Skip to main content

Weekly Song - Sesuatu Yang Tertunda

Beberapa minggu terakhir, telinga saya kedapatan sedang pas sekali dengan lagu sebuah band Indonesia yang akhir-akhir ini jarang sekali terdengar pasca sang drummer tertangkap polisi karena kasus narkoba. Kasus yang sepele sebenarnya. Padahal, begitu banyak cukong-cukong besar di balik kasus seperti itu. Tapi, ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur dan pihak berwenang telah memutuskan perkara yang tidak bisa tidak selesai.

Pernahkan kalian mendengar lagu-lagu dari Padi? Band yang digawangi oleh empat orang berbakat dalam musik dan lirik ini telah sukses mengambil hati saya pada salah satu lagu. Saya mengerti, kenapa mereka benar-benar memiliki musikalitas sebagus itu. Pasalnya, sang gitaris, Piyu, memang lahir dari pemahaman yang keren terhadap musik-musik dari Sonic Youth, band noise-experimental asal Seattle. Dan Fadly, menang dalam bagian lirik. Entah karena memang puitis atau karena menggemari Pearl Jam, saya pun tak tahu pasti.

Lagu yang bergelayut ini kurang lebih bercerita tentang sebuah pengakuan. Pengakuan seorang kriminal mungkin? Atau pengakuan seorang yang memiliki masa lalu suram namun bertekad untuk berubah dan sudah tak ada lagi kesempatan selain cinta. Kurang lebih begitu, kalau menangkap dari liriknya. Judulnya sendiri sudah membuat saya merenung, Sesuatu Yang Tertunda.


Tak hanya lirik yang melulu saya nilai. Saya begitu mencintai musiknya, karena musik dan lirik adalah satu kesatuan utuh. Kecuali jika kalian memang senang mendengar musik instrumental tanpa lirik. Kecuali yang kedua, jika kalian senang menjadi ngantuk karena musik instrumental, mungkin lakukan saja. Yang jelas, saya tak bisa mengerti mengapa sebuah musik dibuat, jika hadir tanpa lirik.

Lagu ini diawali dengan suara lirih Fadly Padi yang bercerita tentang keindahan yang tak kunjung hadir pada sisi kelam hidup. Dengan lirihnya, Fadly sukses membuat saya merenung. Merenungi diri saya yang kurang lebih hadir sebagai si tokoh yang bernyanyi pada lagu.
"Disini aku sendiri, menatap relung-relung hidup. Aku merasa hidupku, tak seperti yang kuinginkan. Terhampar begitu banyak warna kelam sisi diriku. Seperti yang mereka tahu, seperti yang mereka tahu." -- Fadly Padi
Bagian kedua setelah refrain dihadirkan oleh suara berat Iwan Fals, yang tetap gagah meski sudah bernyanyi setua ini. Di bagian kedua lagu, om Iwan Fals hadir dengan lirik bertema sama, seolah menyambung perkataan  Fadly pada bagian sebelumnya. Hal ini menjadi indah, karena kita seperti membaca sebuah dialog dalam buku yang hadir dalam musik. Dan ini membuat saya bangkit dari renungan. Iwan Fals hebat, bisa mengubah tingkah laku pendengar, emosi naik-turun.
"Disini aku sendiri masih seperti dulu yang takut. Aku merasa hidupku pun surut tuk tumpukan harap. Tergambar begitu rupa, samar seperti yang kurasakan... Kenyataan itu pahit, kenyataan itu sangatlah pahit." -- Iwan Fals
Yang lebih hebat lagi, ada bagian dimana setiap pengisi lagu saling bersahutan. Saya menyebut ini sebagai kanon. Sebuah kanon musik hati, dimana Fadly, Iwan Fals, dan Kikan Namara bersahutan. Yang satu dengan lirih, yang satu berteriak lantang dan yang satu mencipta harmoni. Ah, dan hari libur ini hanya saya habiskan untuk bernyanyi. Pengulangan nyanyian.

Begitulah musik bagi saya.
Satu lagi hadir, sebagai kanon musik hati.

Ciputat, 18 Mei 2012

Comments

  1. Yayy,,akhirnya aku menemukan lagi blog dari seorang blogger yang memahami tantang musik. Salam kenal..

    ReplyDelete
  2. musik itu penting walaupun bukan kepentingan :p

    ReplyDelete
  3. Hmmm Lain lagi sama lagu Iwan Fals masih muda seperti Asmara tak Secengeng yang Kau Kira atau Kembang Pete. Kepahitan itu dirayakan hehe

    ReplyDelete
  4. aku dari SMA sampe kuliah termasuk fans nya padi lho yu....

    ReplyDelete
  5. lagunya padi walaupun udah lama tapi tetep enak di telinga :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…