Skip to main content

Perempuan-Perempuan Setelah Ibuku


Perempuan-Perempuan Setelah Ibuku

Ibuku yang kuat
yang gemar bercerita tentang Srikandi
perempuan yang juga kuat
jagoan panahan

Setelah ia tak ada
berterbanganlah tunastunas setelahnya
Setelah Ibuku tak ada
bermunculanlah ibuibu lainnya yang tak jauh beda

Dan dalam kurun waktu kematian ibuku yang pasca
perempuan-perempuan setelah ibuku
menjelma Hermes, Zara, Gucci, Sophie dan sepatu-sepatu hak tinggi
Perempuan setelah ia yang menangis
menjelma kartu kredit berpuluh jenis
dengan hias mulut ular yang manis

Perempuan-perempuan lainnya
merupa busana jingga di perempatan kota
mencari sebulir nasi pada remeh-temeh sampah kota
menyapunya, meski diupahi tak seberapa

Perempuan yang lebih kasihan lagi
mengiba di sepertiga malam yang kudus
mencari sempat pada lelaki-lelaki rakus
menjual hasrat yang tak pernah terbendung mulus
perempuan yang menjual diri tuk nasi bungkus
demi anak-anak yang kurus

Perempuan kini sudah tak lagi seperti ibuku
Semua serba susah, serba lemah dan terluka merah
Perempuan kini sudah tak lagi perempuan
Sudah tak lagi menggantung harapan
Pada lelaki-lelaki masa depan
Perempuan kini sudah terlalu banyak memakan
lukaluka yang biru lebam dan dibiarkan

Menganga... Lukanya kelewat menganga...
Perempuan, mati pelan-pelan...

Ayu Welirang
Jakarta, 14 Agustus 2012

Comments

  1. wanita dari zaman dulu, masalahnya selalu sama...

    sama halnya dengan pria...masalah mereka selalu sama...

    tidak ada yg berubah

    ReplyDelete
  2. @Skydrugzterserah anda, anda boleh mengartikan puisi sebagai apa saja kok. tidak ada yang melarang. :)

    ReplyDelete
  3. @Ayu Welirang
    ya begitulah...
    suka-suka para pembaca mau diapakan...dipuji, dihina, apapun itu, diinterpretasikan sebagai feminis, patriakal, terima saja.
    nasib tulisan krn sudah dilahirkan di dunia.

    ReplyDelete
  4. @Skydrugzterserah penulis dan terserah pembaca... :)

    ReplyDelete
  5. Suka sama kata2nya yu...

    ayo buat puisi tandingannya 'tentang laki-laki setelah ayahku' juga :-)

    ReplyDelete
  6. Jempol... Jempolll... Keren mbak ayuu. :D

    ReplyDelete
  7. Jempol... Jempolll... Keren mbak ayuu. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…