Skip to main content

Secuil Kisah Sosio-Musika

Kerusuhan di Kosovo
Soal musik bukan sekedar fanatisme saja. Ada pesan dan unsur utama yang seharusnya memang dapat terlaksana dengan baik oleh para pendengarnya. Seputar kemanusiaan, seputar keadilan, kebobrokan sosial, dan hal-hal tertentu semacam itu yang tidak bisa dihapuskan dari negara bobrok hanya dengan teriakan-teriakan dan peluh saja. Hal tersebut tidak bisa dihapuskan hanya dengan meneriaki kantor dan gedung DPR atau bahkan melempari aparat dengan batu panas. Ada satu hal yang efektif dan benar-benar fleksibel untuk menyuarakan sebuah kesenjangan dalam sosial. Hal tersebut tentu saja disebut musik. Musik yang bagaimana? Mari simak ulasan berikut.

Satu bulan lalu, saya sempat menulis di kompasiana tentang hal yang sama akan sebuah sosial dalam musik. Menulis tentang sosial yang disampaikan melalui musik. Saya membahas musik reggae sebagai salah satu suara dari gerakan Rastafari. Suara yang dicetuskan para kaum kulit hitam dan buruh-buruh yang terganggu sosialnya. Secara tidak sadar, tulisan saya itu di-share ulang oleh salah satu situs resmi dari media Music Bandung dan bisa dibaca pada tautan berikut ini.

Tak hanya reggae rupanya. Sebuah band yang mampu mempertahankan eksistensi selama dua dekade dan tak mengalami perubahan personil yang kelewat signifikan, nyatanya juga tak seperti yang dibayangkan. Banyak orang dari kalangan-kalangan anti kapitalis yang mencoba menghantamkan antar fans club sehingga keduanya saling memusuhi. Oknum seperti itu sebenarnya tak begitu tahu tentang fakta-fakta yang ada dari sebuah band. Dan kemudian, kebohongan yang berlebihan itu bisa dipatahkan dengan munculnya beberapa pemberitaan tentang kontribusi band seattle sound yang masih memiliki eksistensi sampai saat ini. Sebut saja Pearl Jam. Mungkin kalian bosan dengan disampaikannya informasi seputar band ini. Tapi, setidaknya kalian menjadi lebih tahu bahwa kebohongan itu sangat tidak bisa untuk ditolerir lagi.

Banyak yang mengatakan bahwa ketika pertama kali meluncurkan album bertajuk "TEN", Pearl Jam menggunakan cara-cara tak baik untuk menarik massa dari kalangan pecinta musik alternatif pada saat itu. Pearl Jam dikatakan ingin menarik keuntungan sebesar-besarnya dengan membuat terobosan. Banyak pula yang mengatakan bahwa Pearl Jam adalah band kalangan atas saja.

Itu salah besar. Banyak pula hal baik yang kadang tak diingat karena dominan manusia lebih suka mengingat hal yang buruk-buruk saja. Bagi saya, ada hal-hal kecil yang tetap bisa mengena pada hati dan membuat saya menyadari akan kesejahteraan sosial ketika mengingat Pearl Jam.

Ada beberapa fakta serius yang menyangkut sosial, kecintaan pada lingkungan, dan juga unsur kemanusiaan yang dicetuskan pertama kali oleh Pearl Jam. Dan hal inilah yang kadang dilupakan oleh orang-orang, termasuk pecinta Pearl Jam itu sendiri, mungkin. Jadi, pada ulasan saya mengenai musikalitas Pearl Jam pada artikel minggu lalu, akan bertambah lagi nilai plusnya karena saya akan membahas tentang sosio-musika. Musik dan Pearl Jam, untuk jiwa sosial teman-teman.

Ilustrasi Emisi Gas Buangan

Sebagai band, Pearl Jam tentu saja pernah mengarungi daerah-daerah. Emisi karbon yang dihasilkan ternyata tak diabaikan. Sekitar tahun 2010, Pearl Jam melakukan ganti rugi atas emisi karbon mereka yang merugikan, pada saat tur Backspacer di tahun 2009 dengan melakukan donasi sejumlah 210,000 US Dollar, di wilayah Puget Sound, Washington. Bahkan, karena hal inilah, Pearl Jam juga dijadikan salah satu "Pelindung Bumi" oleh Rock the Earth karena aktifitas mereka cinta lingkungan yang serius terhadap pengurangan emisi karbon yang merugikan bumi.

Eddie Vedder yang senantiasa melakukan aksi panggung liar ternyata tak melakukan itu tanpa esensi. Ada maksud dibalik semua itu. Eddie Vedder sang vokalis adalah salah satu orang liar, gondrong, dan mencintai sosial. Tidak percaya? Eddie Vedder sempat murka pada AT&T karena melakukan sensor terhadap kata-katanya pada Lollapalooza 2007. Pasalnya, saat itu Eddie Vedder membicarakan atau melakukan kritisi terhadap Bush, presiden Amerika saat itu. Kelakuan Bush yang mengindahkan perang dan menyengsarakan rakyat Palestina telah mengundang Eddie Vedder untuk ikut menyuarakan hak rakyat.

Jika melihat dari serangkaian aksi Pearl Jam, khususnya Eddie Vedder, mungkin orang awam hanya bisa bilang, "Ah baru segitu. Kan masih banyak band lain yang juga peduli."

Cover Kompilasi Untuk Pengungsi Kosovo
Tidak, komentar saya tidak begitu. Coba lihat berapa banyak donasi yang dihasilkan dari single Pearl Jam yang laris manis, yaitu "Last Kiss". Keuntungan atas lagu tersebut pada kompilasi No Boundaries: A Benefit for the Kosovar Refugees, dengan beberapa musisi lain, hampir seluruhnya didonasikan untuk aksi sosial bernama Benefit for Kosovo yang dilakukan untuk para pengungsi Kosovo. Ulasan ini pun sebenarnya hanya menjelaskan tentang paradoksnya kata-kata hinaan atau cercaan terhadap Pearl Jam dan mengatakan bahwa Pearl Jam hanya band pencari keuntungan belaka. Padahal, merujuk pada fakta, Pearl Jam sudah banyak berkontribusi untuk sosial dan kemanusiaan, juga kecintaan pada lingkungan.

Dan jika masih ada yang mau mengatakan bahwa Pearl Jam itu kapitalis, saya tidak akan menyalahkan. Kalau memang mereka kapitalis, namun tetap peduli pada sosial, lalu apa salahnya? Dan ingatlah bahwa yang kapitalis itu belum tentu ditelan untuk diri sendiri. Ada juga pihak yang menarik keuntungan lalu menyalurkannya pada korban bencana, aksi sosial, dan berbagai kisah kemanusiaan lainnya. Bukankah, kita harus menjadi kaya agar dapat berkontribusi untuk sosial? Maka dari itu, marilah kita menghindari kata-kata paradoks yang tak perlu. Musik ya musik. Sedangkan, dendam pada sesuatu dengan mengkambinghitamkan hal lain itu beda urusan, bukan pecinta musik namanya. Jangan cinta musik dan band kalau masih mau saling menghantam. [Ayu]

***
Artikel ini diikutsertakan pada lomba blog yang diselenggarakan oleh Pearl Jam Indonesia dengan tema 'Grunge atau Pearl Jam, tuliskan pengalaman, opini, dan harapan kamu!'


*referensi kisah didapat dari google dan http://daenggassing.com/2011/09/50-fakta-tentang-pearl-jam/
*gambar random google

Comments

  1. heeemmm saya...
    sayaaa
    harap kamu sukses lombanya ya yu :D

    ReplyDelete
  2. yang aku tau malah base jam, bukan pearl jam. hehe.
    sukses dah lombanya

    ReplyDelete
  3. duh jujur gue gak tau sama sekali masalah pearl jam...

    ReplyDelete
  4. sy juga dak ngerti pearl jam. hihih..

    #nambah lgi org gaptek musik. :)

    ReplyDelete
  5. Jadi kayak pahlawan kegelapan ya yuk? Dia dianggap cuma cari popularitas, cari keuntungan doang ternyata banyak juga uangnya yang disumbangkan hehehe...

    Semoga menang kontesnya yuk :)

    ReplyDelete
  6. wahh... #hny bs mnyimak dg tenang

    ReplyDelete
  7. Hiyaaaaaap, METAL deh buat ayu^^
    Perjam apalah itu? hihi...

    tapi sukses yah non buat GAnya :)

    ReplyDelete
  8. @Cerita OchaPJ tuh udah lama kaleee.. kamu sih belum lahir. =))

    ReplyDelete
  9. @Accilongsantai aja.. kan baca biar ngerti. =))

    ReplyDelete
  10. @s y a m;) AMIN. lumayan hadiahnya android =))

    ReplyDelete
  11. pertama : ane berdoa semoga menang yak :D
    kedua : gua enggak tahu soal pearl jam. mungkin karena belum lahir pada jamannya kali yah.
    ketiga : suka banget dengan cara pemikiran tidak memadukan suatu media dengan pembelasan dan seluk beluknya :D
    keempat : kaburrrr

    ReplyDelete
  12. Halo Ayu...maaf baru bisa berkunjung lagi nih, sukses untuk kontesnya yaaa...... semoga menang! :)

    ReplyDelete
  13. semangat teteh, semoga menang.. saya baru bikin satu acak-acakan pula .. haha ..

    semoga Pearl Jam bisa mampir segera ke Indonesia ... :D :D

    ReplyDelete
  14. Tetap deh turut mebdoakan semoga sukses dengan lombanya, ulasannya mantab meski saya bukan termasuk pemerhati musik sih..

    ReplyDelete
  15. semoga menang lomba sist, mantab nih ulasannya.

    jadi pengen dengerin lagu-lagunya Pearl Jam.

    sekali lagi, sukses buat lombanya.

    ReplyDelete
  16. Pearl Jam = Band jaman dulu yang masih eksis sampai sekarang > jadi inget jaman dulu kalau denger lagu2nya pearl jam mba

    ReplyDelete
  17. @alaika abdullahAmiiin Mbak. Lumayan, Samsung Android - Galaxy Y hadiahnya. ^^

    ReplyDelete
  18. @Ririe KhayanCuma share, gak maksa supaya jadi pemerhati kok. =))

    ReplyDelete
  19. @enhaLagunya enaaaak lho! :D Eddie Vedder-nya juga ganteng. :3

    ReplyDelete
  20. Saya cuma tau lagu'nya yang judulnya jeremy doank..
    Sisanya lupa
    Hweheheee..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…