Skip to main content

Memoar Untukmu, Munir...

Cak Munir
Seharusnya saya menuliskan ini hari Selasa lalu. Hanya saja, saya sedang bingung mau memulainya dari mana. Makanya, saat ada kesempatan, saya baru menuliskannya.

Hari Rabu ini menggantikan hari Selasa untuk membahas tentang buku. Ya, buku dan buku. Katanya, banyak membaca itu menjembatani antara bodoh dan semakin bodoh. Saya setuju, karena dengan begitu banyak membaca cenderung membuat orang skeptis dan bodoh. Bodoh dalam bersosial? Bisa jadi. Seperti saya ini lah. Dan karena saya suka menjadi bodoh, maka saya membudayakan membaca. Hehehe.

Ini buku ke-17 yang saya baca. Di antara deretan buku yang siap untuk dilahap, saya  mengambilnya. Buku ini tipis. Tak banyak yang diharapkan dari buku tipis. Seyogyanya memang begitu. Tapi, saya tak pernah membedakan ras antar buku. Apakah yang tipis itu bagus atau yang tipis itu jelek? Bagi saya, asal menarik dan berarti untuk dibaca, pastilah saya baca.

Dan benar saja. Buku tipis tak selalu benar-benar tak sarat makna. Justru, dengan penyampaian yang lugas dan singkat, sebuah buku akan menemui masing-masing perkaranya. Buku tebal untuk apa, buku tipis untuk apa, dan buku apa untuk apa. Seperti itulah penilaian saya terhadap buku.


Buku ke-17 ini agak menyerempet pada dekatnya kasus Trisakti dan Semanggi dan kasus lainnya dimana para aktivis mati. Bulan mei, pada 98 lalu, sebagai bulan bagi aktivis yang mati. Semua kasusnya diusut dan diratakan oleh Munir, seorang aktivis HAM dan pendiri KontraS. Sampai pada pertengahan 2004, Munir pun menghilang.

Berbagai media mulai mengangkat sosok Munir. Tak jarang pula komunitas sastra yang ikut bersuara melalui karya. Seperti membuat antologi, membuat novel semi-biografi, membuat kumpulan sajak, dan lain sebagainya. Buku tipis yang saya dapatkan di deretan buku sastra di TM Poins, termasuk salah satu dari itu. 


Untukmu, Munir... 
Judulnya sederhana. Desain sampul bukunya pun sederhana. Dan tebak bagaimana isinya? Isinya sangat sederhana, namun mengena. Mengena maksud, mengena pula tujuan dibuatnya. Tak banyak bertele-tele dan lugas. Buku sederhana dan tipis ini berjudul Untukmu, Munir. Sebagai bentuk simpati terhadap pejuang HAM itu, buku ini lahir. Dibuat oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang berkutat dalam Sastra di FIB UI, buku ini disunting oleh Asep Sambodja. Salah satu penulis golongan kiri dan juga sastrawan inilah yang mewujudkan buku tersebut menjadi ada. Dan saat ini, tulisan ini juga untuk memberi apresiasi atas karyanya. Asep Sambodja telah wafat dan hanya tinggal tulisan kiri saja yang bisa kita simak.

Cerpen-cerpen dalam buku ini digambarkan secara realistis. Tak mengubah nama maupun kejadian sesungguhnya, tentu saja buku ini mendulang kritik. Hanya saja, beruntungnya para penulis buku ini adalah, buku ini tak lahir di rezim orde baru. Coba, kalau lahir? Pastilah penulisnya mati satu-satu. Buku yang memuat fakta ini seolah memojokkan para pelaku kasus pembunuhan Munir. Para pelaku yang masih berkeliaran itulah, hendaknya bisa lebih hati-hati bertindak karena masih ada yang hidup. Masih ada yang tak dibungkam dan masih ada yang peduli.

Alm. Asep Sambodja
Buku ini sebagian besar digambarkan sebagai sudut pandang pertama. Ada penulis sebagai Suciwati--istri Munir, ada penulis sebagai Munir, dan penulis sebagai teman Munir--seorang wartawan yang tak disebutkan namanya.

Melalui tokoh 'Aku', kita diajak terbang bersama GA-974. Duduk di kursi 40G--yang kadang disebutkan juga sebagai 40A, sehingga menuai ambigu dalam buku ini--kita diajak melihat bagaimana kejadian dan relokasi pada posisi Munir. Berbagai kisah fiksi yang timbul dari spekulasi dalam buku ini, tak jarang menuai maksud ambigu dari buku. Pembaca seakan harus menebak pula, apakah benar atau salah? Apakah dokter yang terlibat bernama dr. Taher, atau Tarmizi? Apakah Pollycarpus saat itu bertugas sebagai pilot, atau awak kabin?

Semua pertanyaan itu tak henti-hentinya berkecamuk. Kita hanya bisa menikmatinya lewat penelusuran penulis sebagai tokoh 'Aku' alias Munir. Yang saya sayangkan mungkin hanya bentuk ambigu itu. Sedangkan, untuk keseluruhan buku, saya suka. Buku ini lugas dan fungsinya sebagai buku pun tersampaikan. Meski kadang membuat saya jadi kelewat skeptis, ya sudahlah. [Ayu]

Judul: Untukmu, Munir
Penulis: Mahasiswa UI dan Asep Sambodja
Penerbit: Bukupop
Genre: Sastra, Semi-biografi, Memoar, Semi-fiksi
ISBN: 9789791012263
Halaman: 88 halaman
Harga: Rp 18.000,-
Rating: 4 / 5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/13602454-untukmu-munir


Comments

  1. Ayu pernah dengar atau bahkan punya album Nyanyian Merah??? sebuah album untuk mengenang Munir

    ReplyDelete
  2. hahahhahahahha.... santai saja tidak ada kata2 komunis dalam lirik2nya,,, gak kayak LKS Komunis untuk SMA kelas X yang sedang hebooh itu... wakakkaaka

    ReplyDelete
  3. Kasus yang sudah sangat lama dan sampai sekarang belum ketemu titik terangnya. Btw ini fiksi ya yuk??

    ReplyDelete
  4. ikutan nimbrung baca dulu yah mbak

    ReplyDelete
  5. Anggeplah isi buku itu munir lagi cerita! Apakah konsepnya fiksi atau kronologi? Tentu itu yg bikin ambigu.

    ReplyDelete
  6. sepertinya saya tahu kenapa buku ini yg direview,, karena efek pameran jurnalisme warga kemaren kan? iya kan? (sok tahu, sotoy dah..haha).

    jika semua media selalu berusaha menyajikan fakta apa adanya, kemungkinan berita2 ttg "tomcat" tak akan jd heboh.. Fiuh, tomcat sudah ada sejak jaman baheula, baru kemaren tereksposnya, tanya kenapa??
    (halah, komennya OOT lagi, huhuhu.. @_@)

    ReplyDelete
  7. Berharap pembunuh Munir segera diadili seadil2nye :)

    ReplyDelete
  8. @Anak RantauSepertinya semi-fiksi =)) (apa pula itu semi fiksi)

    ReplyDelete
  9. Sebenarnya, Mbak Ayu, jujur ni..
    Aku kurang paham sama kisah Munir ini *maluuu*..

    Jadi, aku cuma bisa komen: klo resensi-nya Mbak Ayu jadi bikin aku pengen baca buku ini juga ^^..

    Mbak, maaf baru berkunjung, ya.. Baru selesei UN ^^

    ReplyDelete
  10. @Happy FibiCoba baca buku ini, mungkin bisa membantu belajar kasus Munir. :D

    ReplyDelete
  11. aku juga bodoh makanya aku baca buku, tapi yang kamu baca lebih beraat daripada aku yu hehe

    ReplyDelete
  12. @NFmari budayakan menjadi bodoh! yes! :DD

    ReplyDelete
  13. yeahh... para pelaku yg terkait atas kasus pmbunuhan munir mmg dihruskan u/ smkin hti2.. krn saat ini mkin bnyk org2 bdoh yg sdang mngejar rsa ingin tahu..:-?

    ReplyDelete
  14. Ikut menyimak saja ya Mbak, 'berat' neh mau ikutan comment..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…