ON STORE

ON STORE

Tuesday, March 27, 2012

Jangan Main-Main Dengan...

Djenar Maesa Ayu
Hari Selasa ini adalah waktunya untuk review buku ke-14 dalam reading list yang saya harus selesaikan di tahun 2012. Dan untungnya, sesuai target, sepertinya saya bisa membereskan limabelas buku untuk bulan ke-3 di tahun 2012 ini. 

Buku ke-14 ini sepertinya tidak akan jauh-jauh dari tema dua buku di minggu-minggu sebelumnya. Buku kali ini masih berkutat di seputar kehidupan dewasa. Hehe. Bukannya saya suka cerita-cerita berbau vulgar. Saya membacanya terlebih karena saya lebih dulu membaca tema yang ditawarkan. Kali ini, marilah kita angkat tema feminisme.

Buku ke-14 ini adalah buku dari seorang penulis berbakat dan kerap kali memenangkan penghargaan dan juga nobel sastra di Indonesia maupun luar negeri. Kenalkah kalian pada Djenar Maesa Ayu? Nah, itulah nama penulisnya. Dan buku yang saya baca dari penulis tersebut berjudul Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu).

Ada sebelas cerita pendek dalam buku ini. Kesemuanya mengisahkan tentang perempuan dan problematikanya. Awal-awal membaca cerpen pertama, memang agak membingungkan karena bercerita dari sudut pandang empat orang yang berbeda. Yang mencirikan khas Djenar pun tergambar dari setiap cerpen. Cinta semalam, seksologi, perempuan malam, desah dan peluh, juga ciri khas lain yang mungkin akan kalian dapatkan kalau membaca karya-karya Djenar yang lain.

Cover Jangan Main-Main
Salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Djenar ini sempat menjadi cerpen terbaik Jurnal Perempuan pada tahun 2002 dalam rangka mengkampanyekan "Anti Kekerasan Pada Perempuan". Cerpen yang dimaksud berjudul "Menyusu Ayah" dan menggambarkan seorang gadis bernama Nayla yang rindu Ibu, sehingga mengganti sosok Ibu dengan Ayah.

Cerpen berjudul "Staccato" dituliskan dengan gaya penulisan menarik. Pemotongan-pemotongan kalimat yang berulang dan bergaya susul-menyusul sehingga menjadi menarik. Meski tema yang disajikan tak jauh dari hal yang berbau "vulgar", tak mengurangi keindahan unsur literatur Indonesia. 

Cerpen yang tak kalah menarik adalah cerpen berjudul "Moral". Membahasakan bagaimana moral bisa dibeli. Membahasakan bagaimana moral dijual murah, dikalahkan dengan rok mini yang berharga lebih mahal. Membahasakan bagaimana orang-orang di pesta, memakai "moral" sedangkan seorang perempuan dan sahabatnya yang trans-gender tak memakai moral. Ini menampar semua orang dan bagian terakhir cerpen yang berbunyi, "Hari ini moral diobral di DPR lima ribu tiga!", jelas menampar pemerintahan. Bagaimana tidak? Demi uang dan tahta, moral rela diobral pemerintah busuk kita.

Cerpen lain tentang problematika perempuan atas kecantikan fisik tergambar dalam cerpen berjudul "Payudara Nai-Nai". Nai-Nai seorang Tionghoa yang mempertanyakan, kenapa dirinya dinamai Nai-Nai? Padahal, arti Nai-Nai sendiri adalah payudara sehingga membuat dirinya diolok-olok teman karena namanya tidak sesuai dengan bentuk fisiknya. Hal tersebut membuat Nai-Nai jadi semakin gila. Dia senang membaca stensilan yang akan dijual ayahnya pada malam hari dan dia seringkali berfantasi.

Cerpen-cerpen lainnya bisa dibaca sendiri dalam buku kumpulan cerpen ini. Semua cerpen yang ada dalam buku tersebut bukanlah cerpen seks semata melainkan cerpen yang di dalamnya tersisipkan perasaan dan hal yang ditabukan masyarakat. Betapa peran perempuan pengganti sangatlah besar dan betapa perempuan begitu berharga dan sudah seharusnya untuk dihargai dan dihormati. Betapa perempuan menjadi bermasalah bukan karena dirinya ingin, tetapi karena suatu faktor yang membuatnya begitu. [Ayu]

Judul Buku: Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)
Pengarang: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2004
ISBN: 9789792206708
Page: 200
Genre: Kumpulan Cerpen, Bacaan Dewasa, Feminisme
Harga: Rp 35.500,-
Rate: 3 / 5
Pics: random from Google

Sunday, March 25, 2012

Hati-Hati Berbagi Suami!

Berbagi suami atau sebuah kejadian yang dialami istri dalam poligami adalah sesuatu yang tidak dilarang oleh Islam. Yang menjadikannya terlarang adalah apabila sang istri mulai tak ikhlas dipoligami dan sang suami tak lagi bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya, baik secara materi maupun batiniah. Dan semua hal tentang poligami memang masih menjadi perdebatan di kalangan feminis yang pro maupun tidak.

Pandangan lain tentang poligami, saya dapatkan dari sebuah film. Betapa poligami membuat ikatan batin antar istri-istri menjadi kuat. Betapa poligami pun bisa membuat istri-istri bertengkar, karena kadang itulah yang terjadi di antara para istri.

Seperti kisah poligami dari tiga perempuan dengan latar belakang berbeda dan hidup dalam kerangka yang berbeda. Dari kerangka tersebut, terdapat benang merah antara perempuan-perempuan itu sehingga kalau kita perhatikan dengan jeli, kita sebenarnya berada di waktu yang sama, dengan kisah berbeda. Jenis film seperti itu sudah cukup banyak kita temukan, namun jarang sekali ada insan perfilman yang berhasil menggabungkan beberapa kisah dalam satu waktu. Dan jenis film seperti itu, sangat apik digarap oleh Nia Dinata sang sutradara yang menghasilkan film dengan judul Berbagi Suami

Berbagi Suami

Film ini mengisahkan tentang kejadian poligami pada tiga orang perempuan dengan latar belakang berbeda. Adalah Salma (Jajang C. Noer) yang berbahagia menjalani kehidupannya sebagai dokter bersama suaminya, Pak Haji Ali Imron (El Manik) yang merupakan seorang pengusaha sekaligus politikus dan mempunyai seorang anak bernama Nadin (Winky Wiryawan). Tanpa sepengetahuan Salma, ternyata Pak Haji melakukan poligami dan menikah secara siri. Pertama-tama, Salma mengetahui kalau Pak Haji mempunyai istri muda yang pertama bernama Indri (Nungki Kusumastuti) dan istri muda lagi bernama Ima (Atiqah Hasiholan). Salma sendiri tak menyukai kelakuan suaminya, namun memilih diam dan hidup senang saja bersama anaknya, Nadin. Sampai beberapa saat kemudian, Pak Haji Ali sakit stroke dan lumpuh. Nadin tetap membenci ayahnya meskipun Salma sudah memintanya untuk memaafkan Pak Haji. Sebelum Pak Haji menghembuskan nafas terakhirnya, Pak Haji membisikkan sesuatu yang tak akan pernah dilupakan oleh Nadin dan membuat dia memaafkan ayahnya. Sebelum meninggal, Pak Haji malah sempat berkelakar, "Nadin, nanti kalau punya istri satu aja, jangan banyak-banyak. Pusing...." Begitulah kata Pak Haji sebelum meninggal. Saat pemakaman, ternyata ada seorang perempuan muda yang menangisi kepergian Pak Haji dan dia mengaku sebagai istri Pak Haji. Sepeninggal Pak Haji, Nadin menjadi sukarelawan untuk bencana tsunami Aceh meskipun dulu dia sempat menolak mentah-mentah ajakan Pak Haji untuk ikut sebagai relawan.

Kondisi Rumah Kontrakan Pak Lik
Kisah kedua bercerita tentang Siti (Shanty), seorang perempuan Jawa yang dibawa oleh Pak Liknya yang bekerja di kota. Siti tinggal di rumah Pak Lik (Lukman Sardi), bersama dua orang istri Pak Lik yang bernama Sri dan Dwi (diperankan oleh Ria Irawan dan Rieke Dyah Pitaloka). Pertama-tama, Siti datang untuk kursus kecantikan sembari membantu Pak Lik mengurus anak-anaknya. Lama kelamaan, Pak Lik bermaksud untuk mempersunting Siti, meski Siti menerima lamaran dan melakukan akad nikah dengan derai air mata. Istri-istri Pak Lik yang lain hanya bisa memberitahukan bahwa niat suaminya membawa Siti memang untuk melihat keterampilannya dan mempersuntingnya. Istri-istri Pak Lik sangat baik dan menerima Siti. Pada suatu ketika, Siti mengantar Sri periksa ke dokter kandungan karena Sri hamil lagi. Mereka pergi ke dokter Salma dan diberitahukan bahwa Sri terkena Gonorrhea karena kehidupan seksual yang tidak baik. Istri-istri Pak Lik langsung berspekulasi bahwa ini terjadi karena Pak Lik tidak sehat. Siti dan Dwi pun sepakat untuk minggat, tanpa sepengetahuan Sri. Saat mereka memutuskan untuk minggat, Siti dan Dwi menjalani kehidupan lesbian. Sepulang Pak Lik dari Aceh, sebagai supir pembantu, Pak Lik membawa istri lagi dan pada dini harinya, Siti dan Dwi kabur dari rumah.

Kisah ketiga bercerita tentang Ming (Dominique), seorang perempuan berusia 19 tahun yang bekerja di warung bebek Koh Abun (Tio Pakusadewo). Kecantikan Ming membuat semua orang jatuh hati, termasuk Koh Abun. Koh Abun pun berniat untuk menikahi Ming tanpa sepengetahuan Cik Linda (Ira Maya Sopha), istri Koh Abun. Ming diberi fasilitas mewah dan pada akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan, Cik Linda mengetahui bahwa Ming sudah diperistri Koh Abun. Ming akhirnya diusir dan sebelum Koh Abun pergi, dia sempat meninggalkan sejumlah uang untuk masa depan Ming. Ming pun akhirnya kembali pada kehidupan yang biasa saja untuk mengejar cita-citanya sebagai pemain film.

Cuplikan Adegan (kolase oleh Ayu)

Film Berbagi Suami terbagi dalam tiga segmen cerita yaitu cerita Salma, Siti dan Ming. Berbagi Suami adalah tuturan para perempuan yang menjalani kehidupan dipoligami dari kalangan usia, sosial dan etnis yang berbeda: Salma yang diperankan Jajang C Noer mewakili kalangan berpendidikan dengan strata sosial yang tinggi, berprofesi sebagai dokter, berlatar kultur Betawi di usia 50-an, bersuamikan pengusaha yang terjun ke dunia politik. Siti yang diperankan Shanty adalah perempuan dari pelosok Jawa, yang usianya mendekati 30-an; dan Ming yang diperankan Dominique, gadis keturunan Tionghoa yang berusia 19 tahun.

Ketiganya pernah bertemu meski tidak terlalu saling mengenal, namun mereka mengalami kondisi yang mirip: dipoligami. Berbagi Suami adalah penuturan Salma, Siti dan Ming tentang hidup dalam poligami.

Tak ada kisah pembunuhan, penyiksaan, atau adegan menyedihkan di film ini. Poligami yang wajar terjadi dalam kehidupan. Banyak yang pernah mengalaminya dan tak ada hal-hal klise seperti dalam sinetron. Kisah poligami yang disajikan pun malah membuka pikiran kita akan betapa tabunya poligami dan betapa abu-abunya. Ada keuntungan, ada pula kerugian.

Dan karena kisah inspiratif dari tiga perempuan kuat yang berbeda generasi inilah saya memberikan rating tinggi untuk film antar generasi ini. 

Judul: Berbagi Suami
Sutradara: Nia Dinata
Produksi: Kalyana Shira
Pemain: Jajang C. Noer, Shanty, Dominique, Ria Irawan, Rieke Dyah Pitaloka, Winky Wiryawan, El Manik, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Nungki Kusumastuti, Atiqah Hasiholan, Laudya C. Bella 
Rilis: 23 Maret 2006
Rating: 5 / 5

Tuesday, March 20, 2012

Politik, Penegakan HAM, dan Romantisme Dewasa

Ayu Utami with her bookshelves
Hari ini sudah hari Selasa dan itu berarti, saatnya untuk membahas tentang buku dan bumbu-bumbunya. Sebenarnya sih, mau bahas musik hari apa, film hari apa, buku hari apa, orang gondrong hari apa (eh), itu sih suka-suka saya saja. Hehe. Dan kebetulan, saya baru selesai baca buku. Setelah dibaca, tentu saja akan saya ulas di sini untuk teman-teman semua. Buku ke-13 yang saya baca tahun ini adalah salah satu buku karya penulis kelahiran tahun '68, Ayu Utami. Penulis sekaligus aktivis jurnalis ini menulis novel pertamanya yang berkutat di seputaran monotheisme dan militerisme. Novel yang rilis tahun '98 dan mendapat beberapa penghargaan itu diberi judul Saman

Saya sebenarnya mendapat buku ini karena dipinjamkan oleh seorang teman kantor. Saya yang hari itu sedang kurang dana untuk membeli buku, harus meminjam agar bisa memenuhi reading challenge yang serius diikuti dari Goodreads. Nyatanya, setelah saya mendapatkan buku untuk memenuhi target baca di urutan ke-13, saya malah beli buku lagi. Duh, susahnya jadi saya. Kalau jalan-jalan di Kinokuniya atau Gramedia, tidak bisa kalau tidak pulang tanpa satu kantung buku. Entah beli satu saja, atau berpuluh-puluh buku. Maklum,  masih dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca santai.

Kembali ke ulasan tentang Saman.

Sebenarnya saya ini ketinggalan zaman sekali kalau baru sempat baca Saman. Buku ini sudah laku beratus-ratus ribu eksemplar dan saya baru memilikinya. Hmm, ralat. Saya baru meminjamnya di tahun 2012 ini! Yah, bagaimana ya. Maklum, sekarang saya baru bekerja dan baru bisa beli buku sendiri. Jadi, baru mulai setahun belakangan ini saya mengumpulkan buku. 

Bagian Depan Novel Saman
Saman adalah salah satu tokoh di dalam buku dengan judul serupa. Nama Saman dipilih oleh si tokoh yang memang sedang menukar identitas dalam pelariannya. Sebelumnya, si tokoh Saman disebutkan bernama Wisanggeni. Wis adalah seorang agamis, seorang pastor muda yang menyerahkan seluruh hidup untuk mengabdi pada umat gereja. Namun, sejak kepergiannya ke sebuah kota kecil tempat dia dibesarkan, membuka hati dan pikiran humanisnya ke sebuah daerah terbelakang bernama Lubukrantau.

Di sana, dia mendapati seorang perempuan gila yang muda dan memiliki libido tinggi. Perempuan muda dan gila itu tak jarang mengganggu orang dengan kegiatan-kegiatan yang berbau seks. Maklum, namanya juga orang dengan mental terbelakang. Justru, itulah yang membuat Wis alias Saman, menjadi betah tinggal di Lubukrantau. Bukan, bukan karena keingingan seks milik Saman, tapi selebihnya hanya agar si Upi--nama gadis itu--memiliki teman dan tidak dikucilkan oleh orang sekitar.

Semakin berjalannya waktu, Saman pun akhirnya terlibat lebih kompleks dengan emosional orang-orang daerah Lubukrantau. Semakin hari, desa itu berubah. Ada perusahaan besar yang ingin memonopoli lahan Lubukrantau untuk dibuat perkebunan kelapa sawit. Semua itu membuat warga berontak. Upi diperkosa bahkan akhirnya mati karena terbakar dalam kebakaran buatan yang dimanipulasi oleh si cukong perusahaan itu saat membumihanguskan rumah warga.

Saman bersama yang lain berdemo dan bergerilya untuk melawan. Tapi, akhirnya Saman pun diculik dan dibungkam. Dia dimasukkan dalam sel dan disiksa sepanjang hari. Penggambaran ini mengingatkan kita akan penculikan misterius yang terjadi pada masa orde baru. Di sinilah eksistensi Ayu Utami dipertaruhkan. Banyak orang yang menilai bahwa Ayu Utami sangatlah berani, dengan mengangkat isu-isu yang terjadi pada masa itu.

Bagi saya, yang penting bukan unsur seks dewasa yang ada pada buku tersebut. Yang perlu ditekankan adalah sebuah keberanian dan keyakinan seseorang akan sesuatu. Entah agama, pemerintah, atau keyakinan diri sendiri. Dan novel Saman ini bisa membangkitkan seseorang untuk yakin dan berontak akan hal yang tidak sesuai dengan diri sendiri.

Nah, bagaimana? Tertarik membacanya? Silakan cari bukunya di ranah online atau di toko buku bekas yang sudah tersebar luas, karena saya tak yakin kalau buku ini masih diproduksi. Semoga saja masih, supaya bisa mendapat cetakan terbarunya yaaa. [Ayu]

Judul Buku: Saman
Pengarang: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Rilis: 1998
ISBN: 9799023173
Pages: 208
Genre: Roman Dewasa + Issues (Politic, Human Rights, Religion)
Harga: Rp 35.000,-
Rate: 4.5 / 5
Pics: random taken from Google


Tuesday, March 13, 2012

Dibuat Pusing Dengan "3 Cinta 1 Pria"

Berhubung saya akhir-akhir ini sedang kelewat bokek dan nggak ada kerjaan, saya rela deh baca buku sampai berhari-hari. Hehe. Sebenarnya itu alasan pembenaran. Pasalnya, saya akhir-akhir ini sedang coba-coba baca essay berat, terutama karya Goenawan Mohamad. Jadilah, buku yang saya beli dan saya jadikan buku bacaan untuk reading challenge di Goodreads malah terabaikan. Seharusnya, bulan Maret ini saya sudah bisa habis membaca 15 buku, karena satu bulan ditarget untuk membiasakan diri membaca buku sekurang-kurangnya 5 buku. Eh, karena kebanyakan buku yang pengen dibaca, saya malah nggak cepat-cepat membereskan reading challenge. Ya sudahlah, karena saya sudah sok-sok'an membaca 60 buku dalam setahun, sebagai reading challenge dan itu berarti, saya harus konsekuen sekaligus konsisten membaca.

Nah, saya pun akhirnya berhasil menuntaskan buku yang ke-12 di tahun ini. Saya membacanya sampai berminggu-minggu. Saya pikir, buku ini sejenis novel ringan satir. Eh, ternyata saya salah. Buku ini adalah buku novel dewasa-satir khas Arswendo Atmowiloto yang biasanya. Saya membacanya sambil berpusing-pusing ria. Tak jarang juga saya kembali ke bab sebelumnya, hanya untuk membuka pikiran saya yang dipusingkan dengan beberapa bab setelahnya. Saya harus bersusah-payah untuk membaca awal-awal cerita, karena seringkali lupa cerita sebelumnya, saat sedang berada di tengah-tengah konflik.

Saya tidak menyarankan kalian semua membacanya. Kenapa? Yaaaa karena begitulah. Sekali lagi, saya tekankan bahwa novel ini adalah novel DEWASA! Novel ini satir dan tidak jarang kita temui beberapa dialog yang 'mengundang'. Maksudnya, novel ini hanya diperuntukkan untuk pembaca dewasa dan 20 tahun ke atas, seperti saya. :))

Penampakan Buku Yang Fenomenal!
(Padahal saya pun kadang geli kalau sedang membacanya, karena darah tiba-tiba berdesir. Haha!)

Buku ini berkisah tentang seorang lelaki  bernama Bong. Lelaki yang tak punya orang tua, hidup seadanya, sampai dia bisa terkenal dengan ceritanya. Menjadi pelukis, terkena peluru tawuran, menjadi tukang pembuat kalung batu yang terkenal, dan membuat trend nasi goreng pedasdasdas. Lelaki yang suka sekali mengamati ikan lele, pohon talok, dan memakai sarung kemanapun.

Kisahnya dimulai ketika dia menjadi pelukis dan dipertemukan secara tidak sengaja dengan seorang perempuan bernama Keka. Dia jatuh cinta pada Keka, meski ditentang orang tua Keka. Mereka pun diam-diam berpacaran, bahkan bercinta. Sampai akhirnya, Bong mengerti bahwa inilah cinta sejati, meski tak berakhir di pelaminan.

Sampai Keka pergi dan menikah dengan lelaki yang tak dicintainya. Bong sedih, tapi tak marah. Dia pun datang dan menanyakan kabar, sampai Keka benar-benar tak bisa bertemu lagi karena divonis sakit. Bong pun bertemu anak Keka, yang dia panggil Ke. Ke ini rupanya jatuh cinta juga dengan Bong! Saat dia mengalami musibah karena kehamilan di luar nikah, Bong yang menolongnya. Dan Bong yang menyelamatkan bayi di kandungan Ke, agar tidak jadi digugurkan. Sejak itulah, anak Ke dipanggil Keka Siang, karena lahir siang hari.

Tampilan Imajinatif Bong
(menurut saya seperti ini dan kanan kiri
sama saja)
Gambar diambil random di google

Selang waktu berganti, selang generasi berganti. Entah apa yang Tuhan dan bumi lakukan. Dua generasi setelah Keka, mencintai Bong. Pada akhirnya, Keka yang sudah menjadi nenek pun cemburu dan meminta penjelasan. Bong tak bisa berkutik, karena dia paling tak bisa memilih. Dan akhir cerita ini adalah, Keka dan Keka Siang sama-sama menjadi istri Bong. Waw! Dua istri sekaligus! 

Sungguh novel yang sangat lucu kalau menurut saya. Dikemas dengan sederhana dan apa adanya. Tak ada kisah cinta yang seklise kisah cinta di novel-novel masa kini. Saya bisa maklum lah, karena novel ini ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Dan penggambaran tokoh Bong pun sangat apa adanya namun berkharisma. Gondrong, easy going, jarang ambil pusing namun bisa menjadi bijak sewaktu-waktu. Membaca ini saya jadi mengingat sosok teman-teman saya yang notabene dari kalangan seniman IKJ dan preman gondrong. :D

Novel ini saya rekomendasikan untuk kalian yang sudah dewasa dan ingin mengenal cinta yang apa adanya. Untuk pembaca di bawah 20 tahun, tidak disarankan untuk membaca ini ya! :D

Judul Buku: 3 Cinta 1 Pria
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2008
ISBN: 9789792240740
Pages: 296
Genre: Roman Dewasa
Harga: Rp 40.000,-
Rate: 4 / 5

Sunday, March 11, 2012

Cerita Dari Sebuah Jermal

Jermal adalah sebuah tempat di tengah laut, yang berfungsi sebagai tempat penjaringan ikan. Banyak anak-anak kecil yang terbuang, tak punya tempat tinggal, atau malah dipaksa bekerja oleh orang tuanya, di tengah Jermal. Mereka tak pernah pulang. Mereka yang bekerja di Jermal, mulai belajar hidup liar. Hidup dengan dibaluri dingin dan dihiasi hening. Mereka mencoba hidup dalam keterbatasan, bersama alam.

Saya suka naik gunung, suka menyusuri pantai dan rel di tengah siang hari yang terik. Namun, saya belum pernah sekalipun mencoba bagaimana hidup di tengah laut, apalagi Jermal. Setiap hari, pekerjaan saya mungkin hanya menadah ikan, menjaring ikan, mencucinya, dan hal lainnya. Setiap hari, mungkin saya tak akan mendengar jangkrik, melainkan suara udara dari perut ikan paus. Setiap hari, saya mungkin tidur dengan berjuta ancaman. Dan tak pernah sekalipun, saya membayangkan diri saya berada di tengah Jermal.

Setidaknya, itu sebelum saya menonton film keluaran tahun 2009, yang berjudul sama. Jermal, judul film itu.

poster film Jermal dari SINI

Film ini hampir mirip seperti Cast Away yang dibintangi oleh Tom Hanks. Hanya saja, film ini dilakoni oleh seorang anak kecil bernama Jaya (Iqbal S. Manurung), yang kehilangan ibunya dan diantar oleh seorang gagu pengantar logistik ke tengah Jermal. Seorang gagu itu diperankan oleh Yayu AW Unru, bagi yang ingin tahu.

Sesampainya di Jermal, ayah kandung Jaya yaitu Johar (Didi Petet), setengah mati tak menerima Jaya. Dia bersikap acuh dan masa bodoh. Jaya disiksa dan diberi pendidikan oleh anak-anak yang sudah lebih dulu bekerja di Jermal. Yang membelanya adalah Pak Gagu tersebut. Jaya tak tidur di dalam penampungan anak-anak itu. Jaya tak diberi tempat minum dan anak-anak itu mengganggunya, terutama si bos anak-anak itu yang diperankan oleh Chairil A. Dalimunte.

Jermal Boys (sumber di sini)

Jaya yang setiap hari menerima perlakuan kasar itu, perlahan mulai bertahan. Awal mulanya adalah ketika Jaya menyusup ke ruangan ayahnya dan meminum berbotol-botol simpanan bir milik Johar. Sampai malam dia mabuk dan duduk di pinggiran Jermal. Di tengah mabuknya Jaya, dia pun bergumam untuk memanggil ikan Paus yang sering lewat daerah Jermal itu. Dia mempelajari itu dari temannya yang juga ahli memanggil paus. Sampai pagi, Jaya akhirnya tertidur pulas. Saat itulah, ayahnya memanggil.

Semakin hari, Jaya semakin menjadi liar. Dia bisa bertahan dan melawan kerasnya hidup di tengah Jermal. Kebalikan dari itu, Johar menyadari bahwa Jaya memang anaknya, saat Pak Gagu melempar surat-surat simpanan Johar, dari ibu Jaya. Surat itu tak pernah dibuka olehnya. Dan ketika dia buka, dia baru sadar kalau Jaya memang anaknya. Terketuklah pintu hatinya dan dia mencoba untuk membuka hatinya.

adegan di film Jermal (sumber gambar di sini)

Sayang, ketika sang ayah membuka hatinya, Jaya sudah terlanjur kecewa. Dia melawan semua, termasuk ayahnya. Keliaran di Jermal telah membuat dirinya semakin berontak. Begitulah memang, yang sering dikatakan para pecinta alam. Mengutip lagu dari film Gie, "Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Hakikat manusia." Itulah yang terjadi pada Jaya.

Semakin hari semakin liar, Johar pun mulai bercerita pada Jaya saat mereka berdua kebetulan sedang duduk di samping Jermal berdua. Johar berkata kalau dia akan membawa Jaya pulang. Jaya pun mulai mengerti, bahwa hidup dia dan ayahnya bukanlah di Jermal. Mereka pun sepakat untuk pulang. Esoknya, mereka pun pulang.

Film ini tak banyak mengambil latar tempat. Tempat yang digunakan memang benar-benar Jermal, di tengah laut. Orang-orangnya pun tidak begitu banyak. Dan ceritanya terfokus pada Jaya, yang belajar hidup. Saya mengambil pesan yang sangat keren dari film tersebut. Banyak pelajaran hidup yang tidak didapatkan di daratan. Oleh karena itu, saya memberi nilai 5 untuk film ini, dari skala 5.

Judul: Jermal
Sutradara: Ravi Bharwani, Rayya Makarim,Utawa Tresno
Pemain: Didi Petet, Yayu AW. Unru, Iqbal S. Manurung, Chairil A. Dalimunte
Rilis: 12 Maret 2009
Rate : 5 / 5