Skip to main content

Psikoanalisis Pada Musisi Legendaris

Psikoanalisis Pada Musisi Legendaris

Kita mengetahui begitu banyak musisi legendaris yang hebat. Mereka semua melegenda karena kepiawaiannya bermusik, mencipta nada, dan mencipta lirik. Semua hal tersebut nyatanya bukan hanya lahir dari bakat semata, melainkan ada suatu keterikatan emosional dalam masing-masing musisi. Entah keterikatan dengan kehidupan, atau dengan manusia lainnya. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan musisi tersebut bisa mencipta, meski kadang kita melihat bahwa dalam penampilan mereka yang sempurna, tersimpan beberapa kejanggalan dalam citra.
Sebut saja Kurt Cobain, frontman dari Nirvana yang bisa kita saksikan performanya. Sedemikian vandalnya, sedemikian depresinya. Seperti hendak marah, entah pada siapa. Jika kita membaca kisahnya dalam buku biografi yang berjudul “Heavier Than Heaven”, kita akan dipaksa masuk pada kehidupan Kurt Cobain yang penuh dendam terhadap segala, terhadap semesta. Ini bukanlah bakat, karena ini adalah dasar jiwa yang mengakar sejak Kurt Cobain masih belia.
Sebagai salah satu musisi legendaris, tak disangka-sangka kalau Kurt menderita ADHD. Ini kondisi psikis yang menyerangnya sejak kecil. Sejak itulah dia jadi apatis, menolak segala, demi mendapatkan satu perhatian sebagai pencegah terbesar attention defisit pada dirinya. Beranjak remaja, ketika hidup mulai menunjukkan andil dalam perubahannya, Kurt menjadi salah seorang musisi yang menderita bipolar disorder. Suatu kondisi dimana seseorang memiliki kepribadian ganda, yang membuatnya terseret semakin dalam dan membentuk suatu pribadi untuk lebih agnostik terhadap sesuatu dan lebih memilih dunia sendiri yang indah. Memang, hal ini menjadi wajar jika melihat kondisi dimana skena grunge sedang meletup di Seattle. Kondisi sosial-psikososial yang mempengaruhi perkembangan psikis musisi legendaris itu tidak terkecuali, menyentuh Kurt Cobain juga. Prosesi vandalisme yang kerap kali terjadi di setiap konser Nirvana, adalah implikasi dari kondisi psikis. Adalah salah, jika para pengikut grunge di kemudian hari, menyebut vandalisme ini sebagai gaya hidup, sebagai tren, sebagai norma utama ketika bergiat dalam skena grunge.
Di samping kondisi psikisnya, beberapa lirik dan musik Nirvana memang patut disebut juara. Sulit menyandingkan nyanyian, dengan petikan gitar yang kunci dan ketukannya kadang tidak sesuai garis nada. Ini bukan perkara mudah, karena beberapa orang yang mencoba lagu-lagu Nirvana, tak jarang harus ekstra keras dalam mengulang dan memutar lagunya agar mendapatkan komposisi yang nyaris sama. Ini paradoks memang, tapi inilah realitanya.
Sebenarnya tak hanya Kurt. Ada beberapa musisi yang sekiranya memiliki kondisi serupa. Sebutlah Thom Yorke, Matt Bellamy, Craig Nicholls, dan musisi lain yang legendaris, memiliki kondisi psikis yang nyaris sama. Kurangnya perhatian, dunia sendiri, paranoia yang berlebihan terhadap hidup, dan beberapa kondisi psikis lainnya terkait dengan psikososial. Ini tak hanya berlaku pada musisi grunge yang memang berada pada masa dimana kondisi sosial dan politik di Amerika sedang panas-panasnya. Kehidupan pada medio 90-an yang kurang begitu bersahabat bagi para masyarakatnya. Ini tak hanya berlaku bagi skena grunge saja ternyata. Di beberapa bagian negara dengan musisi brilian yang juga menghasilkan musik yang brilian, selalu ada latar belakang di balik musik-musik yang mereka bentuk. Kondisi psikis memang kondisi dimana otak akan menjadi sangat-sangat alpha, dan para pencipta (tidak hanya dalam konteks musik), dapat mencipta sebuah karya yang akhirnya akan melegenda.
Jangan ditanya, apakah menurutmu, pelukis absurd yang karyanya dijual bermilyar-milyar mata uang itu tidak memiliki tekanan psikis? Apakah musisi-musisi tidak mengalami depresi? Berapa banyak musisi mati dan hilang dalam siklus 27-clubs yang terkenal? Apakah gangguan psikis menjadi satu-satunya problema hidup yang mesti disingkirkan?
Mestinya tak ada yang perlu dipertanyakan, karena semuanya itu memang kodrati. Sebagai manusia, normal sekalipun, pasti pernah mengalami suatu gejolak psikis. Pada saat gejolak itu naik, karya-karya baru akan lahir. Hidup yang monoton dan memaksa manusia untuk berpikiran seperti robot tanpa perlawanan itu justru tak dapat menopang aktivitas kreatif dari hipokampus atau otak manusia. Manusia perlu gejolak psikis, seperti halnya para musisi yang kadang tak bisa memilih jalan pulang. Ke mana ia harus melaju.
Ada peningkatan, tentu saja ada penurunan. Fase hidup yang bisa terlewati itulah yang nantinya akan benar-benar mematikan pemikiran seorang pemikir dan pencipta. Seperti para musisi yang sudah tak lagi memiliki obsesi dari gangguan psikisnya. Para musisi yang dikatakan sudah terlanjur sehat, ternyata tak lagi memiliki fantasi. Beberapa bahkan sudah tak lagi mencipta karya yang selegendaris dulu. Ada pula yang tetap bertahan pada jalurnya, dengan mengikuti gangguannya, tetapi semakin terpuruk dan akhirnya terbawa arus utama yang kekinian dalam permusikan. Didominasi pasar yang kadang tak melihat indah dan otentiknya sebuah karya. Gangguan psikis kadang diperlukan juga, karena dengan itulah manusia baru bisa menentang. Gangguan psikis kadang memang sangat membantu hal-hal paling mendasar dalam hidup manusia, karena dengan itulah manusia kadang tak perlu mempertanyakan hidup.
Seperti opini blak-blakan dengan melihat beberapa kemungkinan yang tersebar di buku-buku dan pembahasan serupa, yang dibuat ketika hipokampus sedang tak terlalu sadar. Menikmati gangguan-gangguan untuk mencapai aktualisasi diri.

Jakarta, 10 Agustus 2012 

Comments

  1. Orang-orang besar justru karena tekanan. Derita, dan juga beban. Kemudian dari tekanan-tekana tsb muncul gejala emosional yg brlebihan, mensupres sgala yang terekam di otak dan mengeluarkan hasilnya dibalut dgn selimut melankolis bermotifkan idealisme, hingga menghasilkan karya fenomenal :)

    ReplyDelete
  2. kegilaan itu tidak baik. apalagi sampai harus membuat orang-orang di sekitarmu menderita.
    jgn krn alasan utk menghasilkan karya seni kita sampai harus mencari tekanan. itu konyol

    ReplyDelete
  3. mudah bagi kita utk mengatakan bahwa gila itu baik...krn kita tidak pernah menghadapi dan terlibat langsung dalam mengurus orang-orang yg mengalami gangguan jiwa atau gila

    ReplyDelete
  4. saya senada dengan sky. gangguan psikis dilihat dari sisi manapun bukanlah sesuatu yang patut diharapkan demi aktualisasi diri.
    karya saya pikir bukan hal yang lahir dari keterkungkungan dan menjadi apati terhadap lingkungan untuk kemudian mencapai puncak fantasi, namun lebih kepada penemuan inspirasi yang dipadukan dengan daya imajiatif melalui proses kreatif.
    justru, tekanan, menurut saya lebih sering menjadi penghambat dalam produktifitas karya seni.

    ReplyDelete
  5. manusia akan selalu menghadapi masalah. tapi bagaimana menghadapi masalah itu berbeda2...

    tapi yang penting bagaimana manusia tersebut mampu mengurangi atau meredamnya....

    berkarya mungkin salah satu langkah positif.. dan saya kira, pada proses inilah yang penting.

    ReplyDelete
  6. @Skydrugzsaya kan sedang melakukan analisa, bukan mencoba untuk menyamaratakan paham bahwa karya harus dilahirkan dari keterkungkungan seseorang... coba pahami lagi deh.

    ReplyDelete
  7. @Skydrugzsaya pernah, maka dari itu saya tahu. bicara karya orang dengan gangguan kejiwaan selalu bicara tentang maestro, dan itu niscaya. orang sakit jiwa, berkarya lebih "waras" dan jujur apa adanya, ketimbang karya orang waras yang kadang dibuat-buat, ini benar2 suatu gejala positif lho, terhadap manipulasi karya. sedangkan, anda berkomentar atas tulisan saya ini, karena anda memang sesungguhnya tak mengetahui orang2 sakit jiwa itu, bagaimana kondisinya.

    ReplyDelete
  8. @Falraah tidak juga, berapa banyak tekanan yang diterima para penyair angkatan 45 dan pasca dibumihanguskannya PKI. Itu tekanan bro! Itu tekanan! Dan dari sanalah, para penyair malah melahirkan karya, bukan diam di kamar, menghitung hidup yang tinggal sisa. Meski akhirnya mereka dibungkam, tapi karya mereka abadi.

    ReplyDelete
  9. @Ayu Welirang

    sy mmg tidak pernah tahu kondisi mereka...krn sy tidak pernah gila.

    yg sy tahu, hanyalah mengobati mereka agar tidak membuat khawatir keluarga dan kawan-kawan yg menyayanginya

    ReplyDelete
  10. @Ayu Welirang

    pada waktu itu semua karya mereka dianggap luar biasa krn di masa itu mereka hanya sedikit...tidak banyak penyair...tidak banyak kaum intelektual...

    padahal mayoritas karya itu biasa-biasa saja..

    ReplyDelete
  11. @Ayu Welirang

    dan masalah kejujuran dalam berkarya..itu persoalan yg relatif...mustahil utk mengetahui kejujuran seseorang hy melalui karya...

    sangat mustahil...

    ReplyDelete
  12. @Ayu Welirang
    atas dasar apa kita mengatakan karya seseorang jujur atau tidak...apa parameter objektifnya?

    ReplyDelete
  13. @Falra

    sepakat dengan Falra...

    tidak butuh kegilaan utk menciptakan suatu karya seni atau proses kreatif lainnya

    ReplyDelete
  14. manusia selalu relatif. Memang dimungkin dalam kondisi tertekan, karya - karya fenomenal akan lebih sering muncul, selain untuk mekanisme pertahanan ego, itu juga sebagai penyaluran emosi. Sebagai orang psikologi saya percaya itu. Meski banyak pula karya - karya fenomenal lain, yang dihasilkan dalam kondisi tidak tertekan,
    keep writing girl !

    ReplyDelete
  15. @SKYDRUGZ "...padahal mayoritas karya itu biasa-biasa saja.."
    ????

    Karya Thom Yorke lau bilang biasa?
    point buat lau, jangan terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan apa yang kau tidak tahu dan mengerti tentang mereka

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…