January 2012

Saturday, January 14, 2012

Wayang Kampung Sebelah at Semalam Bersama Gusdur


Sebenarnya, baru beberapa bulan terakhir ini saya mempelajari kultur budaya di Indonesia, khususnya Jawa dan Bali. Semua itu saya lakukan sebagai referensi untuk saya menulis cerita dan beberapa esei ringan. Yah begitulah kalau saya sudah mulai menulis, maka saya tidak akan bisa berhenti lagi. Dan kali ini, saya akan membuat sebuah ulasan tentang acara wayang yang diinformasikan oleh seorang teman blogger bernama Abdullah Alawi.

Nah, acara ini diadakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun Abdurahman Wahid alias Bapak Pluralis Indonesia, Gus Dur. Acara lebih dititikberatkan pada acara kebudayaan, sepertinya. Saya sendiri datang saat acara wayangnya saja karena memang saya sebelumnya mampir dulu di tongkrongan teman-teman saya di Kampung Utan Ciputat.

Saat itu, teman-teman sedang berkumpul dan ketika saya menginformasikan tentang acara wayang yang akan diadakan di Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta oleh panitia Haul Gusdur dengan penampilan Wayang Kampung Sebelah, mereka pun berminat untuk menonton. Akhirnya, kami berangkat pada pukul sebelas lewat. Hujan-hujanan menuju UIN.

Sampai di Student Center, saya ternyata tidak langsung menonton wayang yang bertempat di tengah-tengah lapangan. Kenapa? Karena saat sampai di SC, saya sudah disuguhkan dengan pemandangan buku-buku yang sangat, yah, kalian tahulah, sebagai pecinta buku dan membaca, buku-buku yang disuguhkan saat itu benar-benar menggiurkan. Saya ingin membeli buku-buku yang sengaja dijual saat itu, tapi uang yang saya punya tidak mencukupi. Ada beberapa buku yang tidak saya duga akan ada di sana. Di UIN, masa iya sih, ada yang menjual buku biografi Jim Morrison: No One Here Gets Out Alive, buku Tan Malaka: Madilog, beberapa buku tentang pemberontakan PKI, buku-buku pergerakan aliran kiri, yang tidak saya duga dijual di sana. Keren bukan? :D

tampilang jualan buku

SC UIN

buku-buku >,<
Beralih dari tempat buku, setelah puas untuk menumpang baca-baca beberapa sinopsis buku, kami beralih ke tempat wayang. Menaiki tangga, riuh suara penonton yang tertawa mulai terdengar. Kondisi di lapangan hujan dan penonton sangat antusias menonton, sambil hujan-hujanan. Saya sendiri, bersama tiga orang teman saya, mendapatkan tempat di samping para pemain musiknya. Kami tidak menonton dari awal, jadi kami hanya ikut tertawa saja, karena tidak mengerti jalan ceritanya. Kami hanya bisa terpana saja melihat dalang yang sangat piawai membawa emosi penonton sampai tertawa terpingkal-pingkal.

foto dadakan kualitas buruk :(


saya, dengan efek blur (yang moto emang gak bisa :P)

dalang dan kawan-kawan

gedebong pisang, kesannya kok magis yah?
Kami pun menyaksikan dari tengah sampai wayang benar-benar berakhir. Di akhir kisah, saya bisa menangkap satu pesan. Entah awalnya sama atau tidak, yang saya tahu, pentas wayang kulit kali ini menceritakan tentang seorang lelaki bernama Pak Karyo yang tidak bekerja, senang mabuk-mabukan, berjudi, dan tidak bisa menafkahi istri beserta keluarganya. Istrinya, Bu Karyo sampai terlibat hutang dengan orang-orang di desa tempat dia tinggal dan pada akhirnya, orang-orang yang dihutangkan itu datang ke rumah Pak Karyo. Mereka menagih hutang-hutang pada Pak Karyo. Mulai dari ibu PKK, Bapak RT, seorang nenek tua yang entah siapa namanya, dan orang lainnya. Pak Karyo tidak bisa mengelak. Dia tidak memiliki uang untuk membayar dan wayang pun ditutup dengan kisah Pak Karyo yang kebingungan. Ya mungkin seperti itulah ceritanya, dari yang saya tangkap sejak tiga puluh menit pertunjukkan sebelum akhirnya selesai.

Yang saya dan teman-teman saya sukai, sekali lagi adalah cara pembawaan cerita oleh dalang dan sinden yang menyanyi dengan sangat lihai. Suaranya melengking merdu, sangat bagus sekali untuk dipadupadankan dengan dalang dan timnya yang membawakan cerita wayang menjadi lebih modern. Nah, wayang seperti ini dijamin tidak akan membuat penonton bosan, dan pastinya akan lebih banyak lagi orang yang berminat menonton wayang.

Sebelum pulang, saya dan tiga orang teman saya, menyempatkan diri untuk berfoto dengan wayang-wayang (secara diam-diam karena kami malu, hehe) dan mengambil foto pesinden yang cantik. :)

Sayaa :P

Heihoooo :D

Teteh Sindeeeen :D
Ya kira-kira seperti itulah ulasan yang saya sampaikan. Mohon maaf juga kalau ulasan ini malah jadi semacam curhat. Hehe. Yang jelas, saya jadi lebih senang mempelajari kultur negara saya ini. Semua tentang budaya dan seni Indonesia harus tetap kita lestarikan. :)


Salam.

-Ayuu-



Friday, January 6, 2012

(Intermezzo) Penokohan Tujuh Divisi


Halo sobaaaat! :)
Sebenarnya saya lagi stuck lho! Kenapa? Ya karena sesuatu hal yang menyebabkan saya sibuk dan sulit untuk berpikir tentang plot, alur, dan sebagainya. Jadi, untuk chapter Tujuh Divisi sepertinya akan saya pending dulu untuk sementara. Mungkin, nanti malam saya baru bisa posting lagi untuk bagian ke-4 dari Tujuh Divisi. 

Nah, karena waktu itu Mama Della sempat mengomentari tentang tokoh Ichan di sini, mungkin saya akan membuat sedikit gambaran akan para tokoh di Tujuh Divisi. Di posting-an kali ini, saya cuma mau memberikan gambaran tentang tokoh yang ada di Tujuh Divisi. Beberapa tokoh saya gambarkan dan memang saya deskripsikan agak mirip dengan orang-orang di sekitar saya. Salah satunya adalah si suami gondrong. >:D~~~ Buat tokoh-tokoh yang lain, yang sekiranya pas menggambarkan tokoh-tokoh Tujuh Divisi, saya ambil dari para tokoh di layar kaca. :)



Nah, silakan langsung simak saja penokohan yang saya gambarkan.

Zhygoth as Ichan

Sepanjang jalan Djuanda Ciputat, Tangerang Selatan, macet total. Pemandangan jalan yang tidak menyenangkan dan penuh polusi tidak menyurutkan semangat seorang lelaki yang sedang menjaga kios reklamenya. Lelaki yang sedang menjaga reklame itu juga sudah biasa melihat kemacetan di jalanan depan kiosnya. Dia tidak menanggapi semua itu dengan kesal. Dia membalas bunyi klakson mobil yang tidak beradab dengan teriakan dan bunyi gitarnya. Dia juga membalas asap-asap racun kendaraan dengan hembusan asap rokoknya. Lelaki yang apatis itu bernama Ichan, penjaga kios reklame yang menyimpan masa lalu kelam akan dunia ekspedisi.
Tokoh Ichan, saya gambarkan seperti Zhygoth, Bassist Gugurbunga dan memang membuka kios reklame di daerah Situ Gintung.



Medina Kamil as Gitta
Gitta adalah perempuan mandiri yang membiayai hidupnya sendiri, sejak menyesap pendidikan di Sekolah Teknik Menengah dulu. Dia adalah mahasiswa Kesos—Ilmu Kesejahteraan Sosial—di salah satu universitas swasta di Jakarta. Dia mulai hidup mandiri sejak ayah dan ibunya berpisah. Selang setengah tahun sejak ayahnya meninggalkan dia dan ibunya, ibunya meninggal. Saat ditinggalkan oleh ayahnya, ibu Gitta sebenarnya sudah sakit-sakitan dan puncaknya adalah selang enam bulan sejak mereka ditinggalkan. Itu membuat Gitta membenci sosok ayahnya dan tidak pernah berharap apapun dari ayahnya. Gitta pun tidak pernah mengiyakan penawaran ayahnya yang mengajak Gitta tinggal bersama ayahnya dan keluarga barunya. Larangan ayahnya agar Gitta berhenti panjat tebing pun tidak dia gubris. Meskipun ayahnya memohon agar Gitta menurut, Gitta tetap saja pada pendiriannya. Pendiriannya untuk hidup swadaya. Tokoh Gitta saya gambarkan seperti Medina Kamil (hanya tampilan loh ya) dan ini lumayan cocok kok. :D

Winky Wiryawan as Tom
Tom tidak pernah merasa sesial hari ini. Dulu dia adalah mahasiswa yang aktif, senang bersosialisasi dan senang berpergian. Dia memiliki jiwa petualang sejati, seharusnya. Orang tuanya adalah petualang sejati. Ayahnya arkeolog dan ibunya adalah seorang backpacker yang rajin membuat catatan perjalanan di sebuah situs kepenulisan. Banyak orang yang mengenal ibunya lewat tulisan-tulisannya. Sejak kedua orang tuanya meninggal dan dia dititipkan pada paman dan bibinya, Tom dididik untuk hidup disiplin. Pulang harus tepat waktu, makan harus teratur, tidur tidak boleh kelewat malam, tidak boleh bermain selain hari libur, dan lain sebagainya. Sampai sekarang pun, kebiasaan disiplin yang menjerat lehernya masih sering terjadi. Tom sekarang sudah menjadi robot pekerja di sebuah perusahaan IT. Dirinya adalah salah satu engineer di perusahaan tersebut dan tenaganya sangat dibutuhkan. Itu semua membuat dirinya tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan. Sebenarnya, kalau dia tidak ingat akan kedua paman bibinya yang senantiasa membantu dia, mungkin dia sudah pergi meninggalkan semuanya. Dan sekarang, Tom hanya bisa menggerutu kalau dia sedang kesal atau rindu akan dunia petualangan. Inilah Tom! Sosok Winky Wiryawan. >:D~~~

Dan ke empat tokoh cameo yang akan hadir sebagai teman ekspedisi, ada di bawah ini.

Teh Ega as Ambar
(ini teman di parkiran Kp. Utan)

Nama: Ambar Gema Nastiti
Panggilan: Ambar
Sifat Umum: Ramah, perokok berat, kuat, pendirian teguh, kadang sinis
Pekerjaan: Baru lulus kuliah tidak bekerja, hanya mengabdi pada SAR Walagri
Domisili: Bandung
Anggota Walagri angkatan 37 dalam divisi Survival
Nomor Anggota SAR: WAL13447
Hobi: Naik gunung, merokok, bersepeda, backpacking
Equipment: Survival kit lengkap, kompor ABRI, carriel Consina, jaket parasut merah dari North Face, dan beberapa perangkat gunung bermerek Eiger. :D








Kang Diyana Mulki as Dom
(ini kakak kelas saya waktu STM dulu)
Nama: Arjuna Christa
Panggilan: Dom (entah darimana asalnya bisa dipanggil begitu)
Sifat Umum: baik, agak slenge'an, perokok berat, peminum bir, dan sangat menggilai gunung
Pekerjaan: designer lepas di majalah Indie Surabaya
Domisili: Surabaya
Anggota Walagri angkatan 37 divisi Navigasi
Nomor Anggota SAR: WAL13448
Hobi: naik gunung dan jalan-jalan
Equipment: semua alat mendaki keluaran Consina




Si Petet Panjul as Bima
(temen parkiran juga)
 Nama: Bima Petra Pandu
Panggilan: Bima, Bimbim
Sifat Umum: pendiam, agak naif
Pekerjaan: mahasiswa di Solo
Domisili: Solo, Surakarta
Anggota Walagri angkatan 37 divisi Shelter
Nomor Anggota SAR: WAL13449
Hobi: tidur, melamun, naik gunung
Equipment: Eiger dan Alpine



Sandy Acong as Salman
(temen parkiran yang
suka ngojekin saya :D)
Nama: Salman Nursandi
Panggilan: Salman
Sifat Umum: pendiam, kadang jahil, cengengesan
Pekerjaan: mahasiswa di Solo
Domisili: Solo
Anggota Walagri angkatan 37 divisi P3K
Nomor Anggota SAR: WAL13450
Hobi: merokok, tidur, ketawa, naik gunung
Equipment: Eiger dan Alpine, punya kompas asli berbahan baja ringan






Nah, kira-kira begitulah tokoh-tokoh yang akan muncul secara dominan dalam Tujuh Divisi. Berikut ini ada list dari divisi mereka masing-masing yang sebelumnya sudah saya sebutkan di atas.
  1. Ichan divisi mountaineering.
  2. Gitta divisi climbing.
  3. Tom divisi penyeberangan.
  4. Ambar divisi survival.
  5. Dom divisi navigasi.
  6. Bima divisi shelter.
  7. Salman divisi P3K.
Oke, sekian dulu mungkin yaaa intermezzo dari saya. Semoga besok saya bisa melanjutkan proyek ini. Semangat!!! 

rgrds,

-Ayuu-