Skip to main content

(repost) Saya dan Kegilaan Mbah Arswendo Atmowiloto


Saya dan Kegilaan Mbah Arswendo Atmowiloto


Oleh: Ayu Welirang


Arswendo Atmowiloto
Saya agak kesal dan bebal setiap membuka situs yang berisi pencerahan diri atas karya-karya terbaik di bumi ini. Situs itu bertajukAnggur Torelli dan seakan memabukkan, saya pun memaksa diri untuk mengisahkan pencerahan yang saya dapat atas sebuah buku. Para penulis di sana boleh berbangga hati dan bersukacita karena karya John Steinbeck, saya pun akan mematahkan humor Steinbeck itu dengan humor lokal, Arswendo Atmowiloto.

Ada yang mau mengusir saya dari situs ini? Silakan. Saya tak gentar. Saya pun seratus persen yakin, kendati salah seorang dari pencetus Anggur Torelli membaca salah satu karya Arswendo, serta-merta humor satirnya akan menyusup pula. Seperti halnya mereka yang telah membuat saya iri setengah mati karena tak satu pun karya John Steinbeck yang saya miliki. Suatu saat nanti, saya pasti akan mendapatkan Dataran Tortilla, entah bagaimana caranya. Mungkin dengan memfoto kopi juga? Tak apalah disebut menurunkan harga diri, daripada merogoh kantong celana terlalu dalam di akhir bulan yang serba paceklik ini. Hehe.

***

Saya tidak akan membahas Steinbeck, tentu saja. Biarkan mereka dengan kesenangan masing-masing dan saya pun akan menebarkan kesenangan saya terhadap buku. Saya mulai mengumpulkan buku yang bermacam jenisnya sejak lulus SMP. Kala itu, saya membutuhkan banyak referensi agar saya bisa diterima dengan baik di salah satu STM ternama di Bandung. Saya berusaha keras menelan semua isi materi dalam buku-buku termasuk kisah fiksi yang bermuatan sains. Saya sampai menghabiskan tiga buku Supernova karya Dewi Lestari selama dua hari berturut-turut. Tak mandi, bahkan keluar kamar dengan semrawut. Dan hasilnya, saya bisa masuk sekolah itu, meski tak ada satu pun muatan sains dalam soal-soalnya. Hanya semacam psikotes dan saya tak merasa rugi karena kurangnya jam tidur yang disebabkan oleh buku-buku itu.

Selama bersekolah di STM empat tahun itu, semakin luas dunia yang saya lihat. Semakin banyak pula buku yang saya lahap. Mendekati ujian nasional, saya malah semakin giat mengkoleksi buku fiksi dan literatur. Di masa-masa itulah saya mulai bercengkrama dengan seorang Arswendo dan kegilaannya menulis humor-humor satir.

Seperti yang dikatakan Arswendo, kegilaan menulis pun pelan-pelan merasuki saya. Beberapa cerita pendek dan esai opini yang saya tuliskan, sempat dimuat oleh harianPikiran Rakyat. Tak berlangsung lama memang, karena beberapa bulan setelahnya, saya bertolak ke Jakarta untuk memenuhi panggilan magang dengan kontrak enam bulan. Saya tak merasa sedih, karena saya pasti akan kembali lagi ke kota Bandung tercinta. Tapi, nyatanya saya mendapat kontrak kerja yang lebih, sehingga harus menetap kembali selama satu tahun di Jakarta.

Saya mulai tak karuan. Koleksi buku yang hampir memenuhi kamar berukuran tiga kali lima meter itu mendadak tak ada. Di kamar kos saya yang lebih luas dari itu, malah sepi. Lengang dan terkesan agak mencekam karena kekosongannya. Saya mulai gila lagi dan mulai mencari toko-toko buku di dekat kos agar bisa mengisi kekosongan kamar. Mulailah saya mengisi kamar dengan buku-buku Arswendo yang saya dapatkan dalam bentuk cetak ulang dengan harga yang tak bisa dimungkiri, sangatlah tinggi. Tak lupa saya membawa serta buku-buku di Bandung ketika mudik dan penuhlah sudah kamar kos saya. Saya pun bertambah senang karena kerap kali mengunjungi toko buku bekas bernama “Guru Bangsa” yang namanya sekilas mengingatkan kita akan sosok Gus Dur. Toko buku ini berada tepat di belakang halte busway Pondok Pinang dan dengan cepat menjadi tempat saya nongkrong sambil berkontemplasi sepulang kerja.

Karena Mbah Arswendo, saya tak hanya membaca tetapi menulis juga. Berkali-kali mendapat cerca dari penulis berbakat di situs hijau kemudian dot com, saya tak jera. Saya menulis lagi sampai mendapatkan sisi yang paling tepat dari tulisan saya, entah sajaknya, entah esai, maupun cerita pendek yang saya buat. Dan kira-kira beginilah hasilnya, seperti tulisan ini. Tak melulu narasi dan lebih kepada deskripsi. Saya masih tak puas, dan saya terus mengeksplorasi.

Banyak teman saya yang mengatakan bahwa saya ini gila. Gila membaca, gila menulis, bahkan kadang kala bisa lupa perut sendiri ketika sedang membaca. Kalau mereka mendengar suara perut saya di tengah-tengah kuliah ekstensi hari Sabtu, pasti mereka akan merebut buku yang saya baca dan menarik saya segera, ke kantin. Mereka sembunyikan buku saya dari pandangan dan menjauhkan segala buku yang ada. Bahkan, selebaran pemilihan ketua FORKOM yang baru pun mereka hilangkan dari pandangan. Pasalnya, saya ini kelewat senang membaca. Apa saja bisa saya baca, termasuk tulisan di depan mobil truk maupun angkutan kota.

Novel 3 Cinta 1 Pria
Kali lain, teman saya mengatakan kalau saya ini sudah benar-benar di ambang kegilaan menulis. Dan kala itu, saya hanya mengutip kata-kata Arswendo dari buku 3 Cinta 1 Pria yang fenomenal, “Banyak yang bilang saya ini gila. Gila menulis. Ini mendekati benar, karena kalau tak menulis saya pastilah gila. Dan karena saya gila, maka saya menulis.” Teman saya hanya melongo dan segera beranjak dari kursinya dan memutuskan untuk tidak mengobrol dulu beberapa hari berikutnya dengan saya yang skeptis karena buku ini.

Membaca karya-karya Arswendo saya jadi mengerti akan hakikat sebuah kesederhanaan. Dengan tangkas dan cermat, Arswendo bisa begitu mudahnya bercerita tentang pohon talok dan ikan-ikan lele di empang. Berangkat dari kesederhanaan dan berakhir dengan kesan. Kisah-kisahnya memang sebagian besar berbau roman, roman sederhana untuk keluarga. Seperti kisah sinetron Keluarga Cemarayang sangat mengena bagi saya maupun beberapa anggota keluarga saya. Hampir setiap hari, kami menonton itu dan tak henti-hentinya bersyukur atas harta yang paling berharga, keluarga.

Roman juga tak melulu polemik cinta antar sepasang kekasih. Dari sinilah saya memaknai roman secara berbeda. Kisah sekecil apapun, seperti kecintaan pada pohon talok maupun ikan lele di empang, bisa jadi sebuah roman. Saya hanya bisa berkata, “Gila! Arswendo Atmowiloto sangatlah gila!” Mana mungkin ada orang waras yang masih bisa berpikiran segila ini dan menulis kisah cinta dari balik jeruji besi sebagai tahanan orde baru? Hanya sedikit orang yang bisa, di antaranya Pramoedya dan Arswendo.

Saya jadi semakin yakin kalau saya pun sudah mendekati gila. Dan yang menyelamatkan saya dari gila ini adalah pembenaran dari seorang Pramoedya, “Orang boleh pintar setinggi langit. Tapi, jika ia tidak menulis, maka ia akan dilupakan oleh sejarah dan oleh waktu.”

Saya rasa, saya akhirkan dulu kisah tentang kegilaan ini karena akan sangat mungkin sekali jika kisah ini jadi melebar kemana-mana. Saya mengagumi karya Arswendo tapi saya pun tak menolak jika ada salah satu dari kalian yang masih mau meminjamkan saya Steinbeck. Jadi bagaimana? Adakah yang mau meminjamkan saya buku John Steinbeck?

NB: Steinbeck-nya udah punyaaa kok. :D

Comments

  1. saking 'gilanya' Arswendo Atmiwiloto istilah Sinetron pun berawal dari tulisannya di tabloid..jenius nih orang

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…