Perdukunan Dalam Literasi

Ratih Kumala
Sejak membaca cerita tentang kultur Betawi di novel Ratih Kumala yang tak sengaja terbeli, saya jadi tertarik untuk membaca beberapa karya Ratih Kumala yang lain. Saya membaca karya Ratih secara acak, tidak berurutan, karena saya memang baru mengetahui tentang penulis satu ini dari koran. Saat menemukan Kronik Betawi dan sempat saya ceritakan di sini, saya pun ingin membeli lagi.

Setelah mendengar bahwa Ratih akan launching buku terbarunya yang berjudul Gadis Kretek, saya malah membeli kumpulan cerpennya. Entah darimana keinginan itu, yang jelas saya menemukan kumpulan cerpennya secara tidak sengaja. Kumpulan cerpen ini memuat beberapa cerita pendek Ratih Kumala yang sudah pernah diterbitkan dalam kolom-kolom surat kabar. Menurut saya, cerpen Ratih Kumala memang tidak biasa dan mengandung unsur-unsur yang jarang sekali dikemukakan oleh penulis muda. Berbagai hal yang menyerempet kepada kultural, sosial, dan juga dunia perdukunan seakan menghiasi setiap tulisan-tulisannya.

Yang menarik pula dari kumpulan cerpen ini adalah ilustrasinya. Beberapa ilustrasi bertema sama, seperti selongsong manusia  yang tak jelas bentuknya dan menyerempet pada karya psychadelic tergambar di awal cerita, sebelum judul cerpen. Melihat dari bagian depan buku, ilustrasi tersebut adalah gambar dari suami Ratih sendiri, seorang penulis bernama Eka Kurniawan. Ilustrasinya menarik. Seolah memaksa pembaca untuk berimajinasi tentang cerita, dari awal gambar.

Kumpulan cerpen Larutan Senja ini terdiri dari empatbelas cerita. Bagian awal dimulai dengan cerita perdukunan dan dendam. Cerita dari cerpen pertama seolah menggambarkan bahwa dendam diturunkan dan diwariskan*. Dengan penggambaran latar pedesaan yang masih memungkinkan seseorang untuk melakukan praktek klenik.


Cover Depan

Selain ketertarikan pada endorsement yang diberikan oleh beberapa sastrawan terkenal, saya tertarik membaca larutan senja karena sinopsis yang disampaikan. Kita harus banyak berimajinasi dan berpikir untuk membaca pesan tersirat yang hadir dari setiap cerpen Ratih Kumala. Saya suka cerita yang seperti itu. Saya suka cerita yang memaksa saya untuk berpikir, akan jadi apa jalan cerita ini? Cerita ini sebenarnya tentang apa? Dan pertanyaan lain yang serupa. Intinya, saya sangat menyukai jalan kisah yang membuat saya bisa berspekulasi macam-macam dari kisah tersebut.

Dalam alam imajinasi Ratih Kumala, bumi ini terdiri dari berbagai larutan yang ditemukan oleh sekelompok penemu di langit sana. Salah seorang penemu menciptakan larutan gerak agar manusia bisa bergerak, angin bertiup dan laut bergelombang. Penemu ini juga menemukan larutan yang rasanya tidak manis seperti siang, tidak pahit seperti malam, memiliki warna elegan. Larutan ini ia beri nama Larutan Senja. Tuhan yang mengetahui penemuan ini ingin mengambil larutan itu dan meneteskannya ke bumi agar semakin indah. Si Penemu tidak mau memberikannya karena menganggap Tuhan tidak adil. Selama ini Tuhan selalu menerima pujian atas penemuan-penemuannya. Tuhan bahkan tidak menyebut bahwa penemuan itu adalah hasil kerja kerasnya. Maka Tuhan pun mencuri larutan senja dan meneteskan ke bumi. Si penemu merasa kecolongan dan membuat sebuah larutan untuk membalas kecurangan Tuhan; larutan yang menakutkan bagi umat manusia. Beberapa cerpen lain dalam Larutan Senja menyingkap dunia perdukunan, alam memedhi, dan kehidupan setelah mati.Tema-tema yang unik dan jarang dikuasai oleh penulis kontemporer dewasa ini.

Setelah yang pertama, maka yang paling terakhir juga akan saya bahas. Cerpen terakhir yang berjudul Buroq, bercerita tentang seorang bejat yang mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Dari cerpen ini, saya seolah mendapatkan pencerahan dan bukti kekuasaan Tuhan. Tuhan tak pernah pilih kasih. Siapapun bisa jadi orang terpilih. Seorang bejat yang bernama Cimeng itu, dulunya adalah seseorang yang taat agama. Sampai si Ustadz yang sering mengajarnya di surau, mengecewakan dirinya. Orang bejat ini akhirnya berpikiran untuk pergi saja dari kampung halaman dan tinggal menetap entah dimana. Sampai suatu saat, setelah bertahun-tahun lamanya, mimpi yang sama itu datang lagi. Mimpi melihat cahaya. Mimpi yang sama saat ia kecil dan telah berhasil memberi hidayah dan juga pemahaman bahwa dia memang orang yang terpilih. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bermimpi melihat Nabi dan orang bejat ini jadi rindu rumah. Sungguh cerita yang sangat sederhana, tapi memiliki makna mendalam. Dan hal seperti ini, sudah jarang saya dapatkan dari penulis-penulis muda, dewasa ini.

Dan dengan membaca karya Ratih Kumala--lagi--saya jadi tertarik untuk mengoleksi beberapa karyanya yang lain. Ya, semoga saja ada rezeki berlebih untuk mengumpulkan satu demi satu karya Ratih Kumala yang masih terserak di jagat perbukuan. [Ayu]


Judul: Larutan Senja
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia
Genre: Kumpulan Cerpen, Spiritual, Metafisika
ISBN: 979 - 22 - 2029 - 1
Halaman: 145 
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 5 / 5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/6094245-larutan-senja

Comments

  1. Sebenernya aku nggak tahu teh, Literasi itu apa? hihi

    ReplyDelete
  2. semoga saya terhindar dari keturunan dendam *Eh?

    ReplyDelete
  3. Wah! Dari lulus smp dulu, ane gak pernah beli buku kcuali buku pelajaran! Huhuhu

    ReplyDelete
  4. iseng abis tu orang.. bs berimajinasi seberani itu..

    ReplyDelete
  5. wah, ceritanya lagi kecanduan nih. baguslah, kecanduan penulis lokal, daripada penulis asing yang bukunya biasanya mahal :P

    ReplyDelete
  6. Waw Buroq seorang bejat yang mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW jadi penasaran nih ama bukunya, beneran apa fiktif sih?? :D

    ReplyDelete
  7. Kunjungan pagi sob.
    Btul bgt sobat, tuhan emang gk pernah pilih kasih. !

    ReplyDelete
  8. Kalau Eka Kurniawan aku baru tahu.
    Ceritanya sejenis ya. Hihihi...

    ReplyDelete
  9. Amin.. semoga kesampean keinginannya mengoleksi buku Ratih Kumala :) btw aku juga suka baca buku yang bikin saya berpikir2, menebak2 apa maksud penulis.. kayanya gimanaa gitu hehe

    ReplyDelete
  10. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    fikiran yang positif bisa menghasilkan keuntungan yang positif pula.,..
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    ReplyDelete
  11. Kunjungan pagi sob. Sambil liat madrid main. Hehehe.

    ReplyDelete
  12. baru punya novelnya yang berjudul Gadis Kretek

    ReplyDelete
  13. aduh belum pernah baca juga >.<
    ah ayu kau konsisten banget ngisi blogmu yah
    semua soal review
    bisa dilempar aku gitu bukunya satu? :P

    ReplyDelete
  14. @eksakbeli aja bos apa pinjem gitu, kali-kali mah...

    ReplyDelete
  15. @Sandyada juga pembahasan tentang lekra loh! komunis! XD

    ReplyDelete
  16. @Muhammad A Vipudah mah mahal, genre-nya pada fantasi lagi! XD

    ReplyDelete
  17. @Hiaku Herrynama tokohnya bukan Buroooq tapi Chimenk XD

    ReplyDelete
  18. @sihoItu buku terbarunya. Hmm, pinjem dong. :P

    ReplyDelete
  19. yaelah, harganya murah cin, 30ribu dah dapet buku bagus,,,

    hiks, nyesel, beli novel 35ribu, tapi isinya gak banget,,.

    "sudah, sudah nak,, penyesalan memang datangnya selalu di akhir. Lagian kamu juga jarang main ke gramedia kan?"
    #nepok2 kepala sendiri, bicara pada diri sendiri.
    (-__-')

    ReplyDelete
  20. @enhabeli buku mah gak usah di gramed. di emperan juga dapet aja buku bagus mah.

    ReplyDelete
  21. @Ayu Welirang yaaahh, itulah enaknya hidup di kota mbaksist...
    :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)