya jadi ingat lagu yang terus terngiang dalam benak saya minggu ini. Entah darimana mulanya. Yang jelas, saya tiba-tiba saja memutar lagu Coldplay secara berkala. Tidak satu diskografi yang saya putar, melainkan satu lagu. Lagu yang itu-itu saja. Lagu yang dari judulnya sebenarnya bisa membuat saya langsung memindahkan daftar lagu ke lagu lain. Tapi, nyatanya lagu ini berhasil membuat saya diam. Entah sedang ada apa dengan perasaan ini, yang jelas lagu ini  membuat saya tenang. Sedemikian tenangnya sampai saya jarang sekali blogwalking. Hmm, maaf, yang tadi itu alasan pembenaran. Hehe.


Judul lagu ini Green Eyes. Lagu sederhana yang tidak begitu memuat instrumen. Format akustik dengan drum sederhana dari Coldplay yang seperti biasanya dengan sedikit sentuhan noise atau feedback dari ampli gitar. Lagu sesederhana ini nyatanya indah. Saya sendiri kadang memutarnya secara tidak sengaja. Tiba-tiba saja, lagu ini seolah menghiasi hari-hari saya yang membosankan, di dalam Kopaja saat berangkat menuju kantor. Kadang, lagu ini menghiasi jalan pulang saya dari kantor. Jika sedang melamun di toko buku atau di pinggir jendela besar di lantai 3A Poinsquare, lagu ini dengan sengaja terputar. Seperti mengerti perasaan saya akhir-akhir ini, lagu sederhana ini menemani. Sambil menyaksikan kemacetan di jalan keluar tol Lingkar Luar Jakarta dari pinggir kaca besar lantai tiga A, saya berdendang.

Kadang, saya pun terharu. Sebenarnya, saya sendiri bingung. Seberapa besar pengaruh lagu dan musik untuk saya? Saya sudah lama tidak bermusik. Saya sudah jarang mendengar lagu. Tapi, begitu mendengar lagu yang cocok dengan kehidupan, saya seolah menemukan jiwa bermusik saya yang sempat hilang. Entah karena memang lagu ini cocok bagi orang melankolis seperti saya, entah karena ada faktor lain.

Jadi, tanpa panjang lebar dan banyak cakap lagi, saya akan akhiri ulasan kejadian minggu ini bersama lagu pilihan. Dan bagi yang ingin menikmati lagunya, silakan saksikan saja video ini.


"Green Eyes"

Honey you are a rock
Upon which I stand
And I came here to talk
I hope you understand 
The green eyes, yeah the spotlight, shines upon you
And how could, anybody, deny you
I came here with a load
And it feels so much lighter now I met you
And honey you should know
That I could never go on without you
Green eyes

Honey you are the sea
Upon which I float
And I came here to talk
I think you should know

The green eyes, you're the one that I wanted to find
And anyone who tried to deny you, must be out of their mind
Because I came here with a load
And it feels so much lighter since I met you
Honey you should know
That I could never go on without you
Green eyes, green eyes
Oh oh oh oh [x4]

Honey you are a rock
Upon which I stand

Tuesday, April 24, 2012

Perdukunan Dalam Literasi


Ratih Kumala
Sejak membaca cerita tentang kultur Betawi di novel Ratih Kumala yang tak sengaja terbeli, saya jadi tertarik untuk membaca beberapa karya Ratih Kumala yang lain. Saya membaca karya Ratih secara acak, tidak berurutan, karena saya memang baru mengetahui tentang penulis satu ini dari koran. Saat menemukan Kronik Betawi dan sempat saya ceritakan di sini, saya pun ingin membeli lagi.

Setelah mendengar bahwa Ratih akan launching buku terbarunya yang berjudul Gadis Kretek, saya malah membeli kumpulan cerpennya. Entah darimana keinginan itu, yang jelas saya menemukan kumpulan cerpennya secara tidak sengaja. Kumpulan cerpen ini memuat beberapa cerita pendek Ratih Kumala yang sudah pernah diterbitkan dalam kolom-kolom surat kabar. Menurut saya, cerpen Ratih Kumala memang tidak biasa dan mengandung unsur-unsur yang jarang sekali dikemukakan oleh penulis muda. Berbagai hal yang menyerempet kepada kultural, sosial, dan juga dunia perdukunan seakan menghiasi setiap tulisan-tulisannya.

Yang menarik pula dari kumpulan cerpen ini adalah ilustrasinya. Beberapa ilustrasi bertema sama, seperti selongsong manusia  yang tak jelas bentuknya dan menyerempet pada karya psychadelic tergambar di awal cerita, sebelum judul cerpen. Melihat dari bagian depan buku, ilustrasi tersebut adalah gambar dari suami Ratih sendiri, seorang penulis bernama Eka Kurniawan. Ilustrasinya menarik. Seolah memaksa pembaca untuk berimajinasi tentang cerita, dari awal gambar.

Kumpulan cerpen Larutan Senja ini terdiri dari empatbelas cerita. Bagian awal dimulai dengan cerita perdukunan dan dendam. Cerita dari cerpen pertama seolah menggambarkan bahwa dendam diturunkan dan diwariskan*. Dengan penggambaran latar pedesaan yang masih memungkinkan seseorang untuk melakukan praktek klenik.


Cover Depan

Selain ketertarikan pada endorsement yang diberikan oleh beberapa sastrawan terkenal, saya tertarik membaca larutan senja karena sinopsis yang disampaikan. Kita harus banyak berimajinasi dan berpikir untuk membaca pesan tersirat yang hadir dari setiap cerpen Ratih Kumala. Saya suka cerita yang seperti itu. Saya suka cerita yang memaksa saya untuk berpikir, akan jadi apa jalan cerita ini? Cerita ini sebenarnya tentang apa? Dan pertanyaan lain yang serupa. Intinya, saya sangat menyukai jalan kisah yang membuat saya bisa berspekulasi macam-macam dari kisah tersebut.

Dalam alam imajinasi Ratih Kumala, bumi ini terdiri dari berbagai larutan yang ditemukan oleh sekelompok penemu di langit sana. Salah seorang penemu menciptakan larutan gerak agar manusia bisa bergerak, angin bertiup dan laut bergelombang. Penemu ini juga menemukan larutan yang rasanya tidak manis seperti siang, tidak pahit seperti malam, memiliki warna elegan. Larutan ini ia beri nama Larutan Senja. Tuhan yang mengetahui penemuan ini ingin mengambil larutan itu dan meneteskannya ke bumi agar semakin indah. Si Penemu tidak mau memberikannya karena menganggap Tuhan tidak adil. Selama ini Tuhan selalu menerima pujian atas penemuan-penemuannya. Tuhan bahkan tidak menyebut bahwa penemuan itu adalah hasil kerja kerasnya. Maka Tuhan pun mencuri larutan senja dan meneteskan ke bumi. Si penemu merasa kecolongan dan membuat sebuah larutan untuk membalas kecurangan Tuhan; larutan yang menakutkan bagi umat manusia. Beberapa cerpen lain dalam Larutan Senja menyingkap dunia perdukunan, alam memedhi, dan kehidupan setelah mati.Tema-tema yang unik dan jarang dikuasai oleh penulis kontemporer dewasa ini.

Setelah yang pertama, maka yang paling terakhir juga akan saya bahas. Cerpen terakhir yang berjudul Buroq, bercerita tentang seorang bejat yang mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Dari cerpen ini, saya seolah mendapatkan pencerahan dan bukti kekuasaan Tuhan. Tuhan tak pernah pilih kasih. Siapapun bisa jadi orang terpilih. Seorang bejat yang bernama Cimeng itu, dulunya adalah seseorang yang taat agama. Sampai si Ustadz yang sering mengajarnya di surau, mengecewakan dirinya. Orang bejat ini akhirnya berpikiran untuk pergi saja dari kampung halaman dan tinggal menetap entah dimana. Sampai suatu saat, setelah bertahun-tahun lamanya, mimpi yang sama itu datang lagi. Mimpi melihat cahaya. Mimpi yang sama saat ia kecil dan telah berhasil memberi hidayah dan juga pemahaman bahwa dia memang orang yang terpilih. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bermimpi melihat Nabi dan orang bejat ini jadi rindu rumah. Sungguh cerita yang sangat sederhana, tapi memiliki makna mendalam. Dan hal seperti ini, sudah jarang saya dapatkan dari penulis-penulis muda, dewasa ini.

Dan dengan membaca karya Ratih Kumala--lagi--saya jadi tertarik untuk mengoleksi beberapa karyanya yang lain. Ya, semoga saja ada rezeki berlebih untuk mengumpulkan satu demi satu karya Ratih Kumala yang masih terserak di jagat perbukuan. [Ayu]


Judul: Larutan Senja
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia
Genre: Kumpulan Cerpen, Spiritual, Metafisika
ISBN: 979 - 22 - 2029 - 1
Halaman: 145 
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 5 / 5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/6094245-larutan-senja

Wednesday, April 18, 2012

Banyak Nama Untuk Satu Cinta


Beli di sini: Leutikaprio

[judul] Banyak Nama Untuk Satu Cinta
[penerbit] Leutikaprio
[jenis] Antologi Cerita Pendek
[terbit] April 2012
[tebal] 199 halaman

Orang bilang cinta dapat membuat kita menjadi gila. Seperti kisah seorang perempuan yang membuat berbagai akun di media sosial, karena terpikat seorang lelaki. Lelaki yang hanya diajaknya bicara di situs jejaring sosial. Cinta juga bisa begitu bodoh sehingga tidak dapat membedakan sepenggal kata yang sederhana karena dihujani ciuman hangat bertubi-tubi. Kisah cinta tidak hanya berhenti pada sebuah happy ending seperti di dalam dongeng-dongeng, sebab ada cinta terlarang yang dijalani oleh sebagian manusia dan mereka menikmatinya diam-diam, menerima keadaan apa adanya. 

Cinta memang hanya sebuah kata, tetapi ia memiliki berbagai macam nama, nama pelaku-pelaku cinta itu sendiri. Kadang ia datang dan menetap, menghadirkan keindahan tiada tara, klasik, cinta yang sekokoh batu karang, hingga maut memisahkan mereka. Kadang ia hinggap lalu menciptakan kegalauan tak menentu. Kadang ia bisa membuat situasi menjadi konyol dan pihak-pihak yang terlibat terlihat bodoh atas nama cinta. Kadang ia juga menimbulkan luka yang menyakitkan dan sulit untuk dilupakan. Beberapa bahkan rela mati untuk satu nama itu. 

Banyak Nama Untuk Satu Cinta membawa Anda ke dalam kisah-kisah cinta orang-orang biasa dari sudut yang tidak biasa, sebab cinta memang luar biasa. It’s love, it’s love that makes the world go round!

Memoar Untukmu, Munir...


Cak Munir
Seharusnya saya menuliskan ini hari Selasa lalu. Hanya saja, saya sedang bingung mau memulainya dari mana. Makanya, saat ada kesempatan, saya baru menuliskannya.

Hari Rabu ini menggantikan hari Selasa untuk membahas tentang buku. Ya, buku dan buku. Katanya, banyak membaca itu menjembatani antara bodoh dan semakin bodoh. Saya setuju, karena dengan begitu banyak membaca cenderung membuat orang skeptis dan bodoh. Bodoh dalam bersosial? Bisa jadi. Seperti saya ini lah. Dan karena saya suka menjadi bodoh, maka saya membudayakan membaca. Hehehe.

Ini buku ke-17 yang saya baca. Di antara deretan buku yang siap untuk dilahap, saya  mengambilnya. Buku ini tipis. Tak banyak yang diharapkan dari buku tipis. Seyogyanya memang begitu. Tapi, saya tak pernah membedakan ras antar buku. Apakah yang tipis itu bagus atau yang tipis itu jelek? Bagi saya, asal menarik dan berarti untuk dibaca, pastilah saya baca.

Dan benar saja. Buku tipis tak selalu benar-benar tak sarat makna. Justru, dengan penyampaian yang lugas dan singkat, sebuah buku akan menemui masing-masing perkaranya. Buku tebal untuk apa, buku tipis untuk apa, dan buku apa untuk apa. Seperti itulah penilaian saya terhadap buku.


Buku ke-17 ini agak menyerempet pada dekatnya kasus Trisakti dan Semanggi dan kasus lainnya dimana para aktivis mati. Bulan mei, pada 98 lalu, sebagai bulan bagi aktivis yang mati. Semua kasusnya diusut dan diratakan oleh Munir, seorang aktivis HAM dan pendiri KontraS. Sampai pada pertengahan 2004, Munir pun menghilang.

Berbagai media mulai mengangkat sosok Munir. Tak jarang pula komunitas sastra yang ikut bersuara melalui karya. Seperti membuat antologi, membuat novel semi-biografi, membuat kumpulan sajak, dan lain sebagainya. Buku tipis yang saya dapatkan di deretan buku sastra di TM Poins, termasuk salah satu dari itu. 


Untukmu, Munir... 
Judulnya sederhana. Desain sampul bukunya pun sederhana. Dan tebak bagaimana isinya? Isinya sangat sederhana, namun mengena. Mengena maksud, mengena pula tujuan dibuatnya. Tak banyak bertele-tele dan lugas. Buku sederhana dan tipis ini berjudul Untukmu, Munir. Sebagai bentuk simpati terhadap pejuang HAM itu, buku ini lahir. Dibuat oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang berkutat dalam Sastra di FIB UI, buku ini disunting oleh Asep Sambodja. Salah satu penulis golongan kiri dan juga sastrawan inilah yang mewujudkan buku tersebut menjadi ada. Dan saat ini, tulisan ini juga untuk memberi apresiasi atas karyanya. Asep Sambodja telah wafat dan hanya tinggal tulisan kiri saja yang bisa kita simak.

Cerpen-cerpen dalam buku ini digambarkan secara realistis. Tak mengubah nama maupun kejadian sesungguhnya, tentu saja buku ini mendulang kritik. Hanya saja, beruntungnya para penulis buku ini adalah, buku ini tak lahir di rezim orde baru. Coba, kalau lahir? Pastilah penulisnya mati satu-satu. Buku yang memuat fakta ini seolah memojokkan para pelaku kasus pembunuhan Munir. Para pelaku yang masih berkeliaran itulah, hendaknya bisa lebih hati-hati bertindak karena masih ada yang hidup. Masih ada yang tak dibungkam dan masih ada yang peduli.

Alm. Asep Sambodja
Buku ini sebagian besar digambarkan sebagai sudut pandang pertama. Ada penulis sebagai Suciwati--istri Munir, ada penulis sebagai Munir, dan penulis sebagai teman Munir--seorang wartawan yang tak disebutkan namanya.

Melalui tokoh 'Aku', kita diajak terbang bersama GA-974. Duduk di kursi 40G--yang kadang disebutkan juga sebagai 40A, sehingga menuai ambigu dalam buku ini--kita diajak melihat bagaimana kejadian dan relokasi pada posisi Munir. Berbagai kisah fiksi yang timbul dari spekulasi dalam buku ini, tak jarang menuai maksud ambigu dari buku. Pembaca seakan harus menebak pula, apakah benar atau salah? Apakah dokter yang terlibat bernama dr. Taher, atau Tarmizi? Apakah Pollycarpus saat itu bertugas sebagai pilot, atau awak kabin?

Semua pertanyaan itu tak henti-hentinya berkecamuk. Kita hanya bisa menikmatinya lewat penelusuran penulis sebagai tokoh 'Aku' alias Munir. Yang saya sayangkan mungkin hanya bentuk ambigu itu. Sedangkan, untuk keseluruhan buku, saya suka. Buku ini lugas dan fungsinya sebagai buku pun tersampaikan. Meski kadang membuat saya jadi kelewat skeptis, ya sudahlah. [Ayu]

Judul: Untukmu, Munir
Penulis: Mahasiswa UI dan Asep Sambodja
Penerbit: Bukupop
Genre: Sastra, Semi-biografi, Memoar, Semi-fiksi
ISBN: 9789791012263
Halaman: 88 halaman
Harga: Rp 18.000,-
Rating: 4 / 5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/13602454-untukmu-munir


Monday, April 16, 2012

Dua Hari "Kencangkan Suara" dalam Pameran Jurnalisme Warga


Pada hari Minggu kemarin, saya sedang melihat-lihat linimasa saya di twitter dan seperti biasa, saya dibuat senang dengan tampilan twit dari salah satu band yaitu Efek Rumah Kaca. Mereka akan tampil sebagai salah satu band tamu, bersama dengan Tika & The Dissidents dalam penutupan acara pelatihan Citizen Journalism atau jurnalisme warga.

Acara yang digagas oleh yayasan Tempo Institute dan afiliasi dengan beberapa media independen yang bergerak dalam bidang jurnalistik, fotografi, desain, penulisan dan perfilman ini ternyata sudah saya lewatkan satu hari, yaitu pada tanggal empatbelas April. Jadi, saat saya membaca linimasa tersebut, saya tak lagi pikir panjang apakah harus datang atau tidak. Dan rencana saya untuk mengambil antrian di toko buku Leksika Kalibata City, saya batalkan. Padahal, buku gratis yang dibagikan Leksika pada Minggu sore itu adalah buku dari Dee yang terbaru, berjudul Partikel. Antara kecewa dan tidak, tapi ya sudahlah. Toh, saya mendapatkan ganjaran setimpal dengan menikmati pameran, nasi kucing, dan menonton penampilan Efek Rumah Kaca juga Tika & The Dissidents yang sangat keren.


Sekitar pukul lima sore, saya berangkat dari kantor. Saya yang mendapat tugas masuk kerja di hari Minggu pun harus menggadaikan kesenangan meski akhirnya terbayar dengan pameran. Naik Transjakarta dari halte Ratu Plaza, langsung menuju halte Monumen Nasional. Pekan jurnalisme oleh Tempo kali ini diadakan di Museum Gajah. Turun dari bis, saya langsung menyeberang. Posisi Museum Nasional atau Museum Gajah letaknya di seberang halte busway Monas. Sangat mencengangkan. Lokasi acara jurnalistik tersebut rupanya sudah ramai dengan para wartawan, jurnalis, fotografer, dan komunitas penulis. Tak terkecuali juga mereka yang datang hanya untuk menonton Efek Rumah Kaca atau Tika.

Dan atmosfir inilah yang saya suka. Di samping orang-orang idealis yang sama dan ada di samping orang-orang semi-urakan seperti biasa. Mereka para jurnalis dan fotografer jurnalistik itu rupanya sesuai dengan selera "manusia" menurut saya. Gaya yang cuek, tampil apa adanya, tampil berbeda, dan tak perlu terlalu mementingkan gaya. Hampir limapuluh persen dari yang hadir adalah mayoritas kaum gondrong. Hehehe.

Ada beberapa orang yang familiar. Mereka itu kalau tidak salah pernah saya temukan juga dalam acara serupa yang digagas oleh yayasan yang serupa pula. Pada bulan Februari lalu, saya pernah menghadiri acara Pembukaan Pameran Foto-Grafis Pancasila dan saya melihat beberapa jenis manusia yang sama seperti pada acara tersebut. Ya, itulah mungkin. Manusia-manusia pada satu frekuensi yang sama dengan saya. Manusia bebas yang dengan bebasnya pula menjadi apa saja.

Dalam pameran tersebut, beberapa karya ditampilkan dalam ruang kaca di museum. Karya-karya yang berupa desain grafis dan foto jurnalistik berukuran besar dan berformat kanvas, sangat mendominasi ruang kaca. Ruangan untuk penampilan musik malah dibuat di ruang aula luas yang agak terbuka. Tempat ini sangat cocok untuk mendengarkan Efek Rumah Kaca, karena suara gema yang ditimbulkan oleh si vokalis sendiri pasti terdengar sangat melankolis.

Pameran dihiasi dengan komik strip yang berurut dan menceritakan tentang bagaimana kiat-kiat yang harus dilakukan untuk menjadi seorang jurnalis warga. Semuanya dikemas dalam gambar-gambar yang unik dan mengundang tawa. Saya sempat dibuat beberapa kali tersenyum--hampir tertawa--karena komik tersebut sangat sukses mengocok perut. Meski sederhana, kesan dan pesan yang didapat malah lebih dari cukup.

Setelah berkeliling di ruang kaca dan mengambil beberapa foto, saya keluar ruangan untuk ikut mengantri bersama para teman gondrong dan mengambil nasi kucing. Satu gelas kertas kopi hitam panas dan satu porsi kecil nasi kucing bersama teman-teman makannya pun saya santap dengan syukur sambil mengobrolkan seputar pembunuhan Munir bersama salah seorang tamu pameran. Tidak ada hari yang lebih indah lagi dari Minggu, 15 April kemarin. Sungguh, dalam seumur hidup, tidak pernah saya mendapat semangat seperti kemarin. Pulang kerja, langsung pergi lagi. 

Dan ini mungkin akan jadi titik tolak kehidupan saya yang semakin menanjak dan liar. Mencoba berbicara apa adanya, dengan etika yang ada. Mencoba pula untuk melawan segala bentuk ketidakcukupan dalam apa yang seharusnya bisa didapatkan lebih dari cukup. Mencoba untuk berteriak dan membela, meski hanya dalam jurnalisme warga. Dan akhirnya, kencangkan suara dan berkobar bersama mereka yang juga tak minat dengan segala luka negara kita. Sambil perlahan-lahan menghabiskan satu per satu pelajaran kampus yang membosankan, saya mencoba menjejak pengalaman. Tidak ada guru yang lebih berharga selain pengalaman. Dan itu berlaku sepadan! Nah, justru dengan terjun ke lapangan dan tak melulu menelan teori membosankan itulah kita baru dapat merasakan siapa kita. Apa minat kita dan apa yang akan kita peroleh dari sana. 

Sekiranya, itu saja catatan hari Senin ini. Semoga teman-teman semua juga tak bingung akan kemana langkah teman-teman. Cukup ikuti alurnya saja dan Tuhan pasti sudah berencana. [Ayu]

Thursday, April 12, 2012

Secuil Kisah Sosio-Musika


Kerusuhan di Kosovo
Soal musik bukan sekedar fanatisme saja. Ada pesan dan unsur utama yang seharusnya memang dapat terlaksana dengan baik oleh para pendengarnya. Seputar kemanusiaan, seputar keadilan, kebobrokan sosial, dan hal-hal tertentu semacam itu yang tidak bisa dihapuskan dari negara bobrok hanya dengan teriakan-teriakan dan peluh saja. Hal tersebut tidak bisa dihapuskan hanya dengan meneriaki kantor dan gedung DPR atau bahkan melempari aparat dengan batu panas. Ada satu hal yang efektif dan benar-benar fleksibel untuk menyuarakan sebuah kesenjangan dalam sosial. Hal tersebut tentu saja disebut musik. Musik yang bagaimana? Mari simak ulasan berikut.

Satu bulan lalu, saya sempat menulis di kompasiana tentang hal yang sama akan sebuah sosial dalam musik. Menulis tentang sosial yang disampaikan melalui musik. Saya membahas musik reggae sebagai salah satu suara dari gerakan Rastafari. Suara yang dicetuskan para kaum kulit hitam dan buruh-buruh yang terganggu sosialnya. Secara tidak sadar, tulisan saya itu di-share ulang oleh salah satu situs resmi dari media Music Bandung dan bisa dibaca pada tautan berikut ini.

Tak hanya reggae rupanya. Sebuah band yang mampu mempertahankan eksistensi selama dua dekade dan tak mengalami perubahan personil yang kelewat signifikan, nyatanya juga tak seperti yang dibayangkan. Banyak orang dari kalangan-kalangan anti kapitalis yang mencoba menghantamkan antar fans club sehingga keduanya saling memusuhi. Oknum seperti itu sebenarnya tak begitu tahu tentang fakta-fakta yang ada dari sebuah band. Dan kemudian, kebohongan yang berlebihan itu bisa dipatahkan dengan munculnya beberapa pemberitaan tentang kontribusi band seattle sound yang masih memiliki eksistensi sampai saat ini. Sebut saja Pearl Jam. Mungkin kalian bosan dengan disampaikannya informasi seputar band ini. Tapi, setidaknya kalian menjadi lebih tahu bahwa kebohongan itu sangat tidak bisa untuk ditolerir lagi.

Banyak yang mengatakan bahwa ketika pertama kali meluncurkan album bertajuk "TEN", Pearl Jam menggunakan cara-cara tak baik untuk menarik massa dari kalangan pecinta musik alternatif pada saat itu. Pearl Jam dikatakan ingin menarik keuntungan sebesar-besarnya dengan membuat terobosan. Banyak pula yang mengatakan bahwa Pearl Jam adalah band kalangan atas saja.

Itu salah besar. Banyak pula hal baik yang kadang tak diingat karena dominan manusia lebih suka mengingat hal yang buruk-buruk saja. Bagi saya, ada hal-hal kecil yang tetap bisa mengena pada hati dan membuat saya menyadari akan kesejahteraan sosial ketika mengingat Pearl Jam.

Ada beberapa fakta serius yang menyangkut sosial, kecintaan pada lingkungan, dan juga unsur kemanusiaan yang dicetuskan pertama kali oleh Pearl Jam. Dan hal inilah yang kadang dilupakan oleh orang-orang, termasuk pecinta Pearl Jam itu sendiri, mungkin. Jadi, pada ulasan saya mengenai musikalitas Pearl Jam pada artikel minggu lalu, akan bertambah lagi nilai plusnya karena saya akan membahas tentang sosio-musika. Musik dan Pearl Jam, untuk jiwa sosial teman-teman.

Ilustrasi Emisi Gas Buangan

Sebagai band, Pearl Jam tentu saja pernah mengarungi daerah-daerah. Emisi karbon yang dihasilkan ternyata tak diabaikan. Sekitar tahun 2010, Pearl Jam melakukan ganti rugi atas emisi karbon mereka yang merugikan, pada saat tur Backspacer di tahun 2009 dengan melakukan donasi sejumlah 210,000 US Dollar, di wilayah Puget Sound, Washington. Bahkan, karena hal inilah, Pearl Jam juga dijadikan salah satu "Pelindung Bumi" oleh Rock the Earth karena aktifitas mereka cinta lingkungan yang serius terhadap pengurangan emisi karbon yang merugikan bumi.

Eddie Vedder yang senantiasa melakukan aksi panggung liar ternyata tak melakukan itu tanpa esensi. Ada maksud dibalik semua itu. Eddie Vedder sang vokalis adalah salah satu orang liar, gondrong, dan mencintai sosial. Tidak percaya? Eddie Vedder sempat murka pada AT&T karena melakukan sensor terhadap kata-katanya pada Lollapalooza 2007. Pasalnya, saat itu Eddie Vedder membicarakan atau melakukan kritisi terhadap Bush, presiden Amerika saat itu. Kelakuan Bush yang mengindahkan perang dan menyengsarakan rakyat Palestina telah mengundang Eddie Vedder untuk ikut menyuarakan hak rakyat.

Jika melihat dari serangkaian aksi Pearl Jam, khususnya Eddie Vedder, mungkin orang awam hanya bisa bilang, "Ah baru segitu. Kan masih banyak band lain yang juga peduli."

Cover Kompilasi Untuk Pengungsi Kosovo
Tidak, komentar saya tidak begitu. Coba lihat berapa banyak donasi yang dihasilkan dari single Pearl Jam yang laris manis, yaitu "Last Kiss". Keuntungan atas lagu tersebut pada kompilasi No Boundaries: A Benefit for the Kosovar Refugees, dengan beberapa musisi lain, hampir seluruhnya didonasikan untuk aksi sosial bernama Benefit for Kosovo yang dilakukan untuk para pengungsi Kosovo. Ulasan ini pun sebenarnya hanya menjelaskan tentang paradoksnya kata-kata hinaan atau cercaan terhadap Pearl Jam dan mengatakan bahwa Pearl Jam hanya band pencari keuntungan belaka. Padahal, merujuk pada fakta, Pearl Jam sudah banyak berkontribusi untuk sosial dan kemanusiaan, juga kecintaan pada lingkungan.

Dan jika masih ada yang mau mengatakan bahwa Pearl Jam itu kapitalis, saya tidak akan menyalahkan. Kalau memang mereka kapitalis, namun tetap peduli pada sosial, lalu apa salahnya? Dan ingatlah bahwa yang kapitalis itu belum tentu ditelan untuk diri sendiri. Ada juga pihak yang menarik keuntungan lalu menyalurkannya pada korban bencana, aksi sosial, dan berbagai kisah kemanusiaan lainnya. Bukankah, kita harus menjadi kaya agar dapat berkontribusi untuk sosial? Maka dari itu, marilah kita menghindari kata-kata paradoks yang tak perlu. Musik ya musik. Sedangkan, dendam pada sesuatu dengan mengkambinghitamkan hal lain itu beda urusan, bukan pecinta musik namanya. Jangan cinta musik dan band kalau masih mau saling menghantam. [Ayu]

***
Artikel ini diikutsertakan pada lomba blog yang diselenggarakan oleh Pearl Jam Indonesia dengan tema 'Grunge atau Pearl Jam, tuliskan pengalaman, opini, dan harapan kamu!'


*referensi kisah didapat dari google dan http://daenggassing.com/2011/09/50-fakta-tentang-pearl-jam/
*gambar random google

Tuesday, April 10, 2012

Si Kupu-Kupu Biru


Hari Selasa dalam minggu kedua bulan April ini, sudah saatnya saya mengulas kembali apa yang saya baca minggu lalu. Dan setelah mencapai buku ke-16 di tahun ini, sudah saatnya saya menceritakan tentang buku bacaan yang sama sekali berbeda dengan genre yang kemarin. 

Buku ini dipinjamkan oleh seorang blogger dan juga kakak dari kampus tetangga, seorang jurnalis sekaligus tukang baca.

Sarekat Penulis Kuping Hitam
Buku novel sastra-kontemporer ini ditulis secara bersama-sama alias keroyokan. Komunitas penulis yang menamai diri mereka dengan sebutan "Sarekat Penulis Kuping Hitam" ini adalah para kader-kader penulis yang dihasilkan dari Bengkel Penulisan Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) pada tahun 2008 dan 2009. Setelah sekian lama bergelut dengan emosi dan elegi masing-masing, akhirnya mereka bisa menghasilkan satu novel beralur campuran yang diberi judul LENKA.

Sekilas, saya agak kaget ketika membaca. Saya pikir, judul bukunya Lekra. Ternyata saya salah baca judul. Setelah memperhatikan lebih lanjut, judulnya benar-benar LENKA. Kalau Lekra kan kesannya jadi sangat 'kiri' sekali buku ini. Kenapa? Kalau kalian menghafal cerita-cerita komunisme Indonesia, pastilah akan mengenal Lekra alias Lembaga Kebudayaan Rakyat.


Kembali pada LENKA. Buku ini ditulis oleh kurang lebih tujuhbelas penulis muda dari berbagai status sosial dalam masyarakat dan menamai kelompok mereka "Sarekat Penulis Kuping Hitam". Dimoderasi oleh dua penulis sekaligus sastrawan-kontemporer A.S. Laksana dan Yusi Avianti Pareanom, buku ini lahir dari buah pikir yang difermentasi selama beberapa tahun lamanya sampai menjadi sebuah karya utuh.

Novel berjudul Lenka ini, ditulis bersama dengan 16 orang lainnya yang dulu pernah menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel DKJ periode 2008-2009, dimulai dari sebuah situasi : “Pada sebuah acara penggalangan dana, seorang perempuan muda bergaun wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?” 

Seperti yang kita baca dari sinopsis mini di atas, novel ini bercerita tentang sosialita atau kehidupan kalangan atas. Penuh dengan drama dan intrik romansa yang terbaca dari setiap alur novel. Bagian-bagian yang tak pernah terbayangkan kerap kali muncul dalam cerita. Dan uniknya, alur campuran yang ada dalam novel ini benar-benar campuran! Kita hanya bisa menangkap rentang waktu yang terbaca dari sub judul pada buku ini. Setiap babnya hanya diberi sub judul begini: "1. (Keterangan Waktu) xxx Malam Pesta".


Contoh penggambaran sub judulnya ialah sebagai berikut:
  1. Malam Pesta
  2. Dua Puluh Lima Tahun Sebelum Malam Pesta
  3. Tiga Hari Setelah Malam Pesta
  4. Dan sebagainya
Cover Depan LENKA
Nah, penggambaran sub judul itulah yang memberikan kita ruang satu-satunya untuk berdaya khayal seputar latar waktu pada novel. Bagi yang tak peka, pastilah terkecoh. Dan alur campuran yang memutarbalikkan antara masa kini dan masa-masa sebelum kini itulah yang membuat novel ini begitu sarat dengan kebingungan dan misteri.

Misteri tentang Lenka, apakah mati bunuh diri atau dibunuh? Lenka yang menjadi model namun memiliki otak super cerdas dengan mengambil studi filsafat di kampusnya. Lenka yang begitu menelan bulat-bulat apa yang dia pahami dari filsafat dan Albert Camus. Juga tentang Lenka yang menjadi model "fotografi pembebasan" bersama Helong Lembata--seorang fotografer sekaligus kekasih terakhir Lenka--dan melancarkan aksi "sadomasokisme" yang perlahan dia anut.

Semua itu tak sebanding dengan keluarga Lenka yang dikenal sebagai kalangan sosialita paling tinggi di kota mereka saat itu. Ayahnya, Tiung Sukmajati, adalah seorang komposer musik yang terkenal. Ibunya, Luisa-Bathory, adalah seorang sosialita yang dipandang di kalangan atas dan kakanya, Pandan Salas, adalah seorang pecatur muda yang sedang digandrungi oleh kalangan pecatur dan dunia muda pada masa itu. Dan semua itu memang tidak sebanding dengan kematian Lenka yang masih menjadi misteri. 

Membaca ini seperti membaca depresi. Depresi yang didapat dari seorang sosialita yang tidak pernah merasa bahwa dirinya ingin menjadi seperti itu. Dan depresi itu kita lewati juga dalam setiap lembar buku. Seolah ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Lenka dari kematiannya. Dan hati-hati membacanya kalau kalian selalu menelan bulat-bulat bacaan kalian. Pahami dahulu, sebelum akhirnya mencoba menjadi sama seperti buku. [Ayu]


Judul: Lenka
Penulis: Sarekat Penulis Kuping Hitam, Yusi Avianti Pareanom, A.S. Laksana
Penerbit: Banana Publisher
Genre: Sastra-kontemporer, Drama, Sedikit Filsafat
ISBN: 9789791072
Halaman: 262
Harga: Rp 45.000,-
Rating: 5 / 5
Gambar: random Google

Thursday, April 5, 2012

Mengenal Musik Grunge Yang Berbeda


Beberapa penggiat musik era 90-an yang sampai sekarang masih mendengarkannya dengan loyal mungkin akan sangat bergembira dengan isu kembali bergemanya musik tersebut. Beberapa aliran musik yang sempat mewarnai pasar musik Indonesia di tahun 90-an akhirnya bisa ditemukan kembali oleh para pecintanya. Maraknya acara-acara musik kaum minoritas, menjadi indikator penting atas kembalinya era musik idealis yang dinantikan.

Salah satu dari berbagai genre 90-an itu antara lain adalah musik Grunge. Dalam beberapa tulisan saya tentang Grunge, yang pernah saya ulas di tautan ini, mungkin masih banyak yang bertanya-tanya tentang apakah Grunge itu? Nah, pertanyaan kalian akan dijabarkan secara singkat, padat, dan jelas, sebagai bentuk edukasi tentang musik juga. Lumayan bukan? Menambah wawasan teman-teman semua akan musik Grunge yang mungkin masih terdengar asing di telinga kalian.

Menurut sumber yang di ambil dari Wikipedia, Grunge atau Seattle sound adalah sebuah sub genre dari rock alternatif yang muncul pada pertengahan 1980-an di negara Amerika, Washington, khususnya di Seattle. Terinspirasi dari punk rock, heavy metal dan indie rock, grunge umumnya kental dan sarat akan suara distorsi gitar yang berat dan lirik melankolis atau apatistik.


Grunge yang semula hanya muncul sesekali saja (itupun dengan susah payah) pada awal berdirinya, mulai populer dengan kehadiran band legendaris Nirvana. Bervokaliskan Kurt Cobain yang meninggal pada usia 27 tahun, kejayaan Grunge pun sempat memudar pasca kematian Kurt Cobain. Meski banyak yang menyayangkan dan mencoba untuk membangun kembali, nyatanya itu sangat sulit.

Dan dari semua itu, ada satu band yang sejak hebohnya Grunge di era 90-an sampai sekarang ini, masih setia menyuarakan Grunge dan Seattle sound di tengah-tengah pangsa pasar musik yang mainstream dengan pop punk, power punk dan sebagainya. Tahukah apa nama band itu?

Pearl Jam

Yap! Tepat sekali. Band tersebut bernama Pearl Jam. Beranggotakan sang vokalis, Eddie Vedder, dengan suara berat namun mampu berteriak tinggi dan menggema di setiap konser, dengan tambahan anggota yang juga keren. Awal mula saya mengenal Grunge, justru dari band ini. Setelah itu, barulah saya mengenal yang lain.

Cover Riot Act - Pearl Jam
Dulu sekali ketika pertama kali mempelajari gitar secara otodidak, saya melihat buku-buku musik. Lagu yang saya buka pertama kali saat itu adalah I Am Mine, yang mana merupakan lagu Pearl Jam sendiri di album Riot Act yang rilis pada akhir tahun 2002. Merasa tak kenal dengan lagu ini, saya pun mencarinya untuk mempelajari gitar. Lagu inilah yang akhirnya mengantarkan saya untuk mencari lagu lainnya. Dan ternyata, hal itu tidak menyulitkan, karena saya nyatanya sedang membaca majalah M & G khusus Pearl Jam.

Mengapa saya bisa dengan mudahnya menyukai Pearl Jam? Jawabannya mudah saja. Saya memang menyukai tipikal lagu yang bertema kiri alias tema yang sering dikesampingkan oleh manusia di sekitar. Selain tema, tentu saja saya melihat musikalitas. Saya bukan orang yang terlalu suka dengan musik bertipe gedombrongan alias ribut sendiri. Musikalitas masih menjadi indikator bagi saya, apakah musik itu bagus atau tidak. Dan pertama kali mendengar suara si vokalis sendiri, yaitu Eddie Vedder, saya langsung jatuh hati. Oh, betapa suara itu sangat cocok ada dalam diri Eddie.

Eddie Vedder
Beberapa lagu yang membuat saya langsung terkesima dengan musikalitasnya ternyata memang lagu-lagu yang menjadi hits single pada zamannya. Berarti bukan cuma saya yang menyukainya, melainkan hampir seluruh pendengar musik Pearl Jam di seluruh belahan dunia. Dan hal itu seolah mematahkan pemahaman bahwa permainan Grunge harus selalu vandal! Grunge itu harus selalu berdistorsi kasar dan doktrin lainnya yang terlanjur mengakar. Ternyata, Grunge pun bisa dinikmati dengan santai dan tak melulu harus sampai menghancurkan alat musiknya. Kalau pernah melihat permainan live Eddie Vedder dan Pearl Jam di youtube atau kanal video lainnya seperti di kumpulan arsip video live Pearl Jam di sini, kalian baru boleh menilai apakah Grunge harus selalu keras, kasar, dan vandal. Nyatanya tidak lho teman! Apa yang kalian tinggalkan di kotak komentar blog saya beberapa hari terakhir ini terkait Grunge sebetulnya hanya pemahaman secara global, bukan secara khusus. Jadi, dengan rendah hati saya katakan bahwa Grunge juga bisa indah, seperti Pearl Jam.

Sampai sekarang pun, satu-satunya band yang tersisa dari Seattle sound pada masa dulu dan di masa kini memang hanya Pearl Jam yang loyal. Tanpa dipungkiri, meski banyak band luar yang mulai melihat genre ini, belumlah bisa menyamai kedudukan dan perjuangan Pearl Jam yang sejauh ini masih bergema, sejak kemunculannya di medio 90-an. Saya menyayangkan, kenapa Pearl Jam tak juga didatangkan ke Indonesia. Padahal, kalau datang, tentulah saya akan berusaha untuk menabung agar bisa membeli tiket Pearl Jam. Hehe.

Yah, mungkin memang musik ini belum sepadan dengan pangsa pasar Indonesia. Tahu sendiri kan kalau mayoritas musisi Indonesia ini mengejar apa? Idealisme bermusik dan musikalitasnya sudah tak ada. Jadi, kalau ada isu yang mengatakan Pearl Jam ini untuk kalangan atas saja, itu tentu salah besar. Saya tak ingin Pearl Jam dicap seperti itu, karena semua orang yang cinta Grunge dan musik tak perlu membedakan kastanya. Saya cinta Pearl Jam, saya cinta Grunge, dan yang pasti saya tak mau mengkotak-kotakkan itu. Sudah waktunya kita melihat secara objektif tanpa egoisme masing-masing orang, agar Pearl Jam bisa dengan segera didatangkan ke Indonesia. Mari sama-sama rangkul sahabat pecinta musik 90-an dan Grunge yang utama, agar kita bisa sama-sama kembali menggemakan distorsi 90-an! Viva la Grungy! [Ayu]


***


*Artikel ini disertakan pula pada lomba blog bersama Pearl Jam Indonesia dengan tema "Grunge atau Pearl Jam, Tuliskan Pengalaman, Opini, dan Harapan Kamu!"


PJ.ID Blog Competition from HERE


*didedikasikan pula untuk seluruh pecinta musik Grunge. Juga dalam rangka memperingati kematian Kurt Cobain pada 5 April 1994 yang lalu.

sumber referensi:
Gambar random google

Tuesday, April 3, 2012

Komunikasi dan Persahabatan Antardimensi


"Tahukah kalian apa itu Danur? Danur adalah cairan berbau yang menyeruak dari seseorang yang sudah mati...."

Abaikan tulisan curhat saya Senin kemarin. Itu hanya buah pikiran di sela-sela rutinitas membosankan kok. Hari ini Selasa, dan sesuai janji untuk diri sendiri--meski membuat bingung--saya ternyata bisa membereskan buku ke-15 di tahun ini. Sejauh ini, janji membaca dari reading challenge di Goodreads yang seharusnya tidak perlu diambil pusing nyatanya malah bisa maju sedikit-sedikit, sesuai target. Dan karena janji pun, saya menulis ulasan buku-buku bacaan itu untuk menghibur teman-teman sekalian.

Risa Saraswati
Saya adalah tipe orang yang suka membaca berbagai jenis buku. Di antara ribuan perempuan seusia saya yang senang membaca roman klasik, metropop, dan beberapa kisah fantasi, saya mengabaikan pemahaman itu. Buku saya cukup beragam, dari yang saya miliki sampai pinjam ke teman. Dan kali ini, saya membaca buku beraroma horror dengan gaya bercerita seperti diary karena sepertinya buku ini memang slice-of-life dari si penulis sendiri, Risa Saraswati.

Sedikit info, Risa adalah musisi. Musisi yang dulu tergabung dalam band indie bernama Homogenic. Sekitar beberapa tahun lamanya setelah Homogenic mulai digandrungi para pecinta musik keren di Bandung, Risa keluar dan membentuk Sarasvati--proyek solo Risa sendiri.

Sarasvati yang terkesan misterius dan suram ternyata didasari dari kisah Risa yang sejak kecil senang berbicara dengan tembok--sepertinya ada sesuatu di depan tembok itu, seperti hantu misalnya? Dan lirik-lirik lagu yang terdapat dalam lagu Sarasvati, ada juga di buku yang dia tulis sendiri, berjudul Danur. 

Buku Danur saya temukan di rak ketiga, di antara deretan buku bergenre campuran dalam indeks Indonesian Books di Kinokuniya Plasa Senayan. Buku yang hanya tinggal satu-satunya ini saya ambil. Apa yang membuat saya penasaran ingin membelinya? (Waktu itu saya beli bersamaan dengan buku Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) yang pernah saya ulas di sini.)

Jadi, sampul buku ini menarik. Setelah saya telusuri, ternyata sinopsis di bagian belakang buku juga menarik. Biasanya, indikator saya dalam membeli buku yaaa seperti itulah. Setelah ditelusuri lagi, ternyata penerbitnya Bukune--masih anak Gagasmedia juga. Dan saya putuskan untuk membeli buku ini bersamaan dengan buku Djenar Maesa Ayu yang juga tinggal satu. Selain sampul dan sinopsis, endorsement dari seorang jurnalis majalah musik pun memberi komentar seperti ini:

Meski membuat bulu kuduk berdiri, novel ini bukan buku misteri. Novel ini sesungguhnya bercerita soal persahabatan antar dimensi dengan cara yang menyentuh. Bisa dibilang, Risa telah 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus itu lewat novel ini. — Soleh SoLihun, Jurnalis Rolling Stone Indonesia


Hari-hari berlalu dan sudah saatnya saya membuka buku ini. Antara perasaan ingin membukanya dan tidak ingin. Pasalnya, saya ini penakut. Saya masih percaya kalau hantu bisa dengan tiba-tiba memunculkan wajah mereka. Saya takut kalau membaca Danur bisa membuat saya bersugesti yang macam-macam. Setelah memastikan lagi, akhirnya saya baca buku tersebut.

tampilan cover depan dan belakang buku

Danur bercerita tentang kisah hidup Risa sejak kecil sampai dewasa. Risa yang sejak kecil memiliki kemampuan untuk melihat makhluk halus dan berbicara dengan mereka, mendapatkan lima orang teman kecil yang berbeda dunia dengannya. Semua indah pada awalnya, sampai suatu ketika, kelima temannya menagih janji Risa untuk bisa bersama mereka selamanya. Ketika umur Risa 13 tahun, mereka menagih janji pada Risa perihal dirinya yang ingin bersama Peter, Hans, Hendrick, William, dan Janshen di dunia hantu. Ternyata, hal itu tidak bisa Risa tepati sehingga membuat kelima temannya menjauh. Kelima teman Risa ini adalah hantu Belanda yang berdiam di rumah Risa tinggal karena mencari sesuatu yang belum selesai.

Kehilangan sahabat hantu membuat Risa menjadi perempuan murung yang semakin hari semakin aneh. Risa pun sadar kalau dirinya harus menjadi perempuan normal, mengingat usianya yang sudah semakin beranjak dewasa. Risa pun berjanji pada diri sendiri untuk mengabaikan segala kemampuannya dengan berpura-pura tak bisa melihat hantu. Namun, masalah lain muncul. Hantu-hantu yang mulai beragam jenisnya itu, menghampiri Risa karena tahu bahwa Risa bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka. Tak jarang ada hantu yang sangat buruk rupa dengan bau Danur yang menyengat, menghampiri Risa untuk meminta pertolongan. Hal itu membuat Risa mengutuk kemampuannya dan perlahan-lahan teringat akan sahabat hantu pada masa kecilnya.

artwork Danur

Menjelang akhir cerita, Risa dikabarkan sama seperti pada kondisi aslinya. Risa yang suka bermusik dan tergabung dalam band, mulai bersolo karir. Terlihat sekali bukan, kalau kisah ini memang slice-of-life si pengarang itu sendiri. Dan Risa yang bersolo karir itu membuat lagu yang didedikasikan untuk sahabatnya, dengan judul lagu Story of Peter. (Lagu ini juga judul lagu Sarasvati yang Risa bangun lho! Bisa didengar di youtube atau web Sarasvati di sini.)

Lagu yang dibawakan dengan segenap hati itu akhirnya memunculkan kembali lima sahabat kecil Risa. Para hantu Belanda yang dulu mewarnai hidup Risa yang muram. Dan akhir cerita pun dibuat sebagai akhir dari buku diary Risa sendiri.

Isi buku ini rupanya tak seperti yang saya harapkan. Meski membuat saya bergidik kala membaca bagian hantu-hantu yang seram, tapi tak membuat saya terbawa alur. Hal itu pula yang membuat saya harus melewati waktu yang lama hanya untuk membaca sebuah buku ringan. Berbeda dengan buku bertopik berat yang bisa saya habiskan semalam saja karena tema dan alurnya yang mengalir. Tapi, saya sarankan jangan membaca buku ini sendirian, karena Risa sukses membuat sugesti bahwa ada yang menemani kalian saat membaca buku. Hehe. Jadi, untuk rating buku ini saya beri angka 3.5 dari 5 ya! [Ayu]

Judul: Danur
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Genre: Drama, Slice-of-life, Horror
ISBN: 602-220-019-9
Halaman: 216
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 3.5 / 5
Gambar: random google

Sunday, April 1, 2012

Ada Kultur di Wrath of the Titans


Kenapa judul artikel ini saya beri tagging kategori "culture"?

Sebelum menjawab itu, saya akan membahas judul kali ini. Judul posting kali ini saya buat begitu karena memang hari ini hari Minggu dan saatnya kita belajar dari sebuah "tontonan" atau film. Entah kenapa, saya akhir-akhir ini sedang membuang jenuh terhadap segala rutinitas. Membaca di lantai teratas gedung yang setengah jadi di daerah Cilandak, berteriak-teriak di pinggir pantai, menonton film sampai bosan, dan berkumpul bersama orang-orang baru yang menyenangkan. Karena kejenuhan itulah, rutinitas saya pun berganti. Dari seorang yang disiplin dan sangat struktural, menjadi orang yang cuek, ceplas-ceplos, dan apa adanya. Hehe.

Hari Minggu ini saya mau membahas sebuah film yang tidak lain membuat saya berpikir, apakah memang sudah seharusnya mitologi Yunani menjadi seperti itu? Nah, dari sinilah saya menarik kesimpulan bahwa film yang kali ini saya tonton, mengandung muatan kultural atau budaya yang mengakar, yaitu budaya Yunani dan mitologi akan dewa-dewanya.

Film ini saya tonton di Fx Sudirman bersama teman-teman training yang akan mengisi sub kantor di Lampung. Niatnya sih, saya juga mau ke sana, kerja di sana. Tapi, setelah dipikir-pikir, kok saya lebih baik di Jakarta saja ya. Hehe. Nah, sebelum kepulangan mereka ke Lampung--yang nyatanya diundur oleh pihak kantor--mereka mengajak nonton film yang rilis di tahun 2012 ini. Dengan bermodalkan tiket bioskop seharga 25.000 saja untuk bioskop se-lux itu, kami pun masuk ke teater satu dan menonton film "Wrath of the Titans"

Wrath of the Titans

Film ini mengisahkan tentang salah satu anak Dewa Zeus, bernama Perseus (diperankan oleh Sam Worthington) yang menjadi nelayan bersama anaknya, Helius, setelah memutuskan untuk menjadi manusia setengah dewa. Pada suatu hari, ketika dia sedang mencari ikan, Perseus didatangi oleh Zeus. Zeus datang untuk memberitahukan bahwa dinding Tartarus--neraka yang dijaga Hades (adik Zeus)--mulai melemah.

Ares si Dewa Perang, mengkhianati ayah sendiri

Dinding Tartarus ini adalah dinding yang dibuat untuk memenjarakan Kronos, ayah Zeus sendiri. Kronos yang telah berbuat kekeliruan, harus dipenjarakan dalam Tartarus dan dijaga oleh Hades, sehingga Hades sendiri membenci Zeus karena menganggap kalau dia itu diasingkan. Setelah kedatangan Zeus itu, Zeus sendiri pergi ke Tartarus dan Perseus mulai berpikir bahwa perang besar akan terjadi.

Di tengah hidup Perseus yang menyenangkan, tiba-tiba saja Zeus dan Poseidon (adik Zeus yang satunya, paman Perseus), dikhianati oleh Hades dan juga Ares--anak dari Zeus yang berbeda ibu dengan Perseus. Zeus ditangkap dan diikat pada ujung Tartarus, sehingga Kronos--ayah yang berkhianat--bisa menyerap kekuatan Zeus dan bangun dari Tartarus.

Perseus membunuh Chimera

Tartarus yang semakin rusak pun akhirnya hancur dan melepaskan berbagai makhluk mengerikan seperti Chimera, makhluk terbang berkepala dua yang menyemburkan api. Chimera mengobrak-abrik perkampungan Perseus. Perseus yang berhasil membunuh Chimera, mengajak anaknya untuk memanggil Zeus ke tanah tempat dewa datang. Tampilan tempat ini sekilas memang mirip dengan reruntuhan Acropolis di Yunani sana. Perseus memanggil ayahnya, namun yang datang adalah pamannya, dewa Poseidon itu sendiri. Dan Poseidon pun memberikan informasi bahwa Zeus ditangkap. Perseus harus mencari "Yang Terbuang" lewat perantara Agenor, anak Poseidon.

Perseus pun pergi ke tempat Ratu Andromeda yang sedang mempersiapkan perang. Dia menemui Agenor di penjara bawah tanah, yang sedang disiksa karena kasus pencurian. Dalam hal ini, kita bisa mengambil kesimpulan atau budaya yang mengakar, bahwa anak Poseidon memang dilahirkan sebagai anak yang tidak berguna. Padahal, sebenarnya Agenor sendiri memiliki potensi dalam satu hal, strategi dan navigasi (menurut dia sendiri, sih. Hehe). 

Perseus, Ratu Andromeda, dan Agenor di tengah jalan pintas Tartarus

Setelah bertemu Agenor, mereka pun sama-sama menemui Hephaestus, suami dari Aphrodite. Hephaestus ini adalah dewa jenius yang membuat tombak petir Zeus, trisula Poseidon, dan garpu milik Hades. Ketiga tongkat dewa ini jika disatukan akan membentuk tongkat Triam  yang dapat membunuh Kronos.

Pencarian Hephaestus mengarungi lautan, sampai pada pulau terpencil dengan kependudukan raksasa Cyclops. Dari Cyclops inilah semuanya diantarkan pada Hephaestus yang bisa menunjukkan jalan pintas Tartarus. Di tengah jalan, kebodohan Korrina, salah satu prajurit Andromeda membuat Hephaestus mati di tangan Ares. Di tengah gentingnya kondisi, Korrina malah berdoa pada Ares sang dewa perang dan membuat Ares membunuh Korrina dan juga Hephaestus. Mereka pun kehilangan satu-satunya orang jenius yang dapat membantu mereka menuju Tartarus. Setelah melewati keributan di antara orang yang tersisa, akhirnya mereka pun sampai ke Tartarus. Mereka melepaskan Zeus, meninggalkan Hades dan Ares, lalu pulang ke barak Ratu Andromeda.

Cyclops di pulau terpencil mengingatkan kita akan Dajjal, #eh

Masalah selanjutnya muncul ketika Perseus harus mengambil petir Zeus yang ada di tangan Ares. Dengan menculik anak Perseus, Ares pun membuat strategi. Perseus datang dan harus bertarung dengan Ares dan juga Kronos di depan anaknya, sebagai manusia setengah dewa.

Akhir kisah ini cukup menyenangkan, karena Hades dan Zeus pun saling memaafkan. Hades tak menjadi dewa lagi. Helius menjadi anak pemberani, Perseus hidup bersama Ratu Andromeda, dan tokoh-tokoh jahat pun mati. Beberapa yang belum dianggap pahlawan, akhirnya pun menjadi pahlawan, seperti Agenor. Beberapa yang baik, tak jarang mati lebih dulu. Yang sejak dulu kisah dalam mitologi Yunani memang sudah seperti itu, digambarkan kembali secara gamblang namun berbeda kisah. Hasilnya masih tetap sama seperti mitologi Yunani yang sebenarnya. Dan dari film inilah, kita bisa mempelajari budaya perdewaan kuno di Yunani dan mitologinya. Siapa menikahi siapa, memiliki anak siapa, dewa ini istrinya siapa, dan anaknya siapa. Tidak begitu buruk bagi film fantasi untuk sekaligus memberikan pengajaran akan pemahaman lain dari sebuah budaya. Dan karena itulah saya memberikan rating tinggi untuk film ini. Bagi yang belum sempat nonton, atau ingin lihat trailer-nya, silakan cari sendiri yaaa di Youtube. Hehe. [Ayu]

Judul: Wrath of the Titans
Sutradara: Jonathan Liebesman
Sequel: Clash of the Titans
Pemain: Sam Worthington (Perseus), Rosamund Pike (Andromeda), Bill Nighy (Hephaestus), Edgar Ramirez (Ares --> ganteng ^^), Toby Kebbell (Agenor), Danny Huston (Poseidon), Ralph Fiennes (Hades), Liam Neeson (Zeus), John Bell (Helius)
Distribusi: Warner Bros Films
Rilis: 30 Maret 2012
Rating: 4.5 / 5 
Gambar: random google