Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2012

Bulan Penuh

Bulan Penuh
===========
Oleh: Ayu Welirang

Ada senyum, meski murung
Pada malam yang hanya gamang
Ada seuntai nujum yang melesung
Di sisi temaram berurai linang

Perempuan, di sisi jendela
memandang iba pada satu cakrawala
Bulan penuh di atas sana
sedang ia jauh tersungkur merana

Berdoa, rapalkan doa!
Puan menjelma peri
Doadoa buka kidung cahaya
membongkar tabir misteri

Ada yang terus dikulum
Di atas sana dia tertawa
Bulan penuh menunggu Puan agaknya
agar bisa bersama tersenyum

Nah, Puan terbang
karena Puan peri
meski tak bernyawa lagi
karena gantung diri...

Pupan, Juli 2012

Ode Untuk Chairil

Ode Untuk Chairil
Oleh: Ayu Welirang

Untuk Tuan,

Akankah malam tetap dingin?
Di sana, di peraduan terhampa
Adakah selimut tebal yang berpilin
menemani kau di alam sana?

Sudah lewat waktu
sudah lewat titik temu
Kau sudah beku
dalam imaji dan tiap kalbu

Setebal asaku, karyamu kukenang
Inilah yang kutahu, kau tetap menggenang
dalam tiap jiwa-jiwa gamang

Chairil,
Tak perlu lagi persoalkan waktu
Tak ada lagi sepi
Kita sudah sama tahu
Nasib dan sunyi, milik sendiri

Jakarta, 26 Juli 2012
:Mengenang 90 Tahun Alm. Chairil Anwar - Penyair '45

Ocehanmu Pada Satu Kilogram Sunyi

Ocehanmu Pada Satu Kilogram Sunyi Oleh: Ayu Welirang
“Bagaimana rupa sang takdir yang sebenarnya? Apakah bulat, lonjong, atau segitiga? Bagaimana pula warnanya?” tanyamu pada suatu dini hari, memecah kepiluan yang membungkus satu kilogram sunyi. Kurasa, itu tak perlu kujawab, karena kau pun mungkin sudah tahu jawabnya. Kurasa lagi, itu tak perlu kujelaskan, karena takdir tak pernah bisa dijelaskan dengan konsep, dengan sistematika atau dengan hirarki langit. Takdir itu ya tak ada penjelasannya. Jadi, kurasa kau tak perlu memohon-mohon jawabku. Aku akan menganggap itu sebagai pernyataan retorik saja. Di tengah diamku yang menambah lagi satu kilogram sunyi, kau kembali mengulang retorika itu, “Takdir itu bagaimana? Kau mendengarku kan? Aku mohon, jelaskan.” Ah, kusesap dulu aroma kopi dan sebatang kretek ini sambil memikirkan jawaban paling tepat untuk pertanyaan retorismu. Entah apa yang akan aku katakan, aku pun tak pernah tahu bagaimana rupanya takdir, aromanya, atau warnanya. Malah, kala…

Puntung...

Ada sisa-sisa
di muka pintu setengah terbuka...

Perempuan itu mencintai semu,
mencintai abstrak
semacam puntung dan sisa abu.

Bagi sebagian nyawa
puntung hanya sisa bara.
Busuk! Selebihnya tengik dan tak berwarna...

Perempuan menyapihnya, menjaga
dan meletakkan pada gelas kaca...
Semua tertawa
karena sisa bara
tak pernah bisa merasa...

Jakarta, 01072012