Skip to main content

Kisah Epik Mahabharata

Putu Fajar Arcana
sumber gambar
Menyelesaikan satu kisah Mahabharata memang membutuhkan pemikiran yang jernih dan benar-benar tidak terkait dengan pikiran lain yang menggelayut dalam benak. Dan dari semua pengorbanan pengosongan pikiran itulah, kisah epik Mahabharata selesai dengan sempurna dan meninggalkan bekas-bekas dalam jiwa maupun raga. Berbagai bentuk kisah dari lakon Pandawa dan Kurawa, kerap kali disuguhkan melalui berbagai bentuk cerita. Tak jarang dari kisah-kisah itu yang menuai konflik sekaligus sarat makna. Salah satu kisah lelakon tersebut adalah kisah utama Dewi Uma dan Sahadewa yang digambarkan dalam novel besutan salah satu redaktur kompas Minggu, Putu Fajar Arcana.

Buku satu ini menjadi unik bukan hanya karena mengambil satu paham feminisme yang bisa ditarik dari satu tokoh dewi kahyangan, melainkan menjadi unik juga karena digambarkan dalam kisah yang melompat dan paralel. Di satu sisi, tokoh utama yang memiliki lakon dalam buku, berkisah lewat tembang-tembang yang dinyanyikan oleh seorang ayah pada anaknya di sepanjang perjalanan. Kisah menjadi satu fragmen, meski digambarkan dalam dua masa yang sudah jelas berbeda. Meskipun pada kisah si bapak dan anak itu digambarkan hanya dalam sehari semalam, kisah tokoh-tokoh yang familiar dalam wayang ini malah digambarkan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Sungguh paralel dan seperti berada dalam dua masa berbeda. Ini adalah salah satu nilai plus yang saya berikan terhadap buku.

Gandamayu
Dalam buku ini, kisah awal menggambarkan bingkai seorang dewi kahyangan yang akan diuji kesetiaannya oleh sang suami yang tak lain adalah Dewa Siwa. Dewi Uma--istri dari Dewa Siwa itu--akan diuji kesetiaannya selama menjadi istri. Maka, dengan berpura-pura sakit, Dewa Siwa memerintahkan Dewi Uma untuk mencari susu sapi di bumi dengan ciri sapi betina yang akan digembalakan oleh seorang pemuda. Dengan segenap kepatuhan, Uma yang taat akhirnya turun ke bumi. Di perjalanan, ia akhirnya menemukan susu sapi yang dimaksud dan pemuda itu meminta imbalan yang tak murah. Uma diminta untuk tidur semalam dengan pemuda itu yang tak lain adalah jelmaan Dewa Siwa sendiri. Setelah Uma mendapatkan susu tersebut, Uma kembali ke kahyangan tanpa mengetahui bahwa pemuda itu adalah jelmaan Siwa sendiri. 

Sampai di kahyangan, Uma memberikan susu pada Dewa Siwa dan sang dewa mempertanyakan darimana Uma bisa mendapatkan susu sapi betina. Uma tak kuasa berbohong pada suaminya dan ia katakan hal yang sebenarnya. Dewa Siwa dengan angkuhnya murka dan mengutuk Uma menjadi Batari Durga, ratu dedemit penguasa Setra Gandamayu. Tanpa mencoba mempertanyakan kesalahan, Uma menerimanya sebagai bentuk kepatuhan dan dikatakan bahwa ia akan kembali ke wujud semula dengan ruwatan dari seorang ksatria Pandawa.

Kisah pun berlanjut dan berganti bingkai. Kembali mengisahkan seorang ayah yang sedang nembang sebuah cerita tentang Dewa dan Dewi pada anaknya dari atas sepeda kumbangnya. Sang ayah yang mendapatkan pekerjaan untuk mengisi acara ruwatan untuk nembang, mengajak anaknya untuk turut serta. Dan sampai di sini, kisah kembali pada fragmen dimana Pandawa sedang kocar-kacir karena perang. Dewi Kunti sebagai ibunda dari lima Pandawa, dengan terpaksa memohon pertolongan pada Dewi Durga yang tak lain adalah Uma dengan wujud buruk rupa.

Dewa Siwa dan Dewi Uma (Durga)
sumber gambar

Kunti berlari tertatih menuju Setra Gandamayu dan disambut oleh Kalika, abdi setia Batari Durga. Setelah bertemu dengan Durga, Kunti menyatakan maksud kedatangannya dan disambut oleh Durga dengan tidak murah harganya. Durga meminta salah satu Pandawa untuk dijadikan tumbal dan Kunti tak mau menumbalkan anaknya sendiri. Karena menolak, dengan perintah Durga, Kalika merasuki tubuh Kunti dan Kunti kembali ke Indraprasta untuk membawa Sahadewa (Sadewa) ke tangan Durga.

Kisah berlanjut dengan disekapnya Sahadewa, dan mari kita lewat kisah berikutnya karena akan panjang sekali kalau saya teruskan. Hehehe. Akhirnya, Siwa yang sadar akan kesalahannya telah memperdayai istri sendiri, merasuki tubuh Sahadewa yang sudah di ambang kematian karena akan dilahap habis oleh Dewi Durga. Dengan merapal, Sahadewa menggumamkan mantra ruwatan dari Dewa Siwa dan seketika saja, Durga sudah kembali menjadi Dewi Uma. Setra Gandamayu berubah menjadi taman yang indah dan Uma memberi beberapa tugas pada Sahadewa sebelum akhirnya kembali ke kahyangan.

Pandawa Lima
sumber gambar
Kisah sudah begitu sarat konflik, ketika Sahadewa yang masih ksatria hijau atau 'anak bawang' itu diminta untuk meruwat beberapa orang yang akan ia temui di perjalanan, sampai akhirnya ia bisa mengalahkan Kalantaka dan Kalanjaya yang menjadi dua raksasa di bawah kubu Kurawa, musuh bebuyutan Pandawa yang nantinya akan berperang di Kuru Setra.

Dan kisah pun diakhiri dengan kalahnya Kurawa, dengan kematian dua raksasa. Raksasa itu pun berubah menjadi dewa. Ternyata, mulanya mereka adalah dewa yang dikutuk oleh Dewa Siwa. Dan dari serangkaian kisah yang tergambar, fragmen kembali pada kisah ayah dan anak yang telah selesai menghadiri acara ruwatan, dengan si anak yang tertidur di pangkuan ayahnya.

Anak itu bermimpi menjadi seorang Sahadewa, ksatria hijau yang gagah melawan dua raksasa. Orang di sekitarnya tertawa, dan ayahnya hanya meminta anak itu diam. Si anak pun mengambil beberapa hikmah dari apa yang dituturkan Sahadewa (yang saya kutip dari buku Gandamayu itu sendiri), "Kami antarsaudara terpaksa saling bunuh hanya karena kekuasaan. Itulah yang nyaris terjadi di setiap negara. Demokrasi yang sekarang menggejala, apakah benar akan mengantarkan manusia pada kesadaran untuk berhenti saling membunuh? Tidak juga. Di negeri seberang, di mana kudengar demokrasi diberikan begitu leluasa, malah kejahatan, pembunuhan, pemerkosaan terhadap perempuan, saling fitnah, saling rebut kekuasaan hampir terjadi setiap hari."

Kisah Mahabharata yang ada di buku ini mengambil sisi yang tak semua orang bisa punya pikiran ke arah sana. Kisah ini mencakup kisah humanis yang mencakup sisi seorang perempuan. Bagaimana perempuan direndahkan dan mencoba untuk setia sampai ke titik jenuh yang terdalam. Bagaimana seorang ksatria maupun dewa, masih punya pemikiran yang mengacu pada kesejahteraan umat manusia yang ada di bawah mereka, meski keseharian mereka diliputi hidup mewah, serba ada, dan makmur. Semua kisah ini seperti kisah nyata yang terjadi di sekitar kita, hanya saja mengambil penokohan dari pewayangan. Karena saya bisa membuat beberapa bagian cerita kalau harus menjelaskannya secara keseluruhan, lebih baik mencari bukunya sendiri karena buku ini recommended untuk dibaca oleh berbagai kalangan usia. [Ayu]


Judul: Gandamayu
Penulis: Putu Fajar Arcana
Penerbit: Kompas
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-979-709-622-9
Halaman: 189 hlm + xv
Harga: Rp 35.000 - Rp 45.000 (lupa harganya)
Rating: 5/5
Review: http://www.goodreads.com/book/show/13484683-gandamayu

Comments

  1. waow riviewnya
    5/5 yak ratingnya bagus tuh buat koleksi.
    kalau soal perwayangan pernah sih ngebaca tentang gajahmada series yang ditulis sama langit siapa gitu lupa, soalnya bukunya minjem.
    udah baca belum kak, buku kerajaan majapahit series itu?

    ReplyDelete
  2. @NaspardLangit Kresna Hariadi ya maksudmu? Sudah, aku sudah baca. Plus buku-buku terbitan Dolphin, tentang serat Jawa yang masih ada hubungannya sama Majapahit. :D

    ReplyDelete
  3. nah itu, bagus juga sih. gimana kalau diriview in :D. udah kah?
    masalahnya kesengsem sama cara dia nyeritain, mantapp :D

    ReplyDelete
  4. Aq suka bnget ne,, bnyak plajaran untuk menuju pribadi yank lebih baik,,

    kunjungan perdana ini mbk,,dah folow jg no cnti folow nya #234

    d tunngu yah kunjungan n folow back na :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…