Ocehanmu Pada Satu Kilogram Sunyi

Ocehanmu Pada Satu Kilogram Sunyi
Oleh: Ayu Welirang

“Bagaimana rupa sang takdir yang sebenarnya? Apakah bulat, lonjong, atau segitiga? Bagaimana pula warnanya?” tanyamu pada suatu dini hari, memecah kepiluan yang membungkus satu kilogram sunyi.
Kurasa, itu tak perlu kujawab, karena kau pun mungkin sudah tahu jawabnya. Kurasa lagi, itu tak perlu kujelaskan, karena takdir tak pernah bisa dijelaskan dengan konsep, dengan sistematika atau dengan hirarki langit. Takdir itu ya tak ada penjelasannya. Jadi, kurasa kau tak perlu memohon-mohon jawabku. Aku akan menganggap itu sebagai pernyataan retorik saja.
Di tengah diamku yang menambah lagi satu kilogram sunyi, kau kembali mengulang retorika itu, “Takdir itu bagaimana? Kau mendengarku kan? Aku mohon, jelaskan.”
Ah, kusesap dulu aroma kopi dan sebatang kretek ini sambil memikirkan jawaban paling tepat untuk pertanyaan retorismu. Entah apa yang akan aku katakan, aku pun tak pernah tahu bagaimana rupanya takdir, aromanya, atau warnanya. Malah, kalau boleh aku saran pada Tuhan, kuminta saja takdir dengan wangi kretek, wangi tembakau dan cengkeh yang bersatupadu. Kuminta saja takdir dengan wujud perempuan berbikini dan berwarna kulit merona sempurna. Itu pun, kalau bisa. Mencari umpama takdir saja aku tak bisa, apalagi mewujudkannya dalam bentuk nyata. Nah! Ini dia jawabnya! Kurasa, aku akan berkata begitu padamu.
“Manisku, takdir itu seperti apa, aku tak tahu,” kataku. Ini adalah pernyataan sejelas-jelasnya dari pertanyaanmu. Yang seharusnya bisa aku katakan dengan dua kata, aku indahkan dengan untaian rayuan yang bisa membuatmu terbungkam.
Namun, kulihat matamu begitu sendu. Kecewa akan jawabanku. Secara tiba-tiba, aku pun mengelus rambutmu yang ikut lesu karena kecewa itu.
“Memangnya takdir seperti maumu itu bagaimana?” tanyaku kemudian.
Kau menengadah padaku, mencari sisa-sisa takdir tak terjawab itu dalam mataku.
“Aku ingin takdir yang berkilau, yang berwarna cokelat tua dan mencerahkan hari-hari juga waktuku. Aku ingin yang seperti itu. Apakah takdir itu mau menghampiriku?” tanyamu kemudian.
Dari retorisnya pertanyaanmu kemudian menghasilkan pertanyaan baru yang lebih kompleks dan membuat aku bingung mencari jawabannya. Aku tak tahu, apakah takdir itu seharusnya menghampiri sendiri atau dihampiri. Aku nyaris tak pernah memikirkan sekelumit berkas-berkas usang mengenai takdir. Aku tak pernah memaksa diri untuk menebak-nebak itu agar tak dibilang mendahului Tuhan.
Aku pun menggenggam tanganmu yang membeku karena sunyi dan sendu. Dengan sedikit haru, aku berkata, “Manisku, rupa takdir itu abstrak. Tak ada muaranya kecuali kau ingin memburunya. Semakin kau buru, semakin kau tipu dirimu.”
“Aku tak paham,” katamu, sambil memandangku seolah ingin memulai perdebatan sengit pada dini hari yang seharusnya jadi waktu-waktu merenungi nasib sendiri.
“Kalau tak paham, lalu harus bagaimana? Apakah kita mau berdebat saja di waktu yang sesakral dini hari?” tanyaku lagi, tanpa sedikitpun mengurangi tekanan haru agar kau berhenti bertanya tentang takdir itu.
Kau menggeleng dan membirukan raut wajahmu. Bagai domba tersesat yang menangis, kau pun memasang wajah memelas. Aku tak tega dan inginnya aku sudahi saja perdebatan tentang takdir, tentang Tuhan, tentang adanya surga atau neraka yang tak kunjung usai. Rasa-rasanya, beban hidupmu itu terlalu dalam, sampai kau tak bisa menikmati satu ons saja dari dini hari ini.
“Agar kau yakin, anggap saja takdir itu abstrak. Seabstrak lukisan Salvador Dali, seabstrak gugusan bintang yang bisa saja membentuk rasi, anggap saja seabstrak Jamie Baldridge si ahli manipulasi dan sebagainya. Kau bisa anggap takdir itu apa saja, seperti maumu,” kataku dalam satu tarikan nafas.
Akhirnya kau mengangguk dan memutuskan untuk kembali membentuk sunyi. Menenggelamkan dirimu dalam satu per satu telaga yang ada di jiwamu yang separuh nyata dan separuh maya. Aku hanya bisa menemanimu menikmati sunyi dalam satu kotak kaca yang menjaga abadiku.
Di sudut ruang itu, kau tetap berspekulasi akan takdir. Aku tetap di sampingmu, dalam pangkal pikir terdalam milikmu. Kau tetap membiru, terbunuh sepi dan tenggelam dalam pikiran akan takdirmu sendiri. Kau tetap sendirian, tetap kesepian…

-pernah diposkan pula di harian online di sini-

Comments

  1. tetap sendirian, tetap kesepian dan tetap berkubang pada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tidak pernah memuaskan, begitulah pada hakikatnya manusia kan? selalu mempertanyakan semua hal

    ReplyDelete
  2. takdir mungkin adalah kemungkinan-kemungkinan yang memungkinkan untuk dimungkini.

    cerpennya mba ayu senikmat aroma kopi.

    ReplyDelete
  3. Argghhh..
    gak tau mau bilang apa.
    hanya suka saja dengan sajian ini, pantes pernah dimuat di media :)

    ReplyDelete
  4. @NFpada dasarnya, semua manusia adalah filsuf. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)