Skip to main content

Si Kupu-Kupu Biru

Hari Selasa dalam minggu kedua bulan April ini, sudah saatnya saya mengulas kembali apa yang saya baca minggu lalu. Dan setelah mencapai buku ke-16 di tahun ini, sudah saatnya saya menceritakan tentang buku bacaan yang sama sekali berbeda dengan genre yang kemarin. 

Buku ini dipinjamkan oleh seorang blogger dan juga kakak dari kampus tetangga, seorang jurnalis sekaligus tukang baca.

Sarekat Penulis Kuping Hitam
Buku novel sastra-kontemporer ini ditulis secara bersama-sama alias keroyokan. Komunitas penulis yang menamai diri mereka dengan sebutan "Sarekat Penulis Kuping Hitam" ini adalah para kader-kader penulis yang dihasilkan dari Bengkel Penulisan Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) pada tahun 2008 dan 2009. Setelah sekian lama bergelut dengan emosi dan elegi masing-masing, akhirnya mereka bisa menghasilkan satu novel beralur campuran yang diberi judul LENKA.

Sekilas, saya agak kaget ketika membaca. Saya pikir, judul bukunya Lekra. Ternyata saya salah baca judul. Setelah memperhatikan lebih lanjut, judulnya benar-benar LENKA. Kalau Lekra kan kesannya jadi sangat 'kiri' sekali buku ini. Kenapa? Kalau kalian menghafal cerita-cerita komunisme Indonesia, pastilah akan mengenal Lekra alias Lembaga Kebudayaan Rakyat.


Kembali pada LENKA. Buku ini ditulis oleh kurang lebih tujuhbelas penulis muda dari berbagai status sosial dalam masyarakat dan menamai kelompok mereka "Sarekat Penulis Kuping Hitam". Dimoderasi oleh dua penulis sekaligus sastrawan-kontemporer A.S. Laksana dan Yusi Avianti Pareanom, buku ini lahir dari buah pikir yang difermentasi selama beberapa tahun lamanya sampai menjadi sebuah karya utuh.

Novel berjudul Lenka ini, ditulis bersama dengan 16 orang lainnya yang dulu pernah menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel DKJ periode 2008-2009, dimulai dari sebuah situasi : “Pada sebuah acara penggalangan dana, seorang perempuan muda bergaun wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?” 

Seperti yang kita baca dari sinopsis mini di atas, novel ini bercerita tentang sosialita atau kehidupan kalangan atas. Penuh dengan drama dan intrik romansa yang terbaca dari setiap alur novel. Bagian-bagian yang tak pernah terbayangkan kerap kali muncul dalam cerita. Dan uniknya, alur campuran yang ada dalam novel ini benar-benar campuran! Kita hanya bisa menangkap rentang waktu yang terbaca dari sub judul pada buku ini. Setiap babnya hanya diberi sub judul begini: "1. (Keterangan Waktu) xxx Malam Pesta".


Contoh penggambaran sub judulnya ialah sebagai berikut:
  1. Malam Pesta
  2. Dua Puluh Lima Tahun Sebelum Malam Pesta
  3. Tiga Hari Setelah Malam Pesta
  4. Dan sebagainya
Cover Depan LENKA
Nah, penggambaran sub judul itulah yang memberikan kita ruang satu-satunya untuk berdaya khayal seputar latar waktu pada novel. Bagi yang tak peka, pastilah terkecoh. Dan alur campuran yang memutarbalikkan antara masa kini dan masa-masa sebelum kini itulah yang membuat novel ini begitu sarat dengan kebingungan dan misteri.

Misteri tentang Lenka, apakah mati bunuh diri atau dibunuh? Lenka yang menjadi model namun memiliki otak super cerdas dengan mengambil studi filsafat di kampusnya. Lenka yang begitu menelan bulat-bulat apa yang dia pahami dari filsafat dan Albert Camus. Juga tentang Lenka yang menjadi model "fotografi pembebasan" bersama Helong Lembata--seorang fotografer sekaligus kekasih terakhir Lenka--dan melancarkan aksi "sadomasokisme" yang perlahan dia anut.

Semua itu tak sebanding dengan keluarga Lenka yang dikenal sebagai kalangan sosialita paling tinggi di kota mereka saat itu. Ayahnya, Tiung Sukmajati, adalah seorang komposer musik yang terkenal. Ibunya, Luisa-Bathory, adalah seorang sosialita yang dipandang di kalangan atas dan kakanya, Pandan Salas, adalah seorang pecatur muda yang sedang digandrungi oleh kalangan pecatur dan dunia muda pada masa itu. Dan semua itu memang tidak sebanding dengan kematian Lenka yang masih menjadi misteri. 

Membaca ini seperti membaca depresi. Depresi yang didapat dari seorang sosialita yang tidak pernah merasa bahwa dirinya ingin menjadi seperti itu. Dan depresi itu kita lewati juga dalam setiap lembar buku. Seolah ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Lenka dari kematiannya. Dan hati-hati membacanya kalau kalian selalu menelan bulat-bulat bacaan kalian. Pahami dahulu, sebelum akhirnya mencoba menjadi sama seperti buku. [Ayu]


Judul: Lenka
Penulis: Sarekat Penulis Kuping Hitam, Yusi Avianti Pareanom, A.S. Laksana
Penerbit: Banana Publisher
Genre: Sastra-kontemporer, Drama, Sedikit Filsafat
ISBN: 9789791072
Halaman: 262
Harga: Rp 45.000,-
Rating: 5 / 5
Gambar: random Google

Comments

  1. aku suka novel dengan alur maju mundur, sepertinya membuat kita berpikir lebih keras :) minjem doong, tukeran deehh :P

    ReplyDelete
  2. @NFYaaaah. Udah dikembaliin ke yang punya. :(

    ReplyDelete
  3. Satu jalan cerita besar tentang seorang 'Lenka' yang di tulis oleh 17 penulis?? Whaowww...

    ReplyDelete
  4. @armaekonklusi yang bagus. :D betul sekaliiii neng. ^^

    ReplyDelete
  5. wah kayaknya bagus. tapi kayaknya bukunya juga susah didapetin nih yu... ga pernah lihat di tokbuk :(

    ReplyDelete
  6. @AnnesyaBeli buku Lenka mesti di komunitas Sastra Mbaaak. :(

    ReplyDelete
  7. yang menjadi bagian kontemporernya sebelah mana yuk, kok gak di jelasin sih...

    ReplyDelete
  8. pastinya mantap juga tuh novelnya..

    ReplyDelete
  9. Lenka kan penyanyi barat itu, yu! Inget?

    ReplyDelete
  10. waaauww... sbuah sstra yg dciptakan oleh bnyk sstrawan.. mnarik jg nih..
    thanks 4 share :)

    ReplyDelete
  11. Misteri kematian lenka ya? dikasih rating 5/5 berarti bagus neh buku ya yu??

    ReplyDelete
  12. Waduuh...mampu kaga ye otak gue baca novel ini :D

    ReplyDelete
  13. aku sebenarnya jarang banget baca novel ayu,tapi kalo ayu mau minjemin, aku pasti akan membacanya sampe selesai deh...hehehe...

    ReplyDelete
  14. 1 buku 1 cerita yang ditulis oleh 16 penulis. pasti ini buku hebat banget. Tentang misteri ya, aku suka nih, menghibur dan bikin deg-degan bisanya buku kayak gitu.

    Di Gramedia ada nggak ya?

    ReplyDelete
  15. @Mami ZidaneAku juga minjem kalo yang ini. :( Gimana yaa udah dikembalikan ke yang punya. Abis yang punya pelit T_T

    ReplyDelete
  16. @WuryBeli buku Lenka musti di pekan sastra.

    ReplyDelete
  17. Tertarik sama judul tulisannya, ada kata kupu-kupunya *berhubung saya suka kupu-kupu hehe*

    Ternyata tentang buku berjudul Lenka. Ada bunuh dirinya pula. Awww..

    ReplyDelete
  18. saat menghadiri peluncuran dan bedah novelnya ada keinginan untuk memiliki dan membacanya, tapi beberapa tokoh sastra yang membimbing para penulis novel ini mengatakan banyak kekurangannya dan membacanya bikin mual. sampai saat ini saya belum meliriknya.

    ReplyDelete
  19. dan saya rasa pastinya akan ada selalu celah, untuk memberi ruang bagi para pembaca atau kritikkus untuk memberikan komentarnya.
    pada novel Lenka, saya berpikir bagaimana penulis menyatukan gagasan yang beragam menjadi satu merujuk pada sebuah kisan Lenka, seorang perempuan yang merupakan seorang bagian dari keluarga kaya, terpandang bertemu Helong?

    ReplyDelete
  20. susahnyeee. aku ga suka beli buku onlen, ongkirnya bikin mahal deh. hemat beeeb hahahaa

    ReplyDelete
  21. @Ayu Welirang Hmmm... jadi pengen beli (sambil ngitung uang didompet :D)

    ReplyDelete
  22. hufftt,, saya kurang berminat pada sastra tingkat tinggi sist,.
    maklumlah, daya pikirnya enggak se"wuihh" orang-orang sastra.

    tapi saya malah tertariknya dg misteri kematian si Lenka..huhuhuhu...

    ReplyDelete
  23. Menarik banget kayaknya Yu... jadi ingin membacanya deh.. thanks for ulasannya yaaa.... :)

    ReplyDelete
  24. @enhaBebaskeun sooob. Ini gak maksa buat ngerti kok :)

    ReplyDelete
  25. Yayy..Buku ini bakalan jadi salah satu koleksiku nih..Trims buat resensinya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…