Skip to main content

Rikkat dan Rezim Sekuler Ataturk

Ini sudah Selasa dan mari kita membahas buku apa yang saya baca selama satu minggu ini. Buku ini adalah buku ke-20 dari total 60 buku yang saya jadikan reading challenge di Goodreads. Sebagai sarana untuk lebih memperketat jadwal baca yang kurang akhir-akhir ini, saya membuat tantangan itu. Entah bisa atau tidak, setidaknya saya bisa memulai konsistensi lagi untuk membaca buku, atau koran, atau mungkin selebaran di pinggir jalan. 

Sebenarnya, buku ke-19 tidak saya bahas di blog ini. Mengapa? Karena buku itu termasuk jenis esai dan saya kira tidak akan begitu bisa dicerna jika saya tuliskan ulang ulasannya. Saya paling tidak bisa merangkum buku pengayaan atau kumpulan esai panjang. Saya takut pesan dari buku itu tidak tersampaikan. Sedikit bocoran saja, sebelum buku ini saya melahap habis buku kumpulan esai karya Goenawan Mohamad yang berjudul "Eksotopi". Isinya bercerita tentang sejarah dan bagaimana sejarah itu tetap merah dan melekat dalam ranah pikiran manusia.

Kali ini, buku yang akan diulas tidak jauh-jauh dari novel. Novel roman yang agak sedikit berbau sastra-kontemporer. Entah darimana saya mendapatkan istilah ini, yang jelas, jenis roman seperti ini memang jenis-jenis roman yang sudah jarang kita temui di masa sekarang. Karena jenisnya seperti masa beberapa tahun lalu, mungkin saya bisa menyebut ini kontemporer. Unsur sastranya kental dan unsur kultural juga kondisi sosial di dalam latar cerita juga benar-benar unik.


Buku ini bercerita tentang sebuah kultur  yang mesti dihapuskan dari sebuah negara karena sekuleritas pemimpinnya. Masa itu, Ataturk yang dijuluki serigala hitam sedang memimpin Turki dan segala hal yang berbau sejarah, pun agama, mesti dihapuskan. Ataturk yang diktator sekaligus sangat sekuler juga netral terhadap agama, mencoba menghapuskan kultural yang sudah berabad-abad lamanya bernaung di Turki. Sebuah kultur seniman yang melulu ingat Tuhan. Sebuah kumpulan seniman yang mengabdikan seluruh hidup hanya untuk menghamba pada Tuhan. Seniman yang mempopulerkan huruf Arab dan menggambarkannya dengan indah, sebagai hiasan mesjid, hiasan kitab suci Al-Qur'an, hiasan pintu-pintu gerbang kerajaan, dan lain sebagainya.


Yasmine Ghata
Sejak Ataturk memimpin, mulanya seniman-seniman itu hanya dipindahkan ke sebuah akademi dan diberikan tempat tinggal. Tapi, lambat laun, pekerjaan bagi mereka semakin berkurang. Mereka yang notabene tak bisa hidup tanpa berdzikir lewat pena dan ibadah lewat kata, menjadi semakin mati. Mereka, seniman kaligrafi. Dan kisah ini dituturkan oleh penulis berkebangsaan Perancis-Turki, Yasmine Ghata, dengan sangat indah. Buku dengan judul asli "The Calligrapher's Night (versi Bahasa Inggris)" dan "La Nuit des Calligraphes (versi Bahasa Perancis)" ini diterjemahkan dan dicetak ulang dengan judul "Seniman Kaligrafi Terakhir". 

Para seniman tak bisa tinggal diam. Ada yang dengan beraninya masih menghembuskan dzikir di setiap tarikan garis dalam kaligrafinya, ada pula yang hanya bisa iba melihat kalamnya kaku, tintanya beku. Salah satu seniman yang paling cinta Tuhan, bernama Selim, ditemukan meninggal bunuh diri dengan sorban hijau melilit lehernya. Sejak saat itu, suasana pengungsian seniman kaligrafi menjadi makin tak kondusif. Dengan segenap keberanian, Rikkat, salah seorang pengurus para seniman tua, pergi dengan membawa warisan Selim. Sebuah kotak berisikan peralatan kaligrafi. Ini jelas membuat Rikkat menjadi lebih kuat lagi untuk menjadi seniman kaligrafi yang kala itu tak lazim bagi perempuan jika bekerja seperti ini.

Penampakan Buku
Rikkat harus rela untuk meninggalkan keluarga dan juga kehidupannya sebagai Ibu, hanya untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai seniman, seniman kaligrafi. Rikkat pun menceritakan kisahnya di dalam buku ini dengan sisi pengarang sebagai sudut pandang orang pertama. Kisah pun dimulai dengan cerita ketika Rikkat sedang akan memulai pengajaran sebagai guru kaligrafi dan beralur mundur setelahnya. 

Ada beberapa hal yang menarik dalam buku ini. Istilah-istilah kaligrafi dan sufistik yang tak kita ketahui pada awalnya, dijelaskan secara terperinci dalam buku ini. Terlebih lagi, ada beberapa istilah yang memuat footnote atau catatan kaki untuk penjelasan lebih lanjutnya. Kisah sejarah Turki sejak kaligrafi dan aksara Arab masih mendominasi, sampai ketika masuknya abjad latin diceritakan pula dalam chapter yang berbeda. Membaca ini membuat saya menyelami kultur Turki yang sekuler sekaligus teratur.

Turki sempat menjadi pusat dimana aksara latin mulai ekspansi secara besar-besaran dan semua negara-negara Timur Tengah, hampir berkiblat pada Turki untuk program penumpasan buta aksara latin. Aksara Arab yang merupakan satu-satunya abjad komunikasi kepada Tuhan, perlahan-lahan dihapuskan. Dan ini membuktikan bahwa sejarah akan hilang pula bersama apa-apa yang tak memaksa untuk mempertahankannya. Untungnya, sebelum mati, Selim sempat mewariskan hartanya yang paling berharga, sebuah kotak berisi peralatan kaligrafi. Karena inilah, Rikkat menjadi satu-satunya seniman terakhir yang hidup sejak awal memimpinnya Ataturk sampai pada hari kematiannya. [Ayu]

Judul: Seniman Kaligrafi Terakhir
Penulis: Yasmine Ghata
Penerbit: Serambi
Genre: Roman, Sejarah, Sastra
ISBN: 978 - 979 - 024 - 005 - 6
Halaman: 206
Harga: Rp 31.000,-
Rating: 5/5
Gambar: random google

Comments

  1. Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal - hal yang Anda takuti.
    tetap semangat tinggi untuk jalani hari ini ya gan ! ditunggu kunjungannya :D

    ReplyDelete
  2. eeemmm... boleh pinjem?? :D

    ReplyDelete
  3. Errr...
    sama aja Yuk, 19-20.. pencernaan saya rusak bacanya :(

    ReplyDelete
  4. jadi pengen megang bukunya, apalagi ada kata kaligrafinya :D

    ReplyDelete
  5. Wah, ratingnya 5 ya yuk? untuk kisah seniman wanita terakhir yang tidak lazim dijamannya hehehe...

    ReplyDelete
  6. @NFmain sini aja Mbaaaak ke Ciputat :D

    ReplyDelete
  7. Kemal attaturk? Pernah baca biografinya pas disandingin ama biografi bung karno! Sama2 sekuler dan sama2 memerintah dg tangan besi!

    ReplyDelete
  8. numpang baca doank lalu kaburr :P

    ReplyDelete
  9. nguok dan dibahas buku yang sepertinya rada rada bikin pusing buat ngepahaminnya yah.
    boleh dicuri gak mbak ;p

    ReplyDelete
  10. Selera bacaan Ayu berat2 juga yah :)
    Itu nanti jadi salah satu "filter" untuk mendapatkan pendamping hidup lho ^^
    Bagus, nda semua cowok punya selera baca spt Ayu.

    Lanjutkan ! *Loh?hehehe*

    ReplyDelete
  11. @Ayu Welirang waah jauh yaa, harus kilik2 misua dulu nih hehe

    ReplyDelete
  12. Sukses tak akan datang bagi mereka yg hanya menunggu tak berbuat apa-apa, tapi bagi mereka yg selalu berusaha wujudkan mimpinya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…