Thursday, March 29, 2012

[Musik] Bali Total Grunge Compilation 2011 - Vol. 1

Sudah sejak lama saya ingin membuat ulasan tentang sebuah album yang sedang ada di tangan saya sekarang. Saya sudah memilikinya sejak lama namun tak juga menemukan Kamis yang tepat untuk membuat ulasannya. Album ini sendiri saya dapatkan dari seorang musisi bernama Ricky Respito, personil Respito (band Grunge), sekaligus pemilik Omahku Studio Musik.

Album ini merupakan album kompilasi yang dibuat oleh komunitas Grunge Bali bernama Bali Total Grunge. Band yang ada di dalamnya pun sangatlah beragam. Mulai dari jenis musik, unsur instrumen yang dimainkan, dan juga tema lirik dari lagu mereka. Semua hal itu membuat perbedaan yang ada dalam album ini terkesan indah. Perbedaan yang terjadi bukannya membuat perpecahan malah membuat warna musik yang semakin beragam saja. Di samping itu, keindahan perbedaan itu bisa menyatukan seluruh penggiat scene Grunge di Bali dan Indonesia tentunya.

Dan bagaimanakah bentuk dari album kompilasi keren dari komunitas yang juga keren ini? Sila disimak.

Patrick dan CD Kompilasi BTG
(Lihat! Gambar Kurt memakai udeng! :D)


Pertama membuka sampul plastik album tersebut, saya terkesima melihat design cover yang sangat unik. Raster gambar Kurt Cobain yang mengenakan udeng (ikat kepala khas Bali) terlihat mendominasi hampir seluruh bagian depan cover album tersebut. Wah, ini keren sekali! Menurut saya, yang membuat kompilasi ini berbeda dari kompilasi lainnya adalah karena desain sederhana yang identik dan berbeda dari album-album kompilasi lainnya.

Tampilan CD dan kemasannya
Desain sederhana berlatar belakang putih kekuning-kuningan dengan detil biru muda, membuat album ini layak dipandang mata. Malah terkesan menyegarkan kalau menurut saya. Nama sang desainer tercetak di bagian belakang album, berikut keterangan-keterangan lain tentang album itu. Kalau tidak salah, gambar Kurt Cobain dengan udeng itu diplesetkan oleh Robi Navicula dari cover buku "Heavier Than Heaven". Bagian dalam album ini juga sangat eyecatchy sekali lho teman! Mulai dari sebelah kanan yang menceritakan kronologi berdirinya Bali Total Grunge oleh "Ketut Cobain" dan di sebelah kiri ada penjelasan singkat tentang band-band yang mengisi kompilasi. Ada fanpage, contact person, dan akun twitter dari band-band di dalam kompilasi.

Sekitar tanggal 20 Maret yang lalu, sambil mendengarkan lagu-lagu dari album kompilasi ini, saya menyempatkan diri untuk membuat review 140 karakter dalam twitter @ayuiniteh terkait album kompilasi ini. Ulasan pendek ini bisa dibaca dengan hashtag #balitotalgrungecompilation. Dan kurang lebih, seperti inilah poin-poin dari ulasan di twitter.

  1. banyak unsur silverchair dan riff-riff nada rendah di Bali Total Grunge Compilation vol. 1... hmmm... #balitotalgrungecompilation
  2. ada sedikit unsur rock 'n roll juga loh ternyata!!! #balitotalgrungecompilation
  3. tema yang diusung beragam. ada yang mengangkat tema seputar isu negara dan realitas wanita #balitotalgrungecompilation
  4. efekbatik dengan hate the doctor yang berdistorsi rendah, hampir mirip dengan israel son, pada bagian awalnya. #balitotalgrungecompilation
  5. spankmonera dng lagu damai, menarik d bag. awal, ada sliding senar! :D namun masuk beat awal, agak lambat. #balitotalgrungecompilation
  6. @naviculamusic dengan metropolutan, hmm. berhubung sudah dengar, jadi tidak begitu banyak komentar u/ ini. :D #balitotalgrungecompilation
  7. in utero w/ bumi pertiwi. ad efek laser2 gitu di awal. :D saya suka suara vokalisnya. berat tp nyecep ke hati! #balitotalgrungecompilation
  8. midbangs w/ imajinasi liar. suka gitar di awal, krn kesannya jadi etnik. teriakan di tengah lagu memberi klimaks #balitotalgrungecompilation
  9. nymphea w/ peace. ini satu2nya band yg bervokalis wanita. u/ lagu sekeras ini, vokalisnya mampu membawa dinamika #balitotalgrungecompilation
  10. naughtoria w/ nafsu amoral. wow! saya seperti mendengar koil + silverchair nih! mirip spawn again apa gimana yaaa? :D.
  11. nah, ini nocturnal w/ she, lagunya agak mirip the calling malah. :D tapi suara vokalisnya empuk banget. #balitotalgrungecompilation
  12. otakering w/ manusia fermentasi ini yang agak berbau nirvana. yg membedakan cm cr nyanyinya, di-sliding. #balitotalgrungecompilation
  13. electric w/ wanita liar. vol. gitarnya agak krg sih. tp mungkin mmg dbwt sprti itu biar serupa ruang redam kali. #balitotalgrungecompilation
  14. moist vagina - kupu2 malam. agak mirip smells like teen spirit nirvana tp it's okay lah, nmany jg influence. ^^ #balitotalgrungecompilation
  15. negative - die. inipun sepertinya terinfluence dari nirvana. :D malah dinamikanya mirip sekali. mirip lagu ap y? #balitotalgrungecompilation
  16. balian - lost at sea. waaaah ini saya suka. malah kayak the sigit loh! :D jadi nuansa rokenroll juga ada nih. :D #balitotalgrungecompilation
  17. valium - sebut dia. yang ini juga unik. vokalnya unik, dinamika lagu jg naik-turun, ngga datar. musikalitas top! #balitotalgrungecompilation
  18. nameless noise - the moon & me. akhir2 album malah brnuansa rokenroll & a little touch of blues/folks. cool! #balitotalgrungecompilation
  19. ini bukan sok tahu, melainkan hanya penilaian dari orang luar yang objektif kok. #balitotalgrungecompilation
  20. nah, intinya adalah, tetap gemakan grunge dimanapun anda berada. salam grunge! #balitotalgrungecompilation

Dalam album kompilasi ini ada 15 band yang mengisi. Pembukaan album disambut oleh band bernama Efek Batik. Band ini mengisi kompilasi dengan lagu "Hate the Doctor". Pada awal lagu, kita akan mendengar solo bass yang sekilas mirip dengan Israel Son dari Silverchair. Dan pada tengah lagu, kita akan mendengar teriakan-teriakan sebagai bentuk protes terhadap objek utama lagu, seorang dokter. Entah mengambil segi apa lagu ini. Sepertinya lagu ini mengambil tema penolakan mal praktek yang ditujukan langsung kepada si dokter sehingga menghasilkan bunyi-bunyian dengan riff bernada rendah yang sarat kekecewaan.

Spankmonera di track 2 dengan lagu Damai. Pada bagian awal memang beat-nya agak lambat, namun setelah bagian itu lewat ada sliding senar gitar yang membuat lagu ini jadi menarik. Dan setelah itu, dilanjutkan dengan Navicula. Lagu Metropolutan dari Navicula mengisi track 3 untuk kompilasi ini. Lagu ini adalah lagu yang familiar untuk kita semua. Lagu yang mengangkat realita di kota Jakarta dan segudang masalah saat kemacetan. Betapa lagu ini kaya akan konflik, meski hanya mengangkat tema yang sederhana, yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tampilan CD dan keseluruhan paket bagian dalam

Track 4 diisi oleh In Utero. Band ini mengisi dengan lagu berjudul Bumi Pertiwi. Lagu yang sarat pesan moral mengenai bangsa sendiri ini tak hanya mengedepankan komposisi lirik tetapi juga musikalitas. Efek laser yang ada dalam lagu membuat lagu ini semakin indah dan suara vokalis yang berat namun menyayat, mampu mengembangkan dinamika pendengar lagu. Setelahnya ada Midbangs dengan Imajinasi Liar. Diawali dengan gitar yang membuat kesan lagu ini jadi agak etnik dan kontemporer. Seperti petikan kecapi. Lagu yang sekilas seperti mendengar lagu bertipe psychadelic dan mengedepankan imajinasi yang liar. Dengan teriakan di tengah lagu, membuat lagu ini mencapai klimaksnya. 

Nymphea berada di posisi setelahnya. Band ini adalah pengisi kompilasi satu-satunya yang bervokalis wanita. Membawakan lagu berjudul Peace yang berisi pesan tentang perdamaian. Untuk lagu yang bertipe keras, riff kasar dan tempo agak kencang ini, Sari--nama vokalisnya--bisa membawa dinamika lagu tetap pada kontrol. Salut! Naughtoria dengan lagu Nafsu Amoral. Mengusung tema "wanita" lebih tepatnya, "wanita malam", band ini menghiasi lagunya dengan musikalitas yang menyerupai Koil bercampur Silverchair. Mendengar ini, saya seperti mendengar suramnya Silverchair pada lagunya yang berjudul Spawn Again.

Nocturnal dengan lagunya "She". Lagu ini diawali dengan petikan gitar yang sekilas menyerupai lagu The Calling--band yang sukses mempopulerkan lagu "Wherever You Will Go". Suara vokalisnya yang empuk membuat lagu ini sangat easy listening dibandingkan lagu lainnya yang sarat emosi. Namun, masih tetap bisa dinikmati kok oleh para pecinta Grunge. Selanjutnya ada Otakering dengan Manusia Fermentasi. Ini salah satu band yang lagunya membawa influence Nirvana. Yang membedakannya dengan Nirvana adalah suara vokalisnya yang tidak seperti Kurt. Suara Kurt agak serak dan berat, sedangkan vokalis band ini bersuara melengking dan membawakan lagu bernuansa Nirvana dengan teknik sliding vokal. Keren lho kawan!

Electric dengan Wanita Liar. Menurut saya, volume gitar dalam lagu ini agak kurang. Warna vokalnya juga agak aneh. Mungkin memang sengaja dibuat seperti itu agar terkesan seperti menyanyi dalam ruang redam dan direkam. Moist Vagina dengan Kupu-Kupu Malam. Lagu ini agak terkesan menyerupai Smells Like Teen Spirit-nya Nirvana. Mungkin memang influence band ini datang dari band legendaris Grunge itu. 

Selanjutnya ada band Negative dengan lagunya yang berjudul Die. Band ini yang membawa influence Nirvana dari segala aspek. Mulai dari teknik vokal, teknik permainan gitar dan hentakan drum, tak lupa juga dinamika musik yang mirip Nirvana. Untunglah artikulasi penyampaian lirik cukup jelas dan melodi rumit nan terstruktur menghiasi lagu ini. Balian dengan Lost at Sea. Wah, ini nih yang paling saya suka! Grunge yang tidak melulu harus distorsi kasar. Permainan melodi dan musikalitas yang sangat dekat dengan Rock 'n Roll atau Blues! Saya seperti mendengar Grunge, dibawakan oleh The S.I.G.I.T.

Selanjutnya ada Valium dengan Sebut Dia. Yang ini sangat unik lho kalau menurut saya. Dinamika lagu dan juga warna vokalnya sangat unik. Seperti membaca cerita dalam alur maju dan mundur. Bedanya, yang ini tidak melulu datar. Ya seperti yang saya bilang, dinamikanya naik-turun dan menurut saya, band ini memiliki musikalitas bagus. Yang terakhir ada Nameless Noise dengan The Moon and Me. Mendengar nama band, saya kira akan ada unsur noise yang gila dari band ini. Ternyata, saya dibuat terhenyak dengan musikalitas yang sangat Rock 'n Roll sekali! Bernuansa Blues dan juga Folks. Tidak begitu banyak noise yang sengaja dimainkan. Wah, menjelang akhir album ditutup dengan hiasan Folks! Sangat tidak terduga. 

Itulah cuplikan ulasan mengenai Bali Total Grunge Compilation Volume 1, yang diluncurkan tahun 2011 itu. Betapa perbedaan terlihat indah dan sejuk di telinga, membuat kita semakin mencintai produk dalam negeri yang masih mempertahankan idealisme dalam bermusik. Tentunya dalam musik yang berkualitas dan mengedepankan perbedaan untuk idealis bersama-sama. [Ayu]

=========================================
Info lebih lanjut, jika ingin memesan atau mendengar demo lagu:

Tuesday, March 27, 2012

Jangan Main-Main Dengan...

Djenar Maesa Ayu
Hari Selasa ini adalah waktunya untuk review buku ke-14 dalam reading list yang saya harus selesaikan di tahun 2012. Dan untungnya, sesuai target, sepertinya saya bisa membereskan limabelas buku untuk bulan ke-3 di tahun 2012 ini. 

Buku ke-14 ini sepertinya tidak akan jauh-jauh dari tema dua buku di minggu-minggu sebelumnya. Buku kali ini masih berkutat di seputar kehidupan dewasa. Hehe. Bukannya saya suka cerita-cerita berbau vulgar. Saya membacanya terlebih karena saya lebih dulu membaca tema yang ditawarkan. Kali ini, marilah kita angkat tema feminisme.

Buku ke-14 ini adalah buku dari seorang penulis berbakat dan kerap kali memenangkan penghargaan dan juga nobel sastra di Indonesia maupun luar negeri. Kenalkah kalian pada Djenar Maesa Ayu? Nah, itulah nama penulisnya. Dan buku yang saya baca dari penulis tersebut berjudul Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu).

Ada sebelas cerita pendek dalam buku ini. Kesemuanya mengisahkan tentang perempuan dan problematikanya. Awal-awal membaca cerpen pertama, memang agak membingungkan karena bercerita dari sudut pandang empat orang yang berbeda. Yang mencirikan khas Djenar pun tergambar dari setiap cerpen. Cinta semalam, seksologi, perempuan malam, desah dan peluh, juga ciri khas lain yang mungkin akan kalian dapatkan kalau membaca karya-karya Djenar yang lain.

Cover Jangan Main-Main
Salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Djenar ini sempat menjadi cerpen terbaik Jurnal Perempuan pada tahun 2002 dalam rangka mengkampanyekan "Anti Kekerasan Pada Perempuan". Cerpen yang dimaksud berjudul "Menyusu Ayah" dan menggambarkan seorang gadis bernama Nayla yang rindu Ibu, sehingga mengganti sosok Ibu dengan Ayah.

Cerpen berjudul "Staccato" dituliskan dengan gaya penulisan menarik. Pemotongan-pemotongan kalimat yang berulang dan bergaya susul-menyusul sehingga menjadi menarik. Meski tema yang disajikan tak jauh dari hal yang berbau "vulgar", tak mengurangi keindahan unsur literatur Indonesia. 

Cerpen yang tak kalah menarik adalah cerpen berjudul "Moral". Membahasakan bagaimana moral bisa dibeli. Membahasakan bagaimana moral dijual murah, dikalahkan dengan rok mini yang berharga lebih mahal. Membahasakan bagaimana orang-orang di pesta, memakai "moral" sedangkan seorang perempuan dan sahabatnya yang trans-gender tak memakai moral. Ini menampar semua orang dan bagian terakhir cerpen yang berbunyi, "Hari ini moral diobral di DPR lima ribu tiga!", jelas menampar pemerintahan. Bagaimana tidak? Demi uang dan tahta, moral rela diobral pemerintah busuk kita.

Cerpen lain tentang problematika perempuan atas kecantikan fisik tergambar dalam cerpen berjudul "Payudara Nai-Nai". Nai-Nai seorang Tionghoa yang mempertanyakan, kenapa dirinya dinamai Nai-Nai? Padahal, arti Nai-Nai sendiri adalah payudara sehingga membuat dirinya diolok-olok teman karena namanya tidak sesuai dengan bentuk fisiknya. Hal tersebut membuat Nai-Nai jadi semakin gila. Dia senang membaca stensilan yang akan dijual ayahnya pada malam hari dan dia seringkali berfantasi.

Cerpen-cerpen lainnya bisa dibaca sendiri dalam buku kumpulan cerpen ini. Semua cerpen yang ada dalam buku tersebut bukanlah cerpen seks semata melainkan cerpen yang di dalamnya tersisipkan perasaan dan hal yang ditabukan masyarakat. Betapa peran perempuan pengganti sangatlah besar dan betapa perempuan begitu berharga dan sudah seharusnya untuk dihargai dan dihormati. Betapa perempuan menjadi bermasalah bukan karena dirinya ingin, tetapi karena suatu faktor yang membuatnya begitu. [Ayu]

Judul Buku: Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)
Pengarang: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2004
ISBN: 9789792206708
Page: 200
Genre: Kumpulan Cerpen, Bacaan Dewasa, Feminisme
Harga: Rp 35.500,-
Rate: 3 / 5
Pics: random from Google

Sunday, March 25, 2012

Hati-Hati Berbagi Suami!

Berbagi suami atau sebuah kejadian yang dialami istri dalam poligami adalah sesuatu yang tidak dilarang oleh Islam. Yang menjadikannya terlarang adalah apabila sang istri mulai tak ikhlas dipoligami dan sang suami tak lagi bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya, baik secara materi maupun batiniah. Dan semua hal tentang poligami memang masih menjadi perdebatan di kalangan feminis yang pro maupun tidak.

Pandangan lain tentang poligami, saya dapatkan dari sebuah film. Betapa poligami membuat ikatan batin antar istri-istri menjadi kuat. Betapa poligami pun bisa membuat istri-istri bertengkar, karena kadang itulah yang terjadi di antara para istri.

Seperti kisah poligami dari tiga perempuan dengan latar belakang berbeda dan hidup dalam kerangka yang berbeda. Dari kerangka tersebut, terdapat benang merah antara perempuan-perempuan itu sehingga kalau kita perhatikan dengan jeli, kita sebenarnya berada di waktu yang sama, dengan kisah berbeda. Jenis film seperti itu sudah cukup banyak kita temukan, namun jarang sekali ada insan perfilman yang berhasil menggabungkan beberapa kisah dalam satu waktu. Dan jenis film seperti itu, sangat apik digarap oleh Nia Dinata sang sutradara yang menghasilkan film dengan judul Berbagi Suami

Berbagi Suami

Film ini mengisahkan tentang kejadian poligami pada tiga orang perempuan dengan latar belakang berbeda. Adalah Salma (Jajang C. Noer) yang berbahagia menjalani kehidupannya sebagai dokter bersama suaminya, Pak Haji Ali Imron (El Manik) yang merupakan seorang pengusaha sekaligus politikus dan mempunyai seorang anak bernama Nadin (Winky Wiryawan). Tanpa sepengetahuan Salma, ternyata Pak Haji melakukan poligami dan menikah secara siri. Pertama-tama, Salma mengetahui kalau Pak Haji mempunyai istri muda yang pertama bernama Indri (Nungki Kusumastuti) dan istri muda lagi bernama Ima (Atiqah Hasiholan). Salma sendiri tak menyukai kelakuan suaminya, namun memilih diam dan hidup senang saja bersama anaknya, Nadin. Sampai beberapa saat kemudian, Pak Haji Ali sakit stroke dan lumpuh. Nadin tetap membenci ayahnya meskipun Salma sudah memintanya untuk memaafkan Pak Haji. Sebelum Pak Haji menghembuskan nafas terakhirnya, Pak Haji membisikkan sesuatu yang tak akan pernah dilupakan oleh Nadin dan membuat dia memaafkan ayahnya. Sebelum meninggal, Pak Haji malah sempat berkelakar, "Nadin, nanti kalau punya istri satu aja, jangan banyak-banyak. Pusing...." Begitulah kata Pak Haji sebelum meninggal. Saat pemakaman, ternyata ada seorang perempuan muda yang menangisi kepergian Pak Haji dan dia mengaku sebagai istri Pak Haji. Sepeninggal Pak Haji, Nadin menjadi sukarelawan untuk bencana tsunami Aceh meskipun dulu dia sempat menolak mentah-mentah ajakan Pak Haji untuk ikut sebagai relawan.

Kondisi Rumah Kontrakan Pak Lik
Kisah kedua bercerita tentang Siti (Shanty), seorang perempuan Jawa yang dibawa oleh Pak Liknya yang bekerja di kota. Siti tinggal di rumah Pak Lik (Lukman Sardi), bersama dua orang istri Pak Lik yang bernama Sri dan Dwi (diperankan oleh Ria Irawan dan Rieke Dyah Pitaloka). Pertama-tama, Siti datang untuk kursus kecantikan sembari membantu Pak Lik mengurus anak-anaknya. Lama kelamaan, Pak Lik bermaksud untuk mempersunting Siti, meski Siti menerima lamaran dan melakukan akad nikah dengan derai air mata. Istri-istri Pak Lik yang lain hanya bisa memberitahukan bahwa niat suaminya membawa Siti memang untuk melihat keterampilannya dan mempersuntingnya. Istri-istri Pak Lik sangat baik dan menerima Siti. Pada suatu ketika, Siti mengantar Sri periksa ke dokter kandungan karena Sri hamil lagi. Mereka pergi ke dokter Salma dan diberitahukan bahwa Sri terkena Gonorrhea karena kehidupan seksual yang tidak baik. Istri-istri Pak Lik langsung berspekulasi bahwa ini terjadi karena Pak Lik tidak sehat. Siti dan Dwi pun sepakat untuk minggat, tanpa sepengetahuan Sri. Saat mereka memutuskan untuk minggat, Siti dan Dwi menjalani kehidupan lesbian. Sepulang Pak Lik dari Aceh, sebagai supir pembantu, Pak Lik membawa istri lagi dan pada dini harinya, Siti dan Dwi kabur dari rumah.

Kisah ketiga bercerita tentang Ming (Dominique), seorang perempuan berusia 19 tahun yang bekerja di warung bebek Koh Abun (Tio Pakusadewo). Kecantikan Ming membuat semua orang jatuh hati, termasuk Koh Abun. Koh Abun pun berniat untuk menikahi Ming tanpa sepengetahuan Cik Linda (Ira Maya Sopha), istri Koh Abun. Ming diberi fasilitas mewah dan pada akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan, Cik Linda mengetahui bahwa Ming sudah diperistri Koh Abun. Ming akhirnya diusir dan sebelum Koh Abun pergi, dia sempat meninggalkan sejumlah uang untuk masa depan Ming. Ming pun akhirnya kembali pada kehidupan yang biasa saja untuk mengejar cita-citanya sebagai pemain film.

Cuplikan Adegan (kolase oleh Ayu)

Film Berbagi Suami terbagi dalam tiga segmen cerita yaitu cerita Salma, Siti dan Ming. Berbagi Suami adalah tuturan para perempuan yang menjalani kehidupan dipoligami dari kalangan usia, sosial dan etnis yang berbeda: Salma yang diperankan Jajang C Noer mewakili kalangan berpendidikan dengan strata sosial yang tinggi, berprofesi sebagai dokter, berlatar kultur Betawi di usia 50-an, bersuamikan pengusaha yang terjun ke dunia politik. Siti yang diperankan Shanty adalah perempuan dari pelosok Jawa, yang usianya mendekati 30-an; dan Ming yang diperankan Dominique, gadis keturunan Tionghoa yang berusia 19 tahun.

Ketiganya pernah bertemu meski tidak terlalu saling mengenal, namun mereka mengalami kondisi yang mirip: dipoligami. Berbagi Suami adalah penuturan Salma, Siti dan Ming tentang hidup dalam poligami.

Tak ada kisah pembunuhan, penyiksaan, atau adegan menyedihkan di film ini. Poligami yang wajar terjadi dalam kehidupan. Banyak yang pernah mengalaminya dan tak ada hal-hal klise seperti dalam sinetron. Kisah poligami yang disajikan pun malah membuka pikiran kita akan betapa tabunya poligami dan betapa abu-abunya. Ada keuntungan, ada pula kerugian.

Dan karena kisah inspiratif dari tiga perempuan kuat yang berbeda generasi inilah saya memberikan rating tinggi untuk film antar generasi ini. 

Judul: Berbagi Suami
Sutradara: Nia Dinata
Produksi: Kalyana Shira
Pemain: Jajang C. Noer, Shanty, Dominique, Ria Irawan, Rieke Dyah Pitaloka, Winky Wiryawan, El Manik, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Nungki Kusumastuti, Atiqah Hasiholan, Laudya C. Bella 
Rilis: 23 Maret 2006
Rating: 5 / 5

Tuesday, March 20, 2012

Politik, Penegakan HAM, dan Romantisme Dewasa

Ayu Utami with her bookshelves
Hari ini sudah hari Selasa dan itu berarti, saatnya untuk membahas tentang buku dan bumbu-bumbunya. Sebenarnya sih, mau bahas musik hari apa, film hari apa, buku hari apa, orang gondrong hari apa (eh), itu sih suka-suka saya saja. Hehe. Dan kebetulan, saya baru selesai baca buku. Setelah dibaca, tentu saja akan saya ulas di sini untuk teman-teman semua. Buku ke-13 yang saya baca tahun ini adalah salah satu buku karya penulis kelahiran tahun '68, Ayu Utami. Penulis sekaligus aktivis jurnalis ini menulis novel pertamanya yang berkutat di seputaran monotheisme dan militerisme. Novel yang rilis tahun '98 dan mendapat beberapa penghargaan itu diberi judul Saman

Saya sebenarnya mendapat buku ini karena dipinjamkan oleh seorang teman kantor. Saya yang hari itu sedang kurang dana untuk membeli buku, harus meminjam agar bisa memenuhi reading challenge yang serius diikuti dari Goodreads. Nyatanya, setelah saya mendapatkan buku untuk memenuhi target baca di urutan ke-13, saya malah beli buku lagi. Duh, susahnya jadi saya. Kalau jalan-jalan di Kinokuniya atau Gramedia, tidak bisa kalau tidak pulang tanpa satu kantung buku. Entah beli satu saja, atau berpuluh-puluh buku. Maklum,  masih dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca santai.

Kembali ke ulasan tentang Saman.

Sebenarnya saya ini ketinggalan zaman sekali kalau baru sempat baca Saman. Buku ini sudah laku beratus-ratus ribu eksemplar dan saya baru memilikinya. Hmm, ralat. Saya baru meminjamnya di tahun 2012 ini! Yah, bagaimana ya. Maklum, sekarang saya baru bekerja dan baru bisa beli buku sendiri. Jadi, baru mulai setahun belakangan ini saya mengumpulkan buku. 

Bagian Depan Novel Saman
Saman adalah salah satu tokoh di dalam buku dengan judul serupa. Nama Saman dipilih oleh si tokoh yang memang sedang menukar identitas dalam pelariannya. Sebelumnya, si tokoh Saman disebutkan bernama Wisanggeni. Wis adalah seorang agamis, seorang pastor muda yang menyerahkan seluruh hidup untuk mengabdi pada umat gereja. Namun, sejak kepergiannya ke sebuah kota kecil tempat dia dibesarkan, membuka hati dan pikiran humanisnya ke sebuah daerah terbelakang bernama Lubukrantau.

Di sana, dia mendapati seorang perempuan gila yang muda dan memiliki libido tinggi. Perempuan muda dan gila itu tak jarang mengganggu orang dengan kegiatan-kegiatan yang berbau seks. Maklum, namanya juga orang dengan mental terbelakang. Justru, itulah yang membuat Wis alias Saman, menjadi betah tinggal di Lubukrantau. Bukan, bukan karena keingingan seks milik Saman, tapi selebihnya hanya agar si Upi--nama gadis itu--memiliki teman dan tidak dikucilkan oleh orang sekitar.

Semakin berjalannya waktu, Saman pun akhirnya terlibat lebih kompleks dengan emosional orang-orang daerah Lubukrantau. Semakin hari, desa itu berubah. Ada perusahaan besar yang ingin memonopoli lahan Lubukrantau untuk dibuat perkebunan kelapa sawit. Semua itu membuat warga berontak. Upi diperkosa bahkan akhirnya mati karena terbakar dalam kebakaran buatan yang dimanipulasi oleh si cukong perusahaan itu saat membumihanguskan rumah warga.

Saman bersama yang lain berdemo dan bergerilya untuk melawan. Tapi, akhirnya Saman pun diculik dan dibungkam. Dia dimasukkan dalam sel dan disiksa sepanjang hari. Penggambaran ini mengingatkan kita akan penculikan misterius yang terjadi pada masa orde baru. Di sinilah eksistensi Ayu Utami dipertaruhkan. Banyak orang yang menilai bahwa Ayu Utami sangatlah berani, dengan mengangkat isu-isu yang terjadi pada masa itu.

Bagi saya, yang penting bukan unsur seks dewasa yang ada pada buku tersebut. Yang perlu ditekankan adalah sebuah keberanian dan keyakinan seseorang akan sesuatu. Entah agama, pemerintah, atau keyakinan diri sendiri. Dan novel Saman ini bisa membangkitkan seseorang untuk yakin dan berontak akan hal yang tidak sesuai dengan diri sendiri.

Nah, bagaimana? Tertarik membacanya? Silakan cari bukunya di ranah online atau di toko buku bekas yang sudah tersebar luas, karena saya tak yakin kalau buku ini masih diproduksi. Semoga saja masih, supaya bisa mendapat cetakan terbarunya yaaa. [Ayu]

Judul Buku: Saman
Pengarang: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Rilis: 1998
ISBN: 9799023173
Pages: 208
Genre: Roman Dewasa + Issues (Politic, Human Rights, Religion)
Harga: Rp 35.000,-
Rate: 4.5 / 5
Pics: random taken from Google


Saturday, March 17, 2012

Abadi Jaya Milik Bersama

Hari Sabtu ini seharusnya saya kuliah kelas karyawan, tapi tidak masuk. Mata kuliah pertama dan kedua memang saya hadiri, namun yang ketiga ini tidak. Saya kabur dan langsung menyusuri jalan sepi menuju Situ Gintung. Dan tanpa basa-basi lagi, saya langsung menuju tempat tongkrongan pengamen, tukang parkir, dan anak-anak gondrong no maden.

Nama tempat itu Abadi Jaya. Sebelumnya, di pembahasan tentang "Kisah Mug Baru dan Kopi Liong", mungkin saya sudah sedikit banyak membahas tentang tempat reklame tersebut. Tempat ini berlokasi di Jalan Ir. Hj. Juanda, Ciputat, Tangerang Selatan. Tempatnya kira-kira dekat dengan belokan pasar Situ Gintung yang sering menjadi tempat berbelok angkot yang akan menuju Bintaro dan Pondok Ranji. Kalau agak sulit, dari arah Lebak Bulus Jakarta, reklame ini ada di seberang Holland Bakery.

Tempat ini penuh sejarah bagi saya dan beberapa orang yang mungkin pernah singgah di reklame. Sebelum reklame itu digusur dan pindah ke Situ Gintung, banyak orang-orang terlantar dan anak punk yang sering nongkrong atau numpang menginap di reklame. Jadi, reklame ini fungsinya hampir sama seperti yayasan sosial. Tidak ada pembedaan dan semuanya duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Meski sekarang lokasinya sudah pindah di dekat lahan parkir taman jajan di ruko terlantar milik Pelo--salah satu teman pengamen, namanya tetap saja sama, Abadi Jaya. Tempat boleh pindah, tapi nama dan sejarahnya akan tetap sama selagi orang-orang yang mengasuh Abadi Jaya masih hidup. Orang-orang di reklame memang menganut jiwa sosialis dan humanis yang tinggi, sehingga banyak orang yang betah meski harus tidur beralas terpal biasa.

Reklame Baru Pasca Gusuran BBS (Situ Gintung 2012)

Dulu sebelum Abadi Jaya yang lama digusur, banyak orang mampir. Baik itu dari kalangan mahasiswa dan orang yang ingin memesan ke reklame. Sekitar jam tujuh malam lewat, barulah berdatangan teman-teman reklame Zhygoth, baik dari kalangan punk, pengamen, anak vespa, tukang fotokopi di belakang kampus UIN, orang yang mau menjual handphone, bahkan pencuri terselubung.

Nah, pencuri terselubung ini yang perlu dicurigai. Ada kalanya orang-orang baru berdatangan. Mereka sok asyik, sok ingin kenalan, tapi ternyata mereka memiliki misi tersendiri. Contohlah, saya sedang charge handphone saya dan tiba-tiba ada orang yang bertato, bergaya pengamen, tapi nyatanya dia adalah orang baru. Sebagai orang yang lama nongkrong, pasti sudah bisa menghafal wajah-wajah di sekitar reklame Abadi Jaya. Orang tersebut jarang dilihat, dan itu patut dicurigai.

Benar saja, ketika dijebak, orang itu bertindak. Dia tertangkap basah sedang bersiap-siap mengambil handphone yang di-charge dan mungkin kalian sudah bisa menebak bagaimana selanjutnya. Hidup di jalanan memang keras dan yang bekerja di dalamnya adalah sistem jalanan. Sistem jalanan berarti peraturan jalanan yang sudah lebih dahulu mendarah daging di sekitar tempat nongkrong. Kalau memang di tempat nongkrong ada peraturan "pencuri harus dihajar dengan botol bir", itu pasti akan terjadi.

Untungnya, orang itu babak belur dengan cara yang tidak terlalu bar-bar dan menyesal. Dia minta ampun dan berjanji tidak akan mengulanginya. Selebihnya, kalau memang dia pengecut, maka dia tidak akan datang lagi. Sedangkan kalau setelah diberikan pelajaran dia datang lagi, itu berarti dia memang serius untuk belajar bagaimana cara sosialisasi yang benar.

Di Depan Reklame, Pinggir Jalan

Intinya sih, apa saja tentang reklame ini mengingatkan saya bagaimana rasanya pergi jauh dari rumah tanpa kabar, mencari rumah teman yang nyatanya malah sudah pindah, terlantar di jalan dan akhirnya merasa terlindungi dengan orang yang bahkan baru kita kenal. Dulu, saya pikir saya ini akan diculik atau diganggu oleh mereka--para kaum gondrong. Ketika saya kabur ke Ciputat dua tahun lalu dan belum memiliki tempat tinggal, orang yang saya temui ya mereka--si kaum preman. Kala itu pandangan saya adalah pemerkosaan atau penjambretan. Setengah mati saya takut! Nyatanya, mereka ramah dan mencoba mencari tahu siapa saya. Malam itu, dengan menaruh rasa curiga, saya ikut nongkrong dan nyatanya tidak ada yang terjadi pada saya. Malah, keesokan harinya, saya dibantu oleh mereka saat mencari kontrakan murah. Mereka pulalah yang membantu saya mempelajari Jakarta dan sekitarnya sambil mengantar saya untuk interview kerja.

Dinding Reklame

Sampai sekarang, saya masih suka nongkrong di reklame dan tidak pernah lupa akan kebaikan mereka. Jika sedang ada rezeki lebih, saya selalu berusaha untuk membalas jasa mereka. Dan berkat nongkrong itulah, saya mendapat penjagaan yang luar bisa, terlebih karena saya adalah perempuan. Kemana pun, akan selalu ada backing preman di Jakarta yang saya kenal dari tongkrongan reklame. Itu semua terjadi karena hampir 50 persen dari pengamen-pengamen Jakarta Selatan, bermuara di Ciputat.

Terima kasih untuk Abadi Jaya dan panti sosial dadakannya... Dan untuk Abah reklame yang sedang sakit, semoga lekas sembuh...

Salam,

Ayu

Thursday, March 15, 2012

Weekly Song - Waiting In Vain

Saya tidak begitu mengenal musik-musik selain seattle sound maupun grunge. Di samping musik-musik yang 'nyerempet' ke dua jenis itu, saya kurang paham. 

Sampai saya menghadiri acara blues di tahun baru dan acara pembukaan pameran fotografis "PANC?SILA" yang pernah dibahas di sini. Saya pun jadi lebih sering mendengarkan berbagai macam jenis musik. Yang pada awalnya hanya tahu saja, kini lambat laun bisa mengerti.

Momen tersebut juga mengawali perkenalan saya dengan reggae dan seluk beluknya. Dulu, saya mengenal reggae hanya dari nilai materiil saja. Anak-anak reggae yang gemar bakar 'daun' (saya tak perlu sebutkan daun apa), menggimbalkan rambut, dan sangat kucel-cel-cel. Saat saya menghadiri pameran fotografis itu, saya baru sadar kalau reggae tak sekedar itu. Ulasan tentang reggae, Bob Marley, dan lagu "Redemption Song" pernah saya ulas di sini dan ditulis ulang oleh official tumblr milik 'MusicBandung'.

Bob Marley Happy!


Band Skanking Circle Jakarta, yang mengusung reggae tanpa gimbal, sukses membuat saya terkesima. Pasalnya, mereka membuat bentuk reggae yang berbeda. Mereka membuat bentuk lagu Bob Marley menjadi terkesan 'mewah'. Padahal, aslinya kan Bob Marley yaaaa cuma modal gitar dan instrumen seadanya. Namun, secara keseluruhan saya menyukai lagu-lagu Bob Marley, baik sederhana maupun sudah dibuat mewah.

Minggu ini, saya memutar terus lagunya. Lagu yang saya putar itu berjudul Waiting in Vain. Kalau diartikan, ini tentang seseorang yang menunggu cinta, tanpa ingin sia-sia. Kurang lebih seperti itu. Entah apakah ada pesan sosial yang disisipkan oleh Bob Marley seperti biasa, saya tidak begitu memperhatikan lebih lanjut.

Saya senang mengulang lagu Waiting in Vain karena memang lagunya enak. Liriknya sederhana tapi buat saya ini terbilang indah. Dan bagi yang ingin mendengarkan lagunya, silakan putar saja video di bawah ini.


Bob Marley - Waiting in Vain

I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love.
From the very first time I rest my eyes on you, girl,
My heart says follow t'rough.
But I know, now, that I'm way down on your line,
But the waitin' feel is fine:
So don't treat me like a puppet on a string,
'Cause I know I have to do my thing.
Don't talk to me as if you think I'm dumb;
I wanna know when you're gonna come - soon.
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love,
'Cause if summer is here,
I'm still waiting there;
Winter is here,
And I'm still waiting there.

Like I said:
It's been three years since I'm knockin' on your door,
And I still can knock some more:
Ooh girl, ooh girl, is it feasible?
I wanna know now, for I to knock some more.
Ya see, in life I know there's lots of grief,
But your love is my relief:
Tears in my eyes burn - tears in my eyes burn
While I'm waiting - while I'm waiting for my turn,
See!

I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love, oh!
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna wait in vain.

Silakan nikmati lagunya dan resapi liriknya. Bagaimanakah seharusnya kita menjadi manusia yang mencintai. Harus menyia-nyiakan diri sendirikah, atau mencoba mengikuti alur takdir saja? Silakan resapi sendiri yaaa lagu ini. ^_^

Salam,

Ayu

Tuesday, March 13, 2012

Dibuat Pusing Dengan "3 Cinta 1 Pria"

Berhubung saya akhir-akhir ini sedang kelewat bokek dan nggak ada kerjaan, saya rela deh baca buku sampai berhari-hari. Hehe. Sebenarnya itu alasan pembenaran. Pasalnya, saya akhir-akhir ini sedang coba-coba baca essay berat, terutama karya Goenawan Mohamad. Jadilah, buku yang saya beli dan saya jadikan buku bacaan untuk reading challenge di Goodreads malah terabaikan. Seharusnya, bulan Maret ini saya sudah bisa habis membaca 15 buku, karena satu bulan ditarget untuk membiasakan diri membaca buku sekurang-kurangnya 5 buku. Eh, karena kebanyakan buku yang pengen dibaca, saya malah nggak cepat-cepat membereskan reading challenge. Ya sudahlah, karena saya sudah sok-sok'an membaca 60 buku dalam setahun, sebagai reading challenge dan itu berarti, saya harus konsekuen sekaligus konsisten membaca.

Nah, saya pun akhirnya berhasil menuntaskan buku yang ke-12 di tahun ini. Saya membacanya sampai berminggu-minggu. Saya pikir, buku ini sejenis novel ringan satir. Eh, ternyata saya salah. Buku ini adalah buku novel dewasa-satir khas Arswendo Atmowiloto yang biasanya. Saya membacanya sambil berpusing-pusing ria. Tak jarang juga saya kembali ke bab sebelumnya, hanya untuk membuka pikiran saya yang dipusingkan dengan beberapa bab setelahnya. Saya harus bersusah-payah untuk membaca awal-awal cerita, karena seringkali lupa cerita sebelumnya, saat sedang berada di tengah-tengah konflik.

Saya tidak menyarankan kalian semua membacanya. Kenapa? Yaaaa karena begitulah. Sekali lagi, saya tekankan bahwa novel ini adalah novel DEWASA! Novel ini satir dan tidak jarang kita temui beberapa dialog yang 'mengundang'. Maksudnya, novel ini hanya diperuntukkan untuk pembaca dewasa dan 20 tahun ke atas, seperti saya. :))

Penampakan Buku Yang Fenomenal!
(Padahal saya pun kadang geli kalau sedang membacanya, karena darah tiba-tiba berdesir. Haha!)

Buku ini berkisah tentang seorang lelaki  bernama Bong. Lelaki yang tak punya orang tua, hidup seadanya, sampai dia bisa terkenal dengan ceritanya. Menjadi pelukis, terkena peluru tawuran, menjadi tukang pembuat kalung batu yang terkenal, dan membuat trend nasi goreng pedasdasdas. Lelaki yang suka sekali mengamati ikan lele, pohon talok, dan memakai sarung kemanapun.

Kisahnya dimulai ketika dia menjadi pelukis dan dipertemukan secara tidak sengaja dengan seorang perempuan bernama Keka. Dia jatuh cinta pada Keka, meski ditentang orang tua Keka. Mereka pun diam-diam berpacaran, bahkan bercinta. Sampai akhirnya, Bong mengerti bahwa inilah cinta sejati, meski tak berakhir di pelaminan.

Sampai Keka pergi dan menikah dengan lelaki yang tak dicintainya. Bong sedih, tapi tak marah. Dia pun datang dan menanyakan kabar, sampai Keka benar-benar tak bisa bertemu lagi karena divonis sakit. Bong pun bertemu anak Keka, yang dia panggil Ke. Ke ini rupanya jatuh cinta juga dengan Bong! Saat dia mengalami musibah karena kehamilan di luar nikah, Bong yang menolongnya. Dan Bong yang menyelamatkan bayi di kandungan Ke, agar tidak jadi digugurkan. Sejak itulah, anak Ke dipanggil Keka Siang, karena lahir siang hari.

Tampilan Imajinatif Bong
(menurut saya seperti ini dan kanan kiri
sama saja)
Gambar diambil random di google

Selang waktu berganti, selang generasi berganti. Entah apa yang Tuhan dan bumi lakukan. Dua generasi setelah Keka, mencintai Bong. Pada akhirnya, Keka yang sudah menjadi nenek pun cemburu dan meminta penjelasan. Bong tak bisa berkutik, karena dia paling tak bisa memilih. Dan akhir cerita ini adalah, Keka dan Keka Siang sama-sama menjadi istri Bong. Waw! Dua istri sekaligus! 

Sungguh novel yang sangat lucu kalau menurut saya. Dikemas dengan sederhana dan apa adanya. Tak ada kisah cinta yang seklise kisah cinta di novel-novel masa kini. Saya bisa maklum lah, karena novel ini ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Dan penggambaran tokoh Bong pun sangat apa adanya namun berkharisma. Gondrong, easy going, jarang ambil pusing namun bisa menjadi bijak sewaktu-waktu. Membaca ini saya jadi mengingat sosok teman-teman saya yang notabene dari kalangan seniman IKJ dan preman gondrong. :D

Novel ini saya rekomendasikan untuk kalian yang sudah dewasa dan ingin mengenal cinta yang apa adanya. Untuk pembaca di bawah 20 tahun, tidak disarankan untuk membaca ini ya! :D

Judul Buku: 3 Cinta 1 Pria
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2008
ISBN: 9789792240740
Pages: 296
Genre: Roman Dewasa
Harga: Rp 40.000,-
Rate: 4 / 5

Sunday, March 11, 2012

Cerita Dari Sebuah Jermal

Jermal adalah sebuah tempat di tengah laut, yang berfungsi sebagai tempat penjaringan ikan. Banyak anak-anak kecil yang terbuang, tak punya tempat tinggal, atau malah dipaksa bekerja oleh orang tuanya, di tengah Jermal. Mereka tak pernah pulang. Mereka yang bekerja di Jermal, mulai belajar hidup liar. Hidup dengan dibaluri dingin dan dihiasi hening. Mereka mencoba hidup dalam keterbatasan, bersama alam.

Saya suka naik gunung, suka menyusuri pantai dan rel di tengah siang hari yang terik. Namun, saya belum pernah sekalipun mencoba bagaimana hidup di tengah laut, apalagi Jermal. Setiap hari, pekerjaan saya mungkin hanya menadah ikan, menjaring ikan, mencucinya, dan hal lainnya. Setiap hari, mungkin saya tak akan mendengar jangkrik, melainkan suara udara dari perut ikan paus. Setiap hari, saya mungkin tidur dengan berjuta ancaman. Dan tak pernah sekalipun, saya membayangkan diri saya berada di tengah Jermal.

Setidaknya, itu sebelum saya menonton film keluaran tahun 2009, yang berjudul sama. Jermal, judul film itu.

poster film Jermal dari SINI

Film ini hampir mirip seperti Cast Away yang dibintangi oleh Tom Hanks. Hanya saja, film ini dilakoni oleh seorang anak kecil bernama Jaya (Iqbal S. Manurung), yang kehilangan ibunya dan diantar oleh seorang gagu pengantar logistik ke tengah Jermal. Seorang gagu itu diperankan oleh Yayu AW Unru, bagi yang ingin tahu.

Sesampainya di Jermal, ayah kandung Jaya yaitu Johar (Didi Petet), setengah mati tak menerima Jaya. Dia bersikap acuh dan masa bodoh. Jaya disiksa dan diberi pendidikan oleh anak-anak yang sudah lebih dulu bekerja di Jermal. Yang membelanya adalah Pak Gagu tersebut. Jaya tak tidur di dalam penampungan anak-anak itu. Jaya tak diberi tempat minum dan anak-anak itu mengganggunya, terutama si bos anak-anak itu yang diperankan oleh Chairil A. Dalimunte.

Jermal Boys (sumber di sini)

Jaya yang setiap hari menerima perlakuan kasar itu, perlahan mulai bertahan. Awal mulanya adalah ketika Jaya menyusup ke ruangan ayahnya dan meminum berbotol-botol simpanan bir milik Johar. Sampai malam dia mabuk dan duduk di pinggiran Jermal. Di tengah mabuknya Jaya, dia pun bergumam untuk memanggil ikan Paus yang sering lewat daerah Jermal itu. Dia mempelajari itu dari temannya yang juga ahli memanggil paus. Sampai pagi, Jaya akhirnya tertidur pulas. Saat itulah, ayahnya memanggil.

Semakin hari, Jaya semakin menjadi liar. Dia bisa bertahan dan melawan kerasnya hidup di tengah Jermal. Kebalikan dari itu, Johar menyadari bahwa Jaya memang anaknya, saat Pak Gagu melempar surat-surat simpanan Johar, dari ibu Jaya. Surat itu tak pernah dibuka olehnya. Dan ketika dia buka, dia baru sadar kalau Jaya memang anaknya. Terketuklah pintu hatinya dan dia mencoba untuk membuka hatinya.

adegan di film Jermal (sumber gambar di sini)

Sayang, ketika sang ayah membuka hatinya, Jaya sudah terlanjur kecewa. Dia melawan semua, termasuk ayahnya. Keliaran di Jermal telah membuat dirinya semakin berontak. Begitulah memang, yang sering dikatakan para pecinta alam. Mengutip lagu dari film Gie, "Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Hakikat manusia." Itulah yang terjadi pada Jaya.

Semakin hari semakin liar, Johar pun mulai bercerita pada Jaya saat mereka berdua kebetulan sedang duduk di samping Jermal berdua. Johar berkata kalau dia akan membawa Jaya pulang. Jaya pun mulai mengerti, bahwa hidup dia dan ayahnya bukanlah di Jermal. Mereka pun sepakat untuk pulang. Esoknya, mereka pun pulang.

Film ini tak banyak mengambil latar tempat. Tempat yang digunakan memang benar-benar Jermal, di tengah laut. Orang-orangnya pun tidak begitu banyak. Dan ceritanya terfokus pada Jaya, yang belajar hidup. Saya mengambil pesan yang sangat keren dari film tersebut. Banyak pelajaran hidup yang tidak didapatkan di daratan. Oleh karena itu, saya memberi nilai 5 untuk film ini, dari skala 5.

Judul: Jermal
Sutradara: Ravi Bharwani, Rayya Makarim,Utawa Tresno
Pemain: Didi Petet, Yayu AW. Unru, Iqbal S. Manurung, Chairil A. Dalimunte
Rilis: 12 Maret 2009
Rate : 5 / 5

Thursday, March 8, 2012

Weekly Song - Shadows on The Sun

Minggu ke 10 di tahun 2012 ini, agaknya saya sering sekali mendengarkan lagu ulangan. Maksudnya ulangan di sini yaaa diulang-ulang gitu. Minggu ini lagu yang ada di playlist Winamp saya cukup beragam. Namun, yang ingin saya dengarkan terus adalah lagu dari Audioslave, Shadows on The Sun.

Lagu ini sendiri tidak sengaja saya unduh dari situs hosting lagu. Kok bisa sih nggak sengaja?

Nah, jadi ceritanya, waktu itu saya sedang mencari-cari lagu Audioslave yang Like a Stone. Saya mengunduh lagunya setelah menemukan hasil searching. Nah, setelah saya unduh dan saya dengarkan, hasilnya beda. Lho? Kok lagunya kayak gini? Kan saya cari lagu Like a Stone? Bingunglah saya. Padahal, hasil searching-nya benar. Tapi, setelah saya dengarkan lagunya, ternyata enak juga. Lagipula, saya sangat rindu mendengar teriakan Chris Cornell-mantan vokalis band seattle sound, Soundgarden. Teriakan Chris memang tidak ada duanya. Selain wajah dan rambut panjangnya yang membuat saya tertarik, suaranya pun tak tertandingi. Suara yang serak tapi tinggi; bisa sampai beberapa oktaf lho! Anggaplah Chris ini selayaknya Mariah Carey yang bisa bernyanyi sampai 3 oktaf bahkan 3,5 oktaf! Bayangkan! Bagaimana pita suara kita kalau dipaksa bernyanyi sampai oktaf ke 3? Pasti kalau saya sudah pakai falsetto untuk bernyanyi, karena tidak kuat. Hehe.

Karena saya sering mengulang lagu yang salah unduh itu, saya pun mencoba menyanyikannya. Tapi, satu masalah muncul kembali. Saya tidak hafal liriknya dan saya tidak bisa mencari lirik lagu tersebut, karena saya tidak tahu judulnya. Ya sudah, akhirnya saya coba-coba iseng mencari liriknya, dengan mendengarkan bagian yang jelas. Ketika sampai pada bagian refrain, Chris berteriak dan saya mendengar secuil kalimat yang bisa saya ketik di google. Siapa tahu nanti keluar liriknya. Waktu itu, yang saya ketik adalah kalimat, "People die alone, I'm shadow on the sun! Shadow on the sun!"

Muncul hasilnya seperti ini:

klik saja gambarnya :D

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan musikalitas Audioslave pada lagu tersebut. Saya kira, lagu ini termasuk hits. Hanya saja, mungkin saya yang kurang mengetahui tentang seluk-beluknya. Lagu Shadow on The Sun ini juga juara dalam hal penyampaian tema, tidak hanya pada jenis musiknya. Bagaimana tidak, wong pembentukan band Audioslave sendiri digagas oleh musisi-musisi hebat dari sisa-sisa band hebat juga! Ada Chris Cornell - Soundgarden, Tom Morello, Tim Commerford, dan Brad Wilk - Rage Against The Machine. Mereka semua bergabung dan membentuk Audioslave.

Lagu Shadows on The Sun ini, mengangkat tema umum dalam kehidupan sosial. Tentang bagaimana seharusnya membuat pilihan. Bagaimana seharusnya kita memilih yang benar, karena kesempatan itu nyaris tak pernah datang dua kali. Sesuatu yang telah diperbuat dan merugikan, jelas tak akan  bisa dikembalikan. Dan waktu yang sia-sia akan membuat setiap orang gila, kehilangan semua. Sampai akhirnya semua hilang, yang tersisa tentu saja hanya ingatan-ingatan. 

Kurang lebih, itu yang saya bisa tangkap dari lagu ini. Entah apa pesan yang kalian tangkap, itu tergantung perspektif masing-masing. Oleh karena itu, di bawah ini saya akan menyuguhkan video dari lagu ini. Selamat menikmati.


Audioslave - Shadows on The Sun

Once upon a time I was of the mind
To lay your burden down
And leave you where you stood
And you believed I could
You'd seen it done before
I could read your thoughts
Tell you what you saw
And never say a word
Now all that is gone
Over with and done, never to return

I can tell you why
People die alone
I can tell you I'm
A shadow on the sun

Staring at the loss
Looking for a cause
And never really sure
Nothing but a hole
To live without a soul
And nothing to be learned

[Chorus]
I can tell you why
People go insane
I can show you how
You could do the same
I can tell you why
The end will never come
I can tell you I'm 
A shadow on the sun

Shapes of every size
Move behind my eyes
Doors inside my head
Bolted from within
Every drop of flame
Lights a candle in
Memory of the one
Who lives inside my skin


Selamat menikmati lagunya dan semoga terhibur.

Song Title: Shadows on The Sun
Band: Audioslave
Album: Self Titled
Release: November 19, 2002
Genre: Hard-Rock, Alternative Metal, Alternative Rock, Post-grunge
Rate: 4.5 / 5

[Ayu]