February 2012

Monday, February 27, 2012

Membaca Jakarta Lewat Kacamata Ratih Kumala


Siapa di sini yang nggak tahu sama Ratih Kumala? Wah, kalau nggak tahu sih ya kelewatan. Ratih Kumala ini sudah beberapa kali menulis untuk kolom cerpen koran dan cerita bersambung, di Kompas dan Republika. Keren bukan? Susah sekali untuk menembuskan tulisan kita ke dua surat kabar ternama itu, karena yang dipilih hanyalah tulisan-tulisan tertentu, dengan nilai sastra tinggi dan kajian budaya yang cukup kental.

Pertama kali yang saya lihat dari buku adalah sampul. Setelah sampul, kemudian sinopsis di bagian paling belakang buku. Setelah itu, barulah saya melihat nama pengarang. Kalau ternyata pengarangnya cukup ternama, saya sudah pasti akan membacanya. Dan ketika melihat sebuah buku dengan gambar yang etnik sekali, saya langsung tertarik. Sinopsisnya pun menarik! Dan yang lebih menyenangkan adalah, penulisnya itu Ratih Kumala.

Saya membelinya. Buku itu adalah buku yang paling keren di antara deretan buku-buku di Bogor Trade Mall. Saya ada di sana karena sudah berjanji pada keponakan, untuk mengajak dia makan di salah satu restoran fast food. Saya berangkat ke BTM bersama keponakan dan si oom-nya keponakan. Hehe.

Sebelum makan, saya melihat-lihat toko buku di BTM dan langsung tertarik pada buku itu.

Tampilan Buku Kronik Betawi

Buku itu berjudul Kronik Betawi. Sebuah kisah keluarga Betawi yang mulai tergeser oleh peradaban Jakarta yang kian pesat. Kisah yang disampaikan oleh tiga orang Betawi, dua lelaki dan satu perempuan. Mereka bersaudara kandung. Di bagian sinopsis, ada potongan-potongan opini dari si tokoh fiktif pada novel ini, yaitu Haji Jaelani, Haji Jarkasi dan Juleha. Mereka sedang berbicara tentang Betawi dan itulah yang harusnya kita ketahui. Bagaimana seharusnya Jakarta. Bagaimanakah Betawi yang sebenarnya.

Selain itu, pada bagian awal novel, terdapat potongan lirik lagu oleh Iwan Fals yang berjudul Ujung Aspal Pondok Gede. Hal ini pernah dibahas pula pada posting-an ini.

Sampai saat tanah moyangku, tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota. Terlihat murung wajah pribumi. Terdengar langkah hewan bernyanyi...

Penceritaan dalam novel ini dibagi menjadi tiga sudut pandang, dengan sudut pandang orang pertama tunggal. Dibagi tiga menjadi bagian Haji Jaelani yang protes terhadap pembelian tanah warisan moyang, yang sudah lama digunakan untuk ngangon sapi-sapinya. Tentang Haji Jaelani yang protes akan, "Sejak kapankah Jakarta banjir?" Padahal, dulu ketika ia masih kecil, Jakarta itu indah dan ladang bermain pun ada dimana-mana. Bagian kedua adalah tentang Haji Jarkasi, yang menjadi seniman lenong. Seniman yang terlupakan dan kerap kali tertangkap oleh Satpol PP. Padahal, sudah seharusnyalah dia dan timnya tetap dilestarikan. Sekarang, malah diusir, dianggap meresahkan warga dan membuat tata kota rusak. Apakah itu semua salah mereka? Mereka hanya seniman dan yang mereka bawa adalah budaya kita, budaya Indonesia! Budaya Betawi! Dan terakhir, adalah cerita dari seorang istri yang dimadu. Seorang istri setia yang menghempas jauh-jauh pemahaman bahwa orang Betawi itu bisa dengan mudah memadu. Padahal, tidak semua orang Betawi seperti itu. Hanya saja, karena dirinya lahir dalam lingkungan yang sudah seperti itu, seperti ayahnya yang memadu ibunya, kakaknya--Haji Jaelani yang menikah lagi sepeninggal istirnya, dan dirinya yang dimadu pula, Juleha jadi tidak bisa melakukan pembelaan lagi.

Cerita-cerita tersebut bergulir dengan alur campuran yang juga sangat unik. Menggambarkan kilas balik dari tiap tokoh dan mengapa mereka seperti itu. Ikatan saudara kandung antara ketiga tokoh tersebut juga sangat terlihat. Bukan hanya sekedar memanggil "Bang", "Kak", atau panggilan lainnya. Ada suatu hubungan artifisial yang digambarkan dalam tokoh-tokoh ini.

Seperti saat Haji Jaelani mempunyai anak dari istri keduanya. Anak yang bernama Fauzan itu malah lebih taat dibanding anak-anaknya, Juned dan Japri yang kerap kali menyulitkan Haji Jaelani. Dan seiring waktu, Fauzan malah menjadi anak Haji Jaelani satu-satunya, yang bisa melanjutkan studi di luar negeri. Betapa bangganya Haji Jaelani saat itu. Kisah terakhir pun ditutup dengan keberangkatan Fauzan ke Amerika untuk studinya.

Novel yang sebelumnya pernah dimuat dalam harian Republika, sebagai cerita bersambung ini, benar-benar menunjukkan wujud Jakarta. Bagaimana kroniknya. Bagaimana Jakarta masa lalu dan masa sekarang. Betapa besar perubahan Jakarta dari masa lalu ke masa sekarang.

Dan menurut saya sendiri, Ratih Kumala berhasil menampilkan hasil penelusurannya akan Jakarta, melalu kacamatanya sendiri. Beginilah Jakarta dan Kronik Betawi-nya. [Ayu]


Judul Buku: Kronik Betawi
Pengarang: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2009
ISBN: 9789792246780
Pages: 268
Genre: Roman Keluarga, Kultural & Literatur
Harga: Rp 40.000,-
Rate: 5 / 5
Review Lain: http://www.goodreads.com/book/show/6555866-kronik-betawi

Saturday, February 25, 2012

Opening Pameran Foto-Grafis Bertajuk "PANC?SILA"


Saya tidak begitu mengikuti informasi terkini mengenai dunia jurnalistik dan embel-embelnya. Ketika saya sedang melihat timeline twitter saya, saya melihat twit dari salah satu akun sebagai official account band bernama Efek Rumah Kaca. Ternyata, band tersebut main di acara pembukaan pameran foto dan grafis. Barulah saya mendapatkan info terkini seputar dunia jurnalistik di Galeri Antara. Saya langsung me-retweet twit dari akun tersebut.


Setelah datang informasi tersebut, saya baru mencari di google perihal pameran yang akan diadakan di Galeri Antara. Dan muncul satu informasi paling akurat, beserta flyer acara tersebut. 

sumber foto dari sini



Jika ingin melihat lebih jelas, bisa klik tautan di caption pamflet acara tersebut.

Ketika berangkat menuju acara, saya salah besar. Menunggu busway di Pondok Pinang tentu saja bukanlah hal yang benar. Hari Jum'at adalah harinya macet dan busway terlambat beberapa menit. Saya menunggu sampai jam setengah delapan lewat. Akhirnya, busway yang ingin saya tumpangi pun datang. Sekitar 45 menit perjalanan, saya turun di shelter Grogol 1 dan menunggu lagi busway yang menuju ke arah Pasar Baru.

Kebodohan yang kedua adalah, naik busway Harmoni. Untung saya naik ke Harmoni, jadi masih satu jalur dengan bis yang akan menuju ke Pasar Baru. Setelah beberapa menit menunggu, bis menuju Pasar Baru akhirnya tiba juga. Tidak sampai sepuluh menit, saya sampai di Pasar Baru. Ketika itu, jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.

Masuk ke galeri utama yang terdapat panggung dengan latar belakang "Blues 4 Freedom" dan foto anak-anak dengan isyarat huruf berbunyi "PANC?SILA", saya menonton dulu Sanggar Akar. Di tengah bangunan utama, tidak ada yang saya kenal. Teman saya tidak jadi datang dan saya beruntung, karena Efek Rumah Kaca belum main.

Sambil mengambil beberapa foto di galeri itu, saya berkeliling dan menyiapkan kamera untuk video. Terdengar keriuhan yang luar biasa saat saya sedang melihat foto. Ternyata, band utama yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Mulailah Efek Rumah Kaca bermain, membawakan beberapa lagu, di antaranya adalah, Melankolia, Lagu Kesepian, Desember, Di Udara, Hilang, Menjadi Indonesia, Kamar Gelap, Mosi Tidak Percaya, dan lagu lainnya. Saya agak lupa, lagu apa saja yang kemarin dimainkan oleh Efek Rumah Kaca.

Saya mengambil beberapa video untuk penampilan Efek Rumah Kaca yang sangat keren ketika live perform. Pasalnya, efek gitar dan efek microphone Cholil juga sangat keren. Suara-suara delay dan echo dari penampilan live seakan menambah nuansa melankolis dari Efek Rumah Kaca. Inilah yang membuat saya selalu ingin menonton penampilan band ini secara live. 

Efek Rumah Kaca

Setelah selesai, saya menyempatkan untuk foto bersama Cholil, vokalis efek rumah Kaca. Dan setelah berfoto, saya pun berkeliling di galeri untuk melihat hasil karya limabelas karya orang-orang yang jenius saat itu. Semua fotonya berisi tentang Indonesia dan realitanya. Itulah sebabnya, mengapa acara tersebut diberi tajuk "PANC?SILA". Sebuah pertanyaan akan ideologi Pancasila dan realita yang sesungguhnya.

Akhirnya... Bisa foto sama Cholil ERK! ^^

Contoh Beberapa Karya di Pameran

Setelah berkeliling, saya duduk sebentar di luar untuk mencari udara segar. Ketika sayup-sayup terdengar suara musik lagi dari dalam, saya pun masuk. Panggung sudah terisi oleh beberapa musisi yang membawakan lagu-lagu Bob Marley yang di-repackage oleh mereka. Keren! Band tersebut kalau tidak salah, bernama Skanking Circle. Band Jakarta yang mengusung reggae sebagai basis genre. Lagu-lagu yang dimainkan pun adalah lagu-lagu yang bernafaskan kebebasan. Beberapa lagu yang dimainkan kali itu antara lain adalah Redemption Song, Get Up Stand Up, No Woman No Cry, Waiting in Vain, dan lagu-lagu lainnya yang tidak saya hafal semua. Orang-orang mulai melayang dan ikut berdendang. Mereka pun bergoyang riang, dengan segelas bir di tangan. Bir bukan dalam rangka hura-hura atau senang, melainkan sebuah kebebasan. Sebuah pembebasan lebih tepatnya. Sungguh, acara yang sangat menyenangkan. Berbaur dengan orang-orang baru yang idealis dan satu pemahaman. Bahwa kita, sebagai manusia Pancasilais, seharusnya tidak berkutat dalam satu hal yang ambigu. Bahwa kita, sebagai rakyat Indonesia, seharusnya bisa mengkritisi kinerja pemerintah. Pameran ini buat saya sudah menjadi tamparan besar. Pameran yang penuh pertanyaan, akan ideologi kita yang ada di ambang kehancuran.

Salam,

Ayu

nb: untuk melihat foto-foto yang lebih jelas, silakan kunjungi facebook saya di sini dan untuk video yang saya ambil, bisa lihat di sini

Monday, February 20, 2012

Kisah Mug Baru dan Kopi Liong


Akhirnya selesai juga kuliah semester ganjil ini. Ujian yang melelahkan. Belum lagi sangat menggetarkan saya dari seluruh anggota badan, mulai otak sampai jari-jari, karena saya belum makan siang. Jadi jari saya harus dipaksa menulis di kertas jawaban yang pertanyaannya sangat sulit. Ya sudah, toh ujian ini sudah berakhir dan saya harus siap untuk menyongsong tahap selanjutnya.

Sepulang dari kampus, sekitar pukul tiga sore, saya langsung mengajak kedua teman perempuan saya di kampus untuk ikut ke Situ Gintung. Mereka sepertinya belum tahu seluk beluk Situ Gintung. Padahal, tempat itu tidak jauh dari kampus dan sempat menjadi objek wisata di Banten, sebelum bendungan Situ Gintung hancur dan menenggelamkan kawasan di sekitarnya. Nah, sampai di Situ Gintung, teman-teman saya berfoto dan saya menjadi tukang foto. Setelah itu, saya mengantar salah satu teman ke Giant, untuk mengambil uang. Sambil menunggu, saya melihat-lihat tempat dijualnya peralatan rumah tangga dan mata saya langsung tertuju pada kumpulan mug yang cantik sekali. Ah, ini dia yang saya cari. Dan rupanya, sedang ada diskon untuk mug-mug tersebut. Saya sedang ingin menyeduh kopi dengan sempurna, di dalam mug keramik yang indah warnanya. Akhirnya, saya memilih dua mug kopi yang berwarna biru dan hijau. Yang biru untuk saya dan yang hijau untuk Mr.Z Gondrong. Saya membeli kedua mug itu dengan harga 7800 rupiah. Itu berarti, satu mug kopi hanya berharga 3900 rupiah. Murah bukan?

Setelah membeli mug, saya berpamitan dengan teman yang ingin pulang dan segera menuju ke daerah belokan Situ Gintung. Saya pergi ke tempat reklame dan percetakan Mr.Z yang baru. Di sana saya mendapati dirinya sedang asyik merenung sambil menopang dagunya dengan tangan di atas meja reklame. Saya menyeberang dan mengagetkan dia yang sedang merenung. Hehe. Iseng, ya biarlah. Daripada dia merenung entah kemana arahnya.


Saya mengobrol panjang lebar di reklame dan obrolan kami dihentikan oleh bunyi air yang sedang dipanaskan.

"Oh iya, Aa kan mau bikin kopi, Neng," kata Mr.Z.

Saya mengangguk dan Mr.Z pun mematikan air. Dia lalu membuka laci dan mengeluarkan satu bungkus kecil kopi.

"Bikinnya di mug baru aja A! Neng tadi beli mug baru," kata saya. Mr.Z lalu mengambil mug biru dari plastik dan menuangkan kopi. Saya tercengang ketika melihat kopinya. Kopi Liong! Ah, ini dia kopi yang saya inginkan sejak dulu. Kopi Liong khas Bogor. Akhirnya, saya akan mencoba kopi itu juga! ^^


Kami menyempatkan diri untuk mengambil foto-foto kopi langka ini. Hehe. Jadi, setelah lima belas menit, airnya sudah tidak terlalu panas dan kami baru akan membuat kopi. Saya terlalu doyan kopi dan terlalu gila akan kopi, apalagi kopi langka. Jadi, apapun yang terjadi, saya harus menyempatkan diri untuk mengambil fotonya. Sedikit cerita saja ya. Saya mendengar kabar tentang kopi mantap ini, saat saya sedang gila-gilanya dengan kopi instan yang bernama Kopi Luwak - White Coffee Rendah Asam. Nah, Mr.Z bilang, ada kopi yang lebih mantap lagi dari kopi kesukaan saya saat itu. Saat saya tanya, dia hanya menjawab, "Nanti aja kalo ke tempat kakak Iras, kita coba kopi Liong." Wow! Dari namanya saja sudah misterius. Sepertinya, ini kopinya orang-orang Indonesia-Cina pada zaman dahulu. Mungkin pada zaman Orde Lama. Mungkin lho ya. :P

Kopinya sendiri dibungkus dalam ukuran kecil. Gambar di depannya adalah gambar naga melingkar dan lidahnya menjulur ke arah bulan sabit. Wow, gambar yang sangat artistik! Hehe. Ditambah lagi, tampilan bungkus kopi Liong berwarna coklat semu. Coklat semu itu ibarat kertas putih yang sudah lama, sehingga berwarna coklat kekuning-kuningan. Ah, saya jadi tidak sabar menyeduh kopi ini! Tidak berlama-lama untuk mengambil foto, saya pun segera menyeduhnya.

penampakan mug baru, kopi liong, dan gula
Saya memasukkan kopi liong dengan perasaan. Lalu gula pasir murni pun menyusul. Secukupnya saja, atau sesuai selera anda. Tuangkan air panas dengan suhu yang sesuai. Jangan terlalu panas, karena akan merusak partikel-partikel murni dari kopi. Diamkan sejenak, baru aduk perlahan-lahan. Jangan lupa, sisipkan sedikit perasaan haru saat mengaduknya, agar kopi ini semakin nikmat saja. Hehe. Saya sendiri terharu saat mengaduknya. Pasalnya, saya belum pernah sekalipun menikmati kopi Liong. Dan waktu menemukan kopi langka itu di laci reklame Mr.Z, saya langsung bergidik. Seperti ada arwah kakek tua berkebangsaan Cina yang menyusup dalam setiap butiran kecil kopi bubuk asli itu.

Jari lentik saya bersama kopi Liong

tuangkan ke dalam cangkir, bubuhkan gula secukupnya
Awalnya, saya ragu-ragu untuk menyesap kopi ini. Bagaimana rasanya? Apakah sesuai lidah saya sebagai pecinta kopi? Hmm, karena melihat buih-buihnya yang menyesatkan sekaligus menggiurkan, saya pun perlahan menyesap kopi tersebut. Beberapa menit, saya memainkan kopi itu di lidah dan ternyata... RASANYA SANGAT WAW! Tidak kalah dengan kopi bubuk gilingan kasar yang hanya bisa dibeli di Bandung. Tidak kalah dengan kopi Toraja, kopi Sumatra, kopi luwak, dan kopi-kopi lainnya yang saya ketahui. Rasa kopi Liong begitu pekat. Dengan gula secukupnya yang menjadikan kopi ini manis sempurna. Tidak begitu legit maupun pahit. Dan saya harus mencobanya lagi! Berhubung kemarin kopinya tinggal satu dan saya meminumnya berdua dengan Mr.Z, saya harus mencari kopi ini lagi untuk menyeduhnya sendiri! Semoga, kalau nanti ke Bogor, saya sempat untuk mencari kopi ini. Semoga saja ya. Dan dengan begitu, kopi ini saya nobatkan menjadi kopi favorit saya juga.

Bagaimana dengan anda?

Kopi Liong Bulan, Mantap!
(jempol ini adalah jempol Mr.Z saudara-saudara!
Bukan jempol saya! Camkan itu! Hehe)

Wednesday, February 15, 2012

Review: Arc Yellow - Mammals Album


Akhir-akhir ini, beberapa band mulai menelurkan album. Suatu hasil dari kerja keras panjang seorang penggiat band. Seperti halnya penulis yang berhasil menelurkan karya-karya dalam bentuk buku, musisi pun seperti ini halnya. Dan itu berarti, akan ada pemicu untuk musisi lainnya agar segera menyusul band-band yang sudah menghasilkan album. Hasil keringat yang berbuah manis.

Setelah Nifas, band grunge yang mengusung tema-tema sosial dan kehidupan masyarakat, ada Arc Yellow yang  telah berhasil menelurkan karya dalam bentuk full album berisikan sepuluh lagu terbaik. Band yang membawa bendera noise rock experimental ini adalah band yang berasal dari Depok. Saya menonton band ini perform pertama kali pada saat acara tahun baru yang diadakan oleh bang Ghoday di sebuah venue terbuka di daerah Cimanggis. Gitaris yang bernama Imam, teman saya akhir-akhir ini, membawa satu perangkat efek yang sangat menggiurkan. Ah, saya saja mau beli metalzone belum kesampaian. Hehe. Dan riff-riff yang dibawakan, benar-benar membuat saya terkesima.

Oleh karena itu, ketika saya mengetahui kalau band ini sudah memiliki album perdana, saya segera mengontak kang Jimo, untuk pemesanan CD. Dan sekarang, saya sedang menulis review ini sambil mendengarkan sepuluh lagu Arc Yellow. Diulang dan diulang terus. Sebenarnya, sayang untuk membuka sampul plastiknya. Tapi, mau bagaimana lagi, saya harus menulis review. Tangan saya gatal untuk mengetik dan saya harus menulis.

Patrick sedang bersama CD Arc Yellow dan Mushafear


Tampilan sampul depan dan belakang

CD Arc Yellow dikemas dalam bentuk wadah kertas yang agak tebal, seperti berbahan karton tebal. Tidak lebih tebal dari karton duplex dan bahan kertasnya tidak glossy. Oke, itu tidak masalah. Saya hanya sedikit tidak begitu suka dengan bentuknya. Lho, memangnya kenapa? Nah, begini ceritanya.

Ketika kita buka, bentuknya seperti buku. Berarti, bentuknya dibuat seperti sampul. Kita bisa mengambil CD dari lubang sampul yang ada di sebelah kanan. Sedangkan, di sebelah kiri ada kertas informasi. Isinya adalah kertas bergambar foto, juga bertuliskan sepuluh lirik lagu dari album Mammals, dan ucapan terima kasih. Ada juga satu paket sticker, yaitu sticker Drexter Records, Mushafear, dan Arc Yellow. Yang sangat disayangkan adalah, bagian luar dari sampulnya juga berlubang! Nah, bagaimana kalau baru pertama membuka CD-nya, kita tidak tahu kalau itu berlubang juga? Bisa-bisa, CD-nya meluncur dari lubang di kanan dan jatuh ke lantai. Kan sayang, kalau CD-nya jadi pecah atau tergores? Iya kan? Hehe.

tuh kan, bagian luarnya bolong! :D Gimana kalo CD-nya jatuh? :(

Ketika membuka sampul CD, kita langsung dihadapkan pada penjelasan tentang mamalia. Ada gambar anjing di atas kasur dan beruang madu di tempat parkir mobil. Ini menarik buat saya. Pasalnya, ini jadi menjungkirbalikkan tentang pemahaman mamalia. Manusia yang tergantikan oleh spesies mamalia. Gambarnya diformat dalam bentuk hitam putih, sehingga sangat klasik sekali. Saya sangat suka gambar-gambar ini. Apalagi, saya memang suka dengan binatang-binatang. Jadi, saat pertama kali membuka sampul CD, saya langsung tersenyum. 

Format sampulnya terbuka di bagian dalam dan bagian luar. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Bagian luar sampul seharusnya tidak berlubang. Itu untuk menghindari jatuhnya CD kalau kita sedang memegang dengan sembarangan. Lebih baik, bagian luar sampul di kanan dan kiri, tidak ada lubangnya. Jadi, kalau kita sedang memegang dalam keadaan miring, CD-nya tertahan oleh tutup sampul.

Di bagian dalam yang tertutup, kita bisa mengambil CD di sebelah kanan dan kertas informasi juga paket sticker di sebelah kiri. Sekali lagi saya dibuat tersenyum dengan kertas informasi. Kenapa? Itu karena saya langsung menemukan gambar harimau yang sedang bersantai di atas kasur. Hehe. Lucu sekali. Seolah-olah, dari album ini, peran manusia benar-benar sudah tergantikan oleh hewan! Entah bagaimana filosofi dari album ini, yang jelas, hal itulah yang bisa saya tangkap. Kalau ternyata pemahaman saya salah, mohon maaf.

Gambar anjing di sebelah kiri dan beruang di sebelah kanan
Harimau dan CD

Tampilan kertas informasi, dengan paket sticker

Untuk design sendiri, saya tidak bisa begitu banyak komentar. Saya tidak begitu mengerti tentang design dan buat saya, tampilan keseluruhan dari album ini sudah sangat eyecatching. Tentu sangat menarik. Sedikit kekurangan bisa diabaikan kok. Yang jelas, suatu kehormatan besar bagi saya, bisa memiliki CD ini dengan harga yang tidak begitu melambung. Masih bisa dijangkau oleh orang-orang dari kalangan apapun. Bagi yang benar-benar ingin mengkoleksi album-album band indie, patut memiliki ini. Jangan sampai kehabisan ya! Bisa pesan ke kang Jimo Trust, via facebook. 


tampilan CD


Itu sedikit review mengenai paket album dari Arc Yellow. Sekarang saatnya saya berkomentar secara objektif ya mengenai lagu-lagu yang ada. Yang saya tangkap ketika mengulang-ulang lagu Arc Yellow, saya mendapati beberapa kemiripan dan tema lagu. Riff-riff dengan beat cepat memang mendominasi. Ditambah dengan hiasan noise dan feedback yang dihasilkan oleh Imam, menjadikan lagu-lagu Arc Yellow memang identik.

Hanya saja, ada beberapa kemiripan lagu dengan beberapa melodi Nirvana dan juga Arctic Monkeys. Gaya bernyanyi yang agak sedikit mirip dengan Thurston Moore dan Alex Turner pun sempat saya dengar dari beberapa lagu. Mungkin memang ada sedikit influence dari mereka ya. Itu sah-sah saja kok. Contohnya, lagu Feeling Bad yang agak sedikit mirip dengan beat lagu Red Right Hand dari Arctic Monkeys di Album Humbug. Ada juga lagu Mammals yang saat masuk ke bagian bridge, nyaris menyerupai lagu Radio Friendly Unit Shifter pada bagian intro. Tapi, keunikan dari lagu-lagu Arc Yellow yang bernafaskan noise rock, tidak mengurangi kenikmatan saat mendengarkan. Ini hanya review objektif yang saya bisa sampaikan.

Satu lagi yang mencengangkan. Lagu Cyan, lagi-lagi hampir menyerupai lagu Arctic Monkeys. Saya juga agak lupa judul lagunya. Yang jelas, saat saya mendengarkan lagu Cyan, saya sudah bisa menebak. Kemungkinan, influence lagu ini muncul saat personilnya sedang mendengarkan lagu Arctic Monkeys. Hehe. (ngarang banget! :P)

Intinya, review saya ini jangan dianggap sebagai sesuatu yang subjektif ya. Saya hanya menilai sesuai apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasakan. Apabila ada pihak yang merasa terganggu, mohon maaf dan jangan sungkan untuk menegur saya. Yang jelas, Arc Yellow berhasil mendominasi winamp saya sekarang.

Semoga ke depannya, Arc Yellow bisa terus berjaya dan terus mengeluarkan karya yang lain daripada musik Indonesia saat ini. Semoga...

Salam,

Ayu

Canting, Bacaan Ringan Sarat Budaya


Banyak buku yang saya baca. Begitu banyak pula genre-genre yang diusung oleh tiap buku yang berbeda. Ada teenlit, roman klasik, metropop, thriller, misteri, petualangan, self-motivated, sastra, literatur, non-fiksi, buku pengayaan, fiksi, kumpulan cerpen, antologi puisi, stensilan, dan buku-buku dengan genre lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Dari sekian banyak buku, saya bisa memahami, kenapa penulis-penulis buku tersebut harus memilih genre yang memang mereka ingin tuliskan. Dari latar belakang penulisnya, kita bisa tahu, kenapa penulis itu ingin menulis dengan genre tersebut. Apakah atas dasar pangsa pasar apa yang sedang in, atau memang atas dasar kecintaan menulis.

Dari situ pulalah, saya sebagai pembaca, bisa memilah dan menilai, buku apakah yang memang benar-benar cocok untuk saya. Dan sampai saat ini, saya masih cinta dengan berbagai buku kumpulan cerpen dan roman klasik berbau budaya. Pasalnya, saya sedang sangat konsumtif akan buku, akhir-akhir ini. Itu bukan hal yang baik, menurut saya. Karena, setelah saya membeli buku, otomatis saya harus membeli sampul plastiknya. Ini semata-mata hanya untuk estetika. Buku tidak bisa begitu saja dibeli dan disimpan sembarangan setelah kita baca. Bagi para pecinta buku, genre apapun, pasti selalu menyimpan buku-buku mereka dengan apik. Itu semua agar tidak terjadi kerusakan pada buku, saat akan dibaca kembali. Jadi, buku yang dibeli akan lebih awet. Dan dari sinilah saya pun bisa menentukan, buku mana yang layak dikoleksi dan hanya layak untuk sekilas baca saja.

Buku yang saya koleksi beragam. Dan untuk sekarang ini, saya akan lebih selektif dalam membeli buku untuk koleksi lemari sederhana saya. Buku-buku roman klasik yang sarat budaya, akan sangat indah saya pajang. Selain estetika dari sampulnya yang sederhana namun sangat mencerminkan budaya, pastilah indah apabila disampul. Buku-buku antologi puisi dan beberapa literatur sastra ringan, pastilah memiliki daya tarik tersendiri dalam sampul dan review dari para penikmat buku. Ini juga menjadi buku yang layak untuk dikoleksi. Buku lainnya, mungkin novel kriminal dan skandal, yang sangat hebat dalam segi penceriteraannya. Jadilah,  saya mendaulat buku-buku tersebut sebagai buku-buku yang patut untuk dikoleksi. Buku-buku yang sekali baca, seperti roman ringan atau mungkin sejenis teenlit atau chicklit atau malah buku bergenre metropop, mungkin bisa dibaca di toko buku saja. Sekali baca dalam sehari, tidak sampai berjam-jam, mungkin sudah bisa selesai kalau memang berniat untuk menyelesaikannya hari itu juga.

Patrick dan buku Canting

Seperti buku pada gambar di atas, yang saya beli ketika sedang iseng melihat bandrol harga buku di Kinokuniya Plaza Senayan. Harganya tidak semurah di Gramedia ya ternyata!

Canting adalah buku yang menceritakan tentang seorang bangsawan, yang ketika itu memiliki anak lagi. Entah apakah memang sudah ditakdirkan begitu, entah karena kecelakaan. Ketika itu, sang istri hanya bisa menutup mulutnya, tak berbicara apa-apa ketika sang bangsawan berkata, "Kita lihat nanti. Kalau anak ini tumbuh dan menjadi buruh batik, berarti dia anak buruh batik."

Kata-kata itu tentu saja mengagetkan Bu Bei, istri dari bangsawan tersebut. Pasalnya, Bu Bei juga menyangsikan tentang kehamilannya. Berbagai cara dia lakukan agar bayinya tidak tumbuh menjadi buruh batik. Sejak kecil, anak yang pada akhirnya lahir itu, dijauhkan dari berbagai alat pembatikan. Anak itu bernama Ni.

Seiring berjalannya waktu, Ni pun sudah tumbuh dewasa. Dia tumbuh menjadi gadis Jawa yang tidak seperti gadis bangsawan pada umumnya. Ni senang melakukan hal-hal yang aeng atau aneh. Sampai pada saat ulang tahun Pak Bei sekaligus acara selamatan Ni yang akan segera menikah dengan Himawan-calon menantu Pak Bei, Ni mengatakan sesuatu yang mengagetkan.

"Aku tidak akan hadir di wisuda dan aku akan menghidupkan kembali produksi batik cap Canting."

Tentu saja, Bu Bei yang sudah menjauhkan Ni dari segala hal yang berbau batik, kaget setengah mati. Dia pun pingsan dan beberapa hari kemudian, Bu Bei benar-benar meninggal dunia. Hal itu meninggalkan luka yang sangat mendalam di hati seluruh keluarga. Hanya saja, tekad Ni yang bulat berikut keras kepalanya, tidak bisa dilunturkan begitu saja. Ni tetap menjalankan kembali usaha produksi batik cap Canting.

Pak Bei tak marah. Dia juga aeng, sama seperti Ni. Hal inilah yang dilupakan. Ternyata, Ni memang benar berdarah asli Pak Bei, bukan yang lain, bahkan bukan anak dari buruh batik yang mungkin menjadi selingkuhan Bu Bei dulu. Dan itu membuat Pak Bei mengizinkan Ni untuk membangunkan kembali batik cap Cantik, khas dari keraton Ngabehi Sestrokusuman. 

Ni boleh menyerah, kalau benar-benar kalah.
Dan pada akhirnya, batik cap Canting tetap kalah. Dengan perkembangan zaman dan batik jenis printing yang mendominasi. Baik dari efisiensi waktu dan kualitas.

Itu semua membuat Ni menyerah, meskipun tidak benar-benar kalah.

Nah, begitulah isi dari buku roman keluarga sarat budaya, yang berjudul Canting. Buku yang kemungkinan besar tidak bisa diselesaikan hanya dalam waktu satu hari saja. Karena untuk membacanya, kita pun perlu berpikir tentang isi dan korelasi antar tokoh yang ada dalam cerita. Jadi, bagi yang ingin memilikinya, silakan cari di toko-toko buku terdekat. Apabila tidak ketemu juga, silakan cari saja di toko buku online yang sekarang ini mulai merajalela. [Ayu]


Judul Buku: Canting
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 1986
ISBN: 9789792232493
Pages: 408
Genre: Roman Keluarga, Kultural, Literatur
Harga: Rp 40.000,-
Rate: 5 / 5
Review Lain: http://www.goodreads.com/book/show/2090345.Canting

Monday, February 13, 2012

Review: Launching Album Nifas "Wong Kere"


Sabtu yang lalu, tanggal 10 Februari 2012, hujan yang cukup deras melanda Jakarta dan sekitarnya. Saya berniat untuk berangkat ke acara launching band grunge, Nifas. Band ini mengadakan launching untuk albumnya yang berjudul Wong Kere. Dan ketika saya akan berangkat, "Blaarrrr!" Petir menyambar dan datang hujan besar. Saya harus menunggu sekitar lima belas menit. Siapa tahu saja hujannya berhenti. Karena sejauh yang saya tahu, hujan besar pasti akan reda dengan segera.

Setelah menunggu, ternyata hujan tidak juga reda. Saya akhirnya memutuskan untuk hujan-hujanan saja. Keluar dari kontrakan, langsung disuguhi pemandangan mobil-mobil yang 'macet' di jalan yang luar biasa lebar. Sungguh lucu. Jalan selebar itu masih tidak cukup menampung mobil-mobil yang begitu banyak. Ya maklum lah. Kota besar yang berat dengan gengsi. Tidak pakai mobil ya tidak keren. Duh maaf, jadi melantur kemana-mana. Kembali ke masalah hujan-hujanan. Saya menyeberangi jalan besar itu dengan menghalau mobil-mobil yang tidak henti-hentinya membunyikan klakson. Seolah terburu-buru. Santai saja Bung! Toh kalian ada di dalam mobil, tidak seperti saya yang 'Wong Kere' ini. :D Haha! Nah, sampai di seberang, saya lupa. Lupa mau naik apa ke Lumbung Padi daerah Jeruk Purut! Yang saya ingat sih, biasanya saya naik Kopaja 615 dan turun di perempatan besar Antasari yang menuju ke Fatmawati D'Best. Tapi, saya coba dulu untuk bertanya pada teman saya, lewat pesan singkat. Dan balasan teman saya hanyalah, "Naik angkot merah Yu!"
Ironis. Angkot merah ada empat, bahkan lima jenis! Saya tidak tahu harus naik yang mana. -________-
Akhirnya saya putuskan untuk menunggu Kopaja dan nanti turun di Antasari sambil berhujan-hujan ria.

Saya akhirnya sampai di Antasari dan turun. Disambut dengan banjir. Mungkin karena pembangunan jalan layang daerah Antasari sampai Dharmawangsa yang tidak juga selesai dan membuat jalanan sekitar Antasari sering macet. Saluran air juga jadi tidak berjalan sempurna. Aduh ya, saya malah curhat terus tentang Jakarta. Hehe. Nah, saya berjalan di antara banjir. Berlari-lari kecil tepatnya. Saya sudah pasrah dengan kondisi sepatu berbahan kanvas yang basah kuyup yuuup yuuup! Saya terus berlari kecil dan sampailah saya di Lumbung Padi. Sebuah kafe sederhana untuk orang-orang sederhana. Kafe para rakyat yang selalu ramai dengan acara-acara musik untuk rakyat juga! Dengan para rakyat yang sungguh sangat merakyat! Dan saya adalah salah satu rakyatnya. :D

Sampai di tempat, saya tidak terlalu kecewa. Saya disambut dengan hangat oleh orang-orang yang hangat. Dengan minuman mereka. Dengan botol-botol bir mereka yang menghangatkan suasana Jakarta yang terguyur hujan deras. Dan saya pun bersalaman. Sambil beramah-tamah, saya pun segera masuk. Band yang sedang main, membawakan lagu The S.I.G.I.T. Wah, keren juga ya. Ternyata tidak perlu selalu Grunge yang diusung. Meskipun launchingnya diadakan oleh band Grunge, musik apapun tetap berjalan di sana. Tidak perlu ada diskriminasi atau apalah itu namanya.

The Crowd

The Black Crowd

Saya kurang bisa menghafal nama-nama band. Saya hanya memperhatikan beberapa yang menurut saya dominan. Semuanya bagus dan semuanya bersemangat. Semuanya memberi dukungan untuk band tuan rumah yang sedang mengadakan launching. Saling menghormati, tidak perlu ada hal yang membuat rusuh. Yang saya sayangkan hanya satu. Ketika band dari Bogor mulai untuk perform, ada celetukan yang tidak perlu. Celetukan seperti itu seyogyanya tidak untuk diperdengarkan. Mengingat, kita kan ada di acara sama-sama yang memungkinkan semua orang untuk hadir. Jadi, kalau ternyata ada orang yang tersangkut paut, wah, bisa hancur itu acara. Band Bogor itu nyeletuk begini sebelum bernyanyi, "Bonek tai!" Wah, parah kamu Pak. (mengingat yang sedang perform mungkin sudah bapak-bapak). Parah kamu Pak! (saya ulang lagi) Saya ingat betul, ada Mbah Man dari Surabaya dan mas Endok dari Sidoarjo. Mungkin, kalau dia bawa massa, bisa habis kamu Pak. Tapi untungnya, Mbah Man tidak ambil pusing. Toh dia bukan supporter bola. Ya kan?

Kembali ke masalah band yang perform. Salah satunya adalah Endelist. Band ini beranggotakan Bang Ghoday dari Lenteng Agung. Dan bassistnya, siapa ya? Drummernya juga. Kasihan saya. Bang Ghoday itu orang berpengaruh yang dilupakan teman-temannya. Ya sudah, dengan senang hati saya bantu untuk mengisi. Sebelumnya juga sudah kontak dengan Bang Ghoday. Yang membuat saya kaget adalah, saya ternyata harus mengisi drum! Bukannya gitar! Aduh. Saya sudah terlanjur belajar gitarnya. Akhirnya saya isi juga drumnya, untuk lagu Aneurysm dari Nirvana. Jelek atau bagus, ya bodo amat laaaah. Yang penting kan senang. Hehe. Untuk posisi bass, Zhygoth dari Gugurbunga juga membantu  bermain. Dan lengkaplah sudah Endelist. Bermain dengan keren! Dengan rakyat yang moshing. Semangat sekali semuanya. Itulah yang membuat kebersamaan di acara semakin bertambah. Mungkin hanya beberapa orang saja yang mengasingkan diri.

Nifas Launching

Tibalah saatnya band tuan rumah untuk menunjukkan beberapa lagu. Diiringi dengan host yang kocak, Bang Ghayoung dan Nana Feruriti. Mereka menceritakan riwayat band Nifas dari awal. Nantinya, dari beberapa riwayat itu akan ada kuis untuk mendapatkan CD orisinil band Nifas. Ayo! Yang mendukung pergerakan band grunge indie di Indonesia, jangan lupa beli ya! Cuma dengan dua puluh ribu rupiah, kalian sudah bisa memiliki compact disc dari band ini. Bagi yang mau memesan, mungkin bisa menghubungi facebook nifas di sini. Kalau mau mendengar dulu sample lagunya, bisa mampir ke reverbnation Nifas di sini.

Lagu-lagu yang dibawakan Nifas saat launching terdiri dari lagu mereka sendiri dan beberapa lagu cover. Lagu-lagu mereka menurut saya sangat sarat dengan influence dari Silverchair atau bahkan Navicula. Mengusung lirik yang penuh realita sosial di Indonesia, seperti Wong Kere dan Bapak Tono. Dinamika musik dengan suara beratnya sangat identik dengan Navicula dan Silverchair. Ini hanya pandangan saya saja lho ya. Kalau misalkan salah ya mohon maaf. Maklum lah, saya bukan benar-benar pengamat musik yang baik dan benar. Tapi bener lho! Nifas ini unik juga permainan musiknya. Ada beberapa melodi ganjil yang permainannya sama seperti Efek Rumah Kaca. Ada bagian dimana drum, gitar, dan bass saling bersahut-sahutan untuk mengisi bagian solo. Wah unik lah pokoknya! Bang Leman sendiri; bagian vokal dan gitar, bernyanyi dengan sangat semangat! Berapa lagu ya? Hampir sepuluh lagu atau bahkan lebih. Saya lupa menghitungnya. Saya tahu, dia capek bernyanyi. Tapi, rakyat Lumbung Padi saat itu sudah terlanjur moshing. Dan kalau kegilaan mereka dihentikan, mereka mungkin bisa membakar Lumbung Padi. (berlebihan ya? bodo ah. hehe)

Bang Leman - Gitar/Vokal Nifas

Nifas (dengan additional drummer)

Saat itu, Nifas tampil dengan bantuan additional drummer. Jadi, bagi yang berminat untuk menjadi drummernya, silakan kontak Bang Leman atau ke facebook Nifas langsung ya! :)

Nifas selesai, mulai masuk lagi band-band untuk mengisi. Salah satunya adalah Arc Yellow. Band satu ini juga sudah menelurkan album dan tinggal menunggu launching saja. Jangan lupa beli juga. Sekalian sama Mushafear ya! Hehe. Nanti saya juga mau review tentang album Mushafear dan juga Arc Yellow. Ditunggu saja. Nah, kembali ke Arc Yellow. Band ini mengusung noise sebagai kiblat. Dan ketika perform, buseeeeeeeet! Noise yang ada bisa menggetarkan Lumbung Padi. Saya saja jadi terkesima. Apalagi bassistnya, Regie Permana, yang benar-benar gembel saat itu sangat masuk dengan tajuk album Nifas, Wong Kere. Hehe. (Peace Reg!) 

Regie Arc Yellow

Kasian si Regie (sepatunya) :p

Nah, beberapa band setelah itu, datanglah band penutup. The Bolong! Mungkin semuanya sudah tahu tentang The Bolong. Pasti tahu dong! Band ini membawakan lagu-lagu sendiri. Dan banyak juga yang moshing. Saya sendiri, mungkin kalau saya tidak ingat sedang pakai kerudung, sudah lompat-lompat di tengah kerumunan orang-orang yang dominan memakai kaos hitam itu. Untunglah, saya masih ingat kalau ada kerudung di kepala saya. Hehe. Malu juga kalau harus moshing. Akhirnya saya hanya mengangguk-angguk saja di pinggir. Takut tertendang atau tertimpa kerumunan yang semakin malam semakin memanas. Yang disayangkan adalah, ketika The Bolong tampil, kamera saya sedang di-charge. Baterainya habis dan tidak bisa mengambil foto. T_T Huhuuuu. Tapi, nggak apa-apa. Untung waktu itu banyak yang bawa kamera. 

Setelah The Bolong, host menutup acara. Dan semuanya memberikan selamat pada Nifas. Semua bangga karena grunge yang dicintai, mulai bangkit kembali. Semua memberikan dukungan, meskipun bukan band mereka yang launching album. Itulah inti dari solidaritas kepada sesama. Jangan ada rusuh-rusuhan atau diskriminasi ya! Kere nggak kere, yang penting berkarya dan tidak saling adu jotos. Saling dukung dan saling rangkul.

Akhir kata, saya pun ingin mengucapkan selamat kepada Nifas. Semoga dengan album perdananya, Nifas akan semakin maju. Nifas semakin peka terhadap realita dan kebobrokan sosial. Nifas semakin giat dalam mengusung lagu-lagu yang berbau sosial. Nifas semakin membela rakyat. 

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat...

Iklan Album
Model: Rinjani
HAHAHAAAA :D

Salam!

-Ayuu-

Thursday, February 9, 2012

Betapa Birunya 'Baik Untukku' oleh Sister Morphin


Kebiasaan mencetuskan lagu mingguan ini dimulai sejak kapan ya? Hmm, oh ya, sejak saya menulis ulasan tentang lagu Pearl Jam yang berjudul Better Man. Sejak itu, selalu saja ada lagu yang terus menerus diputar di kepala, di fisik winamp atau bahkan saya nyanyikan.

Kali ini, saya sedang gila-gilanya dengan lagu Sister Morphin. Ada yang tahu? Silakan cari di google. Atau kalau malas, silakan mengingat LA Lights Indie Fest yang ketiga. Di antara band-band serupa C.U.T.S, Tigapagi, Wai Rejected dan band-band lainnya, ada Sister Morphin di sana. Saya pikir, lagunya akan sama seperti track sebelumnya. Alunan dengan tempo cepat dan hentakan keras yang kala itu sedang didominasi dengan aliran melodic ataupun semi-metal. Setelah saya sampai pada lagu Sister Morphin, suasana yang mendominasi perlahan jatuh menjadi suasana jazz melankolis. Ya sudah, saya dengarkan sambil merenung. Di ujung perenungan itu, saya malah menangis. Yah, betapa melankolisnya saya...



Saya akhir-akhir ini memang sedang 'membiru'. Tidak ada yang saya lakukan selain mengulang lagu ini sambil merenung. Kadang, saya sambil meneguk kopi, sampai bergelas-gelas. Di dekat jendela kontrakan, dengan pemandangan ke arah papan reklame besar yang sudah memangkas hak saya untuk memandangi langit dan ranting kering yang biasa saya pandangi ketika sedang biru. Sekarang, papan reklame itu menghalangi pemandangan dan saya mulai mengalihkan perhatian pada torrent air di dekat tangga naik menuju kost saya. Tempat air itu sudah berlumut dan banyak tanaman paku tumbuh di sana. Saya mendaulat penampung air itu, sebagai pemandangan favorit saya saat ini.

Sambil membuat design sampul untuk buku kumpulan sajak yang akan saya terbitkan, saya mendengarkan lagu Sister Morphin itu. Yang dihasilkan malah gambar-gambar tidak jelas dan kebiruan yang semakin membiru. Saya menghentikan kegiatan design sampul buku saya dan malah masuk ke dalam imajinasi liar.

Alhasil, sampai detik ini, saya masih bolos kerja dan lebih suka berdiam diri di kamar untuk merenung, atau berjalan-jalan ke manapun kaki saya ingin melangkah. Apakah sebesar ini efek lagu melankolis untuk saya?

Bagi yang ingin tahu, silakan cek liriknya sambil memutar video di atas.

Sister Morphin - Baik Untukku
Aku sedih, kamu mau pergi
pergi kecinta yang lain, dan aku tak tahu
aku hancur, dan aku bosan menangis
kumasih jatuh padamu
namamu masih ada dihatiku

reff:
semua orang bilang sintaku ini bodoh dan salah
tapi ku tak akan peduli, karena kau baik untukku.
kau baik untukku

Aku sakit, dan aku muak menangis
bisakah kau lihat lagi
gambarmu masih ada dihatiku

reff:
semua orang bilang cintaku ini bodoh dan salah
tapi aku tak akan peduli, karena kau baik untukku
kau baik untukku


===============
Salam biru selalu,

Ayu.

Jakarta, 09 Februari 2012
Pindang di kontrakan...

Tuesday, February 7, 2012

Saturday, February 4, 2012

Playlist Galau Satnite, Tiga Venus, Sampoerna Mild


Ah ya, sekarang saya menulis lagi. Merampungkan bangkai antologi puisi sampah saya dan beberapa draft novel yang sudah lama membusuk tanpa dibuang, dibakar, dilemparkan ke tengah laut, atau didaur ulang. Ya begitulah saya, dengan mood yang sulit ditentukan. Entah karena saya perempuan, entah karena memang benar-benar tidak punya konsistensi tinggi. Yang jelas, sekarang ini, saya jadi menulis membabi-buta lagi. Dan itu berarti, hidup saya yang agak sedikit tidak karuan, kembali menghiasi saya. 

Beer, kopi, rokok, beli buku sebanyak mungkin, dan malas kerja...
Empat hal di atas adalah hidup saya, ketika dulu saya rajin menulis dan saya paling takut kalau itu kembali terjadi. Dan sekarang ini, 50 bahkan 75 persen dari lima hal itu, mulai kembali mengawang-awang dalam pikiran. Dan apa yang saya dapat? Kantong kering, tapi draft novel saya benar-benar rampung. Sebuah kontradiksi yang sangat seksi bukan?

Nah, apa inti dari tulisan ini? Tidak ada sama sekali kok. Intinya, saya curhat lagi, mengoceh lagi, dan itu berarti, saya lagi aeng seperti biasa! Hahaha...

lalalaaaa...

Beberapa hari terakhir ini, saya agak sakit-sakitan karena terlalu sering begadang hanya untuk menulis. Dan akhir-akhir ini pula, saya menyentuh hal itu lagi. Suatu benda berasap yang saya diamkan selama beberapa tahun, dan berhasil saya tendang jauh-jauh. Sekarang, saya menyentuh benda itu lagi, sebuah batangan sampah untuk paru-paru saya. Uh... Dan di samping itu semua, selalu ada buku yang menghiasi. Anehnya, saya tidak merasa takut kekurangan uang hanya karena saya hamburkan untuk sampah-sampah itu. Yah mau bagaimana lagi. Inspirasi saya dengan mudah muncul karena itu, apa ya namanya? Sampoerna Mild, kopi, dan buku-buku yang berbagai macam. Semua itu saya beli dengan hasil keringat saya yang akhir-akhir ini sudah jarang diperas karena saya malas bekerja. Lalu, bagaimana saya mau merokok dan membeli kopi kalau saya tidak bekerja? Ternyata saya masih bisa hidup, karena ada gitar dengan senar karatan milik teman, yang saya gunakan untuk mencari uang dikala senggang. Oh Tuhan, saya tidak ingin begini lagi! Saya tidak ingin kembali seperti dulu. Dan nyatanya, saya malah melanggar janji saya terhadap diri sendiri.

Sedih? Tentu saja. Siapa sih yang tidak sedih karena melanggar janji. Sudah melanggar janji, merusak hidup pula. Tentu sedih. Tapi, di balik kesedihan saya, ternyata ada hasil yang saya dapat. Oh... Entahlah. Apakah saya harus bangga atau harus mengumpati diri sendiri karena semua ini? Saya pun tidak pernah mendapatkan jawabannya.

Yang saya tahu, akhir-akhir ini saya lebih sering melamun, mengetik, merokok, meminum kopi sampai dosis yang berlebihan dan mendengarkan lagu mellow sepanjang hari... :(

Tidak percaya?
Silakan lihat daftar lagu saya beberapa minggu terakhir...
  1. Angels and Airwaves - Breathe
  2. Copeland - On The Safest Ledge
  3. L'arc En Ciel - My Dear
  4. Adele - Make You Feel My Love
  5. Dashboard Confessional - A Plain Morning
  6. Incubus - Love Hurts
  7. Oasis - Don't Go Away
  8. Coldplay - Trouble
  9. Monkey to Millionaire - Merah
  10. The Trees and The Wild - Noble Savage
  11. Sister Morphin - Baik Untukku
  12. Blink 182 - Stay Together For The Kids
  13. Silverchair - Black Tangled Heart
  14. Pearl Jam - Indifference
  15. Cranberries - Linger
  16. Five For Fighting - Dying
  17. Rivermaya - Bali Song
  18. Foo Fighters - Walking After You
  19. Bic Runga - Sway
  20. Dido - Thank You
  21. Jewel - Down So Long
  22. Natalie Imbruglia - Torn
  23. New Radicals - Someday We'll Know
  24. Astrid - Tentang Rasa
  25. Padi - Jangan Datang Malam Ini
  26. Mr. Big - To Be With You
  27. Amazing in Bed - Romansick
  28. The Adams - Hanya Kau
  29. Ballerina's Killer - Seharusnya Kau Tahu Arti Sepi
  30. Bunga - Kasih Jangan Kau Pergi
Ya ampun... Saya mungkin sedang hancur sekarang dan entah apa yang saya harapkan dari semua ini. Saya belum merasa nyaman dalam zona aman. Dan saya kadang merindukan saat-saat liar seperti dulu, saat saya dalam zona aman.

Semoga saya diselamatkan dengan segera... T^T