29 March 2012

[Musik] Bali Total Grunge Compilation 2011 - Vol. 1

Sudah sejak lama saya ingin membuat ulasan tentang sebuah album yang sedang ada di tangan saya sekarang. Saya sudah memilikinya sejak lama namun tak juga menemukan Kamis yang tepat untuk membuat ulasannya. Album ini sendiri saya dapatkan dari seorang musisi bernama Ricky Respito, personil Respito (band Grunge), sekaligus pemilik Omahku Studio Musik.

Album ini merupakan album kompilasi yang dibuat oleh komunitas Grunge Bali bernama Bali Total Grunge. Band yang ada di dalamnya pun sangatlah beragam. Mulai dari jenis musik, unsur instrumen yang dimainkan, dan juga tema lirik dari lagu mereka. Semua hal itu membuat perbedaan yang ada dalam album ini terkesan indah. Perbedaan yang terjadi bukannya membuat perpecahan malah membuat warna musik yang semakin beragam saja. Di samping itu, keindahan perbedaan itu bisa menyatukan seluruh penggiat scene Grunge di Bali dan Indonesia tentunya.

Dan bagaimanakah bentuk dari album kompilasi keren dari komunitas yang juga keren ini? Sila disimak.

Patrick dan CD Kompilasi BTG
(Lihat! Gambar Kurt memakai udeng! :D)

27 March 2012

Jangan Main-Main Dengan...

Djenar Maesa Ayu
Hari Selasa ini adalah waktunya untuk review buku ke-14 dalam reading list yang saya harus selesaikan di tahun 2012. Dan untungnya, sesuai target, sepertinya saya bisa membereskan limabelas buku untuk bulan ke-3 di tahun 2012 ini. 

Buku ke-14 ini sepertinya tidak akan jauh-jauh dari tema dua buku di minggu-minggu sebelumnya. Buku kali ini masih berkutat di seputar kehidupan dewasa. Hehe. Bukannya saya suka cerita-cerita berbau vulgar. Saya membacanya terlebih karena saya lebih dulu membaca tema yang ditawarkan. Kali ini, marilah kita angkat tema feminisme.

Buku ke-14 ini adalah buku dari seorang penulis berbakat dan kerap kali memenangkan penghargaan dan juga nobel sastra di Indonesia maupun luar negeri. Kenalkah kalian pada Djenar Maesa Ayu? Nah, itulah nama penulisnya. Dan buku yang saya baca dari penulis tersebut berjudul Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu).

25 March 2012

Hati-Hati Berbagi Suami!

Berbagi suami atau sebuah kejadian yang dialami istri dalam poligami adalah sesuatu yang tidak dilarang oleh Islam. Yang menjadikannya terlarang adalah apabila sang istri mulai tak ikhlas dipoligami dan sang suami tak lagi bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya, baik secara materi maupun batiniah. Dan semua hal tentang poligami memang masih menjadi perdebatan di kalangan feminis yang pro maupun tidak.

Pandangan lain tentang poligami, saya dapatkan dari sebuah film. Betapa poligami membuat ikatan batin antar istri-istri menjadi kuat. Betapa poligami pun bisa membuat istri-istri bertengkar, karena kadang itulah yang terjadi di antara para istri.

Seperti kisah poligami dari tiga perempuan dengan latar belakang berbeda dan hidup dalam kerangka yang berbeda. Dari kerangka tersebut, terdapat benang merah antara perempuan-perempuan itu sehingga kalau kita perhatikan dengan jeli, kita sebenarnya berada di waktu yang sama, dengan kisah berbeda. Jenis film seperti itu sudah cukup banyak kita temukan, namun jarang sekali ada insan perfilman yang berhasil menggabungkan beberapa kisah dalam satu waktu. Dan jenis film seperti itu, sangat apik digarap oleh Nia Dinata sang sutradara yang menghasilkan film dengan judul Berbagi Suami

Berbagi Suami

20 March 2012

Politik, Penegakan HAM, dan Romantisme Dewasa

Ayu Utami with her bookshelves
Hari ini sudah hari Selasa dan itu berarti, saatnya untuk membahas tentang buku dan bumbu-bumbunya. Sebenarnya sih, mau bahas musik hari apa, film hari apa, buku hari apa, orang gondrong hari apa (eh), itu sih suka-suka saya saja. Hehe. Dan kebetulan, saya baru selesai baca buku. Setelah dibaca, tentu saja akan saya ulas di sini untuk teman-teman semua. Buku ke-13 yang saya baca tahun ini adalah salah satu buku karya penulis kelahiran tahun '68, Ayu Utami. Penulis sekaligus aktivis jurnalis ini menulis novel pertamanya yang berkutat di seputaran monotheisme dan militerisme. Novel yang rilis tahun '98 dan mendapat beberapa penghargaan itu diberi judul Saman

Saya sebenarnya mendapat buku ini karena dipinjamkan oleh seorang teman kantor. Saya yang hari itu sedang kurang dana untuk membeli buku, harus meminjam agar bisa memenuhi reading challenge yang serius diikuti dari Goodreads. Nyatanya, setelah saya mendapatkan buku untuk memenuhi target baca di urutan ke-13, saya malah beli buku lagi. Duh, susahnya jadi saya. Kalau jalan-jalan di Kinokuniya atau Gramedia, tidak bisa kalau tidak pulang tanpa satu kantung buku. Entah beli satu saja, atau berpuluh-puluh buku. Maklum,  masih dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca santai.

Kembali ke ulasan tentang Saman.

Sotoji, Instan Dan Sehat Untuk Anak Kost

Saya baru tahu ada lomba ini dari beberapa teman yang menulis tentang sotoji. Saya coba mencari info dan sampailah ke komunitas blogger Depok. Saya mencari-cari dan ternyata, saya bisa memesan sample sotoji secara cuma-cuma. Saya pesanlah sotoji dan sabar menunggu.

Sehari, dua hari, sampai tiga hari sejak pemesanan, sotoji yang saya inginkan belum juga datang. Sampai pada hari Senin (19/03) pagi, ada sebuah paket yang dibawa oleh salah satu teman saya di kantor.

"Yu, ada paket nih," katanya.

Setelah mengingat-ingat kalau saya tidak membeli buku online atau barang lainnya secara online, saya baru sadar, inilah sotoji yang saya tunggu-tunggu. Horeeeee. :D


17 March 2012

Abadi Jaya Milik Bersama

Hari Sabtu ini seharusnya saya kuliah kelas karyawan, tapi tidak masuk. Mata kuliah pertama dan kedua memang saya hadiri, namun yang ketiga ini tidak. Saya kabur dan langsung menyusuri jalan sepi menuju Situ Gintung. Dan tanpa basa-basi lagi, saya langsung menuju tempat tongkrongan pengamen, tukang parkir, dan anak-anak gondrong no maden.

Nama tempat itu Abadi Jaya. Sebelumnya, di pembahasan tentang "Kisah Mug Baru dan Kopi Liong", mungkin saya sudah sedikit banyak membahas tentang tempat reklame tersebut. Tempat ini berlokasi di Jalan Ir. Hj. Juanda, Ciputat, Tangerang Selatan. Tempatnya kira-kira dekat dengan belokan pasar Situ Gintung yang sering menjadi tempat berbelok angkot yang akan menuju Bintaro dan Pondok Ranji. Kalau agak sulit, dari arah Lebak Bulus Jakarta, reklame ini ada di seberang Holland Bakery.

Tempat ini penuh sejarah bagi saya dan beberapa orang yang mungkin pernah singgah di reklame. Sebelum reklame itu digusur dan pindah ke Situ Gintung, banyak orang-orang terlantar dan anak punk yang sering nongkrong atau numpang menginap di reklame. Jadi, reklame ini fungsinya hampir sama seperti yayasan sosial. Tidak ada pembedaan dan semuanya duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Meski sekarang lokasinya sudah pindah di dekat lahan parkir taman jajan di ruko terlantar milik Pelo--salah satu teman pengamen, namanya tetap saja sama, Abadi Jaya. Tempat boleh pindah, tapi nama dan sejarahnya akan tetap sama selagi orang-orang yang mengasuh Abadi Jaya masih hidup. Orang-orang di reklame memang menganut jiwa sosialis dan humanis yang tinggi, sehingga banyak orang yang betah meski harus tidur beralas terpal biasa.

Reklame Baru Pasca Gusuran BBS (Situ Gintung 2012)

16 March 2012

2500 Buku per Tahun Itu... Sadis!

Semalam saya mengobrol bersama para penggiat jurnalisme dan penulisan dari Angkringanwarta. Bang Dede yang menjadi salah satu penggerak Angkringanwarta, mengatakan bahwa dia agak takut dengan saya. Alasannya adalah karena saya menargetkan baca buku sekurang-kurangnya 5 buku sebulan.

Saya berpikir lagi, apakah memang segila itukah saya? Padahal kalau dilihat-lihat dari pembaca Indonesia di Goodreads, masih banyak yang gila buku daripada saya. Beberapa maniak buku yang tergabung di Goodreads notabene adalah orang Indonesia. Ada yang memiliki 1000 buku di rak Goodreads-nya, bahkan lebih! Nah, saya sih masih biasa saja wong saya baru punya 52 buku di rak Goodreads (ini juga merepresentasikan rak di dunia nyata saya. Bukunya baru sedikit).

Semua itu belum seberapa juga rupanya, karena saya menemukan akun seorang perempuan yang memiliki 13000 buku dalam raknya! Gila! Sadis sekaligus keren! Dia bisa membaca sekitar 100 buku per bulan dan dia juga mendapatkan predikat atau ranking tinggi di Goodreads, dilihat dari jumlah buku, rata-rata baca, dan jumlah review atau rating buku yang dia berikan.

Yang lebih keren lagi, dia orang Indonesia dan bisa mengalahkan pembaca dari luar negeri karena berada di posisi #1st Top Readers.

Tampilan ranking "Top 50 Readers on Goodreads" secara global

15 March 2012

Weekly Song - Waiting In Vain

Saya tidak begitu mengenal musik-musik selain seattle sound maupun grunge. Di samping musik-musik yang 'nyerempet' ke dua jenis itu, saya kurang paham. 

Sampai saya menghadiri acara blues di tahun baru dan acara pembukaan pameran fotografis "PANC?SILA" yang pernah dibahas di sini. Saya pun jadi lebih sering mendengarkan berbagai macam jenis musik. Yang pada awalnya hanya tahu saja, kini lambat laun bisa mengerti.

Momen tersebut juga mengawali perkenalan saya dengan reggae dan seluk beluknya. Dulu, saya mengenal reggae hanya dari nilai materiil saja. Anak-anak reggae yang gemar bakar 'daun' (saya tak perlu sebutkan daun apa), menggimbalkan rambut, dan sangat kucel-cel-cel. Saat saya menghadiri pameran fotografis itu, saya baru sadar kalau reggae tak sekedar itu. Ulasan tentang reggae, Bob Marley, dan lagu "Redemption Song" pernah saya ulas di sini dan ditulis ulang oleh official tumblr milik 'MusicBandung'.

Bob Marley Happy!

13 March 2012

Dibuat Pusing Dengan "3 Cinta 1 Pria"

Berhubung saya akhir-akhir ini sedang kelewat bokek dan nggak ada kerjaan, saya rela deh baca buku sampai berhari-hari. Hehe. Sebenarnya itu alasan pembenaran. Pasalnya, saya akhir-akhir ini sedang coba-coba baca essay berat, terutama karya Goenawan Mohamad. Jadilah, buku yang saya beli dan saya jadikan buku bacaan untuk reading challenge di Goodreads malah terabaikan. Seharusnya, bulan Maret ini saya sudah bisa habis membaca 15 buku, karena satu bulan ditarget untuk membiasakan diri membaca buku sekurang-kurangnya 5 buku. Eh, karena kebanyakan buku yang pengen dibaca, saya malah nggak cepat-cepat membereskan reading challenge. Ya sudahlah, karena saya sudah sok-sok'an membaca 60 buku dalam setahun, sebagai reading challenge dan itu berarti, saya harus konsekuen sekaligus konsisten membaca.

Nah, saya pun akhirnya berhasil menuntaskan buku yang ke-12 di tahun ini. Saya membacanya sampai berminggu-minggu. Saya pikir, buku ini sejenis novel ringan satir. Eh, ternyata saya salah. Buku ini adalah buku novel dewasa-satir khas Arswendo Atmowiloto yang biasanya. Saya membacanya sambil berpusing-pusing ria. Tak jarang juga saya kembali ke bab sebelumnya, hanya untuk membuka pikiran saya yang dipusingkan dengan beberapa bab setelahnya. Saya harus bersusah-payah untuk membaca awal-awal cerita, karena seringkali lupa cerita sebelumnya, saat sedang berada di tengah-tengah konflik.

11 March 2012

Cerita Dari Sebuah Jermal

Jermal adalah sebuah tempat di tengah laut, yang berfungsi sebagai tempat penjaringan ikan. Banyak anak-anak kecil yang terbuang, tak punya tempat tinggal, atau malah dipaksa bekerja oleh orang tuanya, di tengah Jermal. Mereka tak pernah pulang. Mereka yang bekerja di Jermal, mulai belajar hidup liar. Hidup dengan dibaluri dingin dan dihiasi hening. Mereka mencoba hidup dalam keterbatasan, bersama alam.

Saya suka naik gunung, suka menyusuri pantai dan rel di tengah siang hari yang terik. Namun, saya belum pernah sekalipun mencoba bagaimana hidup di tengah laut, apalagi Jermal. Setiap hari, pekerjaan saya mungkin hanya menadah ikan, menjaring ikan, mencucinya, dan hal lainnya. Setiap hari, mungkin saya tak akan mendengar jangkrik, melainkan suara udara dari perut ikan paus. Setiap hari, saya mungkin tidur dengan berjuta ancaman. Dan tak pernah sekalipun, saya membayangkan diri saya berada di tengah Jermal.

Setidaknya, itu sebelum saya menonton film keluaran tahun 2009, yang berjudul sama. Jermal, judul film itu.

poster film Jermal dari SINI

08 March 2012

Weekly Song - Shadows on The Sun

Minggu ke 10 di tahun 2012 ini, agaknya saya sering sekali mendengarkan lagu ulangan. Maksudnya ulangan di sini yaaa diulang-ulang gitu. Minggu ini lagu yang ada di playlist Winamp saya cukup beragam. Namun, yang ingin saya dengarkan terus adalah lagu dari Audioslave, Shadows on The Sun.

Lagu ini sendiri tidak sengaja saya unduh dari situs hosting lagu. Kok bisa sih nggak sengaja?

Nah, jadi ceritanya, waktu itu saya sedang mencari-cari lagu Audioslave yang Like a Stone. Saya mengunduh lagunya setelah menemukan hasil searching. Nah, setelah saya unduh dan saya dengarkan, hasilnya beda. Lho? Kok lagunya kayak gini? Kan saya cari lagu Like a Stone? Bingunglah saya. Padahal, hasil searching-nya benar. Tapi, setelah saya dengarkan lagunya, ternyata enak juga. Lagipula, saya sangat rindu mendengar teriakan Chris Cornell-mantan vokalis band seattle sound, Soundgarden. Teriakan Chris memang tidak ada duanya. Selain wajah dan rambut panjangnya yang membuat saya tertarik, suaranya pun tak tertandingi. Suara yang serak tapi tinggi; bisa sampai beberapa oktaf lho! Anggaplah Chris ini selayaknya Mariah Carey yang bisa bernyanyi sampai 3 oktaf bahkan 3,5 oktaf! Bayangkan! Bagaimana pita suara kita kalau dipaksa bernyanyi sampai oktaf ke 3? Pasti kalau saya sudah pakai falsetto untuk bernyanyi, karena tidak kuat. Hehe.

Karena saya sering mengulang lagu yang salah unduh itu, saya pun mencoba menyanyikannya. Tapi, satu masalah muncul kembali. Saya tidak hafal liriknya dan saya tidak bisa mencari lirik lagu tersebut, karena saya tidak tahu judulnya. Ya sudah, akhirnya saya coba-coba iseng mencari liriknya, dengan mendengarkan bagian yang jelas. Ketika sampai pada bagian refrain, Chris berteriak dan saya mendengar secuil kalimat yang bisa saya ketik di google. Siapa tahu nanti keluar liriknya. Waktu itu, yang saya ketik adalah kalimat, "People die alone, I'm shadow on the sun! Shadow on the sun!"

07 March 2012

Senangnya Jadi Jurnalis!

Sekitar empat tahun lamanya, saya berkecimpung dalam dunia tulis menulis. Sejak tahun 2008 yang lalu, saya menulis sajak dan cerita bersambung yang sempat dimuat di harian Pikiran Rakyat Jabar, berawal dari situs hijau "Kemudian [dot] Com". Saya mulai menulis dengan akun "jayhawkerz" dan bisa kalian cek sendiri di sini. Saat ini, puluhan sajak berserak itu sedang dalam proses moderasi untuk dibukukan dan saya patut berbahagia karena hal tersebut. Semoga lekas rampung! Doakan saja ya.

Setelah itu, saya memutuskan untuk membuat situs tersendiri yang sekarang pun sudah berganti menjadi domain dot com. Nah, di sini saya memulai untuk menulis review terhadap skena independen dan dunia buku. Selain melancarkan praktek jurnalistik yang saya pelajari, saya pun mencoba bersenang-senang dari padatnya pekerjaan saya. Berkeliling di blog orang banyak, di sela-sela jam kerja. 

Ketika sempat, saya mencoba untuk berbagi akan apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan. Berbagi tentang semua hal yang saya baca dan berbagi tentang cerita saya sehari-hari. Sampai saya mendapati beberapa tulisan saya ternyata di-share ulang oleh media-media besar.

06 March 2012

Jumputan dan Generasi Bunga

Saya memang suka iseng. Ketika sedang mendaki di desa antah berantah, saya menyempatkan diri untuk foto-foto. Kebetulan, bajunya sedang pas. Temanya bunga-bunga dan ini adalah suara hati saya akan 'Generasi Bunga'. Memaksimalkan penggunaan kain hasil jumputan sebagai kaos handmade dan tetap memadukannya dengan kerudung paris kesayangan. (Maklum, nggak punya lagi yang model lain. Hehe.) Saya pun posting hari ini dengan maksud iseng-iseng, setelah menetapkan akan sharing tentang gaya jalanan. Jadi, dinikmati saja yaaa posting iseng ini. :)

sipit dan silau >,<

05 March 2012

Di Jalanan, Angkat Gelasmu Kawan!

Sejak berkutat dalam skena Grunge, saya jadi jarang tidur. Saya sering pulang malam. Sepulang dari kantor, saya langsung beres-beres kontrakan dan pergi lagi. Semua itu cuma demi nongkrong. Entah sudah berapa lama saya di jalanan, tidak pulang ke rumah orang tua. Belum berani pulang, karena saat itu saya pergi dengan meninggalkan kesan yang 'agak' buruk. Dan sekarang, di sinilah saya, di sudut kecil yang bernama Ciputat. Bersama dengan orang-orang yang satu scene, saya berkumpul. Berkumpul sampai pagi hanya untuk sharing dan melakukan hal-hal berguna. Selain hal berguna, tentu saja banyak juga hal yang tak bergunanya, seperti main kartu, mabuk-mabukan, dan tidur pulas di pinggir jalan sampai terusir satpam pada pagi harinya. Tapi tenang saja. Jangan buru-buru menilai jelek saya, karena saya hanya nongkrong, tidak ikut minum alkohol.

perkumpulan 'no maden people'


04 March 2012

Siapakah Gerangan Dirinya (4)

Ini adalah lanjutan dari kisah fiksi bersambung, yang sempat saya buat bulan Desember tahun lalu. Dan karena saya cukup mencintai tulisan ini, maka saya ingin menghadirkannya lagi di sini. Untuk membaca cerita sebelumnya, silakan menuju ke sini: Part 1, Part 2, dan Part 3. Selamat membaca ya! Semoga berkesan... ^^

Hari ini aku ujian dan mudah-mudahan setelah ujian ini, aku bisa mengembara mencari arti mimpiku. Entahlah, sepertinya ada sesuatu di masa lalu yang menuntut kilas balik. Hanya saja, seperti amnesia, aku melupakan semuanya. Bahkan, aku lupa kalau aku sudah satu kali hari raya, sempat tidak pulang ke rumah orang tuaku, di Jogjakarta. Ya mungkin, liburan semester kali ini, aku akan menyempatkan diri untuk mampir. Semua ini karena kuliah yang terlalu padat dan kerja paruh waktu sebagai pembuat komik strip di koran.

Aku sedang duduk di pinggiran koridor Fakultas Ilmu Komunikasi ketika Niken dan dua sahabatku yang lain bergabung denganku.

“Lang, besok ujian terakhir, rencana kita mau pada naik ke Papandayan,” kata Niken padaku dan kemudian melanjutkan perkataannya, “Lo mau gabung nggak? Ikut lah. Udah jarang naik gunung lo.”

03 March 2012

Batik, Canting Versus Printing

Batik Indonesia adalah warisan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Ada berbagai macam motif batik yang dipadukan dengan pakaian-pakaian tradisional dari seluruh provinsi di Indonesia. Semua itu adalah hal yang harus dilestarikan oleh bangsa kita sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah, pedulikah kita terhadap warisan budaya tersebut?

Batik itu adalah ciri khas yang unik karena tidak ada lagi negara selain Indonesia yang mempopulerkan batik. Sayangnya, saat ini, orang-orang Indonesia sendiri seperti tidak peduli dengan warisan leluhurnya yaitu batik Indonesia. Banyak batik-batik yang beredar dan malah dibuat oleh orang luar. Mereka seperti ingin mencari celah untuk memiliki budaya Indonesia. Wah, jangan sampai terjadi hal seperti itu. Indonesia ini kaya akan budaya, tapi orang-orangnya tidak peka terhadap budaya mereka dan malah mengagungkan budaya luar. Padahal, batik bukanlah hal yang kuno. Batik saat ini sudah bisa dipadupadankan dengan pakaian modern, dengan model-model pakaian yang berbeda. Bukan hanya kain batik yang disampirkan di tubuh kita, tapi sudah menjelma menjadi pakaian siap pakai.

Pemahaman mengenai batik, sempat didapat dari artikel yang juga ditulis di sini. Ketika sedang berada di Kinokuniya, buku berjudul Canting karya Arswendo Atmowiloto mencuri perhatian. Di antara deretan buku-buku bertema cinta dan semacamnya itu, buku Canting sangatlah berbeda. Yang miris adalah, kenapa buku seperti itu ada di bagian paling bawah? Wah, padahal kalau dibaca isinya, pastilah akan sangat bangga dengan apa yang terkandung dalam buku itu.


02 March 2012

Rumah Sketsa Ayu

Kalau tidak salah, saya sempat posting tentang kerjaan tangan saya di sini. Dan kali ini, saya akan menyampaikan hal yang sama. 

Mudah-mudahan kalian tidak bosan yaaa. 

Saya mau menyampaikan bahwa rumah maya untuk setiap sketsa saya, sudah pindah ke sub domain dari ayuwelirang[dot]com. 

Dan rumah sketsa saya, ada di halaman ini >>> http://sketch.ayuwelirang.com. Untuk memudahkan, dari blog ini silakan klik link My Sketchbook di menu horizontal bagian atas blog ini. ^^

Untuk contoh sketsanya, ada di bawah ini. Mohon maaf, karena rumah sketsa saya baru saja selesai dan baru bisa meng-upload beberapa sketsa lama.

01 March 2012

Street Heart

Alright. I'm a girl who wear veils. But, I still remain that I was a strong girl that living on the streets.

That's why, I always try to be stylish as it is, while wearing my veil. And I try to keep myself from the cruel out there. With my veil, I still try to live as same as the people who live on the streets. Me as a free-girl. No maden girl...

And if you wanna know, here's some of my style on the streets...

With the crowd...
Watch the concert
ugh, i'm sooo tired...


The things are:
- green jumper jacket, made in Senen Jaya :P
- brown flanel Senen
- Sonic Youth t-shirt
- 'Belel' Jeans
- Grey Paris veil
- Boots from 'reparasi sepatu' BBS
- Bag from 'Akar Pohon Oleh-oleh Bogor'

-do not copy paste this picture without permission-
^^

~ayu~

ps: i don't even know, why i post this... -_- hahaaa. just wanna share my daily style and write a post in this blog because i don't have anything to share...